
Dewi baru selesai bekerja dan sekarang dia turun dengan sapaan hangat oleh semua pegawai.
mereka tau jika tak baik mencari masalah dengan Dewi, begitupun dengan beberapa orang yang sempat menghina Dewi, kini begitu respek.
"sudah mau pulang Bu?" tanya seorang pria pada Dewi.
"iya, kalian semua juga hati-hati ya, permisi," pamit Dewi yang berjalan di lobi dengan begitu percaya diri.
bahkan rambut panjangnya pun sedikit bergoyang saat gadis cantik itu berjalan.
Dewi pun langsung masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya, ya Dewi mulai hari ini harus diantar jemput oleh supir.
karena Rama tak ingin Dewi kelayapan seperti tadi pagi, dia tak ingin Dewi bertemu Pria yang tak di kenal oleh Rama.
saat di dalam mobil,Dewi melihat ada beberapa orang yang sedang menyapu trotoar dan jalanan.
"pak tolong kita berhenti sebentar, ke minimarket depan itu," mohon Dewi.
"tapi nona, jika nanti telat, tuan bisa marah di pada kita," kata supir yang ketakutan membayangkan amarah Rama.
"tidak pak, nanti biar aku yang membereskannya jadi bapak tak perlu takut," kata Dewi yang berhasil menenangkan pria yang menjadi supirnya itu dan mau menurut pada dirinya.
Dewi pun langsung turun dan membeli beberapa sembako dan membagikannya, meski lama tinggal lama di luar negeri.
Dewi tetap di tanamkan jiwa sosial oleh Tyas, bagaimana pun Dewi dan keluarga juga sering melakukan kebaikan.
setelah berbagi, Dewi pun menyempatkan diri membeli beberapa makanan di warung sekitar sana.
terlebih dia suka sekali makan makanan Padang, setelah selesai Dewi pun menuju rumah.
dan sebisa mungkin memakannya di mobil, jika tidak bisa habis di omeli oleh Rama jika ketahuan.
setelah puas Dewi menitipkan sampah pada supir pribadinya, "pak nitip ya, tapi ingat jangan bilang kalau ini milikku,jika tidak bisa habis aku di omeli oleh dua Om-om cerewet ku itu."
"iya non," jawab supir itu.
tak lama, mobil pun masuk ke area rumah, dan Dewi langsung turun dan berlari masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Rama dan Raksa kaget melihat Dewi yang pulang langsung ke kamarnya, Rama pun ingin bangun dan menghampiri gadis itu.
tapi baru juga berdiri, tubuhnya terasa limbung dan hampir jatuh, raksa buru-buru menahan tubuh kakaknya itu.
"kak kamu kenapa?"
"entahlah, aku merasa tubuh ku begitu lemas dan begitu pusing," jawab Raka memegangi kepalanya.
Raksa pun membantu Raka duduk dan langsung menelpon dokter keluarga untuk memeriksa kondisi pria itu.
Dewi juga langsung mandi karena takut jika di tubuhnya tersamar aroma nasi Padang yang tadi dia makan.
Dewi pun turun untuk menyapa kedua om-nya, tapi Dewi kaget saat melihat Raksa memapah Rama masuk kedalam kamarnya.
"loh, om Rama kenapa?" panik Dewi yang langsung membantu pria itu.
"kamu kenapa tadi langsung masuk kedalam kamar?" tanya Rama lirih.
Dewi pun hanya tersenyum, Raksa menidurkan kakaknya itu di ranjang, karena meras tubuh Rama panas.
Dewi langsung mencari plaster penurun panas, dan langsung menaruhnya di kening pria yang terlihat begitu tak berdaya itu.
tak lama dokter Rivan datang, dan langsung melihat kondisi dari Rama, tapi saat Dewi ingin pergi Rama memegang tangan Dewi erat.
"kamu bisa tetap disini," kata dokter Rivan.
Dewi pun mengangguk, tanpa sadar karena terlalu panas, Rama mengigau memanggil mami Sasa.
Dewi yang tau pun mengusap kepala Rama seperti halnya dulu dia sering melihat Tyas melakukan itu saat salah satu adiknya sakit.
Rama sedikit tenang, dan dokter Rivan memberikan resep obat pada raksa, "tunggu dokter, sebenarnya om Rama sakit apa?"
"dia hanya telat makan dan terlalu stress, dan lagi kurang istirahat," jawab dokter Rivan tersenyum kearah Dewi.
Dewi pun mengangguk, tapi jika stres ini berlebihan. tapi Dewi mempercayai semua ucapan dokter.
Dewi masih menemani Rama sambil mengusap kepala pria itu hingga membuat pria itu nyaman.
__ADS_1
Dewi melihat beberapa pesan dari Wisnu yang ternyata itu Adalah pesan dari putri kecilnya itu.
ada beberapa foto di pesan itu, tak Dewi juga mengirimkan foto balasan pada gadis itu.
Wisnu kaget melihat sebuah pesan dari Dewi, dia mengira ada yang penting.
dia pun buru-buru membuka pesan, tapi dia malah melihat foto Dewi yang sedang memeletkan lidahnya.
"ada apa ini? Ara tadi mainin ponsel ayah?" tanya Wisnu pada putrinya.
"iya ayah, Ara kirim foto jelek ke aunty Dewi, karena aku merindukannya," kata Ara dengan sedih.
Wisnu pun mengusap kepala putri angkatnya itu dengan lembut, "gak papa, nanti kalau Aunty sudah tak sibuk pasti dia main kesini ya, sekarang Ara makan dulu, biar ayah suapi,"
"iya ayah, nanti kalau Ara sudah sembuh, terus aunty tak datang, ayah yang bawa Ara main ke rumah aunty ya,"
"iya, sekarang Ara makan, jika tau mau nanti ayah tak ajak main ke rumah aunty Dewi loh," ancam Wisnu dengan nada suara bercanda. tapi sudah bisa membuat putrinya itu menurut.
Wisnu memang belum tertarik menikah, terlebih dia memiliki Ara dan jarang wanita yang mau menerima gadis kecil itu, telebih Ara yang hanya seorang anak asuh.
sedang di rumah Dewi sedang menyuapi Rama dengan bubur yang cukup encer.
karena Rama tidak menyukai bubur yang begitu berat, setelah itu Dewi memijat kaki dari Rama.
"hentikan Dewi, kamu membuat ku merasa tak nyaman," kata Rama dengan suara yang begitu lemah.
"terus aku harus gimana? ya sudah aku telpon om Raksa ya, habis dia gak pulang-pulang, beli obat saja sampai ke mars," kesal Dewi.
"emang menurut mu aku membeli obat apa tak butuh antri, tadi saja aku hampir di tonjok gadis gila, untung cantik kalau tidak udah aku tampar tuh," kesal raksa yang memberikan obat itu pada Dewi.
sedang gadis itu mengejek Raksa yang sedang berbicara, "kamu tak percaya?".
"menurut om aku gimana?" tanya Raksa.
"gak tuh," kesal Dewi yang membantu Rama minum obat dari resep dokter itu.
raksa pun tak bisa berbuat apa-apa, terlebih di depan Rama, meski sakit tapi pria itu begitu dingin tak mengampuni siapa pun yang berani mengusik Dewi meski itu raksa.
__ADS_1
setelah minum obat Rama tertidur, sedang Dewi memilih bermain dengan Raksa.
keduanya bahkan begitu asik dan akhirnya ketiduran di kamar Rama sambil menjaga pria itu.