
"kamu tau Dian tinggal dimana, tolong antar opa kesana," mohon tuan Setyo.
"eh kenapa opa? memang ada apa? apa opa melakukan kesalahan pada Dian?" tanya Tyas khawatir.
"sepertinya iya ..."
Tyas pun bergegas menginjak pedal gas dan menuju ke daerah yang kebanyakan adalah area kost.
dan mobil itu berhenti di depan kost yang cukup bagus di daerah itu, dan mereka pun turun.
"rumah ini opa, nomor tiga di lantai dua," kata Tyas menunjuk ke atas.
mereka pun bergegas akan naik, saat seorang menghadang mereka, tapi tuan Setyo memberikan lima lembar uang seratus ribu padanya.
"minggir, dan pergi," bisik tuan Setyo dingin.
Tyas tau jika sang opa sedang marah, mereka sampai di depan kamar kost dian.
terlihat sepatu yang tadi di pakai sudah di depan pintu, Tyas pun mengetuk pintu kamar sahabatnya itu.
"Dian apa kamu di dalam," panggil Tyas lirih.
"kamu bisa pulang Tyas, biar nanti opa pulang dengan supir, kasihan dua putra mu," kata tuan Setyo pada cucunya itu.
Tyas pun menurut dan pulang membawa putranya, sedang Dian pun membuka pintu dan di tahan oleh tuan Setyo dengan tangannya.
pria itu masih sehat untuk bisa mendobrak masuk, Dian terdorong hingga jatuh.
tuan Setyo langsung masuk dan menutup pintu dan mengunci, tak lupa dia menyimpan kunci itu.
Tyas pun kembali menoleh ke kamar itu dan ternyata sang kakek sudah masuk.
Tyas pun memutuskan untuk pulang, karena dia yakin jika sang kakek akan bisa menyelesaikan semua masalah.
"keluar tuan, pergi!!!" teriak Dian pada pria sepuh itu
"kita bisa membicarakan ini, dan jangan seperti ini jika tidak bagaimana aku bisa bicara," kata tuan Setyo.
Dian malah melemparkan beberapa majalah pada pria itu, bahkan dahi tuan Setyo pun terluka hinga berdarah.
tapi Dian tak mau berhenti, dan karena sudah kesal, tuan Setyo pun langsung mendorong Dian dan menguncinya di ranjang karena marah.
"kamu bisa diam, atau aku harus lebih kasar padamu, agar kamu diam." Dian tak bisa bergerak karena dua tangannya di tahan pria itu dengan erat.
Dian pun hanya bisa menangis, dan karena marah tuan Setyo membalik tubuh Dian dan mengambil scraf dan menjadikan tali.
Dian pun tak bisa berontak dan pria itu mengambil pasmina yang ada disana dan menutup mulut Dian agar tak berteriak.
"silahkan kamu menangis, aku akan menunggu mu, dan saat sudah tenang kita baru bicara," marah tuan Setyo meninggalkan Dian di ranjang.
pria itu mencari kotak p3k untuk mengobati lukanya, sebenarnya luka kecil seperti ini tak masalah untuknya.
"cih ... ternyata kamu masih saja begitu buas, dan lihat saat sudah seperti ini, apa kau menginggat malam itu," kesal tuan Setyo.
Dian masih terisak lirih, dia pun harus ingat malam itu kembali saat pria yang berdiri di depan cermin kamar kostnya itu yang merusak segalanya.
__ADS_1
tuan Setyo menyempatkan dirinya merokok sejenak, ya meski pria itu berusia lansia.
tapi karena gaya hidup dan juga perawatan, dia tak kalah tampan dari Arthur.
tuan Setyo sedang melihat-lihat isi kamar Dian yang begitu sederhana, bahkan tak sengaja dia menemukan sebuah map yang jatuh di depannya.
tuan Setyo pun mengambil map itu, dan saat dia membuka berkas itu, dia kaget bukan main.
pasalnya ada foto seorang balita tiga tahun di sana bersama Dian dan juga seorang wanita tua.
dan juga bukti kehamilan Dian dan juga alamat dimana anak itu,tuan Setyo melihat Dian yang panik sambil mengeleng.
"apa dia putraku, dari kelahiran dari akte ini, apa dia putra ku!!" teriak tuan Setyo marah.
diam pun hanya bisa menangis saja, semua yang dia sembunyikan akhirnya terbongkar,tapi tidak dengan cara seperti ini.
tuan Setyo pun membuka penutup mulut Dian, dan gadis itu langsung meludahi tuan Setyo karena marah.
tuan Setyo hanya menghapusnya, dan menahan semua amarahnya, "kau bukan ayahnya, dia putra ku, putra yang aku dapatkan dari hasil aku menjual diri, jadi jangan menganggap dirimu begitu bangga," hina Dian tanpa mau diam.
tuan Setyo pun langsung mencium Dian dengan begitu lembut, Dian pun menutup matanya dan mengingat bibir tuan Setyo hingga luka.
"jangan menyentuhnya dia putraku!!" teriak Dian histeris.
"maafkan aku, aku tak tau jika asisten ku memilih mu saat itu untuk melindungi ku, dan kamu harus menjadi begitu kacau seperti ini," kata tuan Setyo memeluk Dian.
"jangan sentuh putra ku,dia tak ada hubungannya, aku hanya aku orang tua putraku ..." tangis Dian.
tuan Setyo pun memeluk wanita itu erat, Dian pun luluh dia pun sudah lelah harus terus berontak.
"seharusnya aku sadar, mencari mu dulu hingga bertemu, bukan meninggalkan semuanya begitu saja, terutama itu yang mengatur adalah asisten ku," kata tuan Setyo.
"apa maksud mu opa?" tanya Dian lirih.
itu adalah kunjungan pertamanya dia menginjak Surabaya setelah pergi selama hampir setahun, dan itu mendekati hari kelahiran dari cicitnya.
dia sedang menghadiri beberapa seminar yang mengundangnya untuk memberikan motivasi untuk para pengusaha muda.
tapi kunjungan terakhirnya terjadi sedikit masalah, ada seorang wanita yang ingin tidur dengan tuan Setyo.
saat di hotel asisten tuan Setyo kecolongan, tapi pria itu berhasil mengusir wanita itu.
karena melihat tuan Setyo yang kesakitan, dia pun memutuskan untuk menelpon seorang pria yang terkenal sebagai pria penyedia gadis terbaik.
beruntung malam itu Alfin mengantarkan Dian ke dunia hitam itu, dan mendapatkan uang tiga ratus ya juta dari asisten dari tuan Setyo.
tuan Setyo awalnya tak menyadari siapa gadis yang dia renggut kesuciannya, tapi saat dia akan pergi.
dia sempat melihat Dian yang pingsan, awalnya dia kaget, tapi dia pergi begitu saja.
asistennya yang menyelesaikan semua yang tersisa, "kamu jahat opa, aku harus membawa putra ku pergi tanpa tujuan," kata Dian memukuli dada tuan Setyo.
"maafkan aku, seharusnya aku mencari mu dan memberikan kehidupan yang layak untuk mu," kata tuan Setyo menghapus air mata Dian.
"tapi kenapa opa begitu kejam, hingga membunuh Alfin dan teman-temannya," tanya Dian lirih.
"kami tidak membunuhnya Dian, mereka saling bertengkar karena uang pembagian itu, dan Alfin saat itu sudah mabuk hingga akhirnya mengalami kecelakaan tunggal."
__ADS_1
Dian pun kembali menangis, "sekarang opa sudah tau, lebih baik sekarang opa pergi dan jangan mencariku, aku sudah kotor, dan tak pantas untuk mu opa, pergi!!" usir Dian.
"tidak, aku akan mengajakmu dan putra kita hidup bersama, aku rela melepaskan semua harta ku untuk cucu-cucu ku, asal aku bisa bersama mu, dan untuk masalah dirimu, aku tak mempermasalahkan hal itu, karena tak selamanya orang itu baik, termasuk aku," kata tuan Setyo.
keduanya pun berpelukan sambil merebahkan dirinya, untuk beristirahat setelah berbicara dan berbaikan.
tapi sebuah telpon membuat Dian panik bukan main, pasalnya itu telpon dari kampung.
"halo Mak, ada apa?"tanya Dian panik.
"apa ..." tangis Dian yang menjatuhkan ponselnya dan langsung menangis dan gemetar.
"ada apa Dian?" tanya tuan Setyo.
"Dion sakit, dia terkena demam berdarah, aku harus segera pulang," panik Dian.
"tunggu aku ikut, setidaknya aku akan membantu disana," kata tuan Setyo yang langsung mengajak dian pergi.
ternyata di bawah kost itu, sudah ada asisten kepercayaan dari tuan Setyo. dan pria itu membukakan pintu untuk keduanya.
dan langsung menuju ke kota Jombang, tepatnya di sebuah desa yang cukup kecil yaitu Beji.
butuh setidaknya dua jam lewat jalan tol untuk sampai, tapi mereka tak menuju ke desa itu tapi langsung menuju ke rumah sakit Airlangga di kota itu.
karena kata pengasuh bocah itu, sesampainya di kota itu sudah cukup sore.
tuan Setyo pun berlari bersama Dian menuju ke ruang ICU, "Mak, bagaimana keadaan Dion?" tanya wanita itu khawatir.
"sedang di dalam neng, ya Alloh tadi dia terus mimisan, Mak bingung," panik wanita setengah baya itu.
"tuan apa perlu kita bawa ke rumah sakit di Surabaya?" tanya asisten tuan Setyo.
"tutup mulutmu Sardi, jangan membuatku marah lagi, setelah semuanya dan ini juga karena mu, ingat itu," marah tuan Setyo.
pria itu pun terdiam, tak lama dokter keluar dari ruang ICU, "apa orang tuanya ada, kami butuh donor darah AB+ dan kebetulan rumah sakit kami tidak memiliki darah itu," kata dokter
"ambil darah saya dokter," kata tuan Setyo.
"maaf anda ini siapa?" tanya dokter melihat penampilan dari pria itu.
"dia suami saya dokter, dan ayah dari putra ku," jawab Dian.
"iya dokter," tambah tuan Setyo melirik Dian.
"kalau begitu ikut kami," kata dokter.
dia pun ikut untuk menyumbangkan darahnya, dan Dion kecil bisa selamat berkas sang ayah.
dan sebelum pergi, dia melihat bocah berusia tiga tahun yang sedang terbaring lemah.
ya bocah kecil itu memiliki wajah blasteran tampan, dan dua tak mengira akan memiliki putra di usianya yang sudah di bilang tua ini.
tapi Dion seperti anugerah dari Tuhan dan kebahagiaan yang di kirimkan, saat dia kehilangan cicit-cicitnya.
dia pun bersumpah akan menjaga putra kecilnya itu untuk terus menemani anaknya di sisa usianya.
"cepat sembuh anak Daddy," kata tuan Setyo mencium kening bocah itu.
__ADS_1