
keduanya sedang duduk sambil menikmati cemilan sebelum berenang.
bahkan Dewi masih mengenakan jubah mandi yang cukup panjang untuk menutupi tubuhnya.
Dewi memang terbiasa memakai baju yang cukup Longgar untuk gadis seusianya, terlebih Tyas tak menyukai jika putrinya itu mengumbar tubuh di luaran rumah.
Rama pun terlihat sudah bertelanjang dada dan terlihat bagaimana bentuk tubuh pria itu yang begitu bagus.
"om itu ada berapa kotak, kenapa para wanita suka membicarakan itu?" iseng Dewi bertanya.
"entahlah, om juga tak mengerti, om hanya berolahraga untuk kesehatan dan bonus ini yang di Dapat, Javi aku juga tak tau kenapa wanita begitu menyukai ini," kata Rama menyentuh perutnya yang six pack itu.
Dewi pun mendekat dan langsung duduk bersandar, "tapi enak loh om kah di buat sandaran, sepertinya lapang dan empuk," kata Dewi tertawa
sedang Rama hanya tertawa melihat aksi keponakannya itu, bahkan kini Rama memeluk gadis itu.
mereka beristirahat setelah makan sebelum berenang, tanpa sadar keduanya pun tertidur sambil berpelukan.
Dewi terlalu nyaman tidur di kursi santai bersandar pada om nya, pak Kim hanya bisa melihat saja.
dia juga tak ingin ikut campur dengan urusan dari tuannya, terlebih Rama bukan pria yang mudah untuk dihadapi nantinya.
setelah satu jam, Dewi bergerak dan Raka juga terbangun, "eh nona, apa nyaman tidur seperti ini," gumam Raka yang masih memeluk Dewi.
"iya om, tapi kenapa kita malah tidur dan tidak berenang," kata Dewi bangun dan menoleh kearah Rama.
Rama pun ikut bangun dan menyandarkan kepalanya pada pundak Dewi.
"mungkin kita kekenyangan dan juga lelah, jadi mau berenang atau masuk kedalam rumah?"
"tentu berenang,"saut Dewi yang melepaskan tali jubah mandi yang dia pakai.
Rama pun kaget melihat bikini yang di kenakan oleh keponakannya itu, Rama buru-buru memeluk tubuh Dewi lagi sebelum jubah itu lepas sepenuhnya.
"semua pelayan dan pengawal tinggalkan area kolam renang, dan jangan ada yang berani masuk sebelum aku yang panggil," perintah Rama.
"baik tuan," jawab semua orang.
setelah semuanya pergi, Rama langsung menutup pintu agar tak ada yang melihat mereka berenang.
"Dewi lain kali jangan mengenakan baju renang seperti ini," kata Rama memijat kepalanya.
"kenapa om, ini biasa yang aku gunakan saat di rumah dan berenang bersama keluarga," bela Dewi.
meski ketat, bahkan bikini itu memiliki rok tapi tetap saja menonjolkan bentuk tubuh dari pemakainya.
Rama masih saja menatap Dewi dingin, Dewi pun mencium pipi Rama dan membuat pria itu kaget.
"Dewi!!" teriak Rama kaget tapi gadis itu tertawa meledek.
"makanya jangan bengong om,nanti kesambet," kata Dewi yang menceburkan diri ke kolam renang.
keduanya pun berenang Samling kejar, bahkan terdengar suara tawa dari Rama yang begitu keras.
Rama seakan jadi pria berbeda dengan kedatangan dari Dewi, bahkan Dewi dengan iseng naik ke punggung Rama.
keduanya pun menikmati waktu sore itu dengan berenang hingga puas, setelah itu mereka pun merasa lelah.
__ADS_1
Dewi tertawa sambil memeluk Rama yang masih berada di dalam air, sedang Dewi duduk di pinggiran kolam.
"om malam ini kita mau kemana? bukankah om sering ke bar untuk minum?"
"tidak, sudah sebulan ini,om berhenti tidak minum, karena om ingin hidup lama dan memiliki Keluarga nantinya," jawab Rama.
"kalau begitu bagaimana dengan tipe wanita on, terlebih aku tak pernah om dekat dengan seorang wanita," tanya Dewi.
"emm.. itu benar, karena belum pernah ada gadis yang bisa membuat om nyaman seperti mu," jalan Rama yang tanpa sadar membuat Dewi tersipu malu.
sedang di tempat lain, Wisnu sedang menemani putrinya Aya belajar, bahkan tadi pelayan bilang jika aya pulang dengan sedikit kotor.
"Aya, tadi bik tun bilang jika kamu pulang dengan baju kotor," tanya Wisnu.
"emm... tadi Aya tak sengaja jatuh saat mau ke tempat bunda, tapi untuk ada orang baik yang tolong Aya, jadi Aya tak sampai luka ayah," terang Aya.
"sudah ya sayang, kita ke makam bunda lain kali saja ya, saat ayah libur," kata Wisnu.
"baiklah ayah,"
Wisnu pun hanya bisa duduk sambil melihat Aya, sebenarnya makam itu adalah makan dari ibu Wisnu.
tapi itu di lakukan membuat gadis kecil itu diam dan tak terus bertanya dimana ibunya, terlebih setelah Lea yang kabur entah kemana setelah Wisnu yang bilang tak pernah ingin menikah.
Lea kecewa karena dia sudah begitu berharap pada Wisnu untuk menikahinya, tapi ternyata pria itu tidak memiliki keinginan itu.
terlebih Lea merasa jika Wisnu lebih sayang pada Aya daripada dirinya, dan lagi dia tak suka pada bocah perempuan itu.
seperti hari itu dimana Lea memukul Aya yang tak sengaja memecahkan gelas.
Wisnu yang baru pulang langsung mendorong Lea dan mengendong Aya yang sudah menangis kencang.
"dia saja yang tak bisa diam, kenapa harus Aya Aya Aya, aku juga butuh dirimu!"
"cukup!!" teriak Wisnu hampir memukul Lea.
tapi di urungkan dan Lea pun pergi dengan marah, dan lagi wisnu tak menahannya.
Wisnu tak keberatan juga, lagi pula dia juga tak pernah menyentuh wanita itu jadi Lea bisa melanjutkan hidupnya sesuai dengan keinginannya.
"kamu membiarkan aku pergi seperti ini," kata Lea.
"kamu bukan gadis kecil lagi, kmu sudah tau mana yang baik dan buruk,lagi pula kamu juga sudah bisa memilih untuk hidup mandiri," kata Wisnu yang masih mencoba menenangkan Aya yang masih sesenggukan.
Lea makin marah dan pergi tanpa pamit, Wisnu pun tak habis pikir kenapa wanita itu bisa berubah seperti itu.
"ayah ... sadar ayah," panggil Aya mengoyangkan lengan Wisnu.
"ah iya sayang," kaget Wisnu yang tersadar dari lamunannya.
"ha-ha-ha, maafkan ayah ya, sekarang Aya mau makan apa, ayah bisa belikan loh," kata Wisnu.
"ayo makan ayam goreng," kata Aya semangat.
"baiklah, ayo kita pergi," ajak Wisnu yang meminta pelayan rumah mengambilkan jaket untuk putrinya.
malam ini Dewi dan Rama sedang pergi untuk berjalan-jalan ke sebuah mall.
__ADS_1
mereka pun pulang setelah puas berbelanja, bahkan membeli begitu banyak cemilan dan buah.
Dewi benar-benar merasa bebas saat berada di kota ini bersama Rama, begitupun Rama yang tak kalah bahagia.
bahkan para wanita saja iri dengan melihat bagaimana cara Rama memperhatikan dan menunjukkan kasih sayangnya pada Dewi.
bahkan Rama tak melepaskan gandengan tangan Dewi sedetik pun, jika terlepas maka Rama akan merangkulnya dengan erat.
"wah pak bos Rama, tak ku kira ada apa ini, gadis mana yang bisa menarik perhatian tuan dingin nan kejam ini?" tanya Wisnu yang mengejutkan Rama dan Dewi.
mendengar suara dari Wisnu, Dewi berbalik dan terlihat begitu kaget melihat sosok gadis itu yang sudah sangat dewasa.
"Dewi,"
"halo om Wisnu, lama tak jumpa, dan gadis kecil ini putri om, siapa namanya ah ... Aya," kata Dewi mencubit pipi gadis kecil itu
"kalian sedang jalan-jalan, mau gabung makan bersama," ajak Rama dengan suara yang terdengar begitu bahagia.
"apa kami tak mengganggu, ya aku takut saja," goda Wisnu melihat reaksi Rama.
"sudah tutup mulut mu dan ikut saja, oke gadis cantik, kamu mau makan apa?" tanya Rama pada Aya.
"ayam goreng," jawab Aya.
mereka pun menuju ke restoran cepat saji, dan memesan semua menu yang di inginkan oleh keempatnya.
Dewi hanya makan ayam tanpa nasi, tapi saat Rama menyuapi gadis itu, Dewi pun memakannya dengan senang hati.
Wisnu tak keberatan melihat kedekatan antara dua orang itu, terlebih mereka berdua juga tak memiliki ikatan darah.
Dewi pun menerima sebuah telpon dari sang mama, dan gadis itu nampak senang dan sempat Tyas berbicara dengan Rama.
"mama bilang apa om?"
"dia hanya bilang untukmu menjaga mu agar kamu tak nakal, dan tidak boleh manja saat di Surabaya, terlebih kamu harus buktikan pada papa mu jika kamu bisa menunjukkan janjimu, agar dia bisa mengizinkan semua permintaan mu," terang Rama
"aku pasti bisa kok," gumam Rama
"memang apa yang kamu inginkan, kenapa mama mu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Rama penasaran.
"lihat saja nanti," kata Dewi tertawa.
mereka pun ke Timezone bersama untuk bermain, Wisnu dan Rama duduk dan hanya melihat dua gadis itu asik bermain.
"memang kamu tak tau, atau hanya pura-pura tak tau, bahkan terlihat jelas pada wajah kalian loh," kata Wisnu.
"apa maksud mu?" bingung Rama.
"kamu sadar bos, dari semua wanita yang pernah ingin berdekatan dengan mu, hanya Dewi yang bisa seperti ini, meski dia keponakan mu, tapi aneh saja, kamu memperlakukannya dengan sangat baik bahkan jika aku tak tau jika kalian om dan keponakan, mungkin aku akan mengira jika kalian itu kekasih atau pengantin baru," terang Wisnu.
Rama terdiam, dia pun juga tak sadar kenapa dia begitu nyaman saat bersama Dewi.
akhirnya dua orang gadis itu pun selesai bermain, dewi langsung duduk di samping Rama.
"aku capek om," lirih Dewi.
"ya sudah kita pulang, ya wes bro,aku dan Dewi pulang ya, lain kali kita ketemu lagi ya, dan bisa main bareng lagi, dan tolong titip Dewi selama dia di kantor nantinya ya," kata Rama.
__ADS_1
"siap bos," jawab Wisnu tersenyum melihat Rama yang begitu melindungi gadis itu.