Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
bukan gadis biasa


__ADS_3

Dian pun memilih untuk bersantai sambil merokok di dalam kamar kostnya, dia pun kembali ingat saat dia terbangun setelah kejadian buruk itu.


Dian sudah melihat suasana sekelilingnya yang asing, dengan tangis yang tak bendung, dia pun ingat kejadian semalam.


diam pun bergegas ingin pergi, tapi saat dia melihat pakaiannya sudah terkoyak tak bersisa.


dia pun jatuh lemas, tapi seorang pria masuk ke kamar itu dengan santai, tapi Dian tak bisa melihat wajah pria itu karena tertutup masker dan kaca mata hitam.


"gunakan pakaian ini, dan tuan berpesan jangan percaya dengan siapapun lagi, meski itu sahabat terbaik mu sekalipun, dan di dalam sini ada cek untuk memulai segalanya lagi," suara pria dewasa.


Dian pun mengambil godybag itu dengan gemetar, dan saat membukanya ada selembar cek, dua pun kaget saat melihat kertas itu tertera uang lima milyar atas namanya di sana.


Dian bergegas memakai baju itu dan bergegas pergi, meski baju yang digunakan sedikit kebesaran untuknya tapi dia tak ambil pusing, dan segera menghubungi Alfin secepatnya.


dia penasaran kenapa dia bisa berakhirnya seperti ini, pasalnya pria itu di pukul oleh teman-temannya dan tak ada yang membantu mereka semalam.


dia berencana mengajak pria itu pergi untuk melaporkan semua pria itu ke polisi, agar pelakunya mendapatkan ganjaran yang pantas.


tapi saat sampai di rumah Alfin, Dian pun kaget karena begitu banyak bunga ucapan bela sungkawa.


bahkan tak hanya satu rumah , tapi ada beberapa rumah yang mendapatkan bunga ucapan itu juga, dan sepertinya juga sedang mengalami musibah.


langkah Dian begitu berat, dan saat sampai di rumah keluarga Alfin. terlihat pria itu sudah terbujur kaku di kelilingi oleh orang-orang yang menangisi pria itu.


seseorang menarik Dian menjauh, "mau apa kamu kesini, sebaiknya kamu pergi,mereka semua mati Dian," kata anand.


"apa maksud mu, bukankah semalam kita semua berpesta, tapi kenapa aku bisa berakhir seperti ini, dan juga siapa yang tega melakukan ini padaku, kamu tau siapa anand?" lirih Dian terisak.


"sebenarnya Dian, Alfin dan gengnya menjual mu pada seorang pengusaha asal luar negri, tapi saat mereka akan pergi dari club, mereka kecelakaan dan akhirnya mereka mati saat itu juga," jawab anand.


"tapi kenapa kamu diam saat tau Semuanya?" marah Dian memukuli anand.


"bukan seperti itu Dian, aku juga baru tau dari keterangan polisi, dan sepertinya orang yang membeli mu yang melakukan ini pada mereka," jawab anand.


itulah dimana dunia milik Dian hancur, mulai dari di usir oleh orang tuanya, hingga saat ini berakhir jadi wanita panggilan.


sampai saat ini Dian juga belum tau siapa pria yang pertama membelinya, tapi dia ingat betul cek itu persis dengan cek yang saat ini berada di tangannya.


Dian pun mematikan rokoknya dan mulai merebahkan dirinya setelah menyimpan cek itu, karena besok dia ingin mencairkan cek itu.


sedang di rumah Arthur, dua bocah yang tadi di pikir tidur sore, sudah bermain di taman dengan tanah.


para pelayan tak ada yang menyadari hal itu, karena dia bocah itu bersembunyi di balik baluntas yang belum sempat di potong.

__ADS_1


keduanya begitu asik, tapi saat Tyas ingin mengajak kedua bocah itu mandi, dia baru sadar jika putranya tak ada di kamar.


"pak Yun, melihat Derry dan Derrick?" tanya Tyas sedikit panik.


"tidak nyonya," jawab pak Yun dari belakang.


"tolong cari mereka, mereka tak ada di kamar!" panik Tyas.


Tyas sedikit panik karena dulu kedua bocah itu pernah terbawa Rama ke sebuah pesta dengan tidur di dalam mobil.


beruntung seseorang menemukan mereka hingga tak sampai terjadi hal yang mengerikan.


"minta semua pengawal mencari mereka," perintah Tyas makin panik terlebih senja mulai menyingsing.


"double D!!!" teriak Tyas dengan suara keras.


akhirnya beberapa pengawal menemukan mereka yang sedang asik bermain di balik semak, sambil bermain ikan yang di ambil dari kolam sepertinya.


"nyonya kami menemukan mereka," panggil para pengawal.


Tyas pun buru-buru lari dan memeluk kedua Putranya itu, Tyas pun merasa dunianya sempat berhenti sejenak tadi.


tapi beruntung dua bocah itu baik-baik saja, tapi inilah kenapa Tyas tak suka ada tanaman yang tak terawat.


"panggil tukang kebun," perintah Tyas


"maaf nyonya, kami beberapa hari ini harus menjaga tanaman wisteria yang hampir mati, jadi kami belum sempat memotong dan merapikan tanaman yang lain," jawab mereka.


"kalian bisa bagi tugas, padahal kalian tau sekarang di rumah ini ada anak kecil, besok aku tak mau tau, semua tanaman harus rapi tanpa aku suruh," kata Tyas sebelum pergi.


keempat orang ini baru sadar jika Tyas akan sangat menakutkan saat marah.


sedang pak Yun tak mengira jika Tyas bisa marah bahkan tanpa sadar di depan dua putranya.


ya pak Yun tak bisa menyalahkan Tyas, karena bagi seorang ibu putranya adalah hidupnya, jadi jika terjadi apa-apa pada mereka maka Tyas yang paling hancur.


Tyas langsung memandikan dua putranya itu, kini Tyas duduk di depan dua putranya dengan wajah tak bersahabat.


"siapa yang mengajak bermain seperti tadi," tanya Tyas dingin.


"Derrick ma ..."


Derrick menahan tangan Derry yang mau mengaku, dia tau jika Tyas tak sepenuhnya marah tapi kali ini mereka sudah membuat kekacauan .

__ADS_1


"jangan di ulangi lagi sayang, mama hampir gila saat tak melihat kalian tadi. Derry juga harus menolak ajakan Derrick seperti tadi,mama takut jika kalian terluka jika main di semak-semak. mama khawatir nak ..." lirih Tyas menangis memeluk kedua putranya.


"maafkan kami mama," jawab keduanya berpelukan.


Arthur yang baru bangun dan tak menemukan istrinya pun langsung keluar kamar, dia kaget melihat para pengawal membantu para tukang kebun merapikan taman malam-malam.


"ada apa pak Yun, kenapa tidak besok saja merapikan tamannya, kenapa harus saat ini," tanya Arthur.


"maaf tuan, tadi nyonya marah karena akibat tanaman yang tak terawat,dua tuan muda membuat panik karena bersembunyi di baliknya,dan nyonya terlihat sangat khawatir," jelas pak Yun.


"kalau begitu, setelah pekerjaan mereka minta nanti malam berkumpul di rumah belakang, karena ada yang harus saya bicarakan," perintah Arthur.


"baik tuan besar," jawab pak Yun.


Arthur belum bertanya jelas pada Tyas, karena melihat wanita itu masih belum tenang.


akhirnya saat pelayan dan pak Yun menjaga tiga anak mereka, Arthur menarik Tyas ke ruang perpustakaan di dalam rumah.


"sekarang katakan, kenapa kamu bisa memarahi orang di depan putra mu, aku tau kamu khawatir tapi melihat mu marah seperti tadi aku takut mereka akan memiliki kenangan buruk terhadap mu," kata Arthur memeluk sang istri.


"aku panik pa, aku berpikiran yang tidak-tidak saat melihat dua putraku tidak di kamarnya dan tak ada yang melihatnya," jawab Tyas terisak.


"sayang kamu lupa jika setiap sudut rumah ini ada CCTV, jadi kamu tinggal mencarinya dari ruangan pantau," kata Arthur mengusap lembut rambut Tyas.


"maafkan aku," kata Tyas dengan suara serak.


"bukan padaku sayang," kata Arthur tersenyum.


akhirnya pak Yun menjalankan perintah Arthur dan mengumpulkan semua orang.


Tyas berada di samping Arthur, dan wanita itu masih nampak sembab karena habis menangis.


"selamat malam Semuanya," sapa Arthur pada para pegawainya.


"malam tuan besar," jawab semua pegawai.


"hari ini maaf,sudah membuat kalian kesusahan karena harus mencari dua putra kami, dan aku juga minta maaf karena tadi memarahi para tukang kebun di depan semua pegawai," kata Tyas.


"tidak nyonya, ini memang salah kami, tugas kami menjaga kebun agar tetap bersih dan terawat,tapi kami lalai," jawab seorang tukang kebun.


"tidak pak, seharusnya aku tak memarahi kalian di depan yang lain," kata Tyas.


"kami sudah memaafkan nyonya, kami juga salah dan meminta Maaf pada nyonya dan tuan," kata keempat orang itu.

__ADS_1


"baiklah, pak Yun besok berikan bonus untuk semua orang yang sudah bekerja keras, tentu kamu tau apa maksud ku," kata Arthur sebelum mengajak Tyas pergi.


"baik tuan, saya mengerti," jawab pak Yun.


__ADS_2