
tak terasa sudah lima tahun berlalu begitu saja, Arthur juga sudah kembali bekerja tanpa terganggu sedikitpun.
ini juga sedikit menghawatirkan untuk semua orang terutama yang mengenal Arthur, seperti halnya kedua asistennya dan juga kepala pelayan pak Yun.
"sekolah macam apa kamu, jam segini baru pulang?" tanya Arthur yang melihat putrinya yang baru datang.
"peduli apa anda, urus saja wanita mu yang menjengkelkan itu, dan anda sudah tak memiliki hak bertanya padaku," kata Dewi yang pergi naik ke lantai atas.
"Dewi Alejandro Sanz,jaga sikap mu, jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini," marah Arthur mendapatkan jawaban dari putrinya itu.
"ha-ha-ha,anda sudah bodoh karena kecelakaan itu ternyata, jika kamu lupa bisa tanya pada om Ridwan, jika rumah ini milikku dan bukan milikmu, dan seharusnya aku yang mengusir anda dari rumah ku!" bentak Dewi dengan begitu keras.
Dewi sudah lepas satu SMP dan dia bukan gadis cengeng, setelah kepergian Tyas mengubah dirinya dan hidupnya.
dia tumbuh dalam pengasuhan asisten Wisnu dan juga pak Yun. meski dia begitu kuat dia tetap seorang gadis kecil yang lemah.
sebuah notifikasi masuk, mendengar ponselnya berbunyi, Dewi pun buru-buru melihatnya.
"halo mami ... jadi kapan kembali, aku sudah sangat merindukanmu dan si kembar mam," kata Dewi sedih.
"tunggu sayang, mami masih mencoba untuk membuat opa dan om-om mu setuju, dan lihatlah siapa ini," kata tyas pada dua putranya.
"kakak," teriak kedua bocah itu.
"halo double D, kakak rindu kalian, uh... makin ganteng saja," teriak Dewi bahagia.
Dewi pun sedang berbincang dengan kedua adiknya itu, sedang Arthur masih duduk di ruang tamu.
__ADS_1
dia tak bisa mengingat semuanya, setelah kecelakaan itu terjadi, ada sesuatu yang terlupakan.
Arthur pun merasa ad lubang besar di dadanya saat melihat Dewi seperti ini, dan hidupnya terasa hampa lima tahun ini.
tak hanya itu semua orang juga tak berani membahas tentang kejadian lama, bahkan rumah itu memiliki sesuatu yang kurang.
pelayan Mila datang membawa sesuatu dan menyajikannya pada Arthur, "tuan ada tiga orang yang menunggu anda, semoga anda segera ingat," lirih pelayan Mila.
dia pun buru-buru pergi ke belakang, Arthur pun melihat sebuah kertas di meja yang di selipkan di bawah cangkir kopi miliknya.
dia membuka kertas itu, terlihat sebuah foto pernikahan dirinya dengan seorang wanita yang membelakangi kamera.
"ini bukan mantan istriku, siapa dia?" bingung Arthur.
"hei tuan besar, kenapa kamu memanggilku jam seperti ini," kata pengacara Ridwan.
pengacara Ridwan kaget, bahkan dia tersedak saat meminum kopi yang sudah di sediakan di meja.
"kenapa tiba-tiba, kamu tau meski kamu melihatnya, kamu tak bisa menggantinya karena sudah ada di notaris dan sah secara hukum," kata pengacara Ridwan.
"kenapa kamu seperti membunyikan sesuatu?" tanya Arthur.
"ah kalau begitu sembuhkan dulu otak mu itu,agar aku lebih mudah menjelaskan, setidaknya saat kamu sudah sembuh, terutama jika ingat dengan wanita dengan nama Andreas Ayuningtyas," kata pengacara Ridwan.
"Ridwan jangan lancang, berhenti menyebutkan nama itu," marah Cecil yang datang ke rumah itu.
"kenapa, aku pengacara yang sudah di percaya olehnya, jadi tugas mu Arthur ingat siapa Tyas, Tyas dan Tyas, dan aku ingatkan jauhi wanita busuk ini jika kamu ingin selamat," kata pengacara Ridwan sebelum pergi.
__ADS_1
"om mau makan dulu gak, kebetulan aku mau buat pasta sebelum pergi," tawar Dewi yang turun dengan kaos oblong dan celana pendek.
"besok ya cantik, sepulang sekolah aku akan menjemput mu dan kita makan bersama,bye bye cantik," kata pengacara Ridwan.
"oke om," jawab Dewi centil.
"Dewi jaga sikap mu," bentak Arthur
"sebelum mengaturku atur dulu wanita ****** mu itu, dia bahkan hampir telanjang begitu saat berkeliaran, sekalian saja tak usah pakai baju,begitu kok merasa wanita terhormat, cih ..."
Dewi pun pergi menuju ke dapur dan mulai memasak, sudah dari lima tahun ini dewi sudah tak ingin makan bersama Arthur.
bahkan sua kebutuhan untuknya di atur oleh Tyas meski keduanya terpisah jarak yang jauh.
asisten Wisnu mengacak rambut Dewi, "hei om ... jangan melakukan itu, aku tak suka rambutku kusut,"
"aduh aduh, gadis ini sudah besar nyatanya, mau tau rahasia kecil tidak,"
"rahasia apa om, jangan membuatku penasaran dengan hal itu," kata Dewi melihat asisten Wisnu.
"selamat, kamu akan segera memiliki ibu baru, karena papa mu akan segera menikah dengan Cecil," kata asisten Wisnu tertawa.
"jangan gila om, mereka mau mati saat melakukan pernikahan itu," kata Dewi tak terima.
asisten Wisnu menahan gadis itu yang ingin melabrak Arthur, "ingat pesan mami mu kita harus main cantik Dewi ..."
asisten Wisnu pun tersenyum menyeringai, dan Dewi juga mulai mengerti dengan apa yang di maksud oleh asisten Wisnu.
__ADS_1