
malam ini, Derry dan Derrick sudah tidur di temani oleh tuan Tjandra, sedang Arthur, Rama dan Raksa masih duduk di luar sambil menikmati api unggun.
Tyas datang membawa kopi panas untuk semua orang, "bagaimana, besok kita ke desa tempat tinggal Dian, apa kalian mau, jika tidak aku bisa pergi sendiri, dan kak Raksa jika kamu tak bersedia tak masalah, dari pada kamu datang dan akan membuat masalah nantinya,"
"kebetulan besok tanggal merah, tapi bagaimana kita tau?" tanya Rama.
"tenang saja, kebetulan aku juga bisa menyentuh hati dari asisten opa, jadi aku tau dimana posisi mereka sekarang," jawab Tyas tertawa.
"baiklah, aku harus ikhlas, dan besok bisa berangkat ke kota itu sekalian liburan keluarga juga," jawab raksa pasrah.
"itu bagus, terlebih kamu pun tak mungkin bisa menang melawan opa," ejek Rama.
"ya meski tua, tapi opa itu masih seksi, telebih saat berenang beh... bikin emm," kata Tyas membayangkan tubuh sang opa.
"hei jangan mesum begitu pikiran mu, ingat aku ini suamimu, kenapa malah membayangkan hal yang aneh begitu, apalagi dengan opa mu sendiri, dasar pecinta pria tua," kesal Arthur pada istrinya itu.
Tyas ingin sekali tertawa, pasalnya suaminya itu begitu sensitif, padahal Tyas hanya bercanda.
sedang Rama dan raksa tertawa menyaksikan kegokilan dari dua pasangan itu.
sedang di kota kecil itu, Dian sedang duduk di luar, saat tuan Setyo memberika segelas teh hangat.
"istirahat dulu Dian, dia pasti baik-baik saja," kata tuan Setyo yang memeluk Dian.
"mana bisa, sebelum dia benar-benar sadar, dan kenapa harus pakai ruangan seperti ini," kata Dian tak habis pikir.
"ayolah Dian, biarkan dia beristirahat dan terganggu, telebih kamu juga butuh istirahat bukan," kata tuan Setyo tersenyum.
"ya setidaknya aku tak harus berkumpul dengan orang yang tak ku kenal saat di kelas dua atau tiga, terlebih putra ku harus dapat yang terbaik," batin tuan Setyo.
akhirnya tanpa sadar Dian tertidur di sofa ruangan itu, tuan Setyo pun merapikan posisi tidur Dian.
"pak Sardi, kami buka hotel terdekat, dan besok beli pakaian untukku, dan juga Janan lupa beli selimut juga, setidaknya kami mungkin akan sedikit lama disini," perintah tuan Setyo.
"baik tuan, dan tadi nona Tyas ingin datang menjengguk putra Dian," kata pak Sardi.
"tutup mulutmu, ingat ini, kamu harus memanggilnya nyonya dan tuan muda, bagaimana pun mereka adalah kekasih dan putraku, jadi jangan lupakan itu Sardi, ingat baik-baik," marah tuan Setyo.
"baik tuan, maafkan saya yang bodoh ini ..." kata pria itu menahan rasa sakit di lehernya.
pasalnya tadi tuan Setyo hampir membunuhnya, dia pun pamit pergi dari rumah sakit.
sedang tuan Setyo masuk kembali ke ruangan itu dan duduk di kursi sambil menggenggam tangan Dion yang sudah membaik itu.
keesokan harinya, keluarga Tyas sudah heboh karena mereka semua akan pergi ke Jombang.
Dewi, Derry dan Derrick pun ikut, mereka akan pergi satu mobil dengan tuan Tjandra dan Rama.
sedang Tyas ikut mobil Arthur dan raksa, mereka juga berhenti untuk sarapan karena tadi berangkat terlalu pagi.
sedang di rumah sakit, Dion yang baru bangun bingung melihat tuan Setyo yang duduk di sampingnya sambil membaca buku.
"bapak siapa?" lirih Dion.
tuan Setyo membuka kaca matanya, dan melihat bocah itu, "kamu panggil aku apa nak?"
__ADS_1
"bapak?" jawab Dion sedikit takut.
"panggil papa ya, kamu butuh sesuatu nak?" tanya tuan Setyo.
sedang Dion bingung melihatnya, "aku pingin pipis ..." lirihnya.
tuan Setyo pun mengendong Dion dengan erat, sambil mendorong infus menuju ke kamar mandi.
tuan Setyo dengan begitu telaten merawat bocah kecil itu, tak lama Dian datang membawa sarapan yang di beli di sekitar rumah sakit.
"mas, sedang dimana dan Dion?" tanya Dian saat masuk ke ruangan itu.
"kami di kamar mandi, pria tampan ini sedang melakukan panggilan alam," jawab tuan Setyo tertawa melihat reaksi Dion.
tak lama mereka pun keluar, ternyata pak Sardi datang membawa pakaian ganti untuk bos-nya.
"pak ikutlah sarapan dengan kami, Dion kamu juga harus sarapan," kata Dian.
"kemarikan, biar aku yang menyuapi pria tampan ini," kata tuan Setyo merebut bubur ayam yang tadi di beli.
Dion pun nampak lahap,bocah itu bahkan langsung bisa akrab dengan tuan Setyo padahal biasanya sangat sulit dan pemalu saat di dekati.
tapi berbeda dengan tuan Setyo yang begitu mudah dekat dengan Dion, bahkan bocah itu nampak begitu manja.
"apa rencana kalian, menikah?" tanya asisten Sardi pada Dian.
"aku tak tau, aku merasa tak pantas untuknya, terlebih pria itu orang terpandang di kalangan pengusaha, sedang aku hanya penjaja cinta bukan, tuan juga tau itu," kata Dian tersenyum sambil melihat kedua pria yang sedang bercanda di atas ranjang.
"jangan pikirkan itu, apa kamu ingin melihat putra mu tumbuh tanpa sosok ayah kandungnya, lihatlah mereka yang begitu bahagia, apa kamu tak ingin melihat tawa putra mu itu," kata asisten Sardi.
rombongan itu sampai di rumah sakit yang di maksud, tuan Tjandra awalnya tak percaya tapi dia ingin melihat sendiri.
terlebih sahabatnya itu sudah terlalu lama menduda setelah istrinya meninggal dunia dulu.
"kamu yakin sayang?" tanya Arthur yang mengendong Derry.
"ya, aku sudah mengirim pesan pada paman Sardi, dan dia akan menjemput kita," jawab Tyas.
raksa mengendong Derrick di punggungnya, ya dua bocah itu kumat manjanya.
"kamu juga mau di gendong juga Dewi?" tanya Rama pada keponakannya yang remaja itu.
"gak ah, nanti om pikir aku cewek gampangan lagi, lagi pula aku masih bisa jalan kok," jawab Dewi dingin.
Tyas dan Arthur menahan tawa melihat reaksi wajah Rana yang terkejut dan syok itu.
"baru rasa dia di savage in sama gadis kita ya ma," bisik Arthur.
"biarkan saja, biar tau rasa kak Rama," jawab Tyas.
dari jauh terlihat asisten Sardi datang menjemput para tamu itu, dan bergegas ke ruang rawat Dion.
mereka juga sudah membawa mainan, buah dan juga semua hadiah untuk bocah itu.
"nyonya Dian, lihat siapa yang datang," kata asisten Sardi membuka pintu.
__ADS_1
Tyas datang dan langsung memeluk Dian yang masih kaget, "kenapa kamu menyembunyikan semua ini," kata Tyas memeluk sahabatnya itu.
"halo adik kecil!!" sapa Derrick dan Derry pada Dion yang bingung melihat begitu banyak orang yang datang.
"kalian datang, dan-" kata Dian terpotong melihat ada Rama dan Raksa juga yang datang.
"Dian apa kamu juga ingin mandi?" kata tuan Setyo yang baru keluar dari kamar mandi.
"ha-ha-ha, lihat ini yang baru saja selesai mandi, hai teman kamu ingin menyembunyikannya sampai kapan?" kata tuan Tjandra.
"kenapa kalian semua datang, aku sudah bilang untuk menunggu ku pulang dan aku akan menjelaskan segalanya," kata tuan Setyo dingin.
"kalian semua keluar, biarkan aku yang menjelaskan ini pada pria tua ini, yang berani membohongi kita, dan aku ingin lihat apa yang dia bisa lakukan pada ku," kata Tyas yang menahan tuan Setyo yang mengusir semua orang.
pria itu sekarang tak berkutik melawan Tyas, satu-satunya cucu yang bisa menahan dan membantah pria itu.
Rama membawa semua orang pergi, dan hanya Tyas yang tinggal di kamar itu.
Tyas menatap tajam kearah sang opa, tapi saat semua sudah pergi, Tyas pun langsung memeluk tubuh pria itu.
"coba katakan dari awal, aku akan menyetujui semuanya, aku ingin melihat opa bahagia,"
"tapi bagaimana dengan kakak-kakak mu yang pasti kecewa saat tau perbuatan opa nak," kata tuan Setyo sedih.
"opa lupa, aku saja bisa menundukkan pria seperti suamiku, untuk hal seperti kak Rama dan kak Raksa, mereka sudah setuju merestui hubungan ini," kata Tyas mengedipkan matanya.
"lihat tidak ada siapapun yang bisa menolak gadis cantik seperti mu ini nak, kamu memang cucu kesayangan opa, maaf atas luka mu dulu," kata tuan Setyo.
"aku menyayangi opa," jawab tyas memeluk kembali sang opa dan menarik Dian untuk berpelukan bersama.
Arthur sudah tau jika istrinya pasti bisa membuat pria yang begitu keras itu tak bisa menolaknya.
"apa kalian tak takut, jika Tyas akan terluka oleh Setyo?" tanya tuan Tjandra.
"malah yang sekarang aku khawatirkan bukan Tyas om, tapi opa, takutnya Tyas lepas kendali dan membuat opa terluka," jawab Rama yang mengejutkan semua orang.
"iya, mama kalau marah suka pukul-pukul dada opa, dan hanya opa juga yang bisa buat mama diam dan menangis," kata Derrick.
"maksudnya nak?"
"Tya kalau mengamuk dia suka memaparkan semua barang, dan melukai dirinya saat di luar negri, dan saat seperti itu hanya opa yang bisa membuat dia tenang," jawab raksa menjelaskan.
"apa kondisinya begitu buruk?" lirih Arthur.
"maaf ... seandainya aku tak bodoh punya pemikiran untuk memisahkan kalian, hal itu mungkin tak mungkin terjadi," kata raksa.
"sudahlah, semua sudah terjadi juga," kata Rama.
Tyas keluar dan melihat semua orang sedih, "opa lihatlah mereka sudah sedih, takut aku hilang kendali lagi sepertinya,"
"dasar kamu ini, maafkan aku semuanya ...." kata tuan Setyo.
tuan Tjandra tak percaya dan langsung menangkup wajah temannya itu.
"sejak kapan pria angkuh ini bisa minta maaf, Tyas anak ku, apa yang kamu lakukan," kata tuan Tjandra khawatir.
__ADS_1
"lepaskan tangan mu, dasar pria busuk," marah tuan Setyo melepaskan tangan sahabatnya.