
"benarkah Daddy, aku hanya tak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu saat bersama mami," lirih Tyas.
"ya sayang, aku akan membuatmu bahagia jadi aku akan tetap bekerja sama dengan mereka, tapi jika sekali mereka berulah aku akan membereskan semuanya," jawab Arthur.
Tyas pun tersenyum mengangguk dan mengecup kening Arthur, Tyas pun memeluk pria itu.
"eh kamu kesini gak bawa makanan sayang, karena aku tiba-tiba merasa sangat lapar," kata Arthur seperti anak kecil manja pada ibunya.
"aku bawa lasagna, dan kue, panggil om Danang dan om Wisnu, kita makan bareng, tapi Daddy sayang, putri kecilku masih tidur," jawab Tyas dengan senyum yang terus mengembang sambil melirik Dewi.
"aku tunjukkan sesuatu yang akan membuatmu bisa membangunkan putri kita yang bandel itu," bisik Arthur.
"Mama ayo kita pergi, ah Danang kamu datang, tapi sayang Dewi sedang tidur," kata Arthur dengan nada tinggi.
"om Danang!" teriak Dewi yang langsung terbangun dari tidurnya.
Tyas kaget melihat gadis itu yang terbangun begitu saja, dan kebetulan asisten Danang juga masuk keruangan Arthur.
Dewi pun langsung memeluk tubuh pria muda itu, dan asisten Danang pun kaget pasalnya dia di panggil oleh Tyas.
__ADS_1
"halo Dewi, kenapa kok peluk om gini sih cantik, kamu rindu om ya ..." tanya asisten Danang menggoda gadis kecil itu.
"aku kangen om, habis om gak pernah menemui ku saat di rumah, dan sering lembur," protes gadis itu.
"maaf ya cantik, om selalu sibuk karena banyak proyek yang harus selesai, dan lagi papa mu juga terus membuatku dan om wisnu lembur terus," kata asisten Danang.
"papa ih ..."
"sudah jangan membuatku marah lagi, atau kalian semua dapat hukuman, termasuk kamu sayangku, dan hukuman untuk mu yang pasti akan menyenangkan," kata Arthur yang duduk berdampingan dengan Tyas.
"yey...itu sih mau Daddy," bisik Tyas tertawa.
sedang Dewi bersama asisten Danang, dan asisten Wisnu hanya tenang saja tanpa peduli.
bahkan Arthur begitu menyukai kopi buatan wanita tercintanya itu, terlebih selama ini dia tak pernah memiliki orang yang menjaga dan menyayanginya.
tapi itu tak berarti, sekarang dia memiliki Tyas yang begitu menyayanginya, dan berdoa agar gadis muda itu bisa menjadi pelabuhan terakhir cintanya.
di perusahaan Rama sedang pusing bukan main, pasalnya semua hal tak berjalan dengan semestinya.
__ADS_1
tapi sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan membuatnya sedikit bernafas lega.
terlebih ini adalah pesan dari Arthur sendiri yang memintanya datang ke rumah mewah itu.
rama pun langsung menemui Raksa yang sedang melakukan rapat darurat, "kita tak jadi menghadapi masalah, dan kita akan baik-baik saja, jadi kita tak perlu mengurangi karyawan," kata Rama menghentikan raksa.
"apa maksudmu Rama, kamu tau proyek itu tak bisa di lanjutkan, dan kita tak memiliki dana sebanyak itu untuk melanjutkannya," bentak Raksa.
"tidak, proyek itu tetap berlanjut, karena aku sudah mendapatkan kepastian, jadi kita harus tenang dan mulai kembali bekerja jadi silahkan bubar," perintah Rama yang di ikuti semua karyawan.
Raksa tak yakin, tapi dia tetap harus percaya pada saudaranya itu, terlebih Rama adalah pemimpin yang begitu baik selama ini.
"oh ya nanti malam ikut aku pergi, karena kita perlu bertemu orang itu," kata Rama pada adiknya itu.
Rama bahkan memesan beberapa kue khusus untuk buah tangan nanti malam.
sedang di ruangan Arthur, ketiga pria itu sudah kekenyangan, sedang Tyas tertawa melihatnya.
"ada apa sayang?" tanya Arthur.
__ADS_1
"tidak ada, hanya saja melihat kalian bertiga kekenyangan begitu lucu, lihat aku takut roti sobek kalian bisa hilang jika terus seperti ini," ledek Tyas.
"itu tak mungkin, karena aku selalu menjaga tubuhku, meski begitu aku tak mau terlihat tua saat kamu masih begitu muda," jawab Arthur mengacak rambut Tyas