Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
Sd_ cerita sesungguhnya


__ADS_3

pukul enam sore Dewi baru sampai di rumah keluarga Nugroho, dia pun melihat pak kim yang datang ingin menyapanya.


"Hai pak, mana om Rama kok tumben sepi?" tanya Dewi yang melihat sekeliling.


"tuan ada di kebun bunga bersama tamu, lebih baik nona mandi dulu, jika tidak tuan pasti tak suka melihat nona yang masih belum rapi," kata pak Kim.


"tapi itu tujuannya," kata Dewi tersenyum sambil berlari tanpa alas kaki dan sudah mengerti rambut panjangnya.


bahkan gadis itu melempar blazernya begitu saja ke lantai, jadilah pak Kim yang membereskannya bersama pelayan khusu milik Dewi.


Dewi langsung berlari masuk ke rumah kaca tapi langkahnya terhenti saat melihat Rama sedang bersama seorang wanita.


"ini tamu mu om ..." lirih Dewi kecewa.


padahal Rama pernah bilang jika tak semua wanita atau orang asing masuk ke taman ini.


bahkan Dewi saja bisa di hitung hanya beberapa kali masuk ke kebun bunga indah ini.


Dewi memang tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi terlihat begitu serius.


Dewi pun tanpa sadar menyenggol pot bunga hingga jatuh, "siapa itu!" teriak Rama marah.


mendengar ucapan dari Rama, Dewi kaget dan berlari menjauh dari sana, bahkan dia tanpa sadar menginjak pecahan dari pot bunga itu.


Dewi pun berlari dengan menangis, kebetulan Raksa baru pulang dari kantor dan kaget melihat keponakannya itu.


terlebih kaki kotor Dewi, Raksa pun berkati untuk menghampiri gadis itu, dia sadar jika bukan hanya tanah, tapi juga ada darah di bekas telapak kaki dari Dewi.


"gadis bodoh ..." geram Raksa.


"pak Kim bawa kotak p3k milik ku ke kamar gadis bodoh itu," teriak Raksa yang sudah berada di lantai dua.


pak kim pun buru-buru, pasalnya dia tau apa maksud dari Raksa, sesampainya di kamar Dewi.


Raksa sedang berada di kamar mandi bersama Dewi, kemudian keduanya keluar dengan Dewi yang berada di gendongan Raksa.


gadis itu masih sesenggukan, "letakkan disana, dan kenapa kamu mengizinkan wanita lain masuk ke kebun kaca, kamu pasti tau jika kebun itu tak boleh di masuki oleh orang asing," kata raksa dingin.


"maaf tapi itu perintah tuan Rama," jawab pak Kim.

__ADS_1


"tapi itu kebun ku bukan milik Rama!" teriak Raksa marah.


"tolong hentikan om," tangis Dewi yang menahan Raksa yang ingin marah pada kepala pelayan itu.


Raksa pun menghentikan amarahnya dan kembali mengobati luka di kaki Dewi, dan ternyata luka itu terlalu dalam.


"pak Kim, kamu pernah tinggal di camp militer dan pernah menjadi dokter darurat disana, sekarang jahit Lula Dewi, biar aku yang menahan Dewi," perintah raksa karena luka di kaki Dewi terlalu lebar dan dalam.


pertama Dewi mendapatkan obat bius lokal, kemudian Raksa memeluk Dewi dan pak Kim mulai menjahit luka di kaki itu.


Dewi terus berteriak-teriak, tapi Raksa merelakan lengannya di gigit oleh Dewi agar gadis itu tak kesakitan.


Rama yang baru selesai dengan tamunya pun heran mendengar semua keributan dan juga rumah yang kotor dan jejak kaki tanah di seluruh anak tangga.


"ada apa ini?" tanya Rama dingin.


"nona Dewi terluka tadi, dan ini semua adalah jejak kaki nona," jawab seorang pelayan.


mendengar itu Rama berlari ke atas t


dan benar saja gadis itu sudah selesai di obati dan sudah di baringkan di ranjang oleh Raksa.


Raksa pun duduk di ranjang, "kalian bicara, jangan sedih seperti ini," kata raksa.


"aku lelah om, tolong temani aku, atau kalau om pergi tolong telpon mami untuk menjemput ku," kata Dewi.


raksa pun melirik kearah Rama, "tolong tinggalkan kami kak Rama, nanti aku akan menjelaskan sampai kondisi Dewi tenang,"


"baiklah," jawab Rama yang memang tak tau apapun.


Dewi pun akhirnya tertidur setelah satu jam, terlebih pengaruh obat juga, raksa pun keluar kamar dan melihat Rama yang menunggu di sana.


"sebenarnya ada apa?" tanya Rama.


tanpa menjawab, sebuah pukulan keras mendarat di wajah tampan Rama.


"kau gila, kenapa kamu terus menyakitinya, jika kamu tak benar-benar menyayanginya bilang dan biarkan dia mandiri, untuk mencari cintanya dan hidupnya," kesal Raksa.


"kamu ini ngomong apa? kenapa terus bicara yang tak jelas, kau tau apa yang ku alami, selain Tyas, hanya Dewi yang dapat dekat dengan ku kau lupa itu," marah Rama yang langsung membalas pukulan dari raksa tadi.

__ADS_1


"terus kenapa kamu mengajak wanita lain masuk ke rumah kaca, kau tau benar jika rumah itu tak boleh di masuki siapapun, kau tau aku tak suka itu,"


"ah pasal itu, dia itu Khanza, dia ingin meminta bantuan untuk kembali ke samping Wisnu, tapi dia merasa jika Dewi menghalanginya," jawab Rama.


"kau gila, asal kau tau jika Wisnu tidak menyukai Dewi, begitupun dengan Dewi, dia hanya merasa kasihan pada Ara, jadi jangan terlalu tolol lah kak, kenapa kamu bisa berpikiran untuk bekerja sama dengan dia, asal kau tau dua meninggalkan Wisnu karena dia ingin status tapi Wisnu tak bisa memberikannya, sekarang setelah dia bangkrut dan tak memiliki uang dia mencari Wisnu, dasar wanita gila,"


"aku salah ternyata, dan berarti tadi yang di taman, itu Dewi?"


"menurut mu siapa? hantu! sudah aku mau tidur dulu," kata Raksa.


"tunggu raksa, kalau begitu tolong bereskan semuanya, dan kau bisa memiliki satu pulau pribadi milik ku, dan jangan kecewakan aku," kata Rama yang tak mau mengotori tangannya sendiri.


"dengan di tambah mobil Ferarri terbaru milik mu,maka aku Anggap bayaran impas," kata raksa yang tak ingin rugi.


"terserah, jika perlu ambil mobil yang kau suka," kesal Rama yang masuk kedalam kamar Dewi.


Rama pun bergegas menghampiri Dewi yang ternyata ingin bangun dari ranjangnya.


"mau kemana?" tegur Rama.


"pergi, om pembohong, pergi!!" usir Dewi sambil memukuli Rana dengan tangis yang tak terbendung.


"maafkan om sayang ... aku seharusnya tak melakukan hal tadi, aku hanya melakukan semuanya karena cemburu, telebih kamu yang begitu perhatian pada Ara, aku takut kamu benar-benar bisa meninggalkan aku dan pindah ke Wisnu, kamu tau jika aku tak bisa jika itu benar semua itu terjadi," kata Rama memeluk Dewi


"tapi kenapa om ... bukankah Dewi sering bilang kalau hanya om, tapi kenapa om terus meragukan cintaku, kenapa om?"


"karena aku sadar, jika usia ku beda dengan mu, aku hanya punya ketakutan saat kamu melihat orang yang tampan dari ku dan membuatmu tergoda, maka aku harus bagaimana, bagaimana pun aku pria yang sudah tua Dewi," jawab Rama.


Dewi pun menahan ucapan Rama dengan jarinya, bahkan keduanya pun berpelukan.


tak lama Dewi ingat sesuatu, "om lepas, aku mau ke kamar mandi karena kebelet pipis,"


Rama pun langsung menggendong Dewi dengan erat menuju ke kamar mandi.


"keluar dulu om, jangan di situ, malu ih, belum sah," kata Dewi mengusir Rama.


"tapi nanti kalau kamu ingin keluar, gimana sayang?" kata Rama.


"nanti aku panggil, sudah sana pergi jangan disini," kata Dewi yang berhasil membuat pria itu keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2