
pagi hari suasana terlihat cerah, Dewi bangun dan menginggat semua acara semalam dia merasa begitu senang campur malu.
beberapa pelayan datang membawa sarapan dan juga teh herbal untuk kesehatan wanita itu.
"apa semalam kalian yang mengantikan bajuku?"
"tentu nona, dan setelah ini tolong mandi jika tidak nona akan terlambat ke kantor," kata seorang pelayan.
"ya kamu benar," jawab Dewi yang langsung menghabiskan teh dan roti isi miliknya.
tak hanya itu, setelah mandi Dewi memilih baju warna biru begitupun dengan blazer yang akan di gunakan.
saat turun ternyata Rama dan raksa sedang sarapan, Dewi pun menyapa kedua om-nya itu.
"selamat pagi om, hari ini bisakah mengantarku?" mohon Dewi berharap Rama berinisiatif.
"biar aku yang mengantarmu, karena kak Rama ada rapat pagi ini, dan itu rapat penting," kata Raksa.
"tak perlu, aku akan mengantar mu, terlebih ini masih jam setengah delapan, ayo sayang," ajak rama pada Dewi.
"pergi dulu om Raksa," kata Dewi tersenyum senang.
Rama pun merangkul pinggang Dewi dan berjalan keluar, ternyata asisten Adi sudah menunggu mereka.
sedang Raksa tertawa melihat berita panas yang menyerang Sarah dan managernya.
pasalnya model itu kini hancur karena para wartawan yang memergoki keduanya sedang bermalam di hotel.
bahkan bukan hanya itu, Raksa juga menyebar semua bukti yang menunjukkan bahkan wanita itu yang sering memeras para korbannya.
dan semua ketenaran di dapatkan bukan dari jalan yang benar, jadi mudah menghancurkan semua itu hanya dengan satu serangan.
Rama duduk di kursi belakang bersama Dewi, dan gadis itu masih saja makan cemilannya.
"kamu tak takut gemuk?" tanya Rama.
"apa om tak suka, maka aku akan berhenti ngemil," kata Dewi langsung berhenti mengunyah makanannya.
"tentu saja tidak, aku hanya bertanya sayang, bagaimana pun bentuk mu nanti, aku akan tetap menyukai mu," kata Rama tersenyum gemas.
asisten Adi tak mengira kini dia akan sesering ini melihat tawa dari bos-nya itu.
terlebih selama ini Rama terkenal sebagai bos yang pelit senyum, meski anak buahnya memberikan laporan tentang profit yang naik secara signifikan.
mobil itupun sampai di perusahaan Alejandro Grub terlebih dahulu, Rama bahkan turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Dewi.
"om ... aku kerja dulu ya, nanti ketemu pas pulang kantor lagi ya," pamit Dewi.
"baiklah-baiklah kamu bekerja, ingat jangan telat makan, dan jika butuh apapun, kamu bisa menghubungi om mu ini," kata Rama.
"siap om, love you," kata Dewi memberikan kecupan di pipi Rama sebelum pergi ke kantornya.
__ADS_1
Rama langsung masuk kedalam mobil dan menuju ke perusahaannya, Rama tak mengira akan merasakan kasmaran di usianya yang tak muda lagi.
Rama hanya tersenyum tanpa sadar sudah sampai di kantornya sendiri, dan dia pun langsung menuju ke ruangannya tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.
pria itu memang sering memasang wajah dingin, bahkan hari ini rapat juga begitu.
semua karyawan di buat keringat dingin oleh Rama, pasalnya dia menemukan keslahan pada laporan akhir bulan.
tanpa segan Rama bahkan melempar semua laporan itu ke wajah para devisi keuangan.
sedang di bandara internasional Juanda Surabaya, ada rombongan yang datang setelah mendapatkan kabar dari putri mereka.
ya Arthur tak bisa hanya tinggal diam saat tau jika putrinya dan Rama ingin menikah, pasalnya Rama belum meminta izin.
bahkan saat Tyas menghubungi pria itu, ponsel dan semua nomor pria itu selalu saja sibuk, bahkan Tyas hingga kesal sendiri.
sesampainya di rumah, semua pelayan kaget, pasalnya tak ada yang mengatakan jika keluarga dari Arthur datang.
"apa saya perlu memberi tahu tuan besar dan nona? karena mereka sedang bekerja dan sepertinya anda tidak mengatakan jika akan pulang," kata pak Kim.
"tak perlu pak, kami memang sengaja, setidaknya kami ingin beristirahat dan anda bisa mengantar dua bocah itu ke perusahaan Nugroho, untuk menyelesaikan tugas mereka," kata Tyas menunjuk kedua putranya yang terlihat acuh tak acuh.
"aku mengerti tugas ku, tapi yakin dengan putra mana yang satu itu," tunjuk Derry pada saudara kembarnya.
"hei... kau tau aku tak bisa menunjukkan bahwa aku menyukai seseorang, karena dia harus membuatku yakin dulu, jadi jangan heran jika nanti aku berulah, ayolah ini kakak perempuan ku satu-satunya," kata Derrick yang masih sibuk dengan iPad miliknya.
mereka berdua pun diantar pak Kim menuju ke perusahaan Nugroho, sedang Tyas dan Arthur menunggu di rumah.
dua bocah itu memang mirip tapi tidak dengan sikap mereka, Derrick yang selalu berani dan sering speak up.
sesampainya di Perusahaan, kedua bocah itu langsung bisa masuk tanpa harus dapat halangan.
terlebih para karyawan sudah trauma dengan kejadian yang terakhir. terlebih dua bocah itu benar-benar membuat kuwalahan terakhir kali.
"om kampret !!" teriak kedua bocah itu melihat Raksa yang baru keluar dari lift.
Raksa kaget melihat dua hantu kecil itu, "ya Tuhan aku mimpi, kenapa anak setan lepas, hei," kaget Raksa mencubit pipinya sendiri.
Derrick yang usil langsung menendang kaki dari raksa, "dasar om papi gak waras ya, masak ada kami seperti orang tak kenal," ketus pria kecil itu.
"ya bukan seperti itu, aku hanya kaget melihat kalian disini, terus kalian kesini mau apa?" tanya Raksa tak santai
"mau membuat hancur perusahaan ini," kata Derry tertawa.
"kamu berani melakukannya, maka aku akan mbiat kalian di deportasi dari negara ini," kesal Rama yang keluar dari lift juga.
"menurut mu aku takut papi?" tantang Derrick.
keduanya pun saling menatap seperti saling menantang, terlebih mereka sudah cukup lama tak bertemu.
"sudah Derrick, kita makan dulu boleh ya Pi, kami membawa tugas penting, jika tak ingin membelikan makan, maka bisa-bisa rencana pernikahan papi terancam," kata Derry tersenyum.
__ADS_1
"dasar anak dan ibu sama-sama tukang palak, ya sudah kalian bebas memilih restoran mana yang ingin di kunjungi," kata Rama.
"ayam goreng!" teriaknya dengan bersamaan.
"dasar omnivora," ledek Raksa.
"memang om gak, idih ..." kata Derrick meledek Raksa.
Rama pun mengandeng tangan kedua keponakannya itu, dan menuju ke kantornya.
asisten Adi yang di minta membelikan makanan, sedang Rama dan Raksa menemani dua keponakannya itu.
"sudah, memang kalian bawa tugas apa, jangan membuatku penasaran lah," kata Raksa pada dua keponakannya itu.
"kami cuma di minta mengatakan pada papi Rama untuk siap-siap menemui papa, karena pria tua itu ingin bertanya dan mengetahui kesungguhannya menikahi kak Dewi, dan jika tak serius maka siap-siaplah kak Dewi di bawa menjauh dari kalian semua," kata Derrick jujur.
"wah gila juga tuh pria tua, masak berani sama kakak iparnya," kata Raksa tak habis pikir.
"dia hanya seorang ayah dari seorang putri yang ingin tau kesungguhan dari pria yang ingin menikahi putrinya," jawab Rama yang mengerti.
tak lama makanan pun datang, dan langsung mereka santap bersama, dan jadilah empat omnivora itu begitu menyukai ayam crispy itu.
terlebih dua bocah itu mumpung bisa makan tanpa pemantauan dari Tyas, jika tidak mereka hanya boleh makan saat hari-hari tertentu.
karena Tyas tak ingin kesehatan dari kedua putranya itu dalam bahaya, sedang di perusahaan Dewi.
gadis itu juga sedang makan siang di restoran depan perusahaan, tapi tanpa di duga Dewi bertemu dengan seseorang.
pria itu bahkan menyanyikan lagu kesukaan dari Dewi, tapi Dewi tak pernah mengenalnya toh dia memsng tak kenal siapapun.
"Dewi, apa kamu melupakan ku?" katanya mendekati Dewi.
"maaf anda siapa, aku tak pernah mengenal siapa pun disini," kata Dewi sedikit khawatir.
"aku teman mu, si kaca mata, kamu lupa," katanya dengan menunjukkan hadiahnya dulu.
Dewi menutup mulutnya tak percaya, dia ingat teman kaca mata itu adalah seorang wanita.
tapi ini, dia seorang pria tampan dengan tubuh yang begitu sempurna, dan menjadi penyanyi idola di resto itu.
bahkan asisten Deva juga tergila-gila padanya, tapi pria itu tersenyum meminta Dewi menutup mulutnya.
"sudah, mulai sekarang panggil aku Dimas, bagaimana kabarmu, kamu begitu lama tak pernah terlihat, dan sekarang terlihat begitu cantik," puji Dimas.
"terima kasih, aku memang baru beberapa bulan disini untuk mengambil tanggung jawab perusahaan milik keluarga," terang Dewi.
"benarkah, wah aku lupa jika kamu putri dari keluarga Sanz, dan siapa ini?" tanya Dimas pada gadis di samping Dewi.
"dia asisten ku, namanya Deva jika kalian mau berkenalan boleh kok, benarkan Deva, kebetulan sia masih singel kok,"
"benarkah?" tanya Dimas.
__ADS_1
secara reflek asisten Deva pun mengangguk, dan Dimas pun tersenyum membuat gadis itu meleleh.
sedang Dewi ingin tertawa, dia tak akan tau bagaimana reaksi dari asistennya itu saat tau jika Dimas itu sebenarnya adalah wanita awalnya.