
Tyas dan Dewi sedang berada di ruang tengah, tak lama pengasuh Ani dan pelayan Mila datang.
"nyonya, ini buah kering pesanan nyonya," kata pelayan Mila.
"ah terima kasih ya mbak," kata Tyas yang di angguki oleh pelayan Mila.
"kalau begitu saya pamit kebelakang, dan jika butuh apa-apa nyonya panggil saya,"
"iya mbak," jawab Tyas.
sedang pengasuh Ani sedang menemani Dewi melukis, "non Dewi, coba lukis keluarganya nambah adek bayi pasti rame,"
pengasuh Ani sengaja memancing gadis kecil itu, Tyas sebenarnya sadar tapi dia hanya diam saja.
"gak mau mbak Ani, aku gak mau punya adek bayi, mami dan papa hanya milikku," kata Dewi marah.
Tyas pun langsung meneluk putrinya yang marah, "ada apa sayang?"
"aku tidak mau punya dedek bayi, mami cuma milikku," marah Dewi yang terdengar terisak menyembunyikan wajahnya.
Tyas terdiam, ternyata Arthur dan kedua asistennya baru pulang dari kantor.
mereka pun kaget melihat apa yang terjadi, tapi Arthur memilih untuk bertanya nanti.
"malam sayang, mami ... Dewi kenapa nak?" sapa Arthur mencium pipi Tyas.
"putri mami ini sedang marah pa, karena dia mau punya adik kecil," goda Tyas tertawa.
"gak mau, Dewi gak mau punya adik!" marah Dewi.
sedang Arthur melihat Tyas, "kamu hamil!" kaget pria itu.
Tyas pun diam, melihat reaksi dari suaminya itu, Tyas merasa jika itu sebuah dosa besar.
"Danang tolong ajak Dewi ke kamarnya, aku ingin mengatakan sesuatu pada istriku," kata Arthur yang menyeret Tyas ke kamar mereka.
"Daddy sakit..." kata Tyas berontak.
Arthur terus menyeretnya dengan kuat, sesampainya di kamar, Tyas di dorong hingga jatuh ke ranjang.
"aku tanyakan hamil atau tidak!" bentak Arthur.
"memang kenapa? toh ini juga anakmu, kenapa memangnya?". tanya Tyas ingin menggoda Arthur.
"kenapa, aku tak mau dia lahir, gungurkan!" bentak Arthur.
sebuah tamparan keras di wajah Arthur, "aku tak mengira jika kamu begitu jahat, apa salahnya jika aku hamil, apa anak itu sangat menjijikkan untuk mu Daddy, kau jahat, aku hanya bercanda dengan Dewi, tapi reaksi mu keterlaluan Daddy," kata Tyas menangis dan mendorong Arthur.
__ADS_1
Arthur terdiam mendengar kemarahan dari istrinya, dia tak mengira jika ini hanya bercandaan.
"argh!!!!" teriak Arthur.
Tyas sudah pergi entah kemana, sedang Arthur merutuki kebodohannya.
Arthur pun berlari mengejar Tyas, tapi pria itu kehilangan semua jejak istrinya.
"Tyas!!!" teriak Arthur memancing semua orang berkumpul.
"ada apa tuan?" tanya asisten Wisnu.
"minta semua orang mencari istriku, cepat!" teriaknya.
"tapi nyonya tidak keluar tuan," kata para penjaga di gerbang depan rumah.
pak Yun juga mengerahkan semua orang, tapi pengasuh Ani tak mengira jika satu kalimat darinya.
bisa membuat kehebohan terlebih pertengkaran antara Tyas dan Arthur.
Arthur pun mencari ke area belakang, dan mendengar suara tangisan lirih, Arthur pun mencari sumber suara itu.
ternyata Tyas sedang menangis di samping pohon westeria yang di tamannya.
Arthur langsung memeluk Tyas saat melihat wanita itu, tapi Tyas memukul dada Arthur.
"bukan seperti itu," lirih Arthur mempererat pelukannya.
akhirnya Arthur pun mengendong Tyas yang sudah mulai lelah karena menangis.
semua pun merasa lega melihat wanita itu di pelukan Arthur, Keduanya pun menuju ke kamar atas.
Dewi ingin menghampiri orang tuanya, tapi asisten Danang mengeleng pelan, dan Dewi mengerti apa maksudnya.
Dewi pun mengikuti asisten Danang, Arthur menidurkan Tyas di ranjang kemudian dia memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Arthur berpikir keras, pasalnya dia tak ingin memiliki anak lagi, terlebih membesarkan Dewi saja begitu berat untuknya.
terlebih dia hanya ingin bersama Tyas tanpa ada yang menganggu, dan Dewi sudah cukup baginya.
sedang Tyas masih tak menyangka dengan apa yang dia dengar dari suaminya.
tapi sebuah pesan mengejutkan dirinya, ternyata sebuah pesan video dari nomor tak di kenal.
tapi terlihat dari profil foto di aplikasi itu ternyata foto Rama, Tyas pun membukanya.
"selamat malam dek, lihat kita bareng siapa? opa Setyo, beliau ingin mengatakan sesuatu padamu, ayo opa," kata Rama dengan begitu ceria.
__ADS_1
"selamat malam Tyas, opa mau minta maaf, maafkan opa atas semua yang terjadi selama ini, opa sadar jika sudah keterlaluan pada mu, jika kamu mau menerima permintaan maaf opa, tolong main ke rumah opa ya nak, opa ingin berbincang dengan mu lebih lama," kata pria sepuh itu.
"kami tunggu ya dek, jangan kau hanya merawat pria tua mu itu, ingat Kakak-kakak mu ini dan opa juga, love you," kata Raksa sebelum video berakhir.
Tyas pun kembali terisak lirih dan tak bisa menghentikan air matanya yang menetes.
tak lama terasa Arthur yang merangkulnya dari belakang, "lebih baik Daddy makan malam dulu bareng Dewi, pak Yun sudah menyiapkan semuanya," kata Tyas.
"kamu juga turun untuk makan," kata Arthur.
"maaf ... aku sudah kenyang, tolong minta pelayan Mila untuk mengantar susu ke kamar," kata Tyas.
"baiklah, kamu istirahat saja dulu."
Arthur pun tak bisa memaksa Tyas, jika tidak pasti wanita itu akan marah lagi dan Arthur tak ingin itu terjadi lagi.
Arthur turun dan melihat semua orang sudah menunggu, bahkan pak Yun sudah menarik kursi untuk Arthur.
"pak Yun, tolong minta pelayan Mila untuk mengirimkan susu untuk nyonya di kamar," kata Arthur.
"biar saya saja tuan," kata pengasuh Ani menawarkan diri.
"apa nama mu Mila, nyonya meminta pelayan Mila!" bentak Arthur keras.
semua orang diam melihat itu, bahkan Dewi sempat kaget dan ketakutan melihat kemarahan Arthur.
"baik tuan, saya akan meminta pelayanan Mila untuk membawakan permintaan nyonya," jawab pak Yun.
"baiklah lakukan secepatnya, dan ayo kita makan malam," kata Arthur menatap asisten Danang, asisten Wisnu dan Dewi yang sudah berada di meja makan.
Arthur pun nampak begitu dingin, bahkan Dewi yang biasanya begitu manja, terlihat begitu mandiri.
terlebih ini juga termasuk salahnya, jika saja dia tak menangis mungkin Tyas tak akan bertengkar dengan Arthur.
pelayan Mila naik ke lantai atas mengantarkan susu, dan saat masuk dia kaget melihat Tyas mengunci pintu kamarnya.
"duduk ..."
"ada apa ini nyonya?" tanya pelayan Mila terkejut dan ketakutan.
"duduk saja, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu," kata Tyas duduk di sofa kamar itu.
pelayan Mila pun duduk di depan Tyas, "apa kamu yang membersihkan walking closed kamar ini?" tanya Tyas.
"tidak nyonya, itu tugas pak Yun dan pengasuh Ani tadi, saya membersihkan kamar dan mengantikan seprai," jawab pelayan Mila.
"baiklah, kamu pergi kalau begitu, maaf mengejutkan mu, dan jangan mengatakan apapun jika aku bertanya seperti ini pada mu," kata Tyas.
__ADS_1
"baik nyonya," jawab pelayan Mila.