
Tyas sudah sampai di universitas yang di pilih Arthur, dia pun mencari bagian tata usaha.
kebetulan ini adalah tempat di mana Tyas pernah mendaftar kuliah tapi habis itu dia cuti karena ada masalah bersama Cika.
tapi kini dia harus pindah jurusan, yaitu ekonomi bisnis, sesuai permintaan dari Arthur.
"Andrea!" panggil seseorang.
Tyas pun menoleh dan kaget melihat beberapa kenalannya, bahkan mereka terlihat makin dewasa, dan ada tambahan beberapa orang di geng itu.
"sudah ku katakan berhenti memanggilku Andrea, panggil aku Tyas seperti yang lain," kata Tyas berpelukan dengan gadis itu.
"maaf deh cantik, habis hampir setengah tahun kamu cuti, dan kenapa kamu di fakultas ekonomi, bukankah kamu ambil jurusan arsitek," tanya Dian.
"hanya mau pindah saja," jawab Tyas tersenyum.
"beh sekarang sudah jadi artis dong, nikah aja di siarkan di televisi, tapi suamimu pengusaha besar wak, tapi tua ya," kata Alfin merangkul Tyas.
"hei tuan muda, jaga sikap mu, aku sekarang itu istri orang, tapi kita akan jadi satu kelas kayaknya, karena aku dengar dari bagian administrasi, kamu juga habis cuti ya," tanya Tyas meledek Alfin.
"ha-ha-ha, ya kamu benar, sudah ayo kita masuk ke kelas yuk, oh ya perkenalkan mereka teman baru kita, Dwi dan Suni," kata Dian memperkenalkan dua orang lain.
"halo salam kenal dariku," kata Tyas bersalaman.
"halo mbak," jawab Keduanya.
mereka pun masuk kedalam kelas, sedang di sekolah Dewi jadi rebutan anak-anak yang ingin berteman dengannya.
"Dewi mau berteman dengan ku," kata beberapa murid pria.
Dewi terlihat gugup dan takut, pasalnya gadis kecil itu tak pernah sekolah umum.
"hei kalian berhenti menganggunya, kalian membuatnya takut," kata bocah yang duduk di samping Dewi.
"eh Edwin diam ya, jangan membuatku marah, kamu itu cuma murid miskin," hina murid lain.
"kalian kok gitu, kata mami gak boleh lihat temen dari hartanya, Dewi gak suka," protes Dewi
"ya elah ternyata gadis miskin juga, sudah bubar deh," usir para murid yang lain.
sedang Edwin yang duduk di samping Dewi pun menatap gadis itu, "kenapa kamu membelaku?"
"aku hanya mengatakan apa yang aku tau kok," jawab Dewi.
__ADS_1
"terima kasih, mau berteman dengan ku?" tanya Edwin mengulurkan tangannya.
"ah iya, terima kasih dan mohon bimbingannya, karena aku tak pernah sekolah seperti ini," kata Dewi.
guru pun datang dan pelajaran yang di ajarkan sangat mudah bagi Dewi, karena dia sudah mempelajarinya.
Edwin juga terlihat begitu pintar dalam belajar, meski kursi mereka berada di belakang.
jam istirahat Dewi tetap di kelas, "kamu tidak beli makanan?"
"aku bawa bekal, tapi sepertinya mami lupa tak memasukkan minuman," kata Dewi melihat tas bekal miliknya.
"kalau begitu tunggu disini, aku belikan minuman," kata Edwin.
"terima kasih, aku tunggu ya," jawab Dewi.
beberapa siswi SD itu menghampiri Dewi yang sedang menunggu Edwin.
"hei anak baru, jangan berani menggoda Edwin ya, dia itu milikku, kami sudah di jodohkan asal kamu tau," kata gadis itu
Dewi yang baru berusia delapan tahun mengerti tapi dia terkejut pasalnya gadis seusianya tau hal seperti itu.
"berhenti omong kosong mu Feby, aku tak suka kau bicara tak jelas, dan untuk Dewi dia itu sahabatku jadi jangan berani membuat ulah, pergi sana," usir Edwin yang baru datang dan duduk di samping Dewi.
"awas kamu, kamu tidak tau siapa orang tuaku, dan akan ku buat kamu menyesal," kata Feby pergi bersama teman-temannya.
"ah iya, terima kasih," kata Dewi tersenyum.
Dewi pun membuka bekalnya ternyata sandwich dan juga ada potongan buah, dan juga yogurt.
"pantas saja tak ada minumannya," kata Edwin tersenyum.
"ha-ha-ha, maaf aku tak tau jika ada yogurt di dalam kotak, kamu boleh meminumnya jika mau, kita kan teman," jawab Dewi memberikan kotak bekalnya.
keduanya pun makan berdua di dalam kelas, untuk pelajaran selanjutnya adalah bahasa Inggris.
Dewi begitu senang mengikuti sekolah karena punya teman, sedang Tyas juga sibuk dengan kuliahnya.
pukul setengah tiga sore kuliahnya baru selesai dan buru-buru pamit pada teman-temannya.
"Tyas kamu belum mentraktir kami," protes Dian menahan gadis itu.
"hei putriku sudah jadwal pulang dari sekolah, kita makan-makan lain kali, aku takut putriku akan menunggu lama," kata Tyas susah kabur duluan.
__ADS_1
mobil mewah itu keluar dari universitas, dan menuju ke sekolah putrinya, meski kurang setengah jam dari jam pulang.
Tyas tak ingin mengecewakan putrinya itu, mobilnya masuk ke dalam kawasan sekolah sesuai petunjuk satpam.
terlihat begitu banyak supir yang menjemput majikan mereka, atau orang tua yang menjemput anak-anak mereka.
kebetulan Tyas bertemu dengan wali jelas Dewi, dan menunjukkan kelas ekstrakurikuler yang sedang di ikuti seluruh murid.
Tyas pun langsung merekam saat putrinya itu bermain biola solo, ternyata di sekolah ini mendukung semua bakat dari murid-muridnya.
itulah kenapa meski terlihat seperti sekolah internasional biasa, tapi kurikulum sedikit berbeda.
saat selesai Tyas langsung bertepuk tangan dengan semangat dan melambaikan tangan pada Dewi.
Dewi juga membalasnya, dan Edwin menoleh dan kaget melihat gadis yang pernah menolong dirinya dan sang ayah.
"dia siapa dewi?"
"itu mami ku, mami tersayang ku," jawab Dewi.
tak lama sekolah pun berakhir, dan Dewi langsung memeluk Tyas dengan hangat.
tapi tidak dengan Edwin yang nampak kecewa, pasalnya dia terlanjur menyukai Tyas meski baru pertama kali bertemu.
"mami perkenalkan ini temanku, namanya Edwin," kata Dewi.
"halo ganteng, terima kasih ya sudah mau menjadi teman putri Tante," kata Tyas dengan lembut.
"iya Tante," jawab Edwin melihat Tyas.
"oh ya, tadi mami sempat beli coklat, kalian mau?"
"mau mami," jawab Dewi.
mereka pun menuju ke rumah, tapi sebelum itu Tyas mengajak Dewi untuk membeli buah-buahan.
mereka berdua melihat ada yang ibu-ibu yang membawa anak bayi di gendong depan.
"Dewi lihat, ada Tante yang bawa adek kecil, lucu ya," kata Tyas.
"tidak, aku tak mau punya adik bayi, Dewi tak mau jika mami dan papa lebih sayang adik Dewi nantinya," kata Dewi dengan wajah cemberut.
Tyas terdiam, dia tak tau harus bereaksi bagaimana, terlebih Dewi yang langsung menjawab seperti ini.
__ADS_1
dia sadar bagaimana perasaan gadis kecil itu, mungkin karena Dewi tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
itulah kenapa gadis kecil itu tetap gigih tak ingin punya adek. dan mungkin Tyas akan membicarakan ini dengan Arthur.