
karena terlalu sibuk menunggui putra yang baru dia temukan, dan lagi dia juga melakukan tes DNA untuk meyakinkan semua keluarganya.
tuan Setyo lupa menghubungi keluarganya di Surabaya, dan saat ini Tyas sedang berhadapan dengan dua kakaknya yang nampak kesal.
"oke ada apa ini?" tanya Tyas sedikit takut terlebih dia tau pasti ada masalah.
"sekarang katakan kemana opa, dia sudah tak pulang dari tadi pagi, dan raksa sempat melihat dirimu bersama opa di restoran," kata rama melihat Tyas dingin.
"emm ... sebenarnya setelah bermain kami berpisah kak, dan aku tak tau opa dimana?" kata Tyas sedikit gugup.
"dek jangan bohong," kata Rama sedikit membentak.
Tyas pun mengenggam tangan suaminya, Arthur pun bahkan kaget melihat reaksi Tyas.
"tenang sayang, jangan panik, kak Rama hanya bertanya padamu," kata Arthur
"maafkan aku ... opa tadi minta di antar ke tempat kost Dian, dan aku meninggalkan opa disana," jawab Tyas jujur.
"benar yang aku katakan!" suara raksa marah.
"tutup mulut mu Raksa, kamu tak berhak mengatur hidup opa!" teriak Rama tak terima.
"maafkan aku, aku hanya mengantarkan opa saja, aku tak tau kenapa opa ke sana," tambah Tyas panik.
"tidak apa-apa dek, ini bukan salah mu, terlebih opa sudah tau mana yang baik dan buruk untuknya," jawab Rama.
"tapi dia berkencan dengan mantan kekasih ku, orang yang aku cintai," marah Raksa.
"hentikan Raksa, dulu kau meninggalkan dia begitu saja, saat opa meminta mu untuk bertahan atau menikahinya kamu menolaknya, dan sekarang dia memiliki kehidupan baru kau mengusiknya, lagi pula dia bukan lagi gadis baik yang bisa dijadikan istri, jika kau lupa dia itu wanita panggilan," marah Rama.
Tyas tak terima mendengar itu, "apa salahnya, itu juga bukan karena pilihan dan kemauannya, apa kalian tau alasan di balik dia memilih jalan itu, berhenti menghina pekerjaan apapun itu," teriak Tyas tak terima.
"buat apa kalian pusing mencari opa, dia bukan balita yang harus terus di jaga, biarkan dia memilih jalannya sendiri, dan kamu kak Raksa, aku tau benar jika kekasih mu berjajar dimana-mana, jadi jangan seperti pria yang tak bisa mencari wanita lain," tambah Tyas yang sudah terlalu lama diam.
kedua pria itu kini tak berkutik di depan Tyas, sedang Tyas mencoba menghubungi sang opa.
setelah tersambung Tyas menekan tombol loud speaker, "halo opa, sekarang opa dimana? opa jangan seperti anak kecil yang pergi tanpa kabar seperti ini, kami menghawatirkan mu opa," kata Tyas langsung memberondong sang kakek dengan pertanyaan yang begitu banyak.
"maafkan aku Tyas, opa sedang bersama ku, dia menemaniku pulang ke desa, karena aku membutuhkan dia, demi putra ku ..." jawab Dian yang mengangkat telpon itu.
__ADS_1
"apa maksud mu, putra? kamu sudah pernah melahirkan dan memiliki putra?" kaget Tyas yang tiba-tiba jatuh lemas.
Arthur menangkap tubuh istrinya itu, "nanti akan opa jelaskan saat kami sudah di Surabaya, dan untuk beberapa hari ini, opa tak bisa pulang, sampai Dion membaik, jadi tak perlu kalian khawatir tentang kondisi opa disini," tambah tuan Setyo.
Rama dan Raksa saling pandang, mereka masih mencerna ucapan sang opa.
sedang Tyas kembali teringat dengan ucapan sang opa, tak hanya itu, Tyas ingat dulu tuan Setyo pernah mengatakan setelah pulang dari Indonesia.
dia melakukan kesalahan besar pada foto mendiang sang Oma, itu terdengar oleh Tyas tak sengaja.
"maafkan aku sayang, aku telah melakukan kesalahan besar, aku merusak wanita suci, dan kamu pernah bilang, aku harus menjadikan wanita itu kekasih ku penggantimu, tapi itu tak mungkin," suara tangis tuan Setyo.
Tyas belum sepenuhnya faham, tapi sekarang dia mengerti bagaimana sang opa bisa begitu khawatir pada Dian.
"apa aku akan punya paman kecil," lirih Tyas.
"apa?" bingung Arthur mendengar ucapan istrinya itu.
tiba-tiba Tyas pingsan karena syok, "pak Yun panggil dokter!" perintah Arthur.
akhirnya dokter keluarga datang dan memeriksa kondisi Tyas, dan wanita itu hanya terlalu lelah dan tertekan.
bagaimana pun Arthur adalah pria yang lebih dewasa daripada Rana dan raksa, jadi tak salah jika pria itu memberikan nasihat.
"papi Rama, ayo ikut Derry main di kamar!" tarik bocah itu memaksa pria itu agar mengikutinya.
Rama pun pasrah, sedang Raksa memilih menikmati taman Bunga di samping rumah.
tak lama pelayan Mila mengantarkan minuman kepada Raksa, "jangan melamun tuan muda, bisa kesambet loh, lagi pula ini taman kesukaan nyonya dan juga nona saat sedang ingin sendiri, terlebih mereka sangat suka membaca buku di bawah bunga ini,"
"ya karena ini sangat mententramkan hati, semilir angin ini dan aroma bunga dan juga saat bunga jatuh berguguran ini sangat indah," puji raksa.
"lihatlah ini, ada seorang pangeran sedang menikmati suasana yang begitu indah malam ini," kata pelayan Mila menunjukkan hasil fotonya.
"loh bagus banget hasilnya, kamu dulu sekolah jurusan multimedia?" tanya Raksa.
"tidak kok, aku hanya menyukai fotografi dan belajar dari YouTube, dan aku sering ikut lomba foto kecil-kecilan," jawab pelayan Mila pamit.
raksa masih memperhatikan wanita itu menjauh, tapi Arthur menghampirinya.
__ADS_1
"jangan berani meliriknya, jika tak ingin adik mu marah lagi, dia itu orang kepercayaannya,"
"cih... kenapa kamu disini, Sono temenin istrimu itu," kesal raksa.
"sudah ada Dewi yang menjaga mamanya, hadis itu begitu mencintai mamanya bahkan aku kadang sampai cemburu melihat Tyas yang begitu sayang pada Dewi juga," curhat Arthur.
"cih dasar tak ingat umur nih juga," kesal Raksa mendengar curhatannya.
makan malam, mereka memutuskan untuk bakar-bakaran saja, bahkan yang lucu, tiga pria dewasa itu terus berteriak histeris melihat api yang menyala karena terkena minyak ayamnya.
sedang Tyas dan Dewi hanya tertawa saja karena melihat tingkah ketiganya, sedang dua bocah kecil itu sibuk merepotkan pak Yun untuk membantu mereka menusuk-nusuk sosis kesukaan mereka.
tapi sayangnya dia asisten Arthur tak bisa datang karena harus membereskan apartemen untuk pindah besok.
karena asisten Wisnu dan asisten Danang ingin mulai hidup mandiri, terutama Arthur juga sudah mempunyai keluarga yang sangat bahagia.
terlebih mereka tak ingin menjadi obat nyamuk, atau bahkan memergoki sang bos saat bermesraan dengan istri.
jadi mereka pun memilih jalan itu, dan akan ada pelayan dari rumah Arthur yang akan membantu bersih-bersih di rumah mereka juga.
saat semua sedang bersenang-senang, tak terduga tuan Tjandra datang sambil membawa hadiah untuk tiga cucunya.
"opa...." teriak ketiganya.
"ho ho ho ... opa datang membawa hadiah untuk cucu-cucu tersayang ku ini, sini peluk dulu," kata tuan Tjandra begitu bahagia.
"terus hadiah untuk kami?" tanya Tyas menggoda papa mertuanya.
"untuk mu sayang, besok aku akan memindahkan saham milik ku padamu, dan papa ingin hidup damai di villa pribadi tanpa gangguan dari siapapun," jawab tuan Tjandra.
"terus wanita ular peliharaan mu mau di kemanain pa, jangan bilang di lepas gitu aja," kata Arthur sibuk dengan daging yang sedang di panggang.
"udah aku tangkar kan, dan sekarang sudah memiliki pelatih yang muda dan lebih berbakat, jadi tak usah khawatir Arthur, ha-ha-ha,"
mereka pun bingung melihat reaksi dari tuan Tjandra, pasalnya begitu mudah dan bahagia saat dia tau di khianati.
bahkan dia nampak tak merasa terbebani, dan di tempat lain mama Farida batu tau jika dia salah mengambil tas yang berisi berkas.
bahkan tanda tangan saja tak bisa di palsukan karena ada rahasia di balik tanda tangan tuan Tjandra.
__ADS_1
dan lagi stempel keluarga juga tak bisa di temukan oleh mama Farida, jadi wanita itu keluar dari rumah tanpa membawa apapun.