
Dewi pun memilih keluar sendiri, pasalnya Rama bikin ngeri kalau tiba-tiba masuk ke dalam lagi.
"loh ... kok keluar sendiri, nanti luka ku terbuka lagi," omel Rama.
"diamlah om, kamu begitu berisik, dari pada terus mengomel, lebih baik tolong ambilkan makan malam, karena aku belum makan malam sedikitpun," kata Dewi kembali mendorong tubuh pria itu.
"baiklah-baiklah, biar aku ambilkan untukmu," jawab Rama yang berjalan turun ke bawah.
Dewi mengambil ponselnya dan ternyata begitu banyak pesan dari Tyas, sepertinya Tyas merasakan sesuatu.
"hallo mama, ada apa? maaf tadi aku sempat ketiduran tadi," kata Dewi yang duduk di ranjangnya.
"ya Tuhan kamu membuat mama khawatir, jangan terlalu capek sayang, oh ya mama lupa jika papa mu akan mengirimkan seseorang untuk membantumu nanti," kata Tyas dari sebrang telpon.
"siapa ma, jangan kirim wanita gatal itu, aku benci dia," kesal Dewi.
"apa, wanita itu, tenang sayang, mama mu ini sudah menyingkirkan wanita fatal di sisi ayah mu itu, janhan kira mama mu ini lemah oke, honey... pastanya jangan lupa di aduk ya!" teriak Tyas pada Arthur yang memasak di dapur.
sedang Dewi tertawa mendengar perkataan itu, pasalnya Sekarang Arthur berusaha berubah untuk menjadi suami idaman terlebih kejadian terakhir membuat mereka hampir terjadi perceraian.
"sudah ya mam, ini om ribut di bawah, aku mau mengeceknya sebentar," pamit Dewi yang tak ingin menganggu kemesraan kedua orang tuanya.
"ya sudah, nanti kau papa libur, kita akan ke Indonesia sekalian liburan, lagian mama juga sudah pusing dengan pertanyaan si kembar yang mencari dan bertanya tentang kakak, love you kak ..."
"love you mama ..." jawab Dewi menutup telponnya.
"makanan siap," kata Arthur membawa pasta.
"yey ... love you papa," teriak si kembar.
Tyas pun bergabung tak lupa memberikan ciuman pada Arthur, begitu pun Arthur yang langsung mencium sekilas bibir istrinya itu.
"papa berhentilah, kamu juga harus ke kantor, tolong jaga kondisimu," kata Tyas yang gemas pada suaminya itu.
"hanya sarapan ma, tak perlu khawatir, terlebih aku punya sekertaris yang handal, dan kalian berdua jangan berulah lagi saat di sekolah," kata Arthur pada kedua putranya.
"memang kenapa papa, kami anak baik kok," kata Derry protes.
"anak baik, kalian hampir membakar satu sekolah lama kalian, dan ini adalah sekolah baru, dan jangan berulah oke, lama-lama bisa bangkrut papa jika kalian terus seperti ini," kata Arthur memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
sedang Tyas tertawa, entahlah kedua anaknya itu begitu nakal tapi di balik itu otak keduanya begitu encer dan cerdas.
Dewi kaget melihat apa yang di bawa oleh Rama, ternyata dia membuat bakso.
"eh... pantas heboh dan lama, ternyata om bikin bakso, dan kemarikan om, aku penasaran dengan rasanya," kata Dewi penasaran.
"tenang sayang, ini buatan om meski sedikit lama, jadi maaf ya," kata Rama yang mulai menyuapi Dewi yang mengangguk senang.
"rasanya seperti meleleh, memang daging apa yang om gunakan?"
"daging sapi Wagyu, karena daging yang terlalu banyak di kulkas," kata Rama tertawa.
"dasar om ini?" kata Dewi.
setelah selesai makan, Rama menemani Dewi untuk menonton film Twillight series.
sedang Raksa sudah berangkat menuju ke terminal untuk menjemput seseorang.
sesampainya di terminal, seorang gadis kecil yang kisaran umur sepuluh tahun menghampiri dirinya.
"hei om yang mengajak ayah ku bekerja, apa kamu cowok yang suka godain ayah ku, kau iya mending pergi sebelum aku menyakitimu," kesal gadis kecil itu sambil berkacak pinggang.
tapi tak di duga, gadis kecil itu malah menendang tulang kaki raksa dengan cukup keras, dan langsung membuat pria itu kesakitan.
ayah dari gadis itu pun kaget melihat Raksa yang kesakitan di depan putrinya.
"Adel, kamu apakan om-nya?" kata pria itu panik.
"habis om-nya bikin kesel, aku tanya baik-baik malah gak dijawab,malah berani menyentuh rambut ku, itu kan hanya ayah yang boleh pegang," jawab gadis kecil itu memeluk kaki pria itu.
"dasar kamu ini, maaf ya raksa, putriku memang seperti ini," kata Danu tersenyum.
"ya kali, buset tuh bocah nendangnya berasa banget lagi, anjr*t ..." kata raksa.
"c*k, Lanang kok loyo, gak gaul deh, ayah Ojo konco wong koyok kae,"
Danu langsung membekap mulut putrinya itu, terlebih raksa sudah melotot karena ucapannya.
"kamu janji kalau mau ikut ayah harus nurut, ya udah sekarang kita ke rumah eyang dulu, jadi kamu tinggal bareng mbak Uyung ya," perintah Danu.
__ADS_1
"mboten yah... mbak Uyung lek ngamok metu sunggune..."
"gak oleh nolak, manut," kata Danu.
"inggeh yah," pasrah bocah itu, tapi dia tetap melotot melihat kearah Raksa.
"eh Danang, besok kita mulai bekerja," kata Raksa yang mulai tak kesakitan.
"sudah ku katakan jangan pernah memanggilku Danang, namaku Danu!" teriak Danu marah.
"ah maaf bro," jawab Raksa.
Raksa pun mengajak mereka untuk ke rumah kerabat mereka, Danang memang benar-benar melupakan masa lalunya yang begitu buruk.
saat semua sedang diam menikmati suasana malam, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras, yang berhasil membuat dua pria di depan itu pun menoleh.
"adek lapar?" tanya Danu pada putrinya itu.
"iya ayah, tapi aku ingin maem tahu bumbu kecap," jawab gadis kecil itu.
"kebetulan aku tau tempat yang tepat, kit makan tahu lontong dulu," kata Raksa.
mereka pun menuju kesebuah warung yang cukup sederhana, tapi karena mereka membawa mobil jadi sedikit sulit mencari parkir.
setelah mendapatkan tempat parkir, mereka pun segera masuk kedalam warung, dan memesan makanan yang di inginkan si kecil.
"ayah pakai cabe tiga ya, boleh ya, soalnya nanti gak pedes kalau pakek satu cabe ..." mohon gadis kecil itu.
"nanti sakit perut dek, ayah gadis kerja dan gak bisa jagain adek," kata Danu.
gadis kecil itu pun tertunduk sambil memasang wajah sedih, bahkan dia pun membelakangi sang ayah.
Raksa seperti melihat Tyas yang sedang hamil saat itu, tapi mana mungkin, toh Tyas sudah bersama anak-anaknya.
dan lagi putri Tyas juga sudah mati, jadi mungkin hanya sikapnya saja yang sama.
Danu pun duduk di depan putrinya dan mencium tangan sang anak dengan lembut, "baby marah sama ayah, baby ayah hanya tak mau baby sakit ..." rayu Danu.
"maafkan adek ayah, karena adek selalu merasa mual saat makan-makanan manis, terlebih kalau ada petisnya," jawab bocah itu.
__ADS_1
"bagaimana kalau maem ayah suapi ya, pasti adek mau kan," kata Danu yang kini berhasil membuat gadis kecil itu menurut.