
"ngomong-ngomong cantik, namanya siapa? om dari tadi belum kenal loh," tanya Raksa yang masih penasaran.
"Ana, Anastasya Danuarta."
"eh... kok nama tengahnya hilang?" tanya Danu bingung.
"malu, habis eyang kasih namanya pakai nama bunga bangkai ayah," kata gadis kecil itu ngambek.
Raksa ingin tertawa, tapi dia menahannya, pasti siapa yang tak malu jika memiliki nama bunga bangkai.
"gak boleh gitu sayang, ayo sebutkan namanya dengan lengkapnya," kata Danu tanpa mau di bantah.
"nama ku Anastasya Rafflesia Danuarta, meski bunga itu sebenarnya parasit, tapi dia bunga indah dan bunga yang bisa tumbuh tanpa daun, dan sering di cari orang karena bunga itu langka dan indah," terang Ana.
"iya, dia bunga yang langka, dan bunga yang menjadi kebanggaan negri ini sayang," kata Danu.
setelah selesai makan, mereka pun menuju kesebuah perkampungan di daerah yang cukup padat penduduk.
Raksa merasa heran karena sebenarnya Danu memiliki begitu banyak usaha di Surabaya.
tapi kenapa malah memilih tinggal di rumah saudara seperti ini, tapi raksa kaget melihat ada truk yang beberapa kali di lihatnya di proyek.
benar saja, saat Danu mengetuk pintu munculah gadis yang beberapa waktu yang lalu membuat raksa penasaran.
"hai dek, aku datang bareng si cantik," kata Dani menyapa gadis itu.
"dan bawa orang asing, masuk cak, dan jangan lupa lepas sepatu, soalnya aku tak mau ibu ngomel dan menyuruhku ngepel lagi," kata gadis itu.
"ya elah nduk, jangan Jahat-jahat kenapa, nanti tak ada pria yang mau loh," kata Danu yang masuk sambil mengandeng Ana.
"gak usah ngomong aneh-aneh, ibu onok cak Danu datang bareng Ana putu kesayangan mu," kata gadis itu melipir pergi.
"maaf ya raksa, dia memang ketus gitu,"
"sekarang aku mengerti kenapa ana bilang bisa keluar tanduknya," kata Raksa tertawa pelan bersama Ana.
"Nok, ajak adek mu masuk gih, kasihan dia pasti capek," suruh ibu Nuning.
"mboten eyang, nduk tilem kale eyang, mboten kale mbak menuk," kata ana langsung memeluk Bu Nuning.
Bu Nuning tertawa mendengar panggilan ana, yang memanggil dirinya sendiri nduk.
"menak, menuk, panggil mbak ayu!" kata ayu sedikit berteriak.
__ADS_1
ana langsung meneluk Bu Nuning ketakutan dan sudah mau menangis, Danu langsung mencubit sepupunya itu karena membuat ana ketakutan.
"kamu kalau begini lagi, tak ambil truk mu, mau," ancam Danu sedikit berbisik.
"pease cak, ya wes Ndang berangkat, pasti sudah sibuk bukan," usir ayu.
Danu dan raksa pergi, dan Danu percaya dengan ayu serta Bu Nuning, karena Keduanya bukan wanita lemah.
kedua orang itu pergi menuju kesebuah kawasan perumahan elit, dan Danu hapal betul ini ke daerah apa.
Danu langsung memakai semua atribut lama miliknya, terlebih dia tak ingin harus melawan mantan sahabat lamanya itu.
Danu dan raksa sudah sampai di rumah Khanza atau bisa di panggil Lea, wanita yang membuat Dewi terluka dan marah tadi sore.
"let's go..."
Danu dan raksa langsung masuk dan langsung melakukan tugas mereka, tapi saat masuk mereka malah melihat pemandangan yang begitu panas.
pasalnya wanita itu sedang berolahraga panas dengan seorang pria yang sedang di bawahnya.
keduanya tak bisa melihat siapa pria itu, tapi tak ada urusan sedikitpun dengan keduanya.
Danu yang ingin membuat ini lebih natural, jadi dia membuat kongsleting listrik.
itu bukan dupa biasa, pasalnya itu dupa khusus yang bisa menambah gairah.
setelah melakukan hal itu, Keduanya keluar dari rumah itu, dan saat mobil menjauh tak lama suara ledakan terdengar dan rumah itu langsung terbakar hebat.
semua orang panik melihat api, tapi mobil itu melenggang pergi begitu saja.
sedang dua orang di kamar itu, akhirnya mati terpanggang karena tak lari tapi malah melanjutkan kegiatan mereka.
pasalnya mobil hitam itu tak memiliki plat nomor, bahkan mobil itu terlalu gelap di lihat dari luar jadi tak akan ada yang bisa melihat para pelaku.
"mudah, dan sekarang kita ke pabrik yang di bangun Kakek ku," kata Raksa
"tentu, aku tak ingin terlalu lama di kota ini," kata Danu yang tak ingin menginap lebih lama.
mobil itu pun meluncur dengan kecepatan penuh, sesampainya di pabrik mereka pun langsung menuju ke ruangan arsip.
setelah mendapat semua berkasnya, mereka menemukan semua bukti, kini mereka menuju ke ruangan para petinggi pabrik.
tak hanya itu, Danu juga meretas semua komputer yang ada di pabrik itu.
__ADS_1
bahkan kini mereka juga membawa dan mencari semua bukti untuk melengserkan para petinggi pabrik itu.
Rama menerima semua bukti kecurangan anak buahnya, "bereskan ..."
Rama tak mengira jika praktek kecurangan ini sudah begitu lama terjadi, Rama tak mengira jika kepercayaannya di balas buruk seperti ini.
Danu pun mencari alamat beberapa petinggi pabrik, dan kemudian pergi bersama dengan raksa.
sesampainya di sana mereka berdua langsung bertindak dengan membawa dan mengendong bocah kecil dari putri petinggi itu.
otomatis, gadis kecil itu langsung menangis dan memancing semua orang.
tapi raksa sudah siap mengacungkan senjatanya di kepala pria itu, sedang Danu melepaskan gadis itu yang berlari ke arah ibunya.
"silahkan ambil apapun, tapi tolong jangan lukai kami," kats pria itu.
"tapi sayangnya, kami ingin mengambil nyawa mu, jadi kamu harus siap," kata Danu.
"tolong, memang salahku apa,"
"salah mu adalah, kamu berani membuat perusahaan bos kami hancur, kau tau hukuman untuk itu," kata raksa yang menembak foto keluarga mereka hingga hancur.
"dan lihatlah, kalian hidup damai dan tenang seperti ini, bahkan rumah mewah dan semua fasilitas nomor satu, hei.. kamu itu hanya seorang manajer gudang, jadi katakan semuanya atau nasib mu akan sama dengan foto itu,"
"ini semua di atur oleh pak totok, jadi dua yang membagi tugas kami, dan yang mengarahkan kamu melakukan kecurangan dalam laporan," jawab pria itu.
"kalau begitu, besok kamu harus bersaksi, jika tak mau kamu mati," kata Raksa.
tanpa di duga Danu menyuntikkan racun yang cukup mematikan, dan jangan inkubasi selama tiga hari.
"kau lihat jika kamu tak mau jujur kamu dan seluruh keluarga mu akan mati, kalau tak percaya lakukan saja," kata keduanya sebelum akhirnya menghilang.
kini keduanya menuju rumah totok, otak dari kebangkrutan palsu perusahaan.
sesampainya disana mereka tanpa asmpun langsung membereskannya, dan membawa sebuah bukti dan juga membuat ini seperti perampokan.
bahkan Danang tanpa segan membunuh pria itu meski di sedang bercumbu dengan dua istri barunya.
tapi Danu tak mau ambil risiko, jadi dia juga membunuh dua wanita itu, "kenapa kamu bunuh semuanya,"
"aku tak mau harus ada saksi mata," jawab Danu yang ingin pergi dengan semua bukti.
tapi dia melihat bocah pria kecil yang ketakutan melihat semua kejadian itu, Raksa yang langsung membunuh bocah itu.
__ADS_1