
Tyas berjalan mengikuti dua pria di depannya, tapi sebuah pesan menghentikan langkahnya.
Tyas hanya membacanya sekilas, tenyata itu adalah sebuah pesan dari nyonya Farida.
wanita itu mengirimkan sebuah foto, dan juga di ikuti sebuah pesan di bawahnya.
"jika dia datang,kau akan di depak oleh Arthur, jika tak percaya terserah, tapi waktumu hanya tinggal dua bulan lagi, setelah itu kau akan di buang oleh Arthur," isi pesan itu.
"ada apa sayang, apa ada yang menganggu mu?" tanya tuan Setyo.
Ian pun melihat sosok Tyas yang tiba-tiba sedih bercampur marah, "opa mengenal wanita ini?"
Tyas menunjukkan sebuah foto, dan tuan Setyo terdiam seorang gadis yang di lupakan.
dan itu bisa menjadi ancaman terbesar dari Tyas, "dia adalah sahabat masa kecil Arthur, dan seingat opa dia pernah menyelematkan Arthur dulu, dan Arthur biasanya akan melakukan apapun permintaannya," jawab tuan Setyo.
"apa sedalam itu, ah ... ha-ha-ha maaf jadi tegang ya, ayo kita ke ruangan opa, disini panas sekali," jawab Tyas yang langsung nampak ceria.
Tyas bisa menyembunyikan perasaannya, bahkan gadis itu begitu pintar dalam hal seperti ini.
sedang di dalam kelas Dewi dan Edwin sudah mulai ikut belajar, Ian yang melihat Tyas pun memberikan sebuah permen coklat.
"jika punya masalah kamu bisa membicarakannya dengan ku, setidaknya aku bisa memberimu saran," kata Ian.
"ah terima kasih, tapi aku takut suamiku akan marah, karena mas Arthur begitu posesif dan tak suka jika aku berhubungan dengan pria lain," kata Tyas.
"kira berteman, aku juga sebenarnya adalah sahabat dari Rama, jadi bukan orang lain, benar kan opa?"
"ya Ian benar, dia sudah seperti cucu ketiga keluarga Nugroho. oh ya kamu janji kan Tyas mau ke rumah opa, kita datang hari ini, aku sudah meminta raksa membelikan semua makanan kesukaan mu, dan kami sudah menyiapkan sesuatu untuk mu," kata tuan Setyo.
"baik opa, kebetulan aku juga sudah tak ada kelas lagi," kata Tyas mengangguk.
setelah anak-anak pulang, Tyas masuk kedalam mobil dan mengikuti dua mobil mewah di depannya.
sesampainya di rumah, Raksa langsung memeluk Tyas dengan begitu erat.
"ya!! aku tak bisa bernafas kakak, berhenti mencoba membunuhku," kata Tyas protes
__ADS_1
"kau selalu seperti ini, jika kak Rama yang memelukmu, kamu tak pernah protes tapi jika aku yang peluk, pasti banyak alasan," kata Raksa cemberut.
Tyas pun mencium pipi kakaknya itu, dan berhasil membuat Raksa tertawa dengan senang.
mereka pun masuk, Dewi bermain dengan Edwin di samping rumah di kolam yang penuh ikan.
sedang Tyas berada di dapur bersama Ian, mereka sedang menyiapkan beberapa cemilan.
"sudah kak, lebih baik ke depan bersama dengan opa dan kak Raksa, biar aku yang menyelesaikan ini," kata Tyas.
"terus membiarkan gadis cantik seperti mu masak sendiri, oh ya bagaimana kamu bisa menikah dengan Arthur, padahal usianya pasti sama dengan Tante Sasa," tanya Ian penasaran.
"entahlah, aku begitu nyaman bersamanya, dan tak ingin jauh darinya," jawab Tyas sekenanya.
"berarti bukan cinta, kalau cinta kamu tak mungkin bisa menjawabnya, dan pernikahan seperti itu tak akan bertahan lama," kata Ian yang pergi dari dapur meninggalkan Tyas.
Tyas pun tak peduli dengan omongan Ian, dia percaya pada dirinya dan cinta Arthur.
dan pasti akan bisa bersama sampai akhir hayat nantinya. Tyas tak lupa sudah mengirimkan pesan pada suaminya itu.
Tyas pun membawa nampan di bantu beberapa pelayan, "Dewi, Edwin ayo makan dulu," panggil Tyas lembut.
"iya mami," jawab Dewi.
Tyas mengambilkan kebab untuk putrinya itu, "ini untuk putri cantik mami, dan ini untuk Edwin yang tampan, yang sudah mau jagain putri mami," kata Tyas sambil tersenyum.
"terima kasih mami," jawab kedua bocah itu.
"wah enak dek," kata Raksa memberikan jempol pada Tyas.
Ian pun merasakan hal yang sama, pria itu bahkan langsung menyukai kebab buatan Tyas.
setelah makan Tyas menemani kedua bocah itu mengerjakan tugas satu sekolah.
sedang Ian dan dua pria hanya melihatnya dari jauh,raksa merasa kasihan pada Tyas.
"opa, bagaimana jika Tyas tidak akan pernah hamil?" tanya Raksa.
__ADS_1
"apa maksudmu, tentu dia harus hamil untuk menguatkan posisinya di samping Arthur, kau kira wanita ular bernama Farida itu sudah diam, dia bahkan sudah menyiapkan rencana besar untuk membuang cucu perempuan ku yang terlalu lugu ini," kesal tuan Setyo.
"tapi opa, orang yang aku minta mengawasi Tyas di rumah mewah itu bilang, kemarin lusa terjadi pertengkaran hebat saat Tyas pura-pura hamil, bahkan Arthur langsung memintanya mengugurkan kandungan Tyas saat itu juga, dan mengatakan jika cukup Dewi untuk jadi pewarisnya," jawab raksa dengan geram.
"dia pria egois, dan sebenarnya aku tak setuju dengan pernikahan mereka, tapi aku dulu terlalu bodoh hingga terus melukai cucu perempuan ku itu," kata tuan Setyo.
"sebenarnya aku punya ide gila, tapi ini akan membuat Tyas terluka seumur hidup mungkin," kata Ian.
"apa itu," tanya raksa penasaran.
Ian pun mengatakan semua ide gilanya, Raksa pun setuju demi Tyas, dan dengan segera raksa menelpon orangnya untuk melaksanakan ide itu di rumah utama keluarga Sanz.
asisten Wisnu pulang dari perusahaan duluan atas permintaan Arthur guna untuk memastikan sesuatu.
asisten Wisnu melihat pak Yun yang turun dari lantai atas, "ada apa pak, apa ada yang rusak?"
"tidak ada tuan, ini hanya ada beberapa sampah yang harus aku buang, dan sepertinya tadi para pelayan lupa," jawab pak Yun.
asisten Wisnu pun langsung menuju ke area belakang rumah, sedang asisten Wisnu masuk keruang kerja dari Arthur.
"beres, dan kita hanya tunggu hasilnya," kata Raksa yang memastikan semuanya lancar tanpa kendala.
Tyas pun melihat jam tangannya tenyata sudah sore, mereka pun pamit pulang.
Ian memberikan sebuah gelang pada Tyas, "hei apa ini, kenapa kamu memberikan barang mewah ini," protes Tyas.
"terima saja, adik kecilku, ini hadiah dari kakak jauh mu, dan lagi kamu tak akan bisa membuka gelang itu karena itu gelang khusus yang di buat perusahaan ku, jadi gunakan selamanya ya," kata Ian tertawa.
"kenapa kamu juga menyebalkan sekali!!" kata Tyas.
"sudah nak, dia juga saudaramu sama dengan Raksa dan Rama, karena dia yang dulu menantu opa menjaga kedua kakakmu," kata tuan Setyo mengusap kepala Tyas.
Tyas pun memeluk sang opa dengan sayang, begitupun tuan Setyo yang memeluk Tyas erat.
"maafkan opa yang dulu sangat membencimu ...." lirihnya.
"aku sudah memaafkan opa, sekarang opa cukup sayangi Tyas dengan begitu besar dan banyak-banyak," jawab Tyas.
__ADS_1