
Rama terbangun dan merasa ingin ke kamar mandi, tapi dia kaget melihat ada Raksa yang tidur bersampingan dengan Dewi.
Keduanya terlihat begitu akrab tapi dia tak ingin membangunkan kedua orang itu, jadi dia memilih untuk berjalan sendiri ke kamar mandi.
tapi baru juga melangkah beberapa langkah, tubuhnya sudah mulai mau limbung.
dan beruntung Dewi terbangun dan langsung memeluk tubuh Rama, pria itu pun kaget karena Dewi begitu sigap.
"kamu tidur saja," kata Rama.
"terus membiarkan om jatuh, jangan gila deh, ayo aku antar ke toilet," kata Dewi memapah tubuh Rama.
Dewi benar-benar begitu perhatian pada pria itu, bahkan dia tak ingin jika Rama terluka.
setelah dari kamar mandi Dewi ikut berbaring di samping Rama, Keduanya pun tidur bersama.
keesokan harinya, Dewi bangun tak mendapati Rama di sampingnya, Dewi pun langsung bangun dan berlari turun ke lantai satu.
"pak Kim, kemana om Rama?" tanya Dewi yang panik.
"aku disini, kenapa kamu mencariku?" tanya Rama yang terlihat berkeringat begitu banyak.
melihat itu dewi langsung memukuli tubuh dari Rama, "ku kira om pergi atau kondisinya parah hingga ke rumah sakit tanpa aku,"
Rama hanya tertawa mendengar ucapan dari sang keponakan, sebenarnya kondisinya memang belum sepenuhnya sehat.
tapi dia tak ingin terus berbaring di ranjang dan jadi rawatan oleh semua orang.
"ya sudah sekarang kita sarapan dulu yuk," ajak Rama.
"baiklah, tapi pak Kim tolong buatkan aku bubur ayam komplit,"minta Dewi.
"baik nona,"
Dewi pun menuju ke kamarnya begitupun Rama, tak lupa dia juga melihat beberapa pesan.
salah satunya dari Wisnu yang mengatakan jika Ara ingin betemu dengannya.
Dewi pun membalas pesan itu dan berjanji, dia pun berganti pakaian untuk segera ke kantor.
__ADS_1
Dewi turun dengan begitu rapi dan tak lupa rambut panjangnya kini di sanggul dengan begitu rapi.
"wah tumben nih, tapi kamu terlihat seperti seorang pegawai bank, terlihat begitu em... dewasa,"puji raksa.
"om memujiku atau menghinaku," kesal Dewi langsung bersendekap tangan.
"sudahlah kalian berdua, ayo sarapan dan jangan sampai telat, ingat kalian ini sering sekali adu mulut membuatku pusing tau," kesal Rama.
sedang keduanya pun langsung diam dan duduk, ternyata sarapan pesanan dari Dewi sudah tersedia.
bahkan begitu banyak lauk yang menjadi teman untuk memakan bubur itu.
Dewi pun menikmati setiap suapan dengan begitu nikmat, bahkan mereka juga menghabiskan semua makanan.
setelah itu Dewi dan Raksa berangkat ke kantor, sedang Rama hanya memilih istirahat untuk membuat dirinya makin sehat.
terlebih dia masih belum bisa merasa begitu juga sehat, Rama juta tak bisa sepenuhnya meninggalkan pekerjaannya.
jadi asistennya pun membawakan beberapa berkas penting untuk di selesaikan di rumah.
asisten Adi dengan membawa semua berkas itu, dan juga tak lupa membeli kue pesanan dari Rama.
benar saja telihat dua orang itu sedang di luar rumah sakit menunggu seseorang.
mobil Dewi berhenti tepat di depan keduanya, dan gadis itu langsung turun dan mengejutkan Wisnu dan Aya.
"halo cantik ..."
"Aunty..." panggil Aya begitu bahagia, bahkan keduanya langsung berpelukan dengan erat seperti ibu dan anak.
sedang di rumah, Rama heran karena alat pelacak yang ada di mobil yang di naiki oleh Dewi berhenti di sebuah rumah sakit, dia ingat dengan Wisnu kemudian.
sedang di sisi lain ada orang lain yang tak suka melihat hal itu juga, bahkan dia keduluan dengan gadis bau kencur itu.
"kau ingin bermain dan bersaing dengan ku jangan mimpi,meski dulu aku tak berhasil memaksanya, tapi aku yakin aku bisa merebutnya dari mu gadis kecil," kata wanita itu dengan senyum menyeringai.
wanita itu pergi, meski Wisnu mengenalnya dan memberinya nama baru, tapi dia tak mudah melupakan siapa dirinya sendiri.
"sudah mau pulang? mau di antar?" tanya Dewi.
__ADS_1
"tidak usah, bukankah kamu ada rapat penting hari ini. jadi jangan korbankan rapat perusahaan yang penting demi kami ini," kata Wisnu.
"ayolah om,ini demi si cantik juga," kata Dewi memohon.
"iya papa ..." jawab Ara yang memeluk tubuh Dewi
"baiklah, kali ini saja, tapi setelah mengantar kami, kamu harus segera berangkat ke kantor ya," perintah Wisnu.
"baiklah, aku mengerti," jawab Dewi yang senang.
bukan ingin caper, setidaknya Dewi bisa mengobati kangennya pada kedua adiknya dengan bersama Ara yang sepantaran.
di dalam mobil Dewi terlihat terus bermain dengan Ara bahkan mereka tertawa bersama.
tak hanya itu supir juga melirik sedikit, rawa gadis itu kembali setelah kejadian terakhir kali.
itupun masalah Rama dan Raksa yang melukai Dewi, bahkan hampir membuat Tyas dan Arthur bercerai.
sesampainya di rumah itu, mereka pun memilih untuk turun dan melambaikan tangan pada mobil Dewi saat wanita itu pergi.
Dewi sebenarnya berat untuk pergi, tapi pekerjaannya sudah menunggu, dan sesampainya di kantor dia langsung masuk ke ruangannya.
tapi dia kaget saat melihat sosok Rama duduk di kursi miliknya sambil menatap Dewi marah.
"ada apa om sayang," tanya Dewi yang datang dan langsung melepaskan blazer miliknya agar nyaman
"memang dari rumah ke kantor butuh berapa jam, hingga setelah dua jam kami baru sampai ke kantor?" tanya Rama yang melihat gadis itu berdiri di sampingnya.
Rama pun langsung menariknya hingga jatuh ke pangkuannya. "ada apa, kami mau bilang atau aku perlu menghukum mu gadis nakal,"
"aku hanya menjemput Ara, dia pulang dari rumah sakit dan mengatakan ingin bertemu jadi aku menjemputnya tak salah kan,"
"tentu tidak, tapi kamu membuat ku cemburu nona, kamu tau aku tak suka kamu dekat dengan pria mana pun," kata Rama memeluk Dewi.
"terus mau om apa, mengikat ku, jangan egois om aku tak kamu perbolehkan dekat dengan pria mana saja, tapi bagaimana dengan mu, yang pasti juga mendapatkan wanita manapun, dan jangan bilang om juga suka celap-celup asal ya," marah Dewi menunjuk dada bidang Rama.
"apa kamu pernah melihatnya, aku hanya dekat dengan mu, dan kejadian terakhir juga bukan aku tapi Raksa," terang Rama yang mulai menyentuh leher jenjang Dewi.
"tapi om dengan berani mengajukan diri menikahinya, aku kecewa om jadi aku sempat ingin memberikan milik ku pada orang lain dan membuat mu," kata Dewi sedih
__ADS_1
"jangan lakukan itu Dewi, itu akan melukai ku dengan sangat dalam, terlebih kamu adalah hidup ku sekarang Dewi, entah apa aku bisa hidup saat melihat mu hancur," kata Rama memeluk tubuh Dewi dengan erat