Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
bersama keluarga ku (Tyas)


__ADS_3

benar saja, saat Tyas masih sibuk membagikan nasi kotak sebuah mobil BMW mewah berhenti di area parkir.


dan turunlah Rama dan tuan Setyo. melihat itu Tyas bergegas lari dan memeluk Rama.


tanpa sadar dia begitu membutuhkan sandaran saat ini, "hei dek, kenapa?"


"aku hanya merindukan kakak saja," jawab Tyas yang masih nyaman di pelukan Rama.


"hadeh ... padahal kakek juga ingin memeluk mu Tyas," kata tuan Setyo.


Tyas pun mengangkat kepalanya dan melihat tuan Setyo, Rama mengangguk dan Tyas pun memeluk sang opa.


"maafkan opa ya nak, selama ini Opa membencimu tanpa alasan, hanya karena kekecewaan pada diriku yang tak bisa menjaga putriku sendiri," terang pria sepuh itu.


"iya opa, aku juga minta maaf jika pernah melukai opa dengan ucapan ku," lirih Tyas.


"iya sayang, mulai sekarang kamu tak perlu minder, opa dan kakak-kakak mu akan melindungi mu, dan jika suamimu berbuat jahat bilang saja, biar opa yang memberinya pelajaran, jika perlu kita pergi dan tinggal di negara asal Oma mu," terang tuan Setyo.


"iya opa," jawab Tyas begitu bahagia.


malam ini dia benar-benar merasakan punya keluarganya sendiri, dia memiliki dua kakak laki-laki dan seorang kakek yang begitu melindunginya.


dia bahkan melupakan tentang masalah di rumah saat bersama semua orang.


sedang asisten Danang sedang menemui kekasihnya di bar, mereka menyempatkan untuk memadu kasih terlebih dahulu.


"honey, mau kemana? jangan meninggalkan aku, kamu menyebalkan karena jarang kesini," omel pria bernama Evan itu.


"maaf ya, bukan aku tak ingin disini, tapi pekerjaan ku belum selesai, toh ini juga untuk mu, jadi aku pergi dulu ya," pamit asisten Danang yang pergi meninggalkan kekasihnya itu.


bar ini sebenarnya milik asisten Danang, dan dia meminta Evan untuk mengelolanya dengan baik, dan sekarang memiliki income yang cukup baik.


asisten Danang pun kembali ketempat di mana kegiatan itu akan berakhir, dan beruntung tadi asisten Danang sempat meminta nomor ponsel dari salah satu orang yang mengikuti kegiatan itu.


jadi dia tak kesulitan sedikitpun,bahkan dia masih sempat membelikan beberapa cemilan.


"asisten Danang, mana Arthur dia tak ikut?" tanya tuan Setyo.


"maaf tuan sepuh Setyo, tuan besar sedang sibuk dengan pekerjaannya," jawab asisten Danang.

__ADS_1


"apa?" kaget pria itu.


sedang Tyas hanya membuang muka mendengar ucapan dari asisten Danang, gadis itu mencoba tak menggubrisnya terlebih di depan semua orang.


sedang di rumah, Arthur turun setelah menemani Dewi hingga tertidur lelap, dia tak bisa tidur karena pikirannya masih tertuju pada istrinya.


dia memilih untuk menunggu Tyas pulang, dua di temani oleh pak Yun.


"ada apa tuan? sepertinya anda sedang begitu banyak pikiran, maaf jika lancang," tanya pak Yun.


"aku bingung dengan ucapan istriku pak, dia sebelum berangkat tadi bilang, bukan kata-kata itu yang ingin di dengar," jawab Arthur.


"memang tuan mengatakan apa?" tanya pak Yun penasaran.


"cepat berangkat, dan asisten Danang yang akan menjagamu," jawab Arthur memijat kepalanya.


"karena yang sebenarnya aku inginkan itu, adalah Daddy yang menjagaku, bukan asisten mu, maaf jika aku terlalu menuntut dan tak tau akan kondisi Daddy," jawab Tyas yang baru datang.


belum sadar sepenuhnya dari keterkejutan nya, Arthur menerima ciuman di pipi.


dan Tyas meninggalkan lantai bawah dan segera naik, tak lupa dia juga berganti baju dengan baju tidur dan segera merebahkan dirinya di samping Dewi.


Dewi pun sempat terbangun dan langsung memeluk Tyas, gadis kembali tidur dengan memeluk ibu sambungnya itu.


"tadi kebetulan ada tuan Setyo dan kedua cucunya, dan dia sempat ingin marah saat melihat ku yang mengantar nyonya, dan bukan tuan, tapi nyonya memberikan alasan hingga tuan Setyo tak jadi marah," jawab asisten Danang.


"alasan apa?" tanya Arthur penasaran.


Tyas tadi menguatkan dirinya, dia tak ingin suaminya di salahkan oleh keluarganya.


"bukan itu opa, ini permintaan ku, aku hanya tak ingin dia terbebani dan meninggalkan pekerjaannya, terlebih aku yang juga ingin jalan-jalan tanpa dirinya, tak papa kan," kata Tyas tersenyum


"baiklah jika itu yang terjadi,dasar kamu ini, sudah makan dan setelah ini pulang, kasihan cucu menantuku yang kamu tinggalkan di rumah itu," kata tuan Setyo pada tyas.


Arthur pun merasa bersalah kembali, "sudahlah, sekarang kamu istirahat, pak Yun juga," perintah Arthur.


"baik tuan,selamat malam," kata keduanya pada Arthur.


"selamat malam,"

__ADS_1


Arthur langsung berlari baik ke atas, dan masuk kedalam kamar dan melihat Tyas dan Dewi berpelukan.


Arthur pun bergabung, tapi sebelum tidur sia mencium puncak kepala kedua orang tercintanya itu.


keesokan harinya, Tyas tak bisa bergerak, pasalnya dia di apit di tengah oleh papa dan anaknya itu.


Tyas bahkan bisa merasakan benda keras yang menempel di belakangnya, dia pun memilih diam sampai mereka bangun sendiri.


tapi saat melihat jam, Tyas kaget karena sudah jam setengah tujuh.


"Semuanya bangun, kita kesiangan," kata Tyas membangunkan Dewi dan Arthur.


"mami ... Luna menit lagi," kata Dewi


"tidak sayang, jika kamu tak bangun mami tinggal ke sekolah nih," kata Tyas mengancam putrinya itu.


"jangan mami, aku bangun, dan mandiin," kata Dewi merentangkan kedua tangannya.


sedang Arthur juga bangun dan melihat Tyas sudah mengendong Dewi ke kamar mandi.


Keduanya ternyata mandi sekalian, dan Arthur yang menunggu pun memilih memejamkan mata lagi.


"Daddy, bangun dan cepat mandi atau aku akan menjewer mu," kata Tyas yang sudah memakai jubah mandi dan Dewi berlari keluar kamar.


ternyata pak Yun sudah mengantarkan pakaian milik Dewi ke kamar utama.


"terima kasih pak, dan tolong siapkan bekal untuk Dewi, dengan semua yang sudah saya siapkan," perintah Tyas.


"baik nyonya," jawab pak Yun


Dewi sudah siap dengan cantik, Tyas juga sudah berganti baju, Dewi turun dan menghampiri asisten Danang dan asisten Wisnu.


Tyas juga sedang bersiap untuk kuliah, karena dia juga memiliki kelas pagi.


"sayang, bantu aku mengenakan setelan ku," panggil Arthur dari walking closed.


Tyas pun masuk, meski dia masih belum sepenuhnya berbaikan dengan Arthur.


saat Tyas mendekat Arthur menariknya masuk kedalam dekapannya dengan erat.

__ADS_1


"Daddy lepaskan, sesak," protes Tyas.


saat melepaskannya, Arthur langsung mencium mesra bibir Tyas, bahkan dia menahan tengkuk istrinya dan memperdalam ciuman mereka.


__ADS_2