
Arthur pun lepas kendali, dia langsung mencumbu gadis muda di depannya itu.
sedang di dalam mimpi Tyas, gadis itu sedang bercumbu mesra dengan Arthur.
Tyas pun merasakan begitu bahagia bisa menikmati keindahan dan kenikmatan dunia dengan pria yang sudah merebut hatinya itu.
Arthur terkejut karena Tyas bahkan tak bangun sedikitpun, tapi gadis itu tetap mendesah.
Arthur memakaikan kaos oblong miliknya pada Tyas dan kemudian tidur sambil memeluk gadis itu.
"sekarang kamu tak bisa lari lagi, dan akan jadi milikku seutuhnya," lirih Arthur mencium kening Tyas.
keesokan harinya, Arthur sudah bangun terlebih dahulu, dan memberikan pesan pada pak Yun.
sedang Dewi sarapan dengan Arthur di bawah, "papa, kemana kak Tyas, dia kemarin pergi ya?" tanya gadis itu sedih.
"tidak, kak Tyas sedang tidur di kamar papa, papa kan juga ingin kak Tyas ngelonin papa," jawab Arthur santai.
asisten Wisnu dan asisten Danang tersedak mendengar ucapan sembarangan dari Arthur.
"ih papa ... padahal Dewi ingin kak Tyas tidur bareng Dewi, jadi nanti malam kak Tyas tidur bareng Dewi ya," kata gadis itu marah.
sedang gadis yang di bicarakan baru terbangun, Tyas selalu seperti ini tidur terlalu nyenyak hingga sulit di bangunkan.
Tyas pun kaget melihat kamar yang begitu luas, bahkan tercium aroma maskulin di ruangan itu.
"eh baju..." kata Tyas meraba tubuhnya.
dia pun terkejut saat melihat semua piyama malam miliknya tergletak di lantai.
sedang dia mengunakan kaos yang tadi di pakai Arthur, dia pun membuka selimut yang menutupi bagian tubuhnya.
Tyas kaget karena ada bercak darah di sprei itu, dan juga ada bekas tertinggal di pahanya yang mulai mengering.
"ah ... bukankah semalam hanya mimpi, tapi ini ..." kata tyas tak percaya.
dia pun merutuki kebodohannya, pasalnya dia kehilangan keperawanan saat dia sendiri tak sadar.
"dasar gadis bodoh!" kesal Tyas yang langsung berjalan ke kamar mandi.
Arthur membawakan baju untuk Tyas dan tak mendapati gadis itu di ranjang lagi.
terdengar suara di kamar mandi, dan benar Tyas keluar hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya.
Arthur pun langsung mendekati gadis itu, dan langsung mencium bibir Tyas.
Tyas memukul dada Arthur karena dia kehabisan nafas, "ih Daddy ... kamu jahat sekali, kenapa kamu melakukannya saat aku tertidur, padahal ini kesempatan pertama dalam hidupku," kesal Tyas
"tapi kamu begitu menggoda, bahkan saat aku bergerak begitu liar semalam kamu tetap tak bangun dari tidur nyenyak mu, tapi suara mu yang mendesah begitu indah terdengar, dan kamu terus memanggilku, memang kamu mimpi apa?" tanya Arthur tertawa.
"aku mimpi kita sedang berbulan madu, dan Daddy melakukannya dengan ku di sebuah kamar yang terbuka, karena hanya ada kita berdua," jawab Tyas malu.
"kamu liar juga ternyata, dan maafkan aku semalam, karena aku tak bisa menahannya lagi," jawab Arthur.
"baiklah, aku maafkan, tapi izinkan aku pergi karena mbak Cika pasti khawatir," lirih tyas.
"tidak, pak Yun sudah mengatur segalanya, terlebih kamu sekarang tinggal di rumah ini, karena di luar hidupmu pasti dalam bahaya," jawab Arthur yang menyentuh wajah dan leher putih Tyas.
Tyas pun merinding di buatnya, "Daddy ..."
__ADS_1
"sudah aku harus ke kantor dulu karena ada rapat penting, dan kamu di rumah bersama Dewi dan minta pak Yun menyiapkan semua keperluan mu, dan nanti malam aku tunggu pesonamu yang harus memuaskan duda tampan ini," bisik Arthur sebelum pergi.
tapi Tyas menahannya dan memberikan sebuah kecupan mesra di bibir Arthur, "aku pasti melakukannya," jawab Tyas tersenyum malu dan berlari ke kamar mandi.
Arthur pun tertawa senang, harinya begitu indah pagi ini, di pun pergi dengan senyum yang terus mengembang indah.
sedang Tyas sudah cantik dengan gaun pendek yang di pakainya, bahkan leher gaun itu juga tinggi untuk menutupi semua bekas tanda cinta yang di buat Arthur di dada dan lehernya.
"kakak... eh salah ... mama," panggil Dewi yang langsung memeluk Tyas.
"eh kok panggil mama, apa papa yang suruh Dewi?" tanya Tyas.
"tidak kok, kata papa kak Tyas akan tinggal di sini dan jadi mama dewi, jadi Dewi panggil mama deh," jawab gadis itu senang.
"baiklah putri cantik mama," kata Tyas tersenyum memeluk Dewi.
"Nyonya, sarapan untuk anda sudah siap, tuan bahkan meminta kami untuk memasak hidangan khusus untuk stamina anda agar segera pulih," kata pak Yun.
"ah apa? dasar Daddy ini...", lirih Tyas malu.
pak Yun sudah memerintahkan kepada para pelayan untuk menata semua barang Tyas di kamar Arthur.
sedang tyas masih bersama Dewi yang sekarang sedang bermain dengan anjing Husky miliknya.
"apa ini hewan kesayangan Dewi," kata Tyas mengelus buku anjing Siberian Husky itu.
"iya, dan papa juga punya, tapi bukan anjing tapi-" kata Dewi terhenti saat mendengar suara Geraman hewan buas.
Tyas pun langsung melindungi Dewi, bahkan gadis muda itu mematahkan sebuah ranting kayu.
"itu hewan peliharaan papa mama, dan kenapa bisa lepas," kata Dewi ketakutan.
Tyas pun mencoba tenang, tyas pun menatap tajam ke arah harimau itu, dan Tyas maju perlahan.
harimau buas itu kini malah menjilati kaki Tyas, "kucing kecil..." kata Tyas yang langsung mengelus harimau itu.
Dewi dan pak Yun kaget, dia tadi sempat panik saat petugas penjaga emo bilang jika harimau itu lepas.
tapi dia tak mengira selain pada Arthur, emo malah begitu menurut dengan Tyas yang seorang gadis baru dan tak terlihat istimewa.
"nyonya, anda begitu mudah mengendalikan emo," kata pak Yun terkejut.
"ini mudah pak, aku saja bisa menaklukkan pemilik emo, jadi untuk emo itu mudah sekali," jawab Tyas tertawa.
yang sebenarnya terjadi, Tyas memang di ajari beladiri dan cara menghadapi hewan buas oleh guru di padepokan silat tempatnya menimba ilmu.
itulah kenapa gadis itu begitu mudah membuat ikatan dengan hewan berbahaya itu.
akhirnya kini Dewi dan Tyas bermain dengan dua hewan peliharaan rumah itu.
sedang di perusahaan, Arthur baru juga turun dari mobil dan sudah melihat dua pria muda dari keluarga Nugroho.
"asisten Wisnu bereskan, aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi mereka," perintah Arthur.
"baik tuan," jawab asisten Wisnu.
asisten Wisnu pun menghampiri kedua pria muda itu, dan keduanya tak mengira jika sosok Arthur yang biasanya begitu terbuka.
kini malah berbanding terbalik menjauhi mereka, "baik tuan-tuan ada yang bisa di bantu?" tanya asisten Wisnu.
__ADS_1
"asisten Wisnu, kenapa tiba-tiba kami menerima pemberitahuan tentang pembatalan kerjasama antar perusahaan, padahal proyek ini juga impian om Arthur," tanya Rama.
"sebelum kesini apa kalian sudah bertanya pada kakek Kalian, uang berani menghina calon istri tuan Arthur, dan tentu tau benar bagaimana tuan besar kami itu," kata asisten Wisnu.
kedua pemuda itu pun memutuskan untuk pulang dan bertanya langsung pada kakeknya.
"kalau begitu kami pulang dulu, dan semoga hari asisten Wisnu menyenangkan, kami Permisi," kata Raksa.
asisten Wisnu pun melihat keduanya pergi meninggalkan perusahaan ini, dengan wajah tak tenang.
dia sendiri langsung menuju ke ruangan rapat untuk menyiapkan segalanya.
sedang dua pria muda itu, kini menuju ke rumah mewah keluarga Nugroho, yang bahkan Bltak kalah dari rumah keluarga Sanz.
"opa!" teriak Raksa yang tak sabaran.
Rama pun tak bisa menghentikan adik kembarnya itu, terlebih Raksa memang yang bertanggung jawab atas proyek bernilai fantastis ini.
pria itu keluar dari kamarnya, saat Raksa ingin menghampiri pria sepuh itu.
Rama menahannya, "tenangkan dirimu, kau tak mungkin ingin menghajar kakek mu bukan," kesal Rama.
Raksa sedikit tenang, karena dia tak mungkin membantah kakaknya itu,. "kenapa kalian pulang, bukankah ini waktunya rapat untuk membahas kelanjutan proyek yang besar," kata tuan Setyo.
"bagaimana bisa opa, jika investor utama kami mundur, dan para investor lain juga mulai ikut menarik diri," jawab Rama.
"kenapa bisa? karena kontrak tak bisa di langgar begitu saja," marah tuan Setyo.
"tanya saja pada diri opa, kenapa opa mencari masalah dengan menghina calon istri dari om Arthur, opa tau betul jika investor utama kami dalam proyek ini Adalah dia,"marah Raksa.
tuan Setyo terdiam, dia tak mengira jika Arthur benar-benar melakukan ancamannya kemarin.
"brengsek, pria itu berani melakukan hal ini hanya demi membela gadis kotor itu, cih lihat saja aku akan melakukan sesuatu," marah tuan Setyo.
pria itu pergi entah kemana, bahkan kedua cucunya itu tak bisa menahannya.
pria itu sudah pergi ke suatu tempat, dan dia akan mengunakan senjata rahasianya.
tapi sebelum itu dia harus bertemu dengan gadis tak tau diri itu yang berani untuk mengusik ketenangan keluarga.
Rama mendapatkan pesan dari asisten Danang, "jika tak ingin hancur, jangan biarkan kakek kalian untuk berulah, terutama pada nona Tyas, calon istri dari tuan Arthur," isi pesan itu.
Rama pun kaget setelah membaca pesan itu, dia tak mengira jika calon istri yang di maksud adalah adik mereka yang begitu di benci oleh sang kakek.
"Raksa cepat kejar kakek!" teriak Rama panik.
mereka pun melacak mobil dari sang kakek, ternyata benar, mobil itu menuju ke perumahan milik Arthur.
tuan Setyo sampai di rumah itu, bahkan pria itu menerobos masuk meski para penjaga melarangnya.
"keluar kamu gadis murahan!" teriak tuan Setyo
"maaf tuan Setyo, apa yang anda inginkan, dan jangan membuat keributan," kata pak Yun menahan pria itu.
"bilang pada gadis itu untuk menemui ku, jika tidak aku akan membuat kalian semua menyesal," kata tuan Setyo.
Tyas pun keluar bertepatan dengan kedua kakak laki-lakinya juga datang ke rumah ini.
bahkan di samping Tyas ada harimau yang mendampingi wanita itu, bahkan hewan itu terlihat begitu buas terlebih saat menatap para tamu tak di undang itu.
__ADS_1