Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
bertemu teman lama


__ADS_3

setelah kejadian semalam yang cukup heboh karena Tyas yang panik, dan juga karena Arthur yang terlalu santai.


pagi ini Tyas harus ke bank untuk memperbarui beberapa akun miliknya, dan tak lupa akan membuatkan deposito untuk kedua anaknya.


Tyas pun sudah siap pergi bersama dua pangerannya, dia tak membawa pengawal ataupun pelayan karena dia merasa bisa menjaga anak-anaknya.


tapi sebelum berangkat tak terduga tuan Setyo datang untuk mengunjungi cucu dan cicitnya itu.


"wah mau pergi ternyata, beruntung opa tak ketinggalan, mau kemana sayang, Derry dan Derrick," tanya tuan Setyo.


"kami mau ke bank, opa ikut yuk," ajak kedua bocah itu.


"baiklah, opa boleh ikut, tapi kalian tak boleh menganggu opa nanti," kata Tyas menginggatkan.


"baik mama, paling kita ajak opa main ke Timezone ya," izin dua bocah itu.


"baiklah, kita berangkat," ajak Tyas pada mereka semua.


"kamu tak ajak asisten?" tanya tuan Setyo kaget.


"tidak perlu opa, lagi pula dua putra ku ini tak senakal itu hingga harus bawa orang lain," jawab Tyas.


tuan Setyo pun mengangguk, lagi pula ada dirinya yang bisa membantu, meski tak muda lagi, tapi tuan Setyo masih terlihat begitu bugar dengan tubuh yang tetap terjaga.


sesampainya di bank, mereka langsung masuk ke ruangan khusus, karena mereka termasuk jajaran tamu VVIP.


sedang Dian sempat melihat tapi saat ingin menyapa dua urungkan, Dian antri untuk mencairkan uang yang semalam dia dapat.


tapi anehnya Dian di arahkan untuk ke ruang tamu yang sama, dan Tyas langsung memeluk sahabatnya itu.


"maafkan aku ... seharusnya aku terus bersama mu," kata Tyas sedih karena mengetahui semua yang terjadi pada Dian.


"tidak Tyas, kamu juga dalam kondisi yang tak baik, dan apa mereka putra mu dengan pria tua itu?" tanya Dian menggoda Tyas.


"ya ... meski tua begitu aku tetap mencintainya, ah ... dia tak tergantikan di hatiku," jawab Tyas malu.


"udah deh, nyonya besar ini selalu bucin ya say, halo opa," sapa Dian sopan.


"duduk Dian, kamu bisa bergabung dengan kami?" ajak tuan Setyo.


"terima kasih opa, dan dua pangeran ganteng ini, siapa namanya kalau boleh tau?" Dian mengulurkan tangan pada bocah itu.


"halo Tante, nama ku Derrick dan ini kakak ku Derry," jawab bocah itu mencium tangan Dian.


"uh manisnya ...."


mereka pun bergabung, keperluan Dian juga sudah selesai bersamaan dengan Tyas dan tuan Setyo.


"sebelum pulang, lebih baik kita makan dulu, kebetulan susah jam segini," ajak tuan Setyo.


"tapi kita harus makan di mana? di restoran kesukaan opa?" tanya Tyas menyetir mobil.


"tidak cari restoran kesukaan Pitra mu saja, apa kamu keberatan Dian?" tanya tuan Setyo.


"tidak opa," jawab Tyas.


pria itu pun sesekali mencuri pandang pada gadis yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


dia begitu mudah dekat dengan anak kecil bahkan Derrick dan Derry sudah berebut untuk bisa duduk dekat Dian.


"pssts... opa lihat apa, jangan bilang opa naksir Dian ya," kata Tyas berbisik saat lampu merah.


"kamu ini ngomong apa, ya kali opa jatuh cinta pada gadis seusia mu," jawab tuan Setyo.


"opa ingat ya, cinta itu tak memandang umur, dan lagi aku setuju kok, tapi dengan dua kakak ku ..."


"sudah jangan aneh-aneh, udah hijau itu, berangkat gih," kata tuan Setyo


sesampainya di restoran itu, tuan Setyo mengandeng dua cicitnya, dan Tyas serta Dian mengikuti di belakangnya.


saat tuan Setyo memesan makanan, Dian membantunya karena akan sulit membawanya nanti.


tak sengaja Raksa melihat hal itu merasa marah, dia pun ingin mendekati dan bertanya pada sang opa, kenapa makan bersama kekasihnya.


tapi sebelum sampai, Tyas menahannya, "ingat jangan membuat malu kak, kamu dalam masa hukuman, kamu tak ingin semua fasilitas di cabut kak Rama kan, lagi pula mereka bersama ku dan anak-anak," kata Tyas menunjuk meja mereka.


"cih, sudahlah aku pergi," kata Raksa malu.


"kak aku ingatkan, jika kalian sudah tak memiliki hubungan apapun, ingat itu," kata Tyas.


raksa pun tak menjawab dan memilih pergi, tapi yang membuat kaget adalah Arthur yang sedang bertemu dengan klien di restoran itu.


"bukankah itu nyonya Arthur, mereka disini? kenapa tak mengajaknya bergabung, sekalian biar kenal istri dan putriku," kata pria itu pada Arthur.


"lain kali saja tuan,dua mungkin bersama opa dan anak-anak, dan dia jarang mau terlibat dalam pekerjaan ku," jawab Arthur.


"ah ya anda benar, tapi meja istri anda, bukankah itu tuan Setyo, pengusaha yang baru pulang beberapa Minggu yang lalu, setelah perusahaannya sukses di luar negri," kata pria itu kaget.


"iya tuan, istriku adalah cucu wanita tuan Setyo," jawab Arthur tersenyum.


terlebih istri Arthur terlihat masih begitu cantik dan muda, dan nampak begitu segar.


tak di duga seorang pria menghampiri meja Tyas, "maaf nona bisa minta nomor ponsel mu?"


"Dian tuh di mintain nomor ponsel," kata Tyas melihat temannya.


"eh bukan aku tuh, dia minta nomor mu kok," bantah Dian.


"iya mbak, saya minta nomor ponsel anda," tambah pria itu.


pasalnya dua putranya sudah sibuk dengan Dian dan tuan Setyo, Tyas pun mengambil ponsel pria itu.


kemudian mencatat nomor di ponsel itu, "ingat janhan kirim foto aneh-aneh ya," kata Tyas tersenyum.


"terima kasih, ngomong-ngomong aku Farid," katanya mengulurkan tangannya.


"aku Devi, jadi tolong pergi, kamu tak lihat tatapan pria di meja kami," kata Tyas menarik tangannya.


pria itu pun pergi dan menelpon nomor yang di berikan oleh Tyas, dari jauh Arthur marah.


tapi tak di duga malah ponsel asisten Danang yang mendapat panggilan itu, sedang Tyas santai makan siang bersama yang lain.


"ah nyonya memberikan nomor ku lagi pada cowok bajingan lagi," kata asisten Danang.


"sudah nikmati saja, siapa tau ada yang nyangkut Wak," bisik asisten Wisnu.

__ADS_1


"kamu mau mati huh," marah asisten Danang ingin menyikut pria di sampingnya itu.


"sudah hentikan, setidaknya istriku tak memberikan nomor telpon miliknya sembarangan," kata Arthur.


setelah selesai makan, Derry sudah menarik tuan Setyo untuk ke mall di sekitar sana.


"tunggu sebentar, anak-anak hei jangan lari-larian nanti jatuh," kata tuan Setyo pada dua cicitnya itu.


mereka pun menuju ke tempat bermain, tuan Setyo mengisikan saldo untuk bermain.


sedang Tyas dan Dian menunggu di tempat istirahat sambil menikmati es krim, "eh dasar cucu gak peka nih, masak itu nyuruh opa mu yang menjaga si kembar,"


"beh kamu tak tau, si kembar itu lebih anteng dan kalem saat opa yang mengikuti mereka bermain, tapi jika aku mereka akan berlarian kemana pun," jawab Dian tersenyum.


"benarkah, tapi aku tak mengira loh opa mu itu meski sudah tua, tapi telihat begitu aktif ya," heran Dian melihat tuan Setyo yang masih bisa tertawa.


"kamu tak tau, opa itu meski sudah berusia lanjut tapi kata kak Rama, banyak wanita muda yang mau jadi sugar baby-nya, bahkan kekasih kak Rama saja pernah terang-terangan minta opa untuk memanjakan dalam tanda kutip ya," kata Tyas tertawa.


"hah ... gadis gila, kak Rama kan baik banget," dian tak percaya.


"tapi kak Rama itu tak suka bermain sebelum menikah, karena baginya s*x itu setelah menikah, bukan hal yang bisa di nikmati secara bebas," jawab Tyas menjelaskan.


"emh... oke, Tyas aku mau tanya apa keluarga mu memiliki cek yang seperti ini, itu tadi cek yang di berikan opa pada ku untuk menjauhi raksa, aku sih setuju saja," Dian menunjukkan foto di ponselnya.


"ini cek khusus yang hanya di cetak untuk keluarga Nugroho, lihat simbolnya, karena beberapa keluarga konglomerat yang memesan khusus cek seperti ini," jelas Tyas.


Dian pun terkejut, berarti pria yang menikmati dirinya adalah keluarga dari Tyas, tapi siapa dia yang membelinya.


"apa kalian bisa memegang cek itu, dan semua orang bisa memakai cek itu di keluarga mu?" tanya Dian sedikit gemetar.


"itu yang berlogo emas, khusus milik opa, dan untuk kami semua cucunya di berikan khusus yaitu dengan pinggiran silver, ini contohnya yang aku punya, kak Rama dan kak Raksa," jawab Tyas menunjukkan cek yang dia kebetulan sedang membawanya.


Dian pun dengan gemetar melihat cek milik Tyas, dan kini semua jelas jika pria itu adalah orang itu, kakek dari Tyas yang telah menghancurkan Semuanya.


"aku pamit dulu Tyas, aku tiba-tiba ingat harus melakukan sesuatu," pamit Dian yang pergi begitu saja.


sedang Tyas pun hanya bisa bengong melihat temannya pamit pergi begitu saja.


Tyas pun bergabung dengan sang opa dan dua putranya, sedang Dian begitu sedih.


dunianya ternyata hancur di tangan pria yang begitu dia hormati, bahkan dia dulu begitu mengidolakannya.


tuan Setyo yang selalu tersenyum naik padanya, bahkan saat raksa memperkenalkan dirinya dulu.


tapi kenapa pria itu bisa membeli dirinya, bahkan membuat semua pria itu mati, dan sekarang dia tak tau kenapa dia harus berakhir dengan kehancuran seperti ini.


Dian pun menangis masuk ke kost begitu saja, dia masih belum percaya dengan segalanya.


kini semuanya berputar di kepalanya, bahkan dia tak percaya dengan apa yang terjadi padanya.


"Tyas kenapa tadi diam buru-buru pulang?" tanya tuan Setyo.


"oh itu opa, Dian ada janji, tapi dia aneh deh masak tanya tentang cek yang opa berikan, jadi aku menjelaskan padanya, jika itu cek khusus milik opa," kata tyas jujur.


"apa!!" kaget tuan Setyo.


"eh kenapa opa, salah ya?" bingung Tyas.

__ADS_1


tuan Setyo pun merasa bingung sekarang, pasti gadis itu marah dan benci padanya.


tapi bagaimana dia bisa menjelaskan segalanya, bahkan tentang kecelakaan yang membunuh ke tujuh pria yang sudah begitu biadab itu.


__ADS_2