Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
rahasia besar...


__ADS_3

pukul delapan malam, semua orang sampai di kota Surabaya, tapi Arthur sedang tak senang.


terlebih dia asistennya sedang tak bisa di hubungi, pak Yun membawa semua oleh-oleh ke belakang.


"sudah pa, lebih baik masuk, sebelum muka anda nambah keriput,"


Tyas ingin menarik suaminya itu, tapi Arthur sedang fokus menelpon dua asistennya.


"tunggu aku harus mengatakan tentang perusahaan, mereka tak pernah seperti ini sebelumnya," kesal Arthur.


"hei tuan, kamu mau ikut mandi, atau aku akan mengunci mu di luar sebulan ini, tinggal pilih sendiri," ketus Tyas pada Arthur.


"apa sebulan, ya Tuhan sayang, kamu begitu tega," protes Arthur yang langsung berlari mengikuti istrinya itu.


mereka pun langsung masuk ke dalam kamar sambil berciuman dan saling menyentuh di bawah shower.


Arthur pun tak menyia-nyiakan lagi, karena sudah hampir seminggu ini dia puasa.


sedang Tyas hanya bisa menikmati setiap sentuhan dan belaian yang di berikan oleh Arthur.


akhirnya malam ini keduanya habiskan di ranjang, Tyas langsung melempar ponsel suaminya saat pria itu mencoba melihatnya.


Tyas tak ingin Arthur fokus pada benda datar itu, karena Tyas hanya ingin Arthur fokus padanya.


"berhenti melihat benda itu, dan fokus padaku, atau aku akan mengusir mu dari kamar itu,"


Tyas sudah mulai mencium dan bergerak di atas tubuh Arthur, "baiklah ... pelan-pelan saja, kita nikmati waktu ini ... uh.."


tak hanya sepasang suami istri itu, asisten Danang sedang bersama dengan temannya berpesta pora.


tapi dia tak tahan karena aroma dari asap rokok dengan tembakau sintetis dan memilih untuk keluar dari bar itu.


ya mereka tidak di club milik asisten Danang, dan saat dia muntah-muntah, ada seorang gadis kecil yang melihatnya.


gadis itu memberikan air gelas pada asisten Danang, "hei ... pergilah," usir pria itu yang sudah terlalu muak.


gadis itu pun pergi tanpa bicara, tak lama asisten Wisnu datang ke sana dan membawa pria itu pulang ke apartemen.


terlihat gadis milik asisten Wisnu itu menunggu di depan kamar apartemen.


"Lea, ambilkan air hangat, sepertinya dia akan Demam hari ini," perintah asisten Wisnu.


"baik tuan," jawab Lea menurut.


gadis itu membawa air di ember, dan membantu asisten Wisnu membersihkan tubuh asisten Danang.


setelah itu Lea membantu asisten Danang untuk meminum obat, dan akhirnya pria itu tertidur.


"benar-benar gila, beberapa jam saja dia pergi, kenapa sudah seperti ini kondisinya, dan aku tak mengira jika pria ini akhirnya kondisinya seperti ini," gumamnya.


"tuan, biarkan aku yang menjaganya, anda tidur saja, besok anda harus bekerja di perusahaan bukan," mohon Lea.


"baiklah Lea, dan tolong jaga pria bodoh ini, dan jangan sampai kamu sakit juga, dan aku akan tidur di kamar sebelah," kata asisten Wisnu.


"baiklah tuan," jawab Lea.


tak lupa dia juga membuatkan susu yang sudah di campur obat tidur untuk membuat pria itu tidur dengan nyenyak.


akhirnya malam itu Lea pun tidak tidur dan terus memantau kondisi asisten Danang.


akhirnya subuh pun datang dan asisten Danang sudah mulai pulih. tak lupa Lea memasak untuk kedua orang itu.


asisten Danang sudah mulai bangun, "kak Danang, tolong jangan mandi air dingin, ingat kondisimu, jangan aku memanggil tuan Wisnu,"


"iya iya, dasar cerewet," kesal asisten Danang.

__ADS_1


lea sudah menyiapkan sarapan di meja, asisten Wisnu datang-datang mencubit lengan gadis itu.


"akh ... sakit," kata Lea menggosok lengannya.


"kamu memberikan obat tidur padaku, dasar kamu ini," kesal asisten Wisnu.


"habis tuan pasti tak akan tidur dengan baik, jadi itu pilihan terbaik," jawab Lea.


"sudah jangan terus bertengkar, cepat sarapan jangan banyak omong, jika kita telat, bisa habis kena ceramah bos gila itu," kata asisten Danang yang bergabung makan.


"ya kamu benar,"


mereka bertiga pun sarapan bersama, setelah dua itu pergi Lea mulai membersihkan ruangan itu.


kemudian pindah ke apartemen milik asisten Wisnu juga, setelah selesai dia pun memilih olahraga atau menonton tv untuk membunuh waktu.


sedang di rumah mewah itu, sudah terdengar suara teriakan dari Tyas memanggil putrinya.


ya Dewi sedang bingung mencari jepit kesayangannya, "kakak, ayo bantu telat, mama juga harus ke resto," panggil Tyas.


"tunggu ma, jepitan ku hilang, dan ikat rambut ku juga tak ada," saut Dewi.


Tyas menatap dua Putranya yang hanya menunduk takut, "sudah sini mama yang bantu merapikan rambut mu kak,"


Dewi pun turun dengan wajah kesalnya, "mama jepit kesayangan ku, aku menaruhnya dengan rapi di jajaran rak khusus, tapi kenapa tak ada, apa ada pelayan yang mengambilnya, mama tau itu jepit kesayangan mu karena mama yang memberikannya saat ulang tahun ke sepuluh ku," kata Dewi dengan marah.


Tyas melihat suaminya yang menatap ke arah dua putra mereka, pasalnya tadi Arthur melihat dua bocah itu sedang memainkannya.


"kakak maaf, tadi aku mengambilnya karena bentuknya bagus, tapi aku tak sengaja merusaknya tadi," kata Derrick mengakui Semuanya.


Dewi pun awalnya ingin marah, tapi dia tak mengira jika adiknya yang merusaknya.


"sudah-sudah, sekarang mama tata rambut kakak dulu sambil sarapan yuk," kata Tyas mendudukkan putrinya itu.


Dewi pun tak mengira jika Tyas memberikan jepitan yang pernah di minta oleh Dewi.


"mama ..."


"ini untuk menggantikan jepitan kakak yang rusak ya, kasihan lihat itu adik mu sampai sedih gitu,"


"aku gak marah kok ma, aku memaafkan mereka, lagi pula sekarang aku bisa minta apapun dari mama," kata Dewi tertawa.


"terima kasih kakak," kata Derrick.


akhirnya Tyas memilih mengikat rambutnya dengan ikat rambut biasa saja, dan kini akan pergi mengantarkan putrinya.


Arthur juga sudah berangkat ke kantornya, sedang tuan Tjandra membawa dua bocah itu ke rumah tuan Setyo.


terlebih pria itu akan pulang hari ini bersama Dian dan Dion, karena dia masih ingin berbincang dengan temannya itu.


Arthur berjalan dengan begitu dingin, bahkan sapaan para pegawai tak di gubrisnya.


karena dia sedang kesal, karena dua asistennya masih belum ada kabar sampai saat ini.


sesampainya di lantai ruangannya, terlihat dua asistennya bangun dan menyapa Arthur yang lewat.


"kalian berdua masuk kedalam," perintah Arthur.


keduanya pun masuk ke ruangan Arthur, pria itu duduk di kursi menghadap kedua orang yang sedang berdiri di depannya.


"kalian berani keluar ke tempat pelelangan dengan mengunakan namaku, kenapa kalian melakukan itu, apa kalian tak takut semua musuh mengincar hidup kalian, atau kalian sudah bosan hidup," marah Arthur.


"maaf tuan, saya lupa tak melepaskan cip mobil milik anda," jawab asisten Danang


asisten Wisnu langsung memukulnya, "pantes aku sedikit terkejut melihat mobil yang kamu bawa," kesal pria itu.

__ADS_1


"sudahlah semua sudah terjadi, dan lagi apa kalian sudah menemukan yang kalian cari, kalau begitu hancurkan mobil itu," perintah Arthur.


"baik tuan," jawab asisten Danang.


"dan pekerjaan mu Wisnu?" tanya Arthur melihat pria itu.


"dia sudah sembuh tuan, dan sepertinya anda harus mulai menemuinya dan bertanya sendiri, karena selama ini dia tak mau mengakui alasannya," jawab asisten Wisnu


"brengsek, ingin aku membunuhnya, tapi pria itu menyimpan sesuatu yang bahkan seluruh keluarga Nugroho tak mengetahuinya!" marah Arthur.


"ini sangat sulit di gali tuan,aku bahkan sudah meminta orang-orang mencarinya tuan, tapi tak di temukan di mana pun," tambah asisten Wisnu lagi.


"putriku ..." lirih Arthur dengan suara begitu sedih.


"tuan bagaimana jika kita mengerahkan semua geng bawah milik anda," usul asisten Danang


"tapi tak semudah itu, jika aku mengumpulkan mereka, berarti aku harus siap memegang kendali lagi terhadap mereka, dan aku tak ingin hal itu," kata Arthur.


"bagaimana kalau aku yang memegang kendali mereka, setidaknya kita bisa menemukan keponakan ku yang di culik itu," jawab Rama yang kebetulan datang ke kantor Arthur.


"kamu disini?" kaget Arthur.


"aku datang untuk menyerahkan bukti pembangunan hotel batu kita, tapi aku malah mendengar ini semua, kalau begitu aku akan membantu mu," kata Rama.


"tapi bagaimana kalian tau jika ada putri Tyas yang di sembunyikan oleh Ian?" tanya Rama.


asisten Wisnu menjelaskan, saat itu dia dan anak buah Arthur sedang menyiksa Ian yang berani melukai Arthur.


"buat dia menyesal karena berani menyentuh tuan Arthur," kata asisten Wisnu.


"ha-ha-ha, lakukan saja, kau berani membunuhku, maka putraku akan melukai gadis kecil itu, gadis yang aku bawa saat Tyas melahirkan, bahkan Keluarga Nugroho tak tau itu," kata Ian tertawa seperti orang gila.


mendengar itu Wisnu pun mencari tau dan ternyata benar, orang yang di utus oleh wisnu menemukan jika tyas melahirkan tiga bayi.


tapi bayi perempuan itu di lahirkan sudah meninggal dunia, dan Ian membawanya lari.


lebih buruk lagi, ternyata Ian menyuap semua dokter dan perawat yang membantu persalinan untuk tak mengatakan hal itu pada keluarga Nugroho.


Rama marah besar mendengar penjelasan dari asisten Wisnu, "bagaimana pria brengsek itu bisa melakukannya, padahal aku sudah menjaga dengan ketat adikku itu,"


"sekarang marah tak berguna, kita harus segera menemukan putriku, terlebih putra Ian sudah tak ada di rumah itu lagi," kata Arthur.


"bagaimana bocah itu bisa pergi, bukankah dia masih tiga belas tahun?" tanya Rama.


"tapi sia seorang jenius, bocah itu tak bisa di remehkan," kata Arthur.


mereka pun saling berdiskusi untuk langkah selanjutnya, sedang di restoran yang menjual dessert itu.


Tyas langsung masuk dan menuju ke dapur, dan melihat kue yang sedang di buat dan lagi dia harus memastikan kualitas yang akan di jual.


"tolong berikan aku celemek itu, karena aku harus membuat kue lain," kata Tyas yang sedang membuat cookies.


tapi setelah selesai, Tyas membiarkan pegawainya yang memanggang kue kering itu.


Tyas pun memilih pergi ke samping resto, dia semalam bermimpi aneh setelah membentur kepala Arthur cukup keras semalam.


dia ingat jika saat melahirkan dia mendengar seorang perawat mengatakan itu bayi perempuan.


tapi kemudian dia pingsan karena dia terkena serangan jantung saat itu.


tapi nyatanya saat dia tersadar, dia hanya melahirkan dua bayi laki-laki, terlebih saat setelah sadar dia tak ingat apapun dengan apa yang terjadi padanya.


tapi mimpi semalam begitu membuatnya gusar, ini sudah empat tahun, seharusnya gadis itu sudah sebesar kedua saudaranya.


"ini sebenarnya apa yang terjadi," kata Tyas sedih. PP

__ADS_1


__ADS_2