
asisten Danang memukul pundak dari asisten Wisnu, "mending kalian nikah deh, jangan bikin orang kesal dengan saling pandang gak jelas gini," omel pria itu.
"tutup mulutmu, sudah aku mau telpon seseorang dulu," kata asisten Wisnu pergi dari kerumunan orang.
pria itu menghubungi seseorang, pasalnya dia mempercayakan penjagaan untuk Edwin.
"bagaimana bocah itu sudah mengaku?" tanya asisten Wisnu yang sedang berdiri di depan pantai sambil menikmati suasana sore hari ini.
"sudah tuan, dia sudah mengaku tadi, dia mengatakan jika gadis itu sudah lari dari bocah itu beberapa hari ini, dan aku sedang menyebar orang-orang ku untuk mencari nona muda Sanz," jawab seseorang dari sana.
"kalau begitu aku kasih waktu tiga hari untuk menemukan nona muda, dan tidak lebih, kerahkan semua anak buah kita, dan pastikan semua selesai atau aku akan menunjukkan hukuman jika kalian tidak melakukannya," kata Wisnu tanpa sadar ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
asisten Wisnu mematikan ponselnya setelah mengatakan semuanya, "kak Wisnu, apa maksudnya dengan nona muda, memangnya Dewi kenapa?"
"nyonya!! tidak ada apa-apa kok nyonya, hanya sedang memerintahkan seseorang menjadi pengawal untuk nona muda," bohong asisten Wisnu.
"baiklah, kalau begitu cepat bergabung bersama yang lain, mereka sudah menunggu," kata Tyas.
kini keduanya pun menuju ke tempat semua orang berada, dan langsung bersulang bersama.
setelah itu mereka pun melanjutkan pesta, tapi asisten Wisnu melaporkan apa yang sudah dia ketahui, Rama pun tak bisa menundanya lagi.
"opa, aku harus ke Surabaya, ada pekerjaan mendadak," pamit Rama pada tuan Setyo.
"hei pekerjaan apa yang membuatmu panik seperti ini, apa ada pekerjaan penting di perusahaan raksa?"
tuan Setyo melihat cucunya yang lain, "setahuku tidak opa, soalnya kami sudah menyelesaikan semua, jadi mungkin akan sedikit yang perlu di cek saja," jawab raksa.
Rama pun melihat kearah Arthur untuk membantunya, "aku rasa biarkan saja opa, lagi pula aku juga dapat telpon untuk melakukan rapat dadakan, dan lihat dia asisten ku yang sedang berpesta di sini," kata Arthur.
"maaf kan kami tuan, aku lupa tidak membatalkan penandatanganan hal itu, jadi kita harus segera kembali ke Surabaya saat ini," kata asisten Danang.
"ya baiklah, silahkan saja biar aku yang menjaga keluarga kalian, dan tuan pria tua ini untuk menunda bulan madunya," kata tuan Tjandra.
"tidak, biarkan opa dan keluarganya berlibur, aku akan ikut kembali ke Surabaya bersama suamiku, dan lagi aku tak ingin jauh darinya, maaf opa ..." kata Tyas melihat sang kakek.
"baiklah, kalian bisa pergi, dan opa punya hadiah yang sangat indah untuk kalian semua, dan untuk mu gadis cantik opa, terima kasih untuk Semuanya nak, kami akan kembali saat kami sudah selesai berlibur disini," kata tuan Setyo.
"iya opa, kami akan menunggu kepulangan opa dan keluarga baru," jawab tuan Setyo mengenggam tangan Tyas erat.
keduanya pun berpelukan, Tyas melihat kearah Dian, dan wanita itu mengangguk.
mereka pun berpelukan juga, malam itu semua orang berpamitan pergi, sedang para orang tua tinggal di Bali untuk liburan.
ternyata tuan Setyo membelikan sebuah pesawat pribadi untuk Tyas, agar mereka bisa kemana pun tanpa harus menunggu pesawat komersial.
butuh satu setengah jam untuk sampai di bandara Juanda, dan mereka langsung menuju ke rumah.
sedang Tyas merasa ada yang tak benar, dan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.
Arthur membantu menidurkan anak-anak, setelah itu Arthur akan pergi tapi Tyas menahan tangan dari suaminya itu.
"tolong berhenti menyembunyikan sesuatu, aku sudah merasa aneh dengan kalian yang terus diam di depan ku, tadi kak Wisnu bilang nona muda, apa maksudnya? tolong jangan sembunyikan semuanya lagi," mohon Tyas.
"jangan menangis sayang, aku mohon, aku harus segera pergi karena ada sesuatu yang penting," kata Arthur.
"jika kamu pergi,maka besok kamu akan melihat mayat ku disini!!" teriak Tyas dengan sangat kencang.
__ADS_1
Arthur pun menghentikan langkahnya,dia pun berbalik dan melihat Tyas yang sudah menempelkan pistol di kepalanya.
"apa aku seburuk ini, hingga tidak ada yang mau bicara, kamu dan kak Rama, bahkan asisten mu," kata Tyas dengan tangis yang menggema.
Arthur pun memeluk Tyas dengan erat, dan Tyas menangis sesenggukan, "tolong diam, sekarang ayo kita pergi, tapi tenangkan dirimu,"
Tyas mengangguk, pak Yun yang akan menjaga ketiga anak di rumah itu.
Dewi pun tau apa yang akan di lakukan oleh kedua orang tuanya, dia pun sebenarnya belum bisa menerima.
tapi dia tak bisa egois, terlebih adiknya itu mungkin sangat teluka, terlebih dia bukan orang jahat.
"Dewi sebenarnya kamu memiliki adik perempuan, dan dia sudah hidup sangat buruk selama ini, dan sudah menemukannya, apa kamu bisa menerima kehagiaran nya seperti halnya Derry dan Derrick," tanya Rama pada keponakannya.
"kenapa? kenapa baru sekarang, aku akan sangat sulit untuk menerima itu om, terlebih aku selama ini jadi anak kesayangan papa dan mama, tapi akan ada adik lagi," gumam Dewi kecewa.
"kamu tau Dewi, setidaknya orang tua mu berada di sisi mu, bahkan om dulu tak mengenal orang tua om karena keegoisan dari opa, dan om sangat menyesal saat tau jika adik om hidup tersiksa, dan cobalah jadi adik mu yang hidup tersiksa, dan lagi mama mu mungkin akan gila lagi setelah tau jika putrinya hidup dengan buruk di luar sana," bujuk Rama.
"tapi aku takut mama akan melupakan ku, terlebih dia memiliki tiga anak sendiri ..." lirih gadis itu.
"apa selama ini mama mu melupakannya mu, setelah punya dua putranya, apa kamu di sisihkan,"
Dewi pun mengeleng pelan, "tidak om, malah aku jadi anak yang selalu di utamakan di banding dua adikku," jawabnya langsung memeluk Rama.
"maafkan aku om, aku sempat meragukan kasih sayang mama, padahal dia sudah menjadi mama terbaik selama ini," kata Dewi menghapus air matanya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
mobil itu kini menuju ke daerah yang sudah di beritahu oleh asisten Wisnu.
mobil itu pun berhenti cukup jauh dari sebuah jembatan, tapi hujan sudah sangat lebat.
"gadis itu tidak mau di jemput tuan, dan dia berada di bawah jembatan, dan gadis itu tak ingin naik," jawab asisten Wisnu.
"kalian ini bagaimana, kalau tidak mau naik maka paksa!" teriak Arthur.
Tyas pun berjalan menembus hujan dan langsung turun menghampiri Rama yang masih berusaha membujuk gadis itu.
tapi tak terduga, tyas langsung berlari menuju ke arah gadis itu dan menariknya kedalam gendongannya.
dan membawa gadis kecil itu untuk pergi menjauh dari aliran sungai itu, bahkan saat asisten Danang ingin menggendongnya.
Tyas tetap memeluk bocah itu, mereka pun menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA dan juga memeriksa kondisi gadis kecil itu.
sesampainya di rumah sakit, Tyas dan Arthur memberikan sampel darah,tapi Rama tak merasakan ikatan melihat bocah kecil itu.
"apa kamu yakin Wisnu,dua gadis yang benar?" tanya Rama memastikan.
"kalau dari foto yang berada di dompet Edwin, dan semua foto yang ada di rumah baru mereka juga benar jika gadis ini adalah bayi yang di bawa oleh Ian," kata asisten Wisnu.
"apa kalian mengira dia putriku?" tanya Tyas dengan lirih.
"apa maksud mu sayang, dia adalah putri kita yang di bawa kabur oleh Ian, dan itu dia akui sebagai bayi kita yang dia bawa dari rumah sakit saat itu," kata Arthur tak mengerti.
"tapi aku tak merasakan, apapun padanya, ikatan yang seharusnya ada tapi aku tak merasakannya, kenapa dengan diriku?" tanya Tyas pada Arthur.
"karena dia memang bukan anak kalian, bahkan golongan darahnya o, sedang Arthur B+ sedang Tyas AB+," terang dokter yang melakukan dan bertanggung jawab atas tes DNA itu.
"apa, lalu kemana putriku," kata Arthur frustasi.
__ADS_1
"sepertinya dia benar-benar sudah tak tertolong waktu itu, terlebih saat dia lahir aku tekena serangan jantung, dan bayi ku mungkin tidak selamat," gumam Tyas sudah menginggat semuanya.
"apa yang kamu katakan?" tanya Rama.
"itu benar kak, aku sudah menanyakan kepada dokter yang dulu menangani persalinan dari Tyas, Ian memang mengambil bayi itu, tapi dokter sudah mengatakan jika bayi itu sudah mati," kata Raksa menunjukkan semua bukti.
"tapi kenapa pria itu begitu yakin," kata Rama yang masih kebingungan.
"karena dia ingin merusak hubungan keluarga dari kalian, aku harap besar untuk Arthur dan Tyas segera pindah dan memulai hidup baru tanpa menoleh kebelakang lagi,dan tak melakukan kesalahan lagi."
"apa maksud mu kak raksa,"
"aku ingin kalian hidup tenang, aku kasihan melihat Dewi, Derry dan Derrick yang selalu saja di tinggal bekerja, tolong hidup dengan baik, cukup dengan semua ini," kata Raksa.
Arthur diam mendengar itu, ya jika di urut lagi waktunya bersama dengan anak-anak begitu sedikit berkurang karena pekerjaan.
"tuan, aku juga ingin memulai hidup baru di kota berbeda, tolong izinkan aku untuk berhenti, biarkan asisten Wisnu saja yang membantumu," kata asisten Danang
"tapi kenapa Danang, kenapa baru sekarang?" tanya Arthur.
"karena aku sudah lelah dengan hidupku, jadi aku ingin hidup tenang," jawab asisten Danang.
"baiklah kakak boleh melakukannya, tapi ingat untuk tetap menelpon kami walau kakak Danang sudah bahagia nantinya," kata Tyas.
"tentu nyonya," jawab asisten Danang.
Lea yang akan merawat gadis kecil itu, sedang Tyas dan Arthur pergi di antar oleh asisten Wisnu dan Rama.
selama dalam perjalanan menuju rumah, mereka semua hanya Diam tanpa ada yang membuka pembicaraan.
terlebih setelah semua bukti yang di tunjukkan oleh raksa dan pengakuan dari semua tim medis yang di rekam.
meski Arthur tak percaya, tapi gadis kecil itu memang bukan putri mereka.
sesampainya di rumah Dewi sudah tak sabar ingin melihat adik kecilnya yang lain, tapi saat semua orang masuk Dewi bingung karena tak melihat bocah itu.
"mana adik ku?"
Tyas pun langsung memeluk gadis itu dengan begitu erat, "dia sudah tak ada kak, dia sudah tak ada di dunia ini," kata Tyas.
Dewi pun kaget, terlebih wajah semua orang yang juga sangat sedih. "aku pamit, sudah terlalu malam,"
Rama pergi dengan marah, tak butuh waktu lama sampai di markas tempatnya menahan Ian.
"katakan,dimana keponakan ku,ternyata kamu membohongiku!!!" teriak Rama.
"ha-ha-ha ... kalian tertipu, asal kalian tau ini sangat menyenangkan bukan,kalian ku permainkan,meskipun aku sudah seperti ini, bagaimana rasanya di bidohi, malu kan kamu!!!" teriak Ian menghina Rama.
"dasar pria brengsek, aku akan membunuh mu," kata Rama dengan suara dingin yang sudah menyeringai.
"tidak bisa, kalian tidak akan membunuhku, karena aku yang tau apa yang terjadi pada bayi itu yang setelah mati,aku menjadikannya makanan anjing peliharaan ku," kata Ian tertawa lagi.
"kalau begitu kamu juga harus merasakan apa yang di rasakan oleh bayi itu, bawa dua Harimau peliharaan ku, biarkan pria busuk menjadi makanan mereka," perintah Rama.
awalnya Ian hanya menganggapnya sebagai gertakan semu, tapi tak lama ada dua pengawal yang membawa dua harimau Siberia berukuran besar.
"selamat di nikmati Ian ..." kata pria itu pergi begitu saja. sedang Ian mulai ketakutan, terlebih rantai yang mengikatnya kini mulai di eratkan.
__ADS_1