
dokter pun keluar dan menemui Arthur, dokter pun tau siapa pria itu.
"bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Arthur dengan suara dingin.
"kondisinya tak terlalu parah, dan dia juga tak perlu menginap di rumah sakit," kata dokter.
"baiklah, aku ingin menemui gadis itu," kata Arthur masuk kedalam ruangan rawat Tyas.
saat masuk, gadis itu sudah mau pergi, tapi Arthur menangkap gadis itu.
"mau kemana? kamu masih sakit," kata Arthur.
"lepas tuan, aku harus ke rumah pengacara Ridwan Sulaiman, karena aku ingin menyelamatkan ibuku," kata Tyas yang tak memperdulikan lukanya.
"hentikan, jika kau mati siapa yang akan menolong ibumu!" bentak Arthur kesal.
Tyas pun berhenti dan melihat Arthur yang begitu seram, gadis itu pun menangis ketakutan.
"jangan mendekat, aku ingin menolong ibuku..." tangis Tyas.
Arthur ingin mendekat, tapi asisten Danang membisikkan sesuatu pada Arthur.
tapi tak terduga Tyas pingsan kembali, dan dokter pun segera memberikan perawatan.
"gadis ini ... Danang telpon pengacara Ridwan sekarang, minta datang kesini, jika tidak buang dia ke Afrika karena tak becus jadi pengacara," kata Arthur yang sedang mengusap pipi mulus milik Tyas.
"baik tuan," jawab asisten Danang.
Arthur pun duduk di ranjang pasien dan melihat wajah Tyas yang sedang terlelap.
Arthur meneliti setiap wajah cantik gadis muda itu, bahkan alis yang rapi, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir yang merah muda menggoda.
__ADS_1
ingin rasanya Arthur menikmati bibir itu, "apa aku akan jadi pedofil jika mencintai gadis semuda ini, ah ... aku merasa selalu saja tertarik kearahnya, pikiran ku, hatiku, entah sihir apa yang kamu miliki Tyas," gumam Arthur tersenyum geli sendiri.
karena tergoda, pria itu pun akhirnya mencium bibir Tyas yang masih belum sadar, "bibir yang manis," kata Arthur begitu senang.
pengacara Ridwan yang sedang tidur pun kaget mendengar ponselnya berbunyi, dan saat melihat jam dia pun kaget.
"brengsek siapa yang menelpon semalam ini," kata pria itu.
pengacaranya Ridwan pun melihat layar ponselnya dan kaget melihat nama monyet liar disana.
"kampret juga nih orang .. halo ada apa Danang," kesal pengacara Ridwan
"anda mau mati tuan, segera ke rumah sakit persada sekarang, jika tidak, siap-siaplah untuk pindah ke Afrika saat ini juga," kata asisten Danang yang langsung mematikan telponnya.
pengacara Ridwan pun kaget bukan main, tapi jika yang menelpon asisten Danang maka semua yang di katakan benar.
dua pun buru-buru mengambil jaket dan bergegas pergi dan lupa tak menganti pakaiannya.
"kalian ingin apa? dan tumben kamu di sini?" tanya pria itu.
"Andrea Ayuningtyas, kau mengenalnya? gadis berusia enam belas tahun Putri dari mami Sasa Alona," kata Arthur.
"Tyas, bagaimana kalian mengenal dia, apa dia dalam masalah?" tanya pengacara Ridwan.
"dia di dalam, dan bukan dia yang dalam bermasalah, tapi mama Sasa yang terkena masalah, dan bantu dia keluar dari masalah itu," perintah Arthur.
"tapi apa kamu tau tuan besar, mungkin hidup wanita itu tak lama, karena dia memiliki kanker serviks, dan itu sudah stadium dua, dan operasi juga tak bisa menyembuhkannya," kata pengacara Ridwan
"sudah lakukan saja, atau aku akan membuatmu pergi ke-"
"baiklah-baiklah aku mengerti, aku pergi untuk melihatnya di kantor polisi," kata Ridwan
__ADS_1
Arthur pun kembali ke ruang rawat Tyas, tapi dia melihat gadis itu mulai sadar.
"ada apa? kamu membutuhkan sesuatu nona?" tanya Arthur duduk di depan Tyas.
"aku haus," kata Tyas.
Arthur pun memberikan air di kemasan pada Tyas, "terima kasih tuan," kata Tyas yang meminumnya.
"sekarang istirahat, kamu belum sehat, luka di kepala mu ini," kata Arthur menyentuh perban di kepala Tyas.
Tyas yang biasanya begitu tak suka di sentuh lawan jenis, tapi sekarang diam saat Arthur menyentuh perban di kepalanya.
bahkan pria itu seperti mampu membuat Tyas terpesona tanpa bisa berkedip melihatnya.
"aku bilang tidur, kenapa malah memelototi ku," kata Arthur.
"tidak tuan, aku harus pergi karena ibuku butuh bantuan, dan dia sedang sakit," kata Tyas khawatir.
"berhenti atau aku akan mengikat mu, aku akan menyelesaikan semuanya, aku bisa membantu ibu mu untuk sembuh," kata Arthur.
"tapi kenapa? aku tak mengenalmu?" tanya Tyas sedikit takut.
"kau tak ingat aku, sepertinya aku sedih mendengarnya, dan jika kamu butuh bantuan ku,maka bilang saja padaku," kata Arthur yang ingin pergi.
"tunggu tuan, bantu sembuhkan ibuku, dan aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan," kata Tyas memohon sambil menahan tangan Arthur.
"termasuk dirimu?" tanya Arthur melihat wajah Tyas
"tentu tuan, karena aku hanya ingin ibuku selamat dan sehat, meski aku aku harus mati untuk itu, atau menjadi pelacur untuk memberikan kesehatan pada ibuku, aku rela melakukan itu," kata Tyas.
Arthur dan Tyas saling melihat, Arthur pun tak mengira ada gadis yang bisa melakukan apapun untuk kesehatan bahkan keselamatan dari ibu yang bahkan buruk di mata semua orang, tapi di mata putrinya ibu itu tetap pahlawan dan orang yang paling terpenting di hidupnya.
__ADS_1