
karena tak kunjung sadar, Arthur pun merasa kasihan pada istrinya yang mulai mengantuk.
"ayo kita pulang sayang, besok jika dia sadar, polisi akan menghubungi kita," kata Arthur.
"emm ... baiklah, lagi pula ini mata tak bisa di ajak kompromi sedikit pun," kata Tyas
karena kasihan, Arthur pun mengendong Tyas yang sudah mulai kelelahan.
Arthur pun memangku Tyas selama perjalanan karena sudah mulai tertidur di pelukan Arthur.
asisten Wisnu pun menyetir mobil dengan mulus, dan sesampainya di rumah, Arthur kaget karena para pelayan sedang mencuci mobil.
asisten Danang kaget melihat mobil itu sampai, bahkan mereka baru selesai dengan dua mobil dan masih tiga mobil lagi yang harus di bersihkan.
"hei ada apa ini,kenapa kalian mencuci mobil di malam seperti ini?" tanya Arthur yang keluar sambil mengendong tubuh Tyas.
"maafkan kami tuan, mobil-mobil ini mendapatkan beberapa gambar dengan cat minyak, dan itu perbuatan dua tuan muda," jawab asisten Danang dan pak Yun.
"baiklah, kalian bisa membersihkannya besok, aku juga tak mungkin mengendarai semuanya besok," kata Arthur yang hanya bisa menghela nafas.
ingin sekali dia marah, tapi bagaimana pun dia tak bisa marah pada anak-anaknya.
dia mengendong Tyas menuju ke kamar utama, pelayan Mila dan pelayan Eka menjaga dua bocah itu.
sedang Dewi juga sudah tidur lelap saat Arthur melihatnya, setelah itu Arthur kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Tyas bangun dan memilih mencari baju tidurnya, tapi karena dia sudah terlalu mengantuk.
dia malah memakai lingerie seksi, bahkan begitu menggoda dengan rambut terurai.
"kamu menggoda ku, kamu lupa jika aku sudah puasa lima tahun," bisik Arthur yang memeluk tubuh Tyas.
"emm... tubuh mu hangat sayang," jawab Tyas yang belum sadar sepenuhnya.
Arthur pun langsung ******* bibir indah milik istrinya itu, dan Tyas pun membalas lumayan itu.
akhirnya Arthur yang susah tak tahan pun membawa tuas ke ranjang, dan mulai mencumbu Tyas.
Tyas bahkan merasakan hal yang begitu indah, dan saat penyatuan, Arthur pun mengigit bibir bawahnya.
"ah, kenapa rasanya persis seperti yang pertama," lirih Arthur yang mulai bergerak perlahan.
"emm... aku merawatnya," jawab Tyas yang menikmati setiap gerakan itu.
keduanya bertahan cukup lama hingga akhirnya puas bersamaan, Arthur pun menjatuhkan dirinya kesamping Tyas.
dan keduanya pun tidur sambil berpelukan, tak lupa mereka juga mengunci pintu, karena takut jika anak-anak akan masuk saat mereka belum bangun.
keesokan harinya, semua sudah bangun dan bersiap sarapan, sedang Tyas baru bangun dan merasakan jika tubuhnya remuk redam.
pasalnya mereka semalam melakukan aktifitas itu beberapa kali,bahkan saat Tyas tidur, Arthur melakukannya lagi dan lagi.
__ADS_1
"uh ... pinggang ku sakit," kata Tyas.
"butuh bantuan sayang, kita bisa mandi bersama, terlebih orang-orang pasti sudah sarapan karena kita bangun telat,"
Tyas belum menjawab tapi Arthur sudah mengendong dirinya masuk kedalam kamar mandi.
mereka pun berendam di bathtub, dan setelah merasa baikan, dan selesai bersiap, mereka pun keluar dan turun, untuk menemui semua orang.
"aduh mama kelamaan turunnya, jadi kami sarapan duluan bersama kak dewi, dan papa kenapa mengurung mama," omel Derrick pada Arthur.
"mohon ampuni aku pangeran Derrick, karena kami semalam pulang kemalaman, jadi apa yang perlu aku lakukan untuk mendapatkan maaf dari pangeran ku ini," kata Arthur.
"aku juga pangeran papa kan?" tanya Derry yang juga cemburu melihat Derrick.
Arthur pun mengendong kedua Putranya bersamaan, sedang Tyas memeluk Dewi dan mencium kening gadis itu.
"mama, kenapa leher mu merah-merah,apa di gigit serangga? ah pak Yun tolong basmi serangga itu," kata Dewi polos.
Arthur pun hanya senyum-senyum sendiri mendengar pertanyaan itu, dari putrinya yang mulai dewasa.
"biar mama dan papa sarapan dulu, nanti kita jalan-jalan ke Timezone dan kalian bertiga bisa main sepuasnya," kata Arthur.
"yey ... oke papa," jawab mereka bertiga.
Arthur dan Tyas pun duduk bersama untuk sarapan meski telat, dan kedua asistennya sudah pergi karena jika Sabtu dan Minggu mereka bebas kemana pun.
__ADS_1