
Tyas pun mengajak Dewi untuk .asuk kedalam kamar, karena gadis kecilnya itu sudah beberapa kali menguap.
Dewi pun menurut dan benar saja tak lama gadis itu tertidur, Tyas pun bangkit dari ranjang putrinya dan langsung menuju ke kamar utama.
baru juga masuk, Arthur menariknya dan menjatuhkan dirinya di ranjang, "apa apaan ini Daddy?"
Tyas bangkit tapi Arthur terlanjur menindihnya, "hentikan, apa yang ingin kamu lakukan," kata Tyas berontak.
"aku sudah tak sabar, kamu terlalu menyakitiku Tyas, ingat aku itu suamimu!" bentak Arthur.
"aku tau, tapi kamu begitu mudah memeluk wanita lain di depan ku,kau pikir aku ini apa Daddy, aku pelacur mu atau aku hanya pajangan atau hanya penghangat dan pengasuh putrimu, jawab!!" kata Tyas tak kalah tinggi.
Arthur terdiam, dia tadi marah tapi dia tak mengira jika ini yang di pikirkan oleh Tyas tentang dirinya.
"kau jahat Daddy," Tyas mendorong Arthur hingga jatuh di sampingnya.
Tyas pun berlari ke kamar mandi dan berganti pakaian dengan piyama satin, dia ingat jika di ruang ganti ada minuman milik Arthur.
Tyas ingin meminumnya tapi dia tak suka merusak tubuhnya sendiri, dia pun menaruhnya kembali dan memilih untuk tidur.
Arthur terlihat sedang berdiri bertelanjang dada, bahkan dia membiarkan angin malam menyentuh tubuhnya.
"hentikan melakukan ini, atau Daddy bisa sakit," kata Tyas menarik Arthur dan menutup pintu ke arah balkon.
"kenapa kamu peduli, bukankah kamu sedang marah," tanya Arthur ketus.
"daddy boleh mati atau hidup terserah Daddy, tapi jangan merepotkan orang lain," jawab Tyas yang juga sedang tak bersahabat.
Arthur pun tak mengira jika Tyas bisa begitu cuek, Arthur tak bisa lagi di cuekin oleh Tyas.
dia pun memeluk tubuh Tyas dengan erat, "maafkan aku, aku hanya refleks tadi, bagaimana pun aku tak bisa menolaknya karena keluarga mereka dulu begitu sangat berjasa," kata Arthur.
"berjasa, kenapa tidak Daddy nikahi saja, aku hanya gadis biasa, orang tua ku juga sudah tak ada, lebih baik menikah dengannya dan besarkan perusahaan mu," kata Tyas ketus.
"bukan seperti itu sayang, aku begitu mencintaimu apa kamu meragukan itu, maafkan aku, aku akan menjaga jarak darinya mulai sekarang," panik Arthur.
"itu Pilihan mu Daddy, terserah dirimu,aku tak peduli," kat Tyas melonggarkan pelukan Arthur.
Tyas menoleh ke arah suaminya yang nampak sedih, Tyas pun memeluk Arthur dan mengecup bibir Arthur sekilas.
"lain kali jangan lakukan lagi, atau aku akan meninggalkan dirimu," marah Tyas yang masih memeluk suaminya itu
__ADS_1
Arthur pun memeluk Tyas dengan erat, dan akhirnya malam ini Tyas tidur sambil berpelukan dengan Arthur.
pukul tiga pagi, Tyas terbangun karena merasa sangat lapar, dia pun memutuskan untuk turun dan membuat sesuatu.
"kak Danang baru pulang?" tanya Tyas yang melihat sosok Danang.
"ah iya nyonya, dan nyonya sendiri sedang apa jam tiga seperti ini turun?" tanya asisten Danang.
"aku lapar, jadi mau membuat sesuatu atau jus saya, toh sebentar lagi pagi," jawab Tyas.
"kenapa tidak panggil pak Hary saja," kata asisten Danang yang mengikuti Tyas.
"biarkan mereka beristirahat, dari pada cuma bicara, lebih baik bantu aku dong," kata Tyas.
"maaf nyonya, saya mau tidur saja, mengantuk," kata asisten Danang pergi.
Tyas pun hanya mengeleng pelan, dan mulai memasak sesuatu yang simpel, beruntung para pelayan memiliki persediaan mie instan di lemari dapur.
Tyas membuat satu bungkus dan juga air lemon hangat, tak lupa juga memasak beberapa pelengkap.
Arthur terbangun saat tak merasakan tyas di sampingnya, dia pun panik karena mengira Tyas lari dari rumah.
"Daddy, kenapa kamu menyalakan semua lampu rumah, ini masih jam setengah empat pagi," protes Tyas yang silau karena cahaya yang tiba-tiba terang.
"ya tuhan sayang, ku kira kamu pergi dari rumah, sebab itu aku panik mencariku," omel Arthur.
"apa sih, aku hanya lapar, jadi aku makan dan tolong matikan lagi lampunya," kata Tyas.
tapi sayang karena hal itu semua pengawal yang berjaga sempat panik dan masuk, tapi Arthur sudah meminta mereka kembali ke tempat masing-masing.
Tyas sudah selesai makan, dan berniat untuk menikmati suasana pagi ini.
"kita kembali tidur yuk, aku tak bisa nyenyak jika kamu tak ada di sampingku," kata Arthur yang mengendong Tyas.
Tyas hanya melingkarkan tangannya pada leher Arthur, dan keduanya pun naik ke lantai atas.
Arthur pun mulai mencumbu Tyas, "ah Daddy, kenapa kamu begitu mesum, ah... ini kamu ... berhenti Daddy ..."
"tapi aku menginginkan mu sayang, aku sudah tak tahan, kasihan si Otong loh," bisik Arthur.
Tyas pun tertawa, dia langsung membalik tubuh Arthur dan kini dia di atas tubuh suaminya.
__ADS_1
"kalau begitu biar aku yang melayani mu Daddy," kata Tyas mulai memberikan sentuhan menggoda untuk memancing nafs* Arthur.
benar saja tak butuh waktu lama, Arthur sudah mengerang karena ulah istrinya itu.
"kenapa kamu begitu hebat, beruntung aku memiliki mu," batin Arthur .
Arthur memegangi pinggang Tyas saat ini, sedang Tyas sedang bergerak dengan ritme pelan.
"aw... mm..."
suara itu yang hanya di keluarkan oleh Arthur karena servis yang di berikan istrinya.
karena tak tahan, Arthur pun membalik tubuh Tyas, dan mereka pun kembali bergulat dengan ritme lebih cepat.
bahkan kini Tyas yang berteriak karena ulah suaminya itu, dan keduanya pun berpelukan saat mencapai kepuasan.
Arthur dan Tyas kemudian tertawa bersama, setelah itu berciuman begitu mesra.
keduanya pun berpelukan mesra di kamar, Tyas bahkan tertidur karena kelelahan.
keduanya begitu santai karena hari ini adalah hari Sabtu, dan keduanya libur dari kegiatan masing-masing.
dewi bangun pukul tujuh pagi, dua pun bergegas turun dan mencari orang tuanya.
Dewi mengetuk pintu kamar Arthur, dan mendengar ketukan pintu, Arthur bangun dan memakai kaos dan celana pendek miliknya.
tak lupa dia juga memakaikan baju satin milik Tyas dan kemudian menyelimuti istrinya itu.
"hallo putri papa, kamu sudah bangun, tumben sayang," kata Arthur mengendong Dewi.
"aku rindu mami," jawab Dewi.
Arthur pun meletakkan Dewi di tengah, dan Dewi langsung memeluk Tyas, "mami ... katanya mau ke taman, kok masih tidur,"
"aduh maaf ya nak, mami lupa, kalau begitu kita siap-siap aja yuk, kita ke taman mana tapi?" bingung Tyas yang belum bernyawa seutuhnya.
"Kita
ke malang saja, kebetulan kita bisa main ke wisata di sana, kalau begitu cepat bersiap, agar tak kemalaman nanti," kata Arthur.
"siap papa," jawab Keduanya
__ADS_1