Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
pria-pria tua milik Tyas


__ADS_3

Arthur harus kembali ke kantornya dan melanjutkan pekerjaannya, terlebih dia tak ingin lembur hari ini.


sedang Tyas sudah sudah selesai mengikuti semua mata kuliahnya,Tyas meregangkan otot tubuhnya.


"oke, kita ke kantin yuk, beh lapar nih," kata Tyas pada teman-temannya.


"ayo deh, eh Alfin ikut gak?" tanya Dian pada temannya itu.


"siap," jawab Alfin mengikuti kedua orang gadis itu.


mereka menuju ke area kantin yang ada di kampus, mereka langsung memesan makanan kesukaan masing-masing.


tak lama sebuah notifikasi berbunyi, ternyata ponsel milik Tyas, dan itu adalah nomor wali kelas dari Dewi.


"iya Bu guru, ada apa? apa putriku baik-baik saja?" tanya Tyas penuh kekhawatiran.


"baiklah saya akan ke sana," kata Tyas panik.


"ada apa Tyas, kenapa kamu panik begitu?" tanya Dian.


"ada masalah di sekolah putriku, aku ke sana dulu,dan ini untuk membayar makanannya," panik Tyas.


gadis itu langsung menuju ke tempat parkiran, dan langsung menuju ke sekolah Dewi.


sesampainya di sana ternyata ada beberapa deret mewah, Tyas pun langsung bergegas ke ruang kantor kepala sekolah.


"eh kepala sekolah bukannya kamu memanggil orang tua murid, kenapa kamu malah memanggil anak ingusan ini." kata seorang wanita dengan begitu kasar.


"maaf ibu, dia adalah ibu dari Dewi, gadis kecil yang memukul putra anda," kata kepala sekolah dengan sedikit takut.


"apa anda bilang, putriku memukul seseorang, apa anda yakin, Dewi bukan gadis yang seperti itu," terang Tyas tak terima


"hei gadis ingusan, kau tak lihat wajah putra ku yang memar," kata wanita itu menunjuk kearah Tyas.

__ADS_1


"tak usah menunjuk diriku, ibu kepala sekolah, apa Dewi yang mengakui memukul bocah itu, dan apa anda memeriksa Semuanya." tanya Tyas tak terima.


ternyata tak lama seorang pria datang, pria itu juga nampak begitu marah saat datang.


"bagaimana putra mu bisa memukul seseorang," marah pria dengan suara yang begitu di kenali oleh Tyas.


Tyas menoleh dan benar saja, pria yang dulu sering meminta dirinya untuk menemani minum saat masih bekerja di bar.


"om Ian?" kata Tyas.


"kamu Tyas, kenapa disini, dan ibu kepala sekolah tolong panggil Putra ku, dan kita tanyakan pada keduanya apa benar mereka saling pukul," kata Ian datar.


wali kelas dari Dewi dan Edwin pun memanggil kedua bocah itu, Dewi langsung memeluk Tyas.


sedang Edwin juga berdiri di samping ayahnya, "sayang mami, kamu memukulnya?" tanya Tyas lembut.


"mami lupa, aku saja bisa mematahkan batu bata dengan tangan ku, jika aku memukulnya, mungkin dia sudah di rumah sakit mami," jawab Dewi tersenyum.


"ah ya aku lupa, kamu putri dari papa mu, dan pengasuhan dari kedua asistennya," kata tyas.


"tidak papa, aku juga belajar beladiri, jadi seandainya aku yang memukulnya pun dia pasti akan terluka parah," jawab Edwin.


"sudah dengar, jadi bocah itu siapa yang memukul tak tau, tapi aku tak akan memaafkan kalian jika berani berbohong, jadi tolong jelaskan dimana mereka memukul bocah itu," kata Tyas menatap tajam.


"dasar tak tau aturan, kau berani menentang ku, dasar kau ini gadis murahan, pasti kamu itu hamil di luar nikah sampai punya Putri sebesar ini, dasar gadis murahan dan kamu juga tak tau aku siapa bukan?" marah Wanita itu.


"ya!! kau budeg Tante!" reflek tyas berteriak cukup keras.


semua orang kaget, bahkan Dewi tak menyangka jika ibu sambungnya bisa berteriak seperti ini.


"khem, maaf ya ... nyonya, aku tak peduli jika kau kaya raya tujuh turunan atau tanjakan, aku hanya ingin bertanya pada putra mu itu, jika dia berbohong dan berani memfitnah dua bocah kesayangan ku ini, aku akan membuat keluarga kalian tau sesuatu," kata Tyas dingin.


tak di sangka pemilik yayasan sedang berkunjung dan melihat semua keributan yang tejadi.

__ADS_1


"ada apa ini?" tanya pria sepuh itu.


Dewi langsung berlari memeluk sang opa, "opa lihatlah, bocah nakal itu berbohong, aku dan kak Edwin tidak memukulnya, dia itu di pukul temannya sendiri, tapi dia malah berbohong pada semua orang, bahkan mami juga terus di hina oleh mama bocah itu," adu Dewi.


"Tyas ..." panggil pria itu.


Tyas hanya mengangguk, kepala sekolah makin depresi melihat itu, pasalnya dia tau jika Tyas isteri dari pengusaha sukses.


tapi dia tak tau jika Tyas adalah keluarga dari pemilik yayasan, orang kepercayaan dari pria itu datang membawa rekaman CCTV.


semua orang melihatnya, ternyata Dewi dan Edwin sedang belajar di taman yang teduh.


dan bocah nakal itu menghampiri keduanya dan menarik buku Dewi, dan Dewi mendorongnya hingga jatuh.


tapi Edwin menghadang bocah itu yang ingin melukai Dewi, dan mereka pun pergi setelah Edwin memukulkan buku pada bocah nakal itu.


"sudah tau, jika putra ibu sendiri yang berulah, dan cucu ku tak melakukan apapun, jadi diayak salah, dan untuk kenapa putra anda bisa memar, seharusnya ini bisa menjadi bukti," kata dia itu memutar video yang lain.


wanita sombong itu langsung malu karena dia ketahuan oleh pemilik yayasan sedang ingin memfitnah dan mempermalukan orang tua dari dua murid itu.


wanita itu menampar pipi putranya sendiri dengan begitu keras saat di parkiran mobil.


"wah apa aku tak salah lihat, nyonya mengatakan sesuatu yang buruk pada putriku, dan mengatakan jika putriku memukul putra mu, ternyata kamu sendiri, kamu mau tau rasanya di pukul aku bisa melakukannya!" bentak Tyas kesal.


wanita itu ketakutan melihat Tyas, bahkan Ian juga tak menyangka Tyas bisa sesanggar itu saat menyangkut anaknya.


"mami, jangan marah, biar Dewi telpon papa ya," kata gadis itu.


"tidak sayang, jika kamu telpon papa, bisa-bisa papa mu membuat semua orang bangkrut," kaya Tyas.


"sudah, biar kepala sekolah yang memberikan hukuman pada Mereka, tapi aku tak ingin melihat mereka lagi di sekolah milik ku, mengerti," kata pria sepuh itu.


"baik tuan besar," jawab kepala sekolah.

__ADS_1


"dan untuk kalian berdua, ikut aku ke ruangan ku, dan Dewi serta temannya, kembali ke kelas ya, kalosn harus belajar, dan jika sudah selesai kalian bisa menghampiri orang tua kalian di ruangan ku," kata pria itu.


"baik opa, ayo kak Edwin," kata Dewi menarik Edwin ke kelasnya.


__ADS_2