
Di sinilah Allard sekarang, berada dikediaman Prasetio, setelah tadi melakukan acara peresmian Mall baru di daerah Semarang, dan sekarang dia berada di kantor barunya yang berada di Mall tersebut.
Pramudya menjelaskan alasan yang sebenarnya kenapa ia harus menikahi Zantica, selain karena surat perjanjian yang telah ditandatangani kedua kakek itu, alasan balas budilah yang membuat Pramudya berat jika menolak keinginan sahabatnya itu.
Usaha ritel yang berkembang saat ini, dulunya hanyalah toko biasa, kemudian Prasetio yang saat itu sudah lebih dulu mencapai puncak kesuksesannya membantu sahabat baiknya itu.
Dengan cara memberikan modal awal mendirikan supermarket yang kemudian berkembang pesat saat ini, semua berkat dukungan dana dari sahabatnya itu. Jadi sekarang Pramudya ingin Allard juga membalas apa yang telah dilakukan oleh Prasetio.
Kedatangannya disambut oleh Prasetio didepan tenda yang sudah terpasang ditaman depan rumahnya. Meskipun hanya tenda yang memenuhi luas taman, tetapi cukup bisa menampung sekitar 100 orang.
Di sanalah telah dipersiapkan Semuanya, mulai dari kursi yang audah berjejer rapi, hidangan yang telah tersaji, termasuk Dekorasi pelaminan untuk akad nikah, meskipun didalam ruangan dan cukup sederhana, dengan dominasi warna Putih, banyak bunga-bunga dan lampu hias menambah kesan elegant terlihat jelas disana.
Sang MUA kemudian mengajak Allard memasuki kamar untuk segera mempersiapkan diri kemudian diikuti oleh petugas KUA yang akan membimbing Allard mengucapkan ijab qobulnya.
Semua persiapan ini dilakukan serba cepat dan mendadak oleh Prasetio karena tak ingin semuanya terlambat. Ntah apa yang membuat Pras begitu ketakutan seolah selalu berpacu dengan waktu.
Setelah semuanya dirasa siap kemudian Prasetio mengamit Tangan Pramudya menemui Allard didalam kamar yang sudah siap dengan jas pernikahannya,
Prasetio menjajari Allard kemudian mengamit tangannya untuk diajak duduk disofa yang ada dikamar itu, Membuang nafasnya kasar, kemudian menarik nafas panjang.
"Allard, kakek tau pernikahan ini bukanlah yang kau inginkan, bahkan kakek merasa tidak pantas meminta ini dari mu, tapi kakek sudah tidak mempunyai harapan lagi pada yang lain, kakek rasa hanya kamu yang bisa menjaga Tica dengan baik."
"kakek rasa, Grandpa mu sudah menjelaskan semuanya bukan?"
Allard hanya bisa mengangguk dan lagi-lagi merasa mati kutu berada diantara kakek lanjut usia ini.
"kakek titipkan Zantica, cucu kakek pada mu, kakek harap, meskipun pernikahan ini tidak kau inginkan tapi kalian berdua bisa saling menjaga dan mencintai dikemudian hari, Cinta itu akan tumbuh karena terbiasa, jadi berusahalah saling menyayangi dan mencintai".
"seperti yang kau lihat, Zantica itu adalah gadis yang taat akan agamanya meskipun belum sepenuhnya benar-benar melakukan apa yang diajarkan oleh islam, tetapi dia sangat patuh dan selalu menjalankan kewajibannya pada Allah".
"kakek berharap itu tidak menjadi alasan kalian berselisih paham setiap hari, saling percaya dan menghargai satu sama lain adalah kuncinya, Tolong bersabarlah dengan sifat keras kepalanya dan kakek ingin kau membimbingnya dengan baik".
"kakek titipkan Cucu kakek padamu".
Sambil menganggukkan kepalanya Allard mencium tangan Prasetio dengan ta'dzim, hal yang tak pernah dilakukannya meskipun dengan grandpa nya sendiri sejak dia berubah menjadi CEO.
__ADS_1
Ketiga Pria itu keluar kamar dan duduk di sofa lesehan yang sudah disiapkan ditempat akad, penghulu pun mencoba mengulangi apa yang tadi dipelajari oleh Allard. Dirasa semua siap, Akad pun dimulai dengan pembukaan yang disampaikan oleh MC kemudian pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan dengan khutbah nikah, setelahnya Acara inti Ijab qobul.
"saya Terima nikah dan kawinnya Zantica Rahma Hadiningrat Binti Pradipto Hadiningrat, dengan mas kawin 500 gram Emas dan Saham 40 persen Perusahaan HF dibayar Tunai".
"sah? "
Tanya penghulu kepada para saksi.
"sah"
Jawab para saksi bersamaan.
"barakallah.... "
kemudian penghulu melanjutkannya dengan do'a nikah.
Tampak disana Prasetio menitikkan air mata haru bercampur sedih, karena dia yang menjadi wali nikah cucunya bukan anaknya yang telah tiada 9 tahun lalu.
Bi Surti tergopoh-gopoh memasuki kamar Tica. dan langsung memburunya dengan ucapan selamat.
"alhamdulillah Mba, Acaranya lancar, sekarang mba Tica sudah jadi seorang istri, selamat ya mba"
Tica hanya bisa berusaha menahan laju Cairan bening yang sudah menetes sedari tadi saat acara akad berlangsung, Bahkan dia tampak menangis tersedu-sedu dipelukan bi Surti, Inikah jalan yang telah Allah tetapkan untuknya?
"ayo mba, turun sekarang".
Sambil memapah Tica, yang masih pincang, dengan hati-hati ditambah lagi dengan kebaya yang dikenakan Tica, jadi menambah langkahnya semakin terlihat terseok-seok, bahkan sandalnya pun terpaksa dilepas karena Tica dirasa akan kesulitan menggunakan alas kakinya.
Jahitan dikeningnya tertutup sempurna oleh plaster luka berwarna kulit, kemudian ditutup dengan dalaman hijabnya, Tampak sempurna cantiknya, jika tak melihat Mata yang begitu sembab dan sendu itu,
Semua mata tertuju padanya saat Ia menuruni anak tangga dibantu dengan Bi Surti dan 2 orang MUA yang meriasnya tadi, Tica hanya bisa mencengkram lengan bi Surti yang dijadikan pegangan.
Disaat semua pengantin umumnya merasa senang dan bahagia, tidak baginya, yang merasa, sakit, kecewa, sedih, takut dan semuanya berkecamuk menjadi satu dalam pikiran dan hatinya.
Tica meringis saat MUA mengatur duduknya yang terlihat kesusahan, karena kakinya yang masih membengkak, dengan menahan nyeri dia menandatangani Dokumen serta buku Nikahnya yang entah diurus kapan oleh kakeknya.
Kemudian penghulu menyuruhnya berfoto sembari memegang buku nikahnya masing-masing, saat prosesi bersalaman Tica merasa gugup karena ini adalah pertama kalinya menyentuh Tangan sang suami.
Dengan tangan bergetar dan terasa dingin dia menyambut uluran tangan sang suami, kemudian mencium punggung tangannya, Yang dibalas kecupan dikeningnya yang makin membuat jantungnya terasa berdetak kuat dan sangat cepat.
__ADS_1
Tica melongo saat yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan, Dan bermonolog dalam hatinya
"apa yang kau harapkan Tica, Bahkan mungkin dia tidak tau doa mau tidur, apa lagi doa setelah menikah".
Do'a yang diucapkan oleh suami pada istrinya dengan disertai menyentuh ubun-ubunya. Tapi Allard tak melakukannya, dan itu membuatnya semakin sedih, sadar jika sang suami jauh dari apa yang diinginkannya.
Kedua pengantin itu dituntun oleh MUA menempati kursi yang telah disediakan sementara para tamu undangan menikmati hidangan yang tersaji.
"selamat atas Pernikahan mu Dek, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah dan selalu diberikan keberkahan disetiap perjalanan rumahtangga mu"
Ucap Hafidz, ya, Hafidz datang dengan istrinya ke acara ijab qobul Tica, yang diberi tahu oleh sang ibu. dan saat itu Ia sangat terkejut dan bertanya siapa calon suami Tica dan kemudian mencari tahu lewat internet, karena memang profil dan segalanya tentang Allard ada disana. Mengingat Allard adalah CEO sekaligus artis, Kecuali kehidupan pribadinya didalam rumah.
Tica sepontan melongo melihat Hafidz, yang kemudian tersenyum paksa setelah disenggol oleh sang suami, karena Tica tak segera menyambut ucapan Hafidz.
"terimakasih kak, Sudah datang".
hanya itu kata yang mampu diucapkan oleh Tica, Tica masih merasa sakit kala melihat Bila dengan mesranya menggandeng lengan sang suami, dan semua itu tak luput dari pandangan mata tajam milik Allard yang heran dengan interaksi antara Hafid dengan istrinya itu.
Tica dan Allard tak saling sapa sampai acara itu selesai menjelang jam setengah 5 sore, setelah acara foto selesai, keduanya beranjak naik ke kamar dengan tujuan Tica untuk menunaikan shalat Asar, sementara Allard hanya mengantar istrinya ke kamar, setelahnya dia turun lagi bahkan tak melakukan shalat, entahlah Tica tak tau.
Awalnya tica meminta tongkat pada bi Surti untuk berjalan, tetapi dicegah Allard yang malah langsung menggendongnya ala Bridal Style menuju kamar Tica dilantai dua.
Tica yang sangat terkejut dengan kelakuan Allard memekik kecil dan segera mengalungkan tangannya, karena takut terjatuh, sementara bagi Allard, dia tidak kesusahan sama sekali meskipun menaiki tangga sambil menggendong istrinya itu.
"diamlah atau kau akan terjatuh nanti"
Ucapan ketus dan dingin itu berhasil membuat Tica menutup mulut dan matanya karena malu, dilihat berpuluh pasang mata yang memandang kearah pengantin itu dengan sorak sorai yang cukup menggegerkan kediaman Prasetio. Yang hanya didatangi oleh sekitar 50an orang saja meliputi sanak keluarga Prasetio dan Para tetangganya.
Begitupula dengan Hafidz yang tampak tak mengedipkan matanya menatap kedua pengantin itu menaiki tangga, menuju kamarnya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya membuatnya tak tenang dan khawatir dengan pemandangan itu.
...........................
Jeng-jeng-jeng......
Apa yang dipikirkan Hafidz ya kira-kira...
Cuz vote, liken coment yaa biar Upnya cepet...
Makasih... βΊβΊπππ
__ADS_1