MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Niat Buruk Yang Gagal


__ADS_3

"Tica, om turut berduka atas meninggalnya kakek Pras,".


Tica hanya mengangguk dan air matanya kembali mengalir


"bagaimana kabar mu??, yang sabar ya, jangan takut, kamu g sendirian, ada om yang akan selalu ngelindungi kamu, meskipun kita tidak serumah, jangan sungkan meminta apa pun dari om ya sayang".


Tica hanya terus bisa mengangguk dan menumpahkan tangisnya, bukan, dia bukan berpura-pura sedih, saat ini Tica sangat sedih kenapa begitu tega om Har melakukan itu pada keluarganya, padahal keluarganya sudah dengan suka rela merawat dia sejak dia berusia 10 tahun dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


Karena rasa simpati itu kini menjadi petaka bagi keluarga Tica, dia memilih diam karena terlalu malas berbasa-basi dengan seseorang yang bermuka dua seperti Har ini.


"om balik dulu ya, perusahaan tidak bisa ditinggal terlalu lama, kamu tenang saja om Har akan berusaha memulihkan perusahaan lagi, kamu tau, sekarang perusahaan sudah mulai membaik"


"iya om, Terimakasih, hati-hati dijalan" maaf Tica g bisa nganter sampai depan".


"iya ga papa sayang, om berangkat ya".


Hariyanto berjalan kedepan sambil menyeringai licik, setelah ini semua akan menjadi milik ku. monolognya dalam hati.


Tica hanya mengangguk malas, kemudian melangkah kan kakinya ke dapur, tenggorokannya terasa kering dan om Har tadi sempat memberikan air mineral sebelum pulang,


Tica membuka Tutup kemasan botol itu, tapi dengan cepat direbut oleh Allard yang ternyata memang sudah memperhatikan interaksi antara Tica dan Har tadi, tapi Allard memilih mengamatinya dari kejauhan supaya tidak menimbulkan kecurigaan.


Tanpa berucap apa pun Allard segera mengamankan botol itu dibungkus plastik dan diberikan pada David,


"kenapa kau mengambilnya, aku sangat haus"


Sambil mendengus dan memberengut Tica memelototi Allard,


"rupanya kau masih belum belajar dari kematian kakek mu huh? ".


"apa maksud mu Allard?"


Mengedik kan bahunya Tica benar-benar tidak mengerti maksud Allard.


"bisa saja dia meracuni minuman itu".


"tapi itu masih Tersegel rapi, g mungkin bisa"


"itu menurut mu, Belajarlah dari kematian kakek, setidaknya jaga dirimu dengan baik, jangan ceroboh meskipun hal sepele, Coba kau fikir lagi, untuk apa dia memberikan mu air kemasan di rumah mu sendiri, padahal disini tidak kekurangan air sama sekali".


Tica mematung mendengar penjelasan Allard, dan dia berjalan kearah dispenser mengambil air minum, menenggaknya sampai habis kemudian duduk di kursi dapur dengan masih diperhatikan oleh Allard,


Hafidz memperhatikan interaksi kedua pengantin baru itu, dia merasa iba terhadap Tica, tetapi tidak ada kesempatan untuk segedar mengungkapkan rasa prihatinnya. Karena sekarang Tica juga sudah bersuami. Hafidz tak ingin ada kesalahfahaman apa pun, karena sudah ada Bila sekarang.

__ADS_1


"Tica"


Hafidz hanya berani memanggil tanpa mau melanjutkan perkataannya, tetapi Tica kemudian mengajak ngobrol Hafidz.


"apakah setelah ini masih mau kerja di Korea?".


"masih kak, aku g mungkin melanggar kontrak kerja, dan juga sekarang aku sendiri, jadi g perlu bimbang lagi mau seperti apa nantinya"


"lalu rumah ini bagaimana?"


"rumah masih tetap ditunggu bi Surti sampai kapan pun, untuk ku pulang sewaktu-waktu".


"baiklah, kapan mau berangkat? "


"nanti jam 7 malam penerbangannya".


Allard menyahut cepat pertanyaan Hafidz.


"ga nunggu, sampai 7 hari dulu?"


"ga bisa kak, aku baru sebulan kerja, g berani ambil cuti".


Kali ini Tica menyahut dengan cepat, takut ada kesalahpahaman diantara keduanya. Karena Tica mencium bau bibit-bibit permusuhan diantara keduanya, Terlihat dari interaksi saling tatap kedua pria itu, sudah sangat jelas saling tidak suka.


"baiklah, tetap hati-hati disana, jaga diri baik-baik, karena sekarang kita jauh, kakak g bisa bantu obatin kami kalau kamu terluka".


"bukan begitu maksud ku, tapi....... "


Hafidz tidak menyelesaikan perkataannya saat tiba-tiba Tica pamit karena akan membereskan barang-barangnya untuk keberangkatannya nanti.


"ngapain adu mulut sih, ga penting banget tau g? "..


"dia duluan kan yang mulai, dikira aku miskin apa, sampe g sanggup bayar dokter, lagian dia doain kamu terluka juga".


"bukan gitu maksud kak Hafidz tadi, udah ah capek ngomong sama kamu".


Tica berlalu mengambil koper kecil, dan mulai memasukkan surat-surat berharga peninggalan Prasetio.


.................


Jam 18.30 setelah sholat maghrib Tica pamit sama bi Surti dan pak Asep, Hafidz sudah pulang ke rumah tadi sebelum maghrib.


"Tetep disini aja ya bi, jaga rumah peninggalan kakek, kapan pun aku pulang, jadi g bingung harus kemana".

__ADS_1


"baik mba, hati-hati dijalan, sering-sering telvon bibi ya mba",


"iya bi, Tica berangkat dulu, Assalamualaikum"..


"waalaikumsalam".


Tica, Allard dan David menaiki mobil Alphard peninggalan almarhum kakeknya, Pramudya sudah terlebih dahulu pulang ke jakarta tadi sore. Tica mempercayakan semuanya sama bi Surti, butiknya masih berjalan dipegang orang kepercayaan Tica sekaligus perancang busana.


Tapi penghasilan dari butik hampir sepenuhnya diserahkan ke panti asuhan, tentunya penghasilan bersih setelah dipotong biaya membayar gaji karyawan dan untuk operasional.


Kakeknya mempunyai 1 yayasan panti asuhan di Semarang. Dan sekarang Tica ingin meneruskan itu, melihat anak-anak yatim yang terlantar membuat hatinya sakit. Dan sekarang dia hanya bisa mengandalkan gaji dari kerjanya untuk menghidupi dirinya sendiri.


Meskipun Allard sudah memberikan Kartu tanpa limit, tapi belum sekali pun Tica menggunakannya, Hubungannya masih belum jelas akan seperti apa, Jadi Tica tak ingin dianggap hanya memanfaatkan Allard saja.


......................


Selama perjalanan Tica tak banyak bicara, dia hanya melamun dan memandang keluar jendela yang saat ini cuaca sangat buruk, awan gelap serta petir terus saja bersahut-sahutan, mengakibatkan sedikit terjadi guncangan didalam jet pribadi Allard itu.


Tica terus mengucapkan istighfar, tasbih dan tahmid, supaya perjalanan kali ini baik-baik saja.


Allard berdiri menghampiri Tica, menutup jendela pesawat yang berada disamping kiri Tica.


"tutup jendelanya jika kau begitu ketakutan, bukannya malah terus melihat keluar".


Tica hanya menatap sekilas ke arah Allard tanpa mengucapkan apa pun, yang Allard katakan memang benar. Harusnya dia menutup jendela itu sedari tadi, bukannya malah menikmati ketakutannya sendiri seperti itu.


Ternyata Allard memperhatikan gerak geriknya.


ah... bisakah Tica sedikit besar kepala atas perlakuan Allard padanya?.


Tepat pukul 4 pagi, Tica dan Allard sampai di mansion, keduanya langsung memasuki kamarnya masing-masing, Tica langsung ke kamar mandi, bersih-bersih dan melakukan shalat malam.


Sementara Allard setelah mandi malamnya dia langsung tidur, sadar jika dia butuh istirahat setelah semua yang dia lewati 2 hari ini, masih ada waktu 3 jam sebelum dia bangun bersiap menemui kliennya dari Rusia.


......................


Hay-hay....


maaf telat bgt UP-nya..


soalnya sibuk revisi dari bab awal..


tapi ini udah selesai kok, tenang aja yang direvisi cuma tanda baca dan penulisan aja, supaya enak bacanya. Alur cerita masih sama..

__ADS_1


Jangan lupa vote, like n comen yaa..


β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2