
Allard yang sudah tersulut emosi tanpa rasa bersalah melayangkan tamparan ke pipi kiri Tica, setelah terhuyung dan berpegangan pada meja pantry, Tica menegakkan badannya dengan tangan yang memegang pipi kirinya, meskipun saat ini pipinya terasa memanas dan perih akibat dari tamparan keras Allard, bahkan sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.
Tapi Allard yang sedang terbakar amarah tanpa ampun segera menyeret Ica kelantai tiga, Sementara Tica yang memang tubuhnya sedang tidak fit dan lemah itu kalah meskipun berusaha menepis tangan Allard.
Pergelangan tangannya sekarang sudah memerah akibat cengkraman kuat Allard, dengan terus menarik Tica menaiki anak tangga, meskipun Tica terlihat terseok-seok mengikuti langkah Allard, yang bahkan langsung menaiki dua anak tangga sekaligus itu, beberapa kali bahkan kakinya tersandung anak tangga karena dia tidak fokus pada langkah kakinya.
Allard membuka pintu kamar pribadinya dengan menekan beberapa kode yang tica bahkan tak sempat memikirkan itu, dalam benaknya hanya bertanya-tanya ada apa dengan Allard, kenapa bisa sampai semarah ini padanya.
Setelah pintu terbuka Allard langsung melangkah dengan tergesa dan tangannya masih mencengkram erat pergelangan tangan seraya menarik istri kecilnya yang sekarang terlihat memucat karena darah yang mengalir ke telapak tangan dan jarinya terhambat.
Allard melemparkan Ica keranjang king size miliknya, dia juga melucuti pakaiannya sendiri dan menyisakan boxer miliknya yang masih terpasang.
"apa mau mu Allard?, kenapa kau seperti ini?"
Ica mencoba bangkit tetapi dia kalah cepat, dengan Allard yang langsung menindihnya.
"masih terus mengelak dengan apa yang kau lakukan tadi hem?"
"memangnya apa yang ku lakukan"
Tica dengan masih berusaha memberontak meskipun kini tangannya dikunci keatas kepala oleh Allard.
"pada ku, kau berpura-pura tak mau disentuh, bahkan menolak saat aku meminta hak ku, tapi kau malah mencari kepuasan dengan pria lain".
Tica yang merasa tak melakukan itu hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"kau benar-benar menguji kesabaran ku kali ini, aku sudah sangat sabar untuk tak memaksa mu kemarin, tapi jangan harap malam ini aku melepaskan mu, terima hukuman ku, karena kau sudah berani bermain dengan pria lain di belakang ku".
"Allard kau salah paham, aku masih bisa menjaga diri ku dengan baik".
Tica masih terus berusaha meyakinkan Allard agar tidak menyentuhnya, di dalam hatinya sebenarnya dia sangat takut saat ini melihat Allard yang tengah menggila karena kemarahannya.
"menjaga diri seperti apa maksud mu? salah paham yang bagaimana jika kau melayani dua pria dalam waktu yang hampir bersamaan, sementara kau menolak ku sentuh"
"kau benar-benar seperti jala** profesional, dalam waktu dua jam melayani dua pria sekaligus".
"itu tidak benar Allard, aku bekerja".
"A..... ternyata kau bekerja? jadi memang benar sekarang kau menjadi jala**, hem?"
Tica yang merasa penjelasannya tsk didengarkan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
__ADS_1
"ayo tunjukkan pada ku seberapa hebat permainan mu di ranjang, jika sedang melayani klien mu itu".
Air mata yang sedari tadi ditahan supaya tak menetes itu sekarang meluncur dengan deras, dituduh menjadi jala** oleh suaminya sendiri, kenapa rasanya begitu sakit, bahkan melebihi sakit fisik saat ini karena disiksa oleh Allard.
"kau salah faham Allard, a-aku bekerja sebagai negosiator untuk pengusaha dan orang yang membutuhkan jasa ku, bukan melayani pria-pria itu".
Tica berbicara dengan tersendat karena saat ini tangan kiri Allard mencekik lehernya, tubuhnya sudah benar-benar terasa remuk saat ini.
"b*lshi*, dengan alasan mu, simpan air mata palsu mu itu, aku sudah tidak percaya lagi dengan mu kali ini"
Allard yang sudah kehilangan kesabarannya dan ditambah lagi dengan afrodisiak yang tadi diminumnya itu menggila, mencium dan melum** bibir istrinya yang sedang terluka itu, karena Ica yang tak meresponnya, Allard menggigit bibir istrinya itu supaya terbuka, sementara jeritan Ica teredam oleh bibir suaminya.
Air matanya jian menganak sungai, Ica dengan sisa tenaganya berusaha tetap melawan Allard, sampai pada saat bathrobe yang dikenakannya sudah terlepas dari badannya, dan dilempar oleh Allard ke sembarang tempat.
"hentikan Allard, ku mohon, lepaskan aku"
Ica berteriak memohon pada Allard agar tak menyentuhnya saat ini. Tetapi Allard yang sudah menggila dengan begitu bringas terus mencumbui istri kecilnya yang terlihat ketakutan saat ini.
"lepaskan Allard, kumohon, jangan sentuh aku"
Tica terus saja menutupi dadanya dengan kedua tangannya, Allard yang merasa terganggu saat, karena ia ingin bermain di sana pun merasa jengkel, dia kemudian mengambil dasinya yang tadi dibuang ke sembarang tempat, kemudian mengikat kedua tangan istrinya itu dengan ukiran kepala Ranjangnya.
"Allard, ku mohon ampuni aku, lepaskan aku"
"nikmati saja seperti tadi kau melayani klien mu itu, kali ini biar aku yang bekerja, jika kau terlalu lelah setelah melayani dua pria sekaligus".
Allard terus saja membabi buta dan meninggalkan jejak kepemilikan di seluruh leher dan dad* istrinya yang sekarang bahkan tanpa penutup itu, Tica terus saja memberontak menggoyangkan tubuh dan kakinya, membuat Allard juga semakin beringas dan kasar.
"Akhh.... Allard, sakit.... hentikan".
Allard dengan sengaja mempermainkan area sensitif milik istrinya itu, meskipun Ica terus saja menggerakkan kakinya. Alhasil membuat Allard semakin marah dan kembali mengambil borgol didalam lemari khusus aksesoris koleksi jam tangan miliknya, dan kemudian memborgol kedua kaki istrinya itu.
Setelah semua ikatan ditangan dan kakinya sempurna, Ica hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Allard merobek paksa satu-satunya kain penutup yang tersisa di badan istrinya itu.
"allard ku mohon hentikan, ampuni aku"
Ica disisa tenaganya hanya terus memohon karena kaki dan tangannya sudah tidak bisa lagi melawan Allard, bahkan sekarang kaki dan tangannya terlihat memerah dan lecet, menunjukkan seberapa keras usahanya untuk mempertahankan kehormatannya meskipun itu suaminya sendiri.
"aku tidak akan berhenti sebelum kau memuaskan aku seperti kau memuaskan klien mu"
Tanpa aba-aba Allard melakukan penyatuan dengan sangat kasar dan tanpa ampun. Membuat Tica berteriak karena rasa sakit yang menyerang di area sensitifnya.
__ADS_1
"aaahhhhh...... Allard.... sakiitt.... "
Merasa belum bisa menembus tameng yang dimiliki istrinya itu, Allard sengaja berhenti dan mengumpulkan tenaganya, kemudian berusaha menerobos masuk dengan kekuatan penuhnya membuat istrinya itu kembali melengkingkan jeritan yang terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya, tetapi tidak dengan Allard yang sedang terbakar emosi dan gairah yang berkobar.
"aaaahhhhhhh...... Allard ku mohon berhenti, ini sangat menyakitkan"
Tica merasa tubuhnya seperti dibelah saat Allard terus memaksanya tanpa ampun. Tubuhnya seperti kehilangan tenaganya, saat mahkota yang ia jaga bertahun-tahun itu terenggut paksa oleh suaminya sendiri dengan cara yang sangat brutal.
Hanya air mata yang terus mengalir saat Allard berusaha memuaskan dirinya sendiri, Ica sudah tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali. Meskipun awalnya Allard sempat menghentikan kegiatannya karena merasa heran, saat miliknya tak bisa langsung menembus milik istrinya itu.
Saat Tica tak lagi memiliki tenaga bahkan untuk bersuara, Allard yang memang sedang dalam pengaruh afrodisiak itu terus saja berusaha memuaskan dirinya sendiri, dan melakukannya lebih dari dua kali. Membuat Ica benar-benar tak sadarkan diri.
Tica tak lagi bisa menahan rasa sakit, kecewa, marah dan takut bercampur menjadi satu, dia hanya bisa diam dengan air mata yang terus saja meleleh dari kedua matanya. Hingga hanya kegelapan yang dia rasakan dan tak lagi merasakan rasa sakit.
............
Allard yang baru saja menuntaskan hasratnya dibuat terkejut saat mendapati istrinya itu tak sadarkan diri. Dia panik luar biasa dan segera menyalakan lampu terang di kamarnya, karena tadi hanya lampu tidur saja yang menerangi kamar yang sangat luas itu.
"hah....??? darah??? darah apa ini??? mengapa begitu banyak?? apakaha dia???"....
Pertanyaan itu hanya bisa tergantung di bibirnya tanpa bisa ia teruskan. Allard segera melepaskan dasi yang mengikat pergelangan tangan istrinya serta borgol di kakinya. Dia sangat menyesal melihat tangan dan kaki istrinya yang terlihat memerah dan beberapa goresan karena Tica berusaha melepaskan dirinya sehingga malah membuat kaki dan tangannya lecet.
Dia mencoba menepuk-nepuk pipi istrinya dan memanggil namanya, tetapi tak ada respon sama sekali, Dia merasa menyesal melihat kondisi istrinya yang terlihat mengenaskan seperti korban rudapaksa beberapa orang.
Dengan segera Allard mencari ponselnya yang entah kemana tadi dia lemparkan. Dia segera menghubungi dokter pribadinya yang merupakan teman sekaligus kerabat jauh dari Ibunya.
Berulang kali Allard melakukan panggilan tetapi masih belum juga bisa tersambung karena waktu memang menunjukkan pukul 5 pagi bahkan belum memasuki waktu subuh.
Allard hanya mengirimkan pesan jika nanti Fellicia terbangun dari tidurnya untuk segera menghubunginya.
Allard merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan, dia mengingat semua ucapan istrinya itu saat dia tengah berdebat. Tapi sesalnya tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula.
Allard membenarkan posisi tidur istrinya yang terlihat mengenaskan, dengan bibir sobek dan pipi terlihat membiru karena tamparannya, tangan dan kaki yang terluka dan jangan lupakan area sensitif istrinya yang masih mengeluarkan darah, dia mengambil handuk dan air hangat untuk menyeka tubuh istrinya. Dia tidak percaya jika dia yang telah melakukan semua itu pada istri kecilnya yang dia tuduh menjadi jala** ternyata masih virgin, dan dia benar-benar menyesali perbuatan biadabnya kali ini.
...............
Hay-hay... aku takut bgt ngetik part ini...
takut g dilolosin adminnya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜‚😂😂
kasih semangat dong dengan cara vote, liken comen yaaa.....
__ADS_1
biar upnya syemangat.. ☺☺☺ makasih...