
"All,.,...... ".
Ica tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Allard terlebih dahulu ******* bibirnya dengan rakus, tanpa memberi jeda untuk istrinya mengambil nafas, sehingga membuat Ica kelabakan, dia segera mengambil jurus paling sakti dengan cara mencubit pinggang Allard, dan benar saja dugaannya, jika saat itu juga Allard mengerang kesakitan dan melepaskan pagutan bibirnya saat mendapat cubitan kecil yang terasa panas pada pinggangnya.
Sebenarnya Ica ingin sekali mencubit perut Allard, akan tetapi ternyata perut itu terasa keras, sehingga Ica tidak bisa mencubitnya, mengingat jika sedang shirtless perut Allard bagaikan roti sobek, apa lagi jika dia baru selesai olah raga.
"auuhhhh..... Kenapa kau mencubit ku sayang?".
Allard seketika memekik kecil dan segera mengusap-usap pinggangnya, yang terasa sedikit perih akibat cubitan sang istri, dia malah bertanya dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, sedangkan Ica langsung memajukan bibirnya terlihat kesal dengan ekspresi Allard saat ini.
"aku tak bisa berbafas".
Ica menjawab dengan cemberut dan itu membuat Allard tertawa lebar, sembari mencubit pipi chuby sang istri.
"hahaha.... kenapa kau selalu lupa bernafas jika sedang berciuman sayang".
Allard tanpa rasa bersalah malah menertawakan kekonyolan istrinya yang justru terlihat polos itu.
"kau memang menyebalkan".
Allard seketika memandang istrinya yang sedang merajuk itu dengan tatapan lekat. Dia tersenyum kemudian memeluk istri kecilnya, yang seketika menegangkan tubuhnya. Ya, Ica belum terbiasa bersentuhan dengan Allard, meskipun sudah beberapa kali Allard mencuri ciumannya.
"hey.... rileks, aku tak akan menyakiti mu".
Ica hanya meringis saat Allard mengatakan kalimat itu, dia tidak menyangka jika sang suami mengetahui ketakutannya. Allard memang sengaja untuk mulai membiasakan bersentuhan dengan sang istri sesuai arahan dokter yang menangani trauma istrinya, dengan perlahan dan tanpa paksaan.
"aku tau, perbuatan ku dulu membuat mu trauma, maafkan aku sayang, aku tak akan pernah memaksa mu, jika kau belum siap melakukannya".
Ica mengangguk tanpa menjawab perkataan sang suami, dia kemudian tersenyum manis yang membuat sang suami seketika terpesona oleh senyuman tulus istrinya.
"jangan pernah tersenyum pada pria lain, aku tak ingin menambah saingan lagi".
Allard berkata dengan wajah yang sangat lucu, membuat Ica tertawa lepas, Hal yang sangat jarang bahkan tidak pernah dilakukannya, ketika dia bersama pria lain maupun bersama Allard selama ini.
Mungkin sekarang dia sudah merasa lebih nyaman, bersama dengan sang suami yang juga telah berhasil membuatnya merasa nyaman.
"kenapa aku tak boleh tersenyum di depan pria lain? aku bukan orang gila yang akan tersenyum jika tidak ada alasannya".
__ADS_1
"aku takut semua pria akan menyukai mu, terlebih lagi mencintai".
Ica melongo mendengar kalimat yang diucapkan Allard, apa dia pikir mencintai orang itu semudah kita menyukai makanan yang terasa enak?.
"mana mungkin bisa seperti itu All, bahkan kau yang sudah menikah dengan ku, hidup seatap hampir satu tahun saja tidak mencintai ku, bagaimana mungkin orang lain bisa mencintai ku hanya dengan sebuah senyuman?".
Jantung Allard seketika berdetak kencang saat Ica menyentil sisi terdalam hatinya. Dia salah, Allard bahkan tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul dihatinya, yang jelas Allard sudah sangat mencintai istrinya saat ini. Meskipun pada kenyataannya dia memang tidak pernah mengucapkannya secara langsung pada sang istri.
Allard seketika membungkam bibir kecil Ica dengan sebuah cium*n menggebu dan menuntut, cukup lama hingga kemudian dia melepaskan tautan bibirnya pada sang istri.
"kau salah sayang, a-aku sangat mencintai mu".
Allard mengatakannya dengan mantap meskipun sedikit tergagap karena detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat, hingga membuatnya grogi mengatakan hal yang selama ini tidak pernah dia ungkapkan kepada wanita manapun.
Sementara Ica melongo dengan bibir sedikit terbuka, setelah mendengar kalimat yang sangat keramat terucap dari bibir Allard. Saat dia tersadar seketika hatinya serasa berbunga-bunga, bahkan dia sedikit terharu saat berhasil mencerna ucapan sang suami.
"benarkah?".
Ica menutup mulutnya yang sedikit terbuka itu, kemudian dia menjawab, dengan rasa yang masih sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Allard.
Allard mengangguk mantap, kemudian dia berusaha meyakinkan sang istri jika ucapannya itu bukanlah sebuah omong kosong belaka.
"sejak kapan? maksud ku kau tidak sedang membohongi ku bukan?".
Allard menggeleng dengan kuat, dia menatap manik mata cantik milik istri kecilnya, dengan masih berbaring menyamping, kemudian tersenyum.
"entah sejak kapan tepatnya, tetapi yang jelas, saat aku berniat memusnahkan surat perjanjian kontrak pernikahan kita, aku sudah mencintai mu".
Allard menjelaskan dengan hati-hati dia ingin Ica percaya dengan apa yang dikatakannya. Malam itu aku merasa cemburu dan marah, saat Leo mengatakan kau menemui beberapa pengusaha di kamar hotel VIP, sehingga membuat ku kehilangan kendali.
"maaf aku sudah menuduh mu yang tidak-tidak, saat itu aku sedang kalut dibakar amarah, tetapi mengetahui jika kau masih virgin membuatku senang dan bangga, terimakasih sudah menjaganya untuk ku".
Allard berkata dengan tatapan mata terlihat serius dan bersungguh-sungguh, dia terlihat menyesal, tetapi kemudian dia tersenyum saat mengingat hanya dia yang pernah menyentuh istrinya sampai detik ini, dia merasa sangat beruntung memiliki istri yang mampu menjaga kehormatannya hanya untuk sang suami.
Ica merasa mukanya memanas saat diingatkan lagi akan kejadian yang cukup membuatnya takut untuk mengulanginya lagi hingga saat ini, tetapi dia berjanji pada dirinya sendiri, akan berusaha menghilangkan ketakutannya, karena bagaimanapun juga suaminya membutuhkan aktifitas ranjang itu.
Sebagai seorang yang bahkan hampir setiap malam melakukannya dengan wanita lain, Allard sudah berusaha sangat keras untuk berpuasa selama hampir dua bulan ini, dan itu merupakan sebuah prestasi menurut Ica.
__ADS_1
Tetapi di sisi lain Ica juga merasa takut jika sang suami akan kembali lagi seperti dulu jika dia tidak mendapatkan kebutuhan biologisnya dengan Ica. Bukankah jika sampai hal itu terjadi dia juga berdosa karena tidak memberikan hak nya pada sang suami, dan dia tidak melakukan kewajibannya dengan baik.
Semua itu berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia segera menundukkan kepalanya, merasa bersalah pada suaminya, meskipun Allard tak pernah secara gamblang meminta hak nya hingga saat ini. Tetapi dalam hati kecilnya dia merasa bersalah.
"hey, kenapa jadi diam?, tenanglah aku tak akan memaksa mu, jika hal itu membuat mu takut".
Ica menggelengkan kepalanya dengan kuat. Menatap lekat pada netra milik sang suami seraya berusaha mengucapkan apa yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak saat ini.
"maaf, aku belum bisa melakukannya, tapi aku akan berusaha menghilangkan ketakutan ku All".
Ica berbicara dengan mata berkaca-kaca, rasa bersalah dan takut bercampur menjadi satu hingga membuat perasaannya kacau.
"aku tidak akan memaksa mu, akan aku buktikan jika aku mencintai mu, aku akan menunggu sampai kau siap sayang".
Seketika Ica memeluk Allard dengan erat, dia berusaha menyembunyikan air matanya, yang entah kenapa bisa keluar disaat yang tidak tepat seperti saat ini.
Allard membalas pelukan sang istri dengan menambahkan beberapa kecupan dipuncak kepala Ica, dia seketika memiliki ide yang cukup jahil untuk mengerjai sang istri.
"tapi.... boleh kah jika hanya bermain-main sebentar?".
Allard berkata dengan menaik turunkan kedua alisnya, dan seketika mendapatkan tatapan ngeri dari sang istri.
"boleh yaa.... aku janji hanya bermain-main saja, tidak perlu menghidangkan menu utama, hanya menu appetizer nya saja hem?"
Dasar yang namanya Allard memanglah tak pernah putus asa, baru saja berkata tak ingin memaksa, tetapi sekarang justru meminta dengan menuntut.
........................................
Malem semua....
kasih yang manis-manis ah... biar pada mleyot πππ€£π€£π€£π€£
btw kalian semua sebenarnya suka konflik apa yang buat deabetes sih????π€π€π€
jan bosan-bosan vote, like n comen yaa
makasih βΊβΊπππππππ
__ADS_1