
Saat ditengah pembicaraan, Maxime pamit untuk berganti baju terlebih dahulu, Ica hanya bisa menghela nafasnya gusar saat kedua bodyguard Maxime terus memandangnya curiga, kedua bodyguard itu memiliki kecurigaan padanya jika sewaktu-waktu dia melukai sang tuan, alhasil kedua bodyguard itu menunggunya didalam kamar VVIP tersebut bersama seorang notulen wanita yang akan mempersiapkan perjanjian jual beli senjata api.
Ica memang tidak pernah berdua saja dengan kliennya saat sedang berada di kamar hotel, semua bodyguard akan selalu mengawasi gerak gerik Ica karena mereka semua tidak ingin mengambil resiko jika tuannya dicelakai, jadi Ica juga merasa bersyukur karena tidak hanya berdua di dalam kamar hotel.
Klien ica kali ini merupakan orang Rusia yang sedang membutuhkan banyak senjata, untuk anak buah dan sekaligus rekan bisnisnya yang berada di Rusia itu juga membutuhkan senjata, untuk berjaga-jaga mengingat konflik yang sedang memanas saat ini.
Tetapi pengusaha Rusia itu masih belum menemui kesepakatan harga yang di inginkan olehnya, karena menurutnya harganya masih terlalu tinggi dan dia meminta Ica untuk bernegosiasi dengan Maxime.
Setelah 15 menit menunggu akhirnya Maxime keluar dari walk in **clos**ed kamar VVIP tersebut, dengan setelah kerjanya yang formal, karena setelah negosiasi ini selesai dia akan menemui klien yang lainnya.
Maxime duduk dengan tenang dan memandang lurus pada Ica yang sekarang meminta izin melanjutkan maksudnya kali ini. Ica menjelaskan semuanya secara terperinci tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
Maxime mengerutkan keningnya saat keuntungan yang diperoleh tak sebesar keuntungan jika dia menjual pada kliennya yang lain, dan kedua bodyguardnya pun tampak tidak suka melihat apa yang diajukan oleh Ica. Dia terlihat mengepalkan kedua tangannya.
Ica yang melihat ekspresi Maxime yang berubah langsung menjadi takut sebenarnya, tetapi dia berusaha tenang dan mengangkat sedikit dagunya saat apa yang diinginkan telah disampaikan. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan kliennya saat ini yang bisa saja dijadikan alat untuk mengambil keuntungan.
Maxime tampak berfikir, meskipun dia hanya memperoleh keuntungan sedikit tetapi mengingat jika kali ini kliennya juga membutuhkan bantuan, dan pembeliannya juga dalam jumlah yang besar, sekaligus Tica menambahkan untuk berbelas kasihan juga pada kliennya, karena saat ini ekonomi pun sedang terguncang di negara itu.
Ica juga menawarkan kerja sama jika sewaktu-waktu Maxime membutuhkan bantuan, klien dari Rusia itu siap membantunya jika masih dalam jangkauannya.
Mengingat statusnya yang memang seotanh mafia, yang sering kali membutuhkan dukungan dari para petinggi maupun pengusaha diberbagai belahan dunia, meskipun dengan cara mengancam sekalipun akan Maxime lakukan.
Kali ini dia mendapatkan tawaran bantuan secara cuma-cuma, dan pada akhirnya Maxime menyetujui proposal yang diajukan oleh Ica. Dia sedikit takjub dengan keberanian wanita di depannya ini, jika wanita utusan lain akan menggunakan tubuhnya untuk bernegosiasi, maka lain halnya dengan Ica yang menggunakan trik dan kepandaiannya dalam bernegosiasi, Ica mampu melihat peluang yang akan menguntungkannya.
Jadi tidak heran jika Maxime sangat terpukau dengan kecerdasan dan keberanian Ica kali ini. Dia menyetujui dan segera menandatangani kontrak perjanjian jual beli itu dengan tenang.
Dan pada saat Maxime sedang menandatangani perjanjian itu, Ica merogoh saku jasnya, dan ingin mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
Sementara Kedua bodyguard itu dengan sigap menyerang Ica, yang di anggapnya akan melukai tuannya saat sedang lengah, setelah mendapatkan perjanjian jual beli senjata itu.
Antonio sang bodyguard Maxime itu segera mengeluarkan pisau lipatnya, dan dengan secepat kilat menggoreskan pada lengan kiri atas Ica, dan Lucas berusaha melumpuhkan tangan kanan Ica dengan menariknya kebelakang.
Creessss....
aakkkhhhh.....
Pisau itu berhasil merobek lengan Ica dengan lebar dan langsung mengucurkan darah segar. Meskipun Ica menggunakan jaket kulit, tetapi karena pisau itu bukanlah pisau sembarangan dan tentunya sangat tajam, maka goresan itu cukup dalam dan lebar.
__ADS_1
Maxime dibuat terkejut dengan aksi kedua bodyguardnya itu. Dan dia segera melihat luka Ica, sementara Ica hanya meringis dan memejamkan matanya seraya menggigit bibirnya, kala rasa perih dan sakit pada tangan kanannya yang di pitting oleh Lucas itu terasa ngilu.
Sementara Tania, sang notulen itu segera memeriksa tubuh dan semua saku, dia heran saat tak menemukan senjata, suntikan atau pun racun yang biasanya dibawa saingan bisnis atau kliennya yang culas.
Tania hanya menemukan stempel yang tersimpan disaku jaket milik Ica yang akan dijadikan sebagai pengesahan. Dan hal itu membuat kedua bodyguard dan Asisten Maxime itu menyesal karena telah melukai Ica.
"apa yang kau lakukan Antonio, Lancang Sekali kau"
Buugghh.....
Ucap Maxime seraya melayangkan tinjunya pada majah tegas Antonio, yang segera dilerai oleh Ica yang bahkan saat ini dia tengah kepayahan menahan rasa sakitnya.
"maafkan saya tuan, saya pikir nona ini akan melukai Anda, mohon ampuni saya".
Antonio menunduk dan segera duduk melipat lututnya sembari menundukkan wajah dan memohon ampun pada sang tuan karena kesalahannya kali ini.
"sudahlah, jangan di perbesar masalah ini, saya memaklumi apa yang dikhawatirkan oleh bodyguard anda tuan, jangan memukulnya lagi karena itu merupakan pekerjaannya, untuk memastikan anda tetap aman".
Ica berbicara sembari tersenyum, dan hal itu berhasil membuat keempat orang yang ada dikamar itu merasa terpukau dan takjub oleh sikap yang dimiliki Ica, tak terkecuali Maxime yang terus melihat kearah Ica tanpa berkedip, meskipun dia sedang terluka tetapi dia tetap bisa berbaik hati, membela orang yang telah melukainya.
Ucap Maxime pada Lucas sang asistennya itu. Ntah mengapa dari tiga kata nama yang dimiliki Ica, Maxime lebih memilih Rahma sebagai panggilannya untuk Ica.
"tidak perlu tuan, saya baik-baik saja, yang terpenting perjanjian ini sudah disepakati, saya permisi".
Saat akan berbalik Maxime mencekal tangan kanan Ica dan menyuruhnya duduk karena Lucas sedang memanggilkan dokter kemari, dokter yang merangkap sebagai bodyguard Maxime, yang memang selalu ikut kemanapun Maxime melakukan perjalanan bisnisnya.
Dante, dokter sekaligus merangkap sebagai bodyguard itu terlihat memasuki kamar VVIP sang tuan dan segera memulai pekerjaannya, setelah diberi tahu oleh Lucas perihal yang terjadi. Dante segera menjahit luka pada lengan kiri atas Ica, dan Ica melepas jaket kulit yang kini dipenuhi darah segar yang masih terus mengucur itu.
"apa perlu kita bawa kerumah sakit Dante?"
Tanya Maxime yang terlihat khawatir pada luka Ica yang mendapatkan 8 jahitan itu, dan Ica segera menggelang dengan keras.
"tidak perlu tuan, ini saja sudah cukup percayalah".
"tak apa tuan, asalkan darahnya berhenti saya kira tidak perlu ke rumah sakit".
Ucapan dante memantapkan hati Maxime yang entah mengapa kali ini terasa sangat mencemaskan wanita. Padahal biasanya menyiksa orang merupakan hal biasa baginya.
__ADS_1
Tetapi kali ini hatinya merasa tidak tenang dan merasa bersalah pada Ica. Seorang wanita yang mampu membuat seorang Maxime Delcano mengkhawatirkan kondisinya saat ini.
Setelah semuanya selesai Dante segera memberikan obat pada Ica, dan Lucas terlihat berjalan tergesa ke arah Maxime.
"saya hanya mampu menemukan ini tuan, maaf waktunya terbatas".
Ucap Lucas dengan menyerahkan tas berlogo Channel itu pada Maxime, dan Maxime segera memberikannya pada Ica.
"pakailah, ganti kaos dan jaket mu nona Rahma, karena pakaian anda sudah kotor terkena darah".
Tica yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya menerima pemberian Maxime, yang ternyata sebuah jaket kulit dan kaos lengan panjang branded itu.
Setelah memakainya Ica segera berterimakasih karena sudah menyetujui dan memberikan jaket baru padanya, Ica pamit undur diri dengan membawa perjanjian jual beli senjata itu dengan langkah yang mulai berat, karena kondisinya saat ini menurun, obat pereda nyerinya pun sudah memudar fungsinya saat ini, akibatnya pangkal paha dan badannya seperti remuk apa lagi tangannya juga terluka.
Tetapi Ica terus melangkahkan kakinya yang dibuat senormal mungkin. tetapi Maxime tetaplah bisa melihat jika langkah kaki Ica tidaklah normal dan dia mengernyitkan keningnya saat banyak pertanyaan tentang Ica yang melintas di kepalanya.
Saat Maxime menarik tangan Ica tadi, dia melihat jika pergelangan tangan Ica mempunyai luka memar, juga sudut bibirnya yang sobek, dan hal itu membuat Maxime bertanya-tanya dalam hatinya, meskipun pipinya sudah tidak terlihat biru karena Ica menyamarkannya dengan fondation.
Tapi Maxime masih bisa melihat jika tubuh Ica sedang tidak baik-baik saja, dan entah mengapa hatinya merasa resah saat mengingat itu lagi.
..................
Sesuai janji ku, jika sampe 100.000 popularitas hari ini tak kasih bonus chapter yaa...
kalian juga kasih bonus ma aku donk kasih vote, like n comen...
Jangan lupa kepoin spoiler2 tiap partnya supaya halunya ngena banget...
IG ku : Zantica Rahma
FB ku : Fayna Rahma
TikTok : @fayna_rahma
makasih dah mau baca karya receh ku..
βΊβΊβΊπππππππ
__ADS_1