MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Posesifnya Allard


__ADS_3

Tica menuruni anak tangga meskipun sedikit deg-degan tetapi dia tetap memantapkan niat awalnya untuk tetap bersikap biasa. Dia tidak ingin terus menerus ditindas, setidaknya sampai dia masih berstatus istri Allard, karena baginya harga dirinya dipertaruhkan saat ini.


Setelah memastikan Allard tidur lagi, Tica segera bergegas turun ke pantry, pagi ini dia berniat membuat Omurice, sebenarnya sama dengan nasi goreng hanya ditambahkan telur dadar yang masih belum matang sempurna diatasnya.


Tica dengan cekatan membuat sarapan paginya, dan dia juga hanya membuat dua porsi untuknya dan Allard saja. Untuk teman-teman Allard termasuk Chintya yang menginap sudah disiapkan oleh Mila dan koki di mansion Allard.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, Tica menyelesaikan membuat kopi hitam untuk Allard dan white coffe untuknya sendiri, setelah ini dia berniat membangunkan Allard, tetapi sahabat-sahabat Allard terlihat lebih dulu menduduki meja makan, dan menu sarapan pagi segera di sajikan oleh Mila, ada beberapa sandwich dan roti yang sudah dipanggang beserta macam-macam selai dan buah segar.


Tica hanya tersenyum dan mengangguk sesaat, dia menyelesaikan membuat kopi, saat sedang mengaduk kopi, Chintya datang bersamaan dengan Allard yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu sebelum dibangunkan oleh istrinya.


"sayang, kenapa semalam tak menemaniku?".


Sambil berkata dengan nada yang dibuat mendayu-dayu Chintya menyongsong Allard dan segera ingin memberikan kecupan di pipi Allard, tetapi dengan cepat dia menepis dan menghindari Chintya.


"jaga batasan mu Chintya, mulai sekarang jangan lagi bersikap murahan, karena aku sudah memiliki istri".


Seketika itu juga semua orang yang ada dilantai satu terkejut termasuk Chintya yang terlihat bengong dengan mata yang berkaca-kaca,


"apa maksud mu Allard, kenapa kau bersikap seperti itu, apa sekarang kau bosan dengan ku?"


"kalau kau masih ingin tetap bisa breakfast disini pagi ini, ikuti aturan yang ku buat".


Allard berbicara dengan nada dinginnya, Chintya yang tadinya terlihat begitu percaya diri terlihat takut dan tertekan setelah Allard memberinya peringatan padanya, dan dia hanya bisa mengikuti apa yang diucapkan Allard, meskipun di dalam hatinya sangatlah jengkel.


Pada saat yang bersamaan Hafidz datang dan langsung mencari Tica, dia sengaja menunggu weekend untuk bisa bertemu Tica sekali lagi sebelum dia pulang ke Indonesia.


"Assalamualaikum dek,"


Sontak semua orang melihat ke arah Hafidz, dia terlihat sudah memakai long kardigan dan tas punggungnya. Merasa ada yang mengucapkan salam, Tica menoleh dan segera meletakkan sendok yang digunakan untuk mengaduk kopinya.


"Waalaikumsalam kak, ada apa pagi-pagi sudah kesini".


Tica menghampiri Hafid dengan senyumannya. Semua itu tak luput dari pengamatan Allard yang langsung mengepalkan tangannya.


"kenapa nomor mu sama sekali tidak bisa dihubungi?"


Tica yang terkejut dengan pertanyaan Hafid pun hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali sambil mencari Alasan, perasaan nomer HP nya aktif, tapi kenapa Hafidz tidak bisa menghubunginya. Dia melirik sekilas kearah Allard sebelum menjawab pertanyaan Hafidz.

__ADS_1


"ah ya kak, beberapa hari ini aku ke Korut dan no HP ku memang jarang sekali aktif, duduklah aku siapkan sarapan"


"tidak usah, kakak sudah sarapan tadi di hotel. kakak kesini hanya untuk melihat dan meyakinkan mu sekali lagi, apa kau tidak mau ikut bersama kakak pulang ke Indonesia".


Tica tersenyum menanggapi perkataan Hafidz.


"tidak kak, aku akan tetap disini, sampai kontrak kerja ku selesai".


"Ica tak akan pergi kemana pun, Untuk apa kau kesini lagi, dia istriku, maka dia akan ada dimana pun aku berada"


Allard memotong pembicaraan kedua orang itu dengan nada naik dua oktaf dan dengan tatapan tajamnya pada Hafidz. Dia tidak suka Hafidz datang lagi ke mansion untuk menemui istrinya.


"aku bertanya pada Tica, bukan kamu, untuk apa dia berada disini jika kau masih terus memperlakukan Tica seperti itu".


"apa perduli mu, urus saja istri mu sendiri, tak perlu mengurusi istri ku".


Allard yang terlihat marah berjalan mendekati Tica dan segera mengulurkan tangannya dan menarik pinggang Tica dengan posesif. Allard tak ingin Ica berubah pikiran dan meninggalkannya. Ntah kenapa tiba-tiba Allard takut kehilangan istri kecilnya itu.


"baiklah jika itu memang mau mu dek, tapi ingatlah aku tetap ada kapan pun kau membutuhkan kakak".


Tapi sekarang semuanya sudah terlambat, Tica tak lagi merasa senang saat Hafidz memintanya untuk ikut dengannya. Tica yang tidak ingin ada perdebatan lagi memilih untuk diam.


"baiklah kak, duduklah dulu ku buatkan minuman".


Ujar Tica untuk segedar berbasa-basi, dihadapan Hafidz.


"tidak usah, aku akan segera pulang sekarang juga, jaga diri mu baik-baik dek,


Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam kak hati-hati dijalan".


Tica segera melepaskan tangan Allard dan menyusul Hafidz mengantarkan tamunya itu pergi sampai ke pintu depan, tetapi Allard tidak mau melepaskan Tica, alhasil mereka berdua mengantarkan Hafidz sampai ke pintu depan.


Setelah melambaikan tangannya dan taxi yang dinaiki Hafidz tak lagi terlihat keduanya segera masuk untuk sarapan.


"lepaskan tangan mu Allard, sudah tidak usah bersandiwara lagi".

__ADS_1


Allard menulikan telinganya dan tetap memeluk pinggang Tica sembari menggiringnya duduk dimeja makan, Tica hanya bisa pasrah dengan perlakuan Allard kali ini, menolak pun percuma, dia tidak ingin bertengkar disaksikan semua orang yang ada.


Tica melirik sekilas ke arah Chintya yang terlihat sudah sangat marah dengan muka memerah, ntah kenapa Tica merasa sedikit senang dan merasa menang kali ini, dia melenggang dengan percaya diri dihadapan Chintya yang tak melepaskan pandangannya dari kedua sejoli itu.


Sementara keempat sahabat Allard dibuat takjub dengan kelakuan Allard kali ini yang sangat diluar dugaan. Dan mereka hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat pemandangan manis itu.


"duduklah"


"mila tolong bawakan makanan yang sudah dipersiapkan istri ku dan juga kopi tentunya".


"baik tuan"


Mila segera menyiapkan omurice buatan Tica dan kopi yang juga sudah diseduh oleh sang Nyonya.



Allard mulai menyuapkan omurice kedalam mulutnya, dan dia berhenti mengunyah sebentar, kemudian menyendok lagi dengan porsi lebih besar.


"masakan mu memang tidak pernah gagal Ica".


Tica yang terkejut dengan dengan ucapan Allard hanya tersenyum, dia senang apa yang dibuatnya selalu dihabiskan oleh Allard. Dan itu membuat hatinya berbunga-bunga.


"habiskanlah jika kau menyukainya Allard".


Allard hanya mengangguk antusias dan semua itu tak luput dari tatapan semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Chintya yang mengepalkan tangannya melihat interaksi Allard dan Tica yang membuatnya muak.


Setelah sarapan selesai Allard mengenalkan semua sahabat-sahabatnya beserta pasangannya masing-masing pada Tica, setelah beberapa kali bertemu dengan kondisi yang tidak mengenakkan, Tica menyambutnya dengan ramah dan cepat berbaur dengan sahabat Allard, sementara Chintya yang merasa tersisih memilih langsung pergi meninggalkan mansion Allard dengan perasaan marah yang begitu besar.


...........


Hay Readers ku sayang.....


maaf ya agak sorean Upnya


yang penting tiap hari tetep Up kok jangan lupa kasih vote, like n coment..


makasihhh ☺☺☺😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2