
Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi waktu Seoul, Ica mengerjabkan kedua mata indah miliknya, perlahan membuka kelopak matanya yang entah kenapa pagi ini, terasa masih sangat berat dan masih ingin tidur lagi, badannya terasa pegal dan remuk, kemudian dia sedikit terkejut saat melakukan gerakan, sehingga menyebabkan kulitnya bergesekan dengan kulit milik Allard.
Seketika Ica terperanjat saat menyadari dirinya tidur dengan dipeluk Allard dalam keadaan naked, tanpa busana, hanya selimut tebal nan hangat yang menutupi tubuh keduanya.
Tetapi beberapa detik kemudian dia mengingat apa yang terjadi tadi malam, sebelum dia tertidur dalam pelukan suaminya. Ica melepaskan pelukan Allard dan berusaha bangun, tetapi rasa nyeri di pah* bagian dalamnya terasa sangat menusuk.
Meskipun bukan pertama kali untuknya, tetapi Ica belum bisa menikmati kegiatan yang dilakukan bersama sang suami tadi malam.
Dia melirik kearah sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya, dia terlihat sangat damai setelah mendapatkan apa yang dia tunggu selama berbulan-bulan lamanya.
"huh,,,, mengapa semua orang sangat menyukai kegiatan ini, padahal rasanya sangat menyakitkan dan tidak nyaman".
Ica berkata dalam hari sambil merutuk, tetapi kemudian dia istighfar, mengingat ini memanglah kewajibannya, memberikan pelayanan sebaik mungkin pada sang suami. Tetapi memang diakuinya dia masih tidak bisa menikmatinya, yang ada hanya rasa sakit yang begitu menusuk dan membuatnya tidak nyaman pagi ini.
Tubuhnya terasa remuk, dan pegal, apa mungkin karena belum terbiasa atau memang dia yang terlalu sangat tegang dan tidak rileks, sehingga membuatnya merasa tersiksa.
Ica mendudukkan tubuhnya di kepala ranjang, dengan ringisan yang menyertai gerakan badannya. Menggigit bibir bawahnya sendiri kala dia berhasil duduk, tetapi rasa sakit itu terasa begitu berdenyut saat bertemu dengan permukaan kasur yang berbalut seprai yang sangat empuk.
Dia berdiam sebentar, membiarkan dirinya menerima rasa itu, tetapi sungguh kemihnya terasa sangat penuh dan ingin segera dia tuntaskan.
Ica menurunkan kedua kakinya dengan gerakan pelan, dia mengernyitkan kening saat lagi-lagi gerakan kakinya, membuatnya harus menggigit bibir supaya rasa sakitnya teralihkan.
Ica berusaha berdiri dan kemudian berjalan kearah dimana dresnya teronggok dilantai, setelah tadi malam dibuka dan dibuang kesembarang tempat oleh Allard, dia ingin mengbilnya, dia merasa risih berdiri dalam keadaan naked seperti ini. Tetapi baru dua langkah kakinya terayun, dia sudah harus berhenti, mulutnya berdesis dan kakinya terasa lemas bergetar.
Allard terbangun saat gerakan kecil Ica meninggalkan ranjang membuatnya mencari keberadaan sang istri, tetapi tempat disebelahnya kosong, dia kemudian membuka kedua matanya.
Melihat Ica yang tengah kesulitan berjalan dan dia sedikit meringis, Allard seketika terduduk, saat dia melihat keadaannya dan istrinya yang polos, membuatnya mengingat kejadian tadi malam yang membuat bibirnya melengkung lebar, bahkan beberapa gigi depannya terlihat.
Ya, akhirnya dia berbuka setelah hampir tiga bulan lamanya berpuasa, dan dia dengan sabar menunggu sang istri yang masih ketakutan dengan apa yang dia lakukan dulu.
Allard menggelengkan kepalanya, bayangan-bayangan percinta*nnya tadi malam kembali terlintas saat melihat kemolekan tubuh sang istri yang berhasil membangkitkan lagi juniornya.
Entah mengapa hanya bersentuhan sedikit dan melihat istrinya seperti sekarang saja, juniornya sudah sangat sensitif dan cepat merespon. Ia merutuki dirinya sendiri saat tidak berhasil menghalau sang jagoan kecil kebanggannya.
Allard tersadar saat mendengar desisan Ica, terlihat kakinya bergetar, dan dia ingin meraih dresnya. Allard yakin sang istri akan segera ke kamar mandi, tanpa aba-aba, Allard berjalan kearah sang istri dan mengangkat tubuh Ica dalam gendongannya ala bridal style.
"akkhhhh..... ".
" a-apa yang kau lakukan All".
__ADS_1
Ica menjerit kecil saat Allard dengan tiba-tiba menggendongnya, dan dia langsung menutup kedua gundukan miliknya dengan menyilangkan kedua tangannya didad*.
"hey,,,, apa yang coba kau tutupi hem? aku bahkan sudah merasakan dengan menyentuh dan menciumnya".
Allard berkata dengan senyum dan seringai jahilnya. Membuat Ica sangat malu, wajahnya terasa panas dan memerah, bibirnya langsung cemberut dan tatapannya menunduk kebawah tidak berani melihat Allard, sungguh saat ini istrinya terlihat begitu menggemaskan. Membuat Allard menginginkan lebih.
Tetapi kemudian dia tersadar dengan kondiai Ica dan dengan perlahan melangkah ke kamar mandi.
"kau mau ke kamar mandi sayang? kenapa tidak membangunkan ku? kau tau jalan mu terlihat sangat lucu, seperti bebek yang akan bertelur".
Seketika tatapan tajam di arahkan pada sang suami.
"kau tau ini ulah mu, dan malah mengatai ku seperti bebek ingin bertelur huh? kau benar-benar kejam".
Ica menjawab dengan tatapan tajam dan mulut cemberut, tak tau kah dia seperti apa rasanya dia menahan sakit saat Allard melakukannya, dan sekarang malah mengejeknya.
"ok ok sayang, I'am so sorry, aku hanya bercanda, terimakasih kau sudah benar-benar melawan rasa takut mu, aku bangga pada mu".
Ucap Allard bersungguh-sungguh dan kemudian mengecupi wajah dan kening sang istri yang tengah cemberut padanya itu.
Sampai di kamar mandi Allard mendudukkan Ica di closed, dengan dan Ica segera berpegangan pada pinggirannya, duduknya terasa tidak nyaman. Apalagi melihat sang suami yang hanya menggunakan ****** ***** calv*n klein, yang sempat dia pakai sebelum menggendong Ica, di sana terlihat sesuatu yang mengembung, membuat Ica segera mengalihkan pandangannya.
"lakukan saja seperti biasa aku juga harus segera mandi".
Ica mencebik sebal dengan jawaban sang suami, tetapi kemudian Allard berjalan mengambil sikat gigi dan melanjutkan kegiatannya. Membuat Ica bisa mengeluarkan kemihnya, tetapi dia menjerit lirih dan kemudian menggigit bibirnya.
Saat hangat dari seni nya mengalir dan membuatnya terasa sangat perih dan panas. Dia terkejut karena rasanya begitu perih, matanya terlihat berkaca-kaca.
Membuat Allard yang sedang menggosok giginya membuang seketika sikat giginya, dan berjalan kearah Ica, dia terlihat kepayahan saat menahan rasa sakit, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"ada apa? apa yang sakit sayang?"
Ica menjawab dengan gelengan kepala, tetapi kemudian Allard duduk jongkok didepan Ica, menggenggam tangannya, Allard tau istrinya tengah kesakitan saat menuntaskan berkemihnya.
"lakukanlah lagi pelan-pelan".
Allard membiarkan Ica mencengkram tangannya dengan kuat sambil menggigit bibirnya saat dia berusaha menuntaskan berkemihnya.
Allard merasa kasihan, padahal dia sudah berusaha melakukannya dengan hati-hati, tetapi ternyata itu masih membuat Ica tersakiti.
__ADS_1
"maafkan aku, nanti aku akan melakukannya lebih lembut lagi, hem?".
Dan ucapan Allard berhasil membuat Ica Ica mendongak dan menatap ngeri. Dia masih belum sembuh tetapi suaminya malah berkata "nanti", oh Rabb, Ica benar-benar geram di buatnya.
"ini saja masih terasa sakit dan ngilu All, tapi kau ingin melakukannya lagi? All, ku mohon, biarkan rasa sakit ku hilang dulu".
Seketika Allard terkekeh dengan jawaban istrinya yang salah faham dengan ucapan ambigunya.
"ok, maaf, setakut itu kah kau dengan junior ku?".
" All,...... ".
Ica mekik kecil mendengar ucapan suaminya yang malah terang-terangan. Tidak tahukan kalau istrinya sangat polos, jika menyangkut mengenai hal itu?.
................
Allard menyuruh Mila mengantarkan sarapannya ke kamar pribadi miliknya, halitu membuat Mila bertanya-tanya dalam hati, tetapi ia tidak berani mengutarakan keingintahuannya pada sang majikan, karena itu hal pribadi sang tuan.
Allard membantu Ica mandi, bahkan menggosok punggungnya, meskipun dengan menahan gejolak dalam dirinya, tetapi Allard tidak mau membuat sang istri takut, jika dia mengutarakan keinginannya.
Keduanya melakukan kewajibannya meskipun Ica dengan duduk, tetapi Allard tetap berdiri menjadi imam. Hal yang sangat ingin Ica tanyakan pada sang suami yang tiba-tiba bisa mengucapkan ayat-ayat dengan baik, tetapi ia urungkan, takut menyinggung sang suami.
Allard membantu Ica berpakaian dan mengganti seprei yang kotor dengan cairan miliknya, dan sedikit noda merah tertinggal di sana. Allard heran, kenapa istrinya masih saja mengeluarkan darah, padahal itu bukan pertama kali untuk Ica, dia akan bertanya dengan dokter Felly nanti.
..................
Allard mengecek laporan yang dikirimkan ketiga anak buah terbaiknya yang telah berhasil memenangkan tender besar perusahaan milik Adam, dan Darius mulai bekerja melakukan penyelewengan yang akan membuat Adam merugi besar dengan peusahaan junkfood milik Adam.
Allard terasa puas dengan kerja ketiga anak buahnya, hatinya terasa senang, lengkap karena sejak semalam dia terus mendapatkan kesenangan lahir dan batin.
..................... .......................
Met pagi kasih Up nih,, muga aja masih aman yaa.... emang sedikit ky orang gila sihh bacanya π€π€π€£π€£π€£
jangan lupa kasoh saya vote, ini hari senin...
like n comen juga wajib mengikuti yaa...
makasih banyak semuanya βΊβΊβΊπππ
__ADS_1