
Seminggu sudah sejak David mengirimkan email proposal kerja samanya dengan Adam Aimo, David menggunakan anak perusahaan ritel milik Leo, kali ini David mencoba masuk ke perusahaan milik Adam Aimo, terlalu riskan jika dia menggunakan perusahaan yang dia kelola sendiri, karena secara tidak langsung namanya juga sudah sedikit dikenal di kalangan para pengusaha, karena dia memang asisten Allard yang mengikuti kemanapun Allard melakukan perjalanan bisnis dan meeting dengan pengusaha lainnya.
Setelah dia mengirimkan balasan pada email milik perusahaan Adam Aimo, David menutup laptopnya dengan tersenyum puas, dia kemudian melirik kearah para bodyguard yang sedang berlatih, meskipun saat ini sedang tidak menjalankan tugasnya, karena hari ini weekend tetapi David tetap menyuruh anak buahnya untuk terus berlatih.
Jadi ketika sewaktu-waktu tenaganya dibutuhkan, para bodyguard tidak merasa kaku dan kaget karena sudah terbiasa berlatih setiap pagi sebelum menjalankan rutinitas paginya.
...............
Allard tersenyum dengan mata menatap lekat sang istri tanpa berkedip sedikit pun, Ica baru saja mandi, dengan masih menggunakan bathrobe, rambut basah yang masih meneteskan air dari ujung-ujungnya, entah mengapa membuat dia terkesan seksi dan mempesona dimata sang suami.
Allard menyadari sikap anehnya dengan tersenyum sendiri saat melihat sang istri, dia langsung meraup wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya, sebagai seorang lelaki yang telah berpuasa lebih dari dua bulan, membuatnya menginginkan kebutuhan biologisnya, tetapi apa daya dia masih harus bersabar dengan kondisi istrinya.
Terlebih lagi semua itu merupakan kesalahan yang dia perbuat, selama ini dia berusaha menahan diri meskipun terasa sangat sulit, tak jarang dia mandi air dingin di malam hari, saat dia tak lagi bisa menahan gejolak hasratnya, yang timbul saat dia bersentuhan kulit dengan sang istri saat tidur malamnya.
Saat seperti ini merupakan ujian terberat untuknya setiap malam, dia hanya bisa menyentuh tanpa bisa menikmati, dan ketika sudah tidak lagi bisa menahannya, Allard berlari ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dengan masih berpakaian lengkap, berharap dengan dinginnya air malam bisa menenangkan kembali juniornya.
Allard sungguh merasa ini sebagai siksaan terberat baginya, jika dibandingkan saat dia harus tersiksa badannya, karena mendapatkan pukulan dari musuhnya saat berkelahi.
Sebagai seorang yang sudah terbiasa dengan hidup bebas berganti wanita setiap malam, Allard merasa sangat berat dan susah, tetapi dia harus bisa menahannya, meskipun sebenarnya bisa saja dia bermain solo, tetapi ucapan Ica beberapa hari yang lalu menghentikan keinginannya untuk melakukan hal itu.
Ica mengatakan jika dalam keyakinan yang dianutnya tidak boleh melakukan hal itu, semenjak saat itu Allard tidak pernah lagi bermain solo, dan itu membuatnya semakin tersiksa.
..............
Allard yang sudah mandi dan sedang mengecek e-mailnya dibuat terpana oleh pemandangan pagi ini. Karena dia memang tidak pernah melihat Ica dalam keadaan seperti itu. Dia menutup laptopnya, dan segers menyusul sang istri yang berada di walk in closed, saat pekerjaannya sudah selesai.
Allard seketika menelan ludahnya, saat melihat kulit putih kekuningan mulus dan body seksi yang aduhai milik sang istri, yang terpampang didepannya saat Ica akan memakai dres rumahannya.
Sementara Allard berjalan mendekat, Ica yang tidak tahu jika suaminya berada di sana di ruangan yang sama dengannya, terlihat fokus menyelesaikan memakai pakaiannya.
__ADS_1
Tetapi tanpa diduga saat dia belum memakai dresnya, tiba-tiba tangan besar dan kokoh milik Allard itu melingkar dengan sempurna di perut rata miliknya, seketika Ica berjengit kaget dan bergerak gelisah.
Dia yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu, merasa sangat canggung dan tidak nyaman, berada dalam pelukan sang suami, dalam keadaan hanya memakai dalaman, membuatnya terus bergerak gelisah, meskipun tak dapat dipungkiri, ada gelenyar aneh yang dirasakannya saat ini.
Jantungnya berdetak kencang, hatinya berdesir, dan rambut-rambut halus di sekujur kulit badannya terasa meremang, saat Allard mengecup basah leher jenjangnya yang mulus itu.
Hembusan nafas panas dari Allard membuat Ica semakin gelisah dan menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan. Sehingga membuat Allard gemas dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ica sadar, ada sesuatu yang berusaha di hentikan dan dipendam oleh sang suami, meskipun Allard tidak mengatakannya, tetapi Ica mengetahui jika Allard sangat tersiksa selama beberapa bulan ini.
Terbukti dengan ada sesuatu yang tengah mengeras dan memberontak berada tepat persis dibelakangnya saat ini, meskipun tertutup oleh kain, tetapi Ica masih bisa merasakan jika benda itu telah bereaksi saat kulit mereka bersentuhan, seperti yang sedang terjadi saat ini.
Tetapi Ica tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada Allard, jika psikiater sekaligus dokter yang menangani trauma Ica mengatakan, dia sudah harus belajar mencoba melakukan kewajibannya lagi, meskipun masih harus mengingat batas kemampuan dan kesanggupannya mengendalikan rasa takutnya.
Tetapi Ica belum berani lebih tepatnya merasa malu saat akan mengatakan hal tersebut pada Allard, mengingat dia memanglah orang yang sangat tabu dengan hal itu.
"All,.... a-aku... "
Perkataan Allard sungguh membuat hatinya terenyuh, dia semakin diselimuti rasa bersalah, karena belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Allard memiliki pengendalian diri yang sangat baik dan menakjubkan menurutnya, mengingat sepak terjang Allard selama ini.
"maafkan aku All, ".
"it's oke baby, aku tak menyalahkan mu, semua ini karena salah ku".
Allard menjawab perkataan Ica, dengan lembut, tetapi tangannya sedikit usil dengan mengelus dan mengusap-usap apa pun yang bisa diraihnya.
"aku akan berusaha lebih keras lagi untuk melawan rasa takut ku All".
"terimakasih honey, kau sudah berusaha sangat baik selama ini, maafkan aku"..
__ADS_1
Allard berkata dengan masih terus memberikan kecupan-kecupan basah di leher serta bahu sang istri.
"no All, aku yang berterimakasih pada mu, karena kau tak memaksakan hal itu pada ku, bahkan kau yang sudah berusaha dengan kuat, mengendalikan diri mu dengan sangat baik sampai detik ini".
"aku akan menunggu saat itu tiba sayang, bukankan, kenikmatan berbuka karena sudah berpuasa akan lebih terasa berkali-kali nikmatnya?..."
ucapan Allard seketika membuat pipi Ica seketika bersemu, dia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu.
Allard membalikkan tubuh sang istri, menghadap kearahnya, Ica membuang pandangan ke segala arah karena dia merasa malu, diperhatikan dengan sangat teliti oleh suaminya untuk pertama kali, karena yang dulu Allard dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar.
Allard meneguk ludahnya beberapa kali dia melihat tubuh istrinya dengan mata berkabut, tetapi dia segera menggelengkan kepalanya, saat tersadar akan kondisi istrinya yang belum sembuh dari rasa traumanya.
"ku bantu kau berpakaian sayang, sebelum aku kehilangan kendali atas diri mu".
Ucap Allard yang dijawab anggukan oleh Ica, kemudian Allard mengambil dres yang dia pilih dari lemari pakaian istrinya, membantu Ica mengenakan pakaiannya, kemudian menarik tangan Ica untuk didudukkan didepan meja rias, yang berada tak jauh dari keduanya berada.
Allard mengambil hairdrayer dari dalam laci meja rias, menyalakannya kemudian membantu Ica mengeringkan rambut basahnya, hal yang tidak pernah sama sekali dilakukan Allard pada wanita mana pun termasuk Ibunya sendiri.
...................... ........................
Hay sayang-sayang ku, beberapa hari ini semangat nulis ku menurun, selain karena kesibukan, jumlah vote n pembaca apalagi komen menurun, aku merasa kya karya ini sudah g ditungguin Upnya ...
Apa karena sudah boring dengan alurnya apa gimana aku kurang tau...
Kalau gitu aku berusaha rampungin ini dulu sebelum buat cerita baru.
Apa masih ada yang mau bca cerita ku ini dan next novel ku kah????
Aku insecure kalo mau minta dukungan vote, like n comen jadinya...
__ADS_1
makasih buat kalian yg dah mau baca karya remahan ku ini , 😊😊😊😊😊🙏🙏🙏🙏