
"Bi Mila, bisakah kita pulang sore ini, aku sudah sangat jenuh disini"
Tica terus saja merengek pada Mila untuk bisa pulang, karena sudah sangat bosan, dan terus saja kepikiran kerjaan sampingannya.
"saya akan bertanya dengan dokter dulu nyonya".
"tidak usah bertanya, kalau kau bertanya jawabannya pasti sudah jelas tidak akan boleh, bilang saja aku ingin pulang sore ini, dengan atau pun tanpa persetujuan dokter".
"baik nyonya saya akan menemui dokter Harry dulu".
Mila berjalan tergesa menemui dokter Harry, dokter yang bertanggungjawab atas Tica, Sedari tadi Tica terus saja merengek minta pulang, meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih, dia hanya merasa jenuh berada di RS.
"aku harus segera sembuh, Untuk bisa menjalankan misi Perusahaan tambang asal korea yang berurusan dengan perusahaan Kontraktor itu, bayarannya lumayan besar, supaya aku bisa secepatnya mendapatkan uang untuk membeli Apartemen".
Tica sudah sangat muak dengan Prilaku Allard yang terus saja bercinta disembarang tempat, meskipun itu adalah mansionnya. Statusnya tak berarti apa pun, dia merasa harga dirinya di injak-injak oleh Allard, saat semua maid di mansion menatapnya iba.
Sementara Allard sendiri tak ambil pusing meskipun dia bermesraan dengan wanita lain didepan istrinya itu. Dia pria dewasa yang membutuhkan pelampiasan, sementara istrinya sama sekali tak ingin disentuh.
.....................
"sebenarnya kondisi anda belum sepenuhnya pulih, tapi jika nyonya memaksa pulang maka bisa tandatangani surat itu, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu, maka pihak RS tak lagi bertanggungjawab nyonya".
"baiklah berikan suratnya".
Tanpa diperintah Leo langsung mengambil alih tugas perwalian yang seharusnya diurus Allard.
...............
Sampai di mansion, Tica yang ingin didorong kursi roda menolak, memilih memakai tongkatnya. Dia berjalan tertatih dipapah oleh Mila, sampai dilantai satu pandangan matanya menangkap sosok yang sama sekali tak ingin dilihat olehnya.
Allard sangat terkejut saat mengetahui Tica pulang hari ini, dia terlihat sedang memagut bibir perempuan yang ntah siapa, wanita itu berada tepat dipangkuan Allard, saat ekor matanya melihat Tica, otomatis Allard melepaskan ciumannya.
Ya Allah, Tica saat ini ingin segera angkat kaki dari Mansion, jika saja tabungannya sudah cukup, besok dia harus bekerja, supaya tabungannya lekas cukup untuk membeli apartemen meskipun murah. Karena harga Apartemen di Seoul sangat tinggi.
Semua pelayan menundukkan kepalanya, mereka semua iba melihat nasib sang nyonya yang malah tersisih, di mansion ini. Mila segera bergerak memapah Tica sampai di kamarnya.
Liquid bening itu menetes lagi, meskipun sebenarnya ia tak ingin. Sekuatnya Tica menahan untuk tidak menangis, saat dirinya kesusahan berjalan akibat luka ditelapak kakinya, sang suami sedang asik bermesraan dengan perempuan lain.
Andaikan dia bersuami laki-laki yang mengetahui agama dengan baik, mungkin saja hal seperti ini tidak terjadi dihidupnya. ah... lagi-lagi Tica terus berandai dengan sesuatu yang mustahil saat ini.
Dengan bersusah payah Tica dibantu Mila menaiki tangga demi tangga yang setiap pijakannya dia meringis menahan perih dan nyeri, Tica tidak tau jika Allard terus saja menatapnya dengan perasaan bersalah, tetapi masih tetap pada posisinya semula.
"kenapa aku merasa marah?, kenapa sakit sekali melihat itu".
"aku hanya merasa harga diriku terinjak, ya benar, aku merasa begitu, air mata ini bukan untuk sakit hati ku, tetapi karena harga diriku yang dihina".
__ADS_1
Tica segera menepis prasangkanya, dia tak mungkin menyukai Allard kan, yang dia cintai hanya Hafidz, dan entah sejak kapan Ia tak sering lagi mengingat Hafidz, ah ntah lah Tica bingung dengan perasaannya sendiri.
................
"pergilah pulang, aku akan pergi sebentar lagi".
Allard segera meraih pinggang Vanesha supaya beranjak dari pangkuannya, Vanesha Salah satu artis yang juga sempat dikabarkan dekat dengannya saat Allard masih aktif di dunia entertainment.
"siapa perempuan tadi? dia memakai penutup kepala, apakah maid baru? ".
"sudahlah cepat pergi aku akan segera bersiap"
Tanpa menjawab pertanyaan Vanesha, Allard beranjak menuju kelantai atas, dan Vanesha yang ditinggalkan begitu saja merasa kesal sambil menghentakkan kakinya dia beranjak pergi meninggalkan Mansion Allard.
Meskipun seringkali mendapatkan perlakuan seperti itu, namun Vanesha masih tetap mencintai Allard, karena jarang sekali Allard mau menerima kehadirannya seperti ini.
..............
Sampai dilantai tiga, Allard berniat mengunjungi Tica, tetapi sampai didepan kamarnya ia urungkan mengetuk pintu itu, dia merasa ragu, apakah kehadirannya akan diterima Ica, atau malah diusir seperti waktu di RS.
Allard memutuskan untuk melangkah ke kamarnya dan mengurung diri disana. Alasannya pada Vanesha hanyalah kebohongan yang dia ciptakan sendiri, supaya Vanesha bisa langsung pergi dari mansionnya.
..............
Hari senin dia masih izin sakit, hari ini dia akan mulai berangkat kerja lagi. 3 hari dirasa cukup memulihkan kakinya, meskipun jahitannya masih belum kering sepenuhnya. Tapi ia tak mau dianggap terlalu sering izin.
Selain bekerja di KBRI dan kuliah, dia hari ini akan bekerja sampingan sebagai negosiator, malam ini setelah menyelesaikan jam kuliahnya.
Allard sendiri, masih seperti biasanya, bekerja dan pulang larut, meskipun dia sering mengunjungi club malam, dia masih merasa kesepian, dia mulai merasa kehilangan sesuatu tapi dia belum menyadarinya, alhasil dia memilih pergi menemui sahabat-sahabatnya di club malam seperti biasa.
.................
"kenapa rasa kopi mu beberapa hari ini mulai berubah lagi Mila?, aku menyukai kopi buatan mu yang seperti sebelumnya".
Allard mengeryit saat dia menyeruput kopinya pagi ini, sarapannya juga terasa berbeda dari biasanya, rasanya kurang pas menurutnya.
"maafkan saya Tuan, biasanya yang menyiapkan dan membuat sarapan dan kopi tuan sebenarnya nyonya, Tetapi karena beberapa hari ini nyonya sakit, jadi nyonya tidak bisa menyiapkannya untuk anda, saya akan buatkan yang baru lagi".
Allard mengangkat alisnya karena merasa terkejut, berarti selama ini yang membuatkan sarapan adalah istrinya? wah daebak...
tapi kenapa dia tidak pernah mengatakannya sama sekali??? pantas saja rasanya berbeda.
"benarkah? kau serius dengan ucapan mu Mila? ".
"saya mengatakan yang sebenarnya tuan".
__ADS_1
Mila menjawab sambil menunduk takut jika sang tuan akan marah padanya.
"tidak usah buat kopi yang baru lagi, karena rasanya juga pasti sama,"
"baik tuan, maafkan saya".
Allard hanya mengangguk. Seketika Attensinya berpaling kearah tangga mendengar suara, meskipun tak lagi memakai tongkat, tetapi suara langkah kaki tertatih itu masih bisa terdengar.
Allard berdiri dan menyusul Tica, berusaha membantu istri kecilnya menuruni anak tangga,
"biarkan aku membantu mu, anggap saja sebagai permintaan maaf ku karena membuat kaki mu terluka".
Tica melongo mendengar permintaan Allard itu, diingatkan lagi akan kejadian itu membuat Tica merasa enggan disentuh oleh Allard, ntah lah dia merasa sangat tidak nyaman berdekatan apa lagi bersentuhan dengan Allard, setelah mengetahui dia sering menyentuh banyak wanita.
"singkirkan tangan mu, aku masih bisa berjalan sendiri Allard".
"kenapa kau selalu menolak ku Ica? ",
"minggir, kau menghalangi jalan ku".
"wah... lihat lah... semua wanita diluar sana dengan senang hati ingin ku sentuh, kenapa justru kau istri ku tak mau ku sentuh".
"aku jijik dengan mu yang selalu menyentuh banyak wanita, Jika ingin menyentuh ku, jangan pernah menyentuh wanita lain".
Skakmat Allard terdiam ditempatnya, sementara Tica beranjak menuruni anak tangga, mengambil bekalnya dan langsung melangkah menuju pintu depan dengan langkah tertatihnya.
"lihatlah, sok suci sekali dia, tak mau ku sentuh, apa katanya tadi? Jijik? dia kira dia siapa berani bersikap seperti itu dengan ku, Lihatlah Apa yang bisa kulakukan pada mu istri kecil ku yang nakal".
Ucap Allard dengan dada naik turun karena emosi saat dia merasa dihina oleh sang istri.
................
Catatan Penulis.
Hay sayang kuhh....
kasih review donk biar semangat othornya..
Kasih bunus juga dengan cara klik
vote, like, dan coment,
makasih....
☺☺☺☺☺ 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1