MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Pagi yang Manis


__ADS_3

Malam ini, langit di kota Seoul sedikit mendung, perpindahan dari musim panas ke musim gugur, Tica memandang keluar jendela, malam ini perasaannya tak karuan, mengingat perdebatan yang terjadi petang ini, dengan berakhir, Allard yang menyuruh David mengantarkan Hafidz ke hotel yang ternyata dia menginap d hotel miliknya.


Tica sendiri memilih langsung pergi kekamarnya setelah Hafid meninggalkan mansion, dan Allard yang hanya bisa terus menerus mengumpat karena kebodohannya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak termakan rayuan para wanita itu pun akhirnya kalah, setelah Vanesha datang dan merayunya.


Dia belum tahu perasaan apa yang dia miliki untuk Tica, mungkinkah perasaan simpati atau memang dia mulai mencintainya. Tapi dia sungguh tak ingin membagi istri kecilnya itu dengan siapa pun juga. Bahkan tadi dia sempat emosi saat Hafid masih bersikukuh membawa Tica pulang ke Indonesia, Tica miliknya, tak ada siapa pun yang boleh menyentuh atau pun memilikinya meskipun saat ini dia belum mau mengakui perasaan yang sesungguhnya.


Menghela nafas lelahnya, Tica turun kelantai satu, dia ingin membuat coklat panas dan beberapa camilan untuknya, dia merasa sedikit lapar tapi dia tidak makan saat jam makan malam tadi, dia terlalu malas dan enggan turun bertemu dengan Allard.


Tica menuruni Anak tangga, mansion terlihat sepi karena memang sudah jam 12, para maid pun sudah tidak ada lagi di mansion, jika sudah tidak ada lagi yang dikerjakan maka semua pelayan akan menempati paviliun belakang mansion Allard.


Tica duduk di pantry sejenak, dia menerima pesan yang kirimkan Hafidz untuknya,


"tawaran ku masih berlaku dek, jika kamu sudah ingin menyerah dengan semuanya"


menghela nafas panjangnya, Tica mengetikkan pesan, yang malah bertanya apakah Hafidz belum tidur, dan menyuruhnya segera tidur karena esok masih ada seminar yang harus dia hadiri.


Tica memakan pancake yang tadi dibuat oleh Mila, sepertinya pancake dan secangkir coklat panas ini cukup untuk membuat perutnya tenang dan tidak keroncongan lagi, setelah menghabiskan coklatnya Tica segera naik kelantai atas, dia tidak ingin bertemu dengan Allard untuk malam ini.


...............


"kakak belum tidur?, sudah malam sebaiknya kakak tidur, karena besok masih ada seminar lagi yang harus kakak hadiri, selamat tidur kak"


Di lain tempat Hafidz yang menerima pesan dari Tica merasa kesal, dia heran kenapa Tica masih mau bertahan dengan suaminya yang jelas-jelas sudah menghianatinya seperti itu. Dia pun segera mematikan ponselnya dan memilih tidur setelah tadi mengirim pesan pada istrinya, dia tahu Tica sudah mulai mencintai Allard, terlihat dari tatapan matanya yang khawatir saat tadi dia melayangkan pukulan kewajah Allard.


Entah kenapa dia merasa gelisah malam ini, diingatkan lagi akan rasa cintanya yang dulu sempat ada untuk Tica yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Itu membuatnya merasa bersalah dan mengkhawatirkan keadaan Tica, jika Allard masih seneng bermain dengan wanita lain, mengapa dia tidak mengizinkannya membawa Tica pulang ke indonesia.


Hafidz memilih mencoba memejamkan matanya berharap dia bisa istirahat karena memang besok dia harus menghadiri seminar lagi.


............


Pagi harinya Tica bangun, melaksanakan kewajibannya dan segera mandi mempersiapkan semuanya, Tica sudah mengatakan pada Hafidz kemarin untuk menemaninya mencari oleh-oleh, tetapi setelah dipikir lagi hubungannya sedang tidak baik, dan dia memilih tak ingin menemui Hafidz.


Tica tidak ingin ada kesalahpahaman diantara dia dan Bila nantinya. Karena Tica tau bagaimana rasa sakitnya saat seorang suami lebih memilih wanita lain dari pada istrinya sendiri. Kenapa dia jadi berharap lebih pada Allard, sedangkan dia sudah melakukan perjanjian hitam di atas putih.


..........


Allard terbangun dan langsung melihat jam yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi waktu korea, dia dengan terburu menuju kamar mandi, pagi ini dia tidak ingin terlambat berada dimeja makan, karena hanya itu kesempatannya menemui istri kecilnya.

__ADS_1


Jam delapan pagi dia sudah siap, dan segera turun menuju pantry, dia melihat istrinya sedang menyiapkan sarapan untuknya, dia memilih duduk dalam diam dan terus mengamati istri kecilnya kesana kemari menyiapkan sarapan dan kopinya.


Pagi ini Tica membuat nasi goreng, ntah kenapa dia menginginkan nasi goreng, dia sengaja membuat dua porsi yang diberi ceplokan telor ala dia sendiri, memikirkan apa yang kemarin terjadi membuat moodnya pagi ini menjadi buruk.


Dia terlalu malas membuat sarapan yg sedikit ribet, dan memilih nasi goreng. Tica berniat memakan sarapannya di kantor saja. Mengambil piring dan menyiapkan satu porsi untuk Allard, tetapi saat dia akan menaruhnya di atas meja pantry ternyata sudah ada Allard yang sudah duduk dan sedang memandanginya.


Dengan cuek Dia menaruh nasi di depan Allard, sedikit mengeryit karena ternyata nasi goreng yang dibuat istrinya, dan kenapa hanya satu.


"kenapa cuma 1 piring?, punya kamu mana ca,"


"aku akan makan di kantor".


oohh.... ternyata istrinya masih marah dengan kejadian kemarin, Allard berdiri kemudian menghampiri Tica yang akan memasukkan nasi goreng ke kotak bekalnya.


Allard terus berjalan dan dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang, dan saat itu juga Tica membeku, badannya tegang, menaruh kotak bekalnya dengan kesal dan melepaskan tangan Allard, tetapi Allard sama sekali tak ingin melepaskannya.


"apa yang kau lakukan"


"memangnya apa, aku hanya memeluk istri ku, apa tidak boleh".


"lepaskan, kita bukan suami istri yang sesungguhnya, jadi jangan bersikap layaknya pasangan yang lain".


sambil mengendus leher istrinya yang memiliki wangi vanila itu, seketika membuat Allard rileks.


"untuk apa minta maaf, bukankah itu hak mu, kau lupa perjanjiannya"


Allard tidak menggubris ucapan istrinya dan malah mengatakan hal lain yang membuat hati Tica sedikit berbunga.


"aku janji tak akan pernah melakukannya lagi dengan wanita itu"


"aku tak pernah melarang mu, itu hak mu seperti yang kau katakan pada awal pernikahan kita".


"biarkan seperti ini sebentar saja".


Allard masih terus mengendus ceruk leher istri kecilnya yang sudah terbalut hijab itu.


"ku mohon lepaskan, aku tak nyaman dengan posisi ini".

__ADS_1


Tica terus saja menggeliat geli dan seluruh bulu tubuhnya meremang kala Allard masih saja terus mengendus ceruk lehernya.


Dengan cepat Allard membalik posisi istrinya menjadi mengahadap padanya,


"lalu posisi seperti apa yang bisa membuat mu nyaman, hem?"


Masih terus memegangi pinggang istrinya Allard memandangi istri kecilnya itu yang sekarang terlihat salah tingkah dan pipinya merona merah.


Dan semua itu tak luput dari perhatian Allard, tersenyum melihat kepanikan istrinya saat ini.


"aku akan berangkat sekarang".


Tanpa menjawab perkataan istrinya Allard memilih mendorong bahu istrinya untuk segera duduk dan mengambil satu piring, menyiapkan nasi goreng seperti yang ada di piringnya, meskipun bentuknya sedikit berantakan dan tak beraturan.


"makanlah disini bersama ku, maaf tampilannya tak serapi buatan mu, tapi rasanya masih sama".


Tica mengedip-kedipkan matanya melihat kelakuan Allard yang seenaknya sendiri menyuruhnya sarapan bersama.


Karena malas berdebat akhirnya dia memilih menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, melirik ke arah suaminya yang masih dengan setia terus memandanginya.


"makanlah, kenapa malah melihat ku seperti itu"


"hari ini berangkatlah bersama ku ke kantor"


Tica tersedak mendengar perintah Allard itu. Allard segera memberikannya air putih untuk istrinya itu.


"hey, pelan-pelan aku tak meminta makanan mu"


Setelah meredakan batuknya dengan minum Tica menjawab ucapan Allard.


"kau memang menyebalkan, diktator".


.......................


hay semuanya beberapa hari ini up nya pagi, mumpung sikecil g rewel


tetep Vote like n comen ya dukung aku, untuk tetep ngelanjutin novel ini ☺☺

__ADS_1


makasih ☺☺☺🙏🙏🙏


__ADS_2