
Baru selesai mandi dan menjalankan kewajibannya malam ini Tica turun ke pantry melihat Mila menyiapkan makan malam, dia ikut membantu kepala pelayan itu meskipun sudah sering diperingatkan oleh Mila, tapi Tica masih saja turun ke dapur, malam ini ada beberapa menu rumahan khas korea, Tica yang memang tidak pernah memasak makanan korea hanya membantu menyiapkan perlengkapan makan malam ini.
Tica tersenyum kala mengingat hari ini dia makan full bersama Allard, dari mulai sarapan, makan siang dan sekarang makan malam. Allard pun sudah tidak terlalu kaku dan memperlakukan istrinya dengan baik, meskipun masih sedikit terkesan dingin.
Allard terlihat menuruni anak tangga, Tica menyambutnya dengan senyuman yang mengembang di bibir seksinya.
"duduklah, sebentar lagi makan malam siap"
"hem".
Allard hanya menjawab singkat, tetapi tatapan matanya terus saja memperhatikan istrinya, kesana kemari menyiapkan makan malam ini. saat semuanya sudah siap. Mereka makan dengan tenang, Tica pun yang ingin segera menyuapkan makanan kedalam mulutnya seketika terhenti kala terdengar suara yang menyita perhatiannya.
"hay sayang.... kenapa sudah 5 hari tak menelpon ku?, aku merindukan mu, kau memang menyebalkan"
Chintya datang dengan penampilan seksi dan wajah tanpa dosanya, langsung menyerbu Allard dengan mengecupi pipi dan bibirnya.
Tica yang memang beberapa hari ini merasa nyaman karena tak diganggu oleh para wanita Allard, seketika dibuat mual dengan pemandangan didepannya, hancur sudah makan malamnya kali ini.
tanpa kata dia meletakkan sendok dan langsung berdiri bangkit meninggalkan kursinya tanpa pamit.
rasanya benar-benar menjengkelkan, makan malam yang sudah dia persiapkan dengan sebegitu detail dan apik, harus dia tinggalkan karena wanita yang jelas-jelas bukan siapa-siapa di mansion ini.
Menaiki anak tangga, kali ini perasaannya kacau, dia memang tidak menangis, tapi dia benar-benar merasa lelah, dia merasa dipermainkan oleh Allard, dia merasa bodoh karena hatinya sudah mulai tergerak melihat kebaikan Allard selama dua hari ini.
Masuk ke kamarnya, sebenarnya dia sangat lapar, perutnya terasa perih, tapi dia juga malas jika makan satu meja dengan perempuan lain.
__ADS_1
"aahhh..... , menyebalkan".
Tica merebahkan dirinya di ranjang king size miliknya, miliknya? ya setidaknya untuk saat ini adalah miliknya bukan, meskipun sementara dan hanya pemberian Allard.
Menatap langit-langit kamar yang tinggi, menerawang, dia terlalu terbuai oleh pesona dan kebaikan Allard, itulah kenapa sekarang dia merasa kecewa, ntah kenapa hatinya merasa tercubit melihat perempuan lain menciumi suaminya seenak yang dia mau, ntah kenapa dia tidak rela melihat hal itu.
"haahhhh.... "
lagi-lagi Tica membuang nafas lelahnya. Tica merasa lelah dia menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh masuk dalam pesona Allard yang jelas-jelas hanya mempermainkannya.
Tica memejamkan matanya, perasaannya marah dan kecewa, bulir bening kembali menumpuk di pelupuk mata nya kali ini sekuat tenaga dia mencegah untuk tak lagi menangisi Allard, dia berusaha mengalihkan perhatiannya dari rasa kecewa ini, membuka HP nya dan seketika dia terduduk di ranjang dengan pandangan mata tertuju ke Handphonenya.
Perasaannya semakin bertambah kacau, niatnya ingin mengalihkan rasa kecewanya, tetapi malah bertambah kecewa kali ini, saat orang yang dipercaya mengurus butiknya mengirimkan laporan dan vidio jika butiknya terkena serangan orang gila, semua kaca depan rusak parah dan mini taman yang ada didepan butiknya yang menjadi tempat favorit bagi pelanggannya rusak oleh orang gila.
Tica tertunduk lemas, kali ini, cobaan apa lagi yang harus dia tanggung, dia harus memperbaiki butiknya, keuntungan bulan ini hanya untuk memperbaiki butiknya saja, itupun tidak akan cukup. Lalu bagaimana dengan panti asuhan yang di dirikan kakek pras?
Segera dia mentransfer uang untuk panti, dia tidak ingin anak-anak panti kelaparan, karena donatur langganannya juga tiba-tiba tidak memberikan tunjangan lagi, ntah kenapa semua seperti sudah diatur sedemikian rupa, tak apalah, hanya tinggal disini sedikit lebih lama lagi, mengumpulkan pundi-pundi uangnya lagi untuk membeli apartemen, batin Tica.
Tica tak ingin menuduh om nya lagi kali ini, karena laporannya yang merusak butiknya adalah orang gila. Dia mencoba berpikiran positif dan belajar untuk bisa menerima kenyataan meskipun semuanya terkesan dibuat-buat.
Tica menangis, kali ini lelah hatinya semakin bertambah, dia merasa seorang diri, kala Allard sedang bersama perempuan lain, semua pikiran buruk itu terus menghantui Tica, semua ucapan Hafidz kembali terngiang di kepalanya.
Apakah jika dia mengikuti ucapan Hafidz semua masalah selesai, ntah lah, Tica terlalu bingung dan sudah sangat lelah menghadapi semuanya sendiri.
Dia merasa sesak, kemudian bangkit dan membuka pintu balkon kamarnya, menghirup dalam-dalam udara sejuk malam ini, Dia duduk di balkon sembari kembali memikirkan butiknya, dia menyuruh orang kepercayaannya untuk segera memperbaikinya, dan menelpon orang panti, mengatakan jika dia sudah mentrasfer uang jadi tidak perlu khawatir lagi.
__ADS_1
Melamun sendiri di depan balkon kamarnya, melihat kearah samping bawah yang ternyata teman-teman Allard kali ini berdatangan. semuanya terlihat senang, tertawa dan merangkul wanitanya masing-masing.
Semua pemandangan itu membuatnya iri, kenapa semua orang dibawah bisa bersenang-senang, tidak tahukah jika dia sedang tertimpa musibah dan semua itu membuat perasaannya semakin kacau.
Tica membiarkan air matanya meleleh kali ini, dia benar-benar lelah, tak apa menangis sekali lagi, toh hanya dia dan Tuhannya yang tahu bukan.
Dia menangis seperti orang putus asa, lelah dengan kehidupan pernikahannya. Lelah dengan keadaan yang tak tak berpihak padanya, lelah dengan hidupnya yang seolah-olah dipermainkan oleh om Har.
Dia benar-benar menumpahkan semua rasa yang berkecamuk menjadi satu, menangis sepuas yang dia mau. Hingga beberapa jam dan hanya menyisakan senggukan yang menyakitkan dadanya.
...........
Tica terlalu lelah menangis dan dia menahan lapar, dia mencoba memutar musik di HP nya dan menyandarkan kepalanya di meja dengan lengan sebagai bantalan. Tanpa terasa dia tertidur di luar dengan suhu yang mulai dingin.
Mila naik kelantai tiga, dia menyadari jika sang nyonya belum makan malam, sebenarnya dia ingin segera menyiapkannya dan membawanya ke kamar sang nyonya, tetapi tiba-tiba tamu dan sahabat Tuannya berdatangan, mau tidak mau dia harus menyiapkan hidangan untuk pesta kecil itu.
Membuka kamar sang nyonya, dia terkejut saat tak mendapati Tica di ranjangnya. Mila berkeliling dan menemukan sang nyonya tertidur di balkon dengan berbantalan lengannya sendiri di cuaca yang cukup dingin malam ini.
Terlihat menyedihkan saat semua orang dibawah sedang berpesta, sang nyonya rumah malah sedang tertidur di balkon karena lelah menangis, terlihat dari sisa-sisa lelehan air mata yang menggenang di kelopak matanya.
Mila kembali turun, ia ingin membangunkan tetapi tidak tega, alhasil dia hanya menyelimutinya saja, dan akan membangunkannya nanti pikirnya.
.................
hay....... udah mulai Up rutin lagi nih.. kasih semangat donk dg cara vote, liken comen
__ADS_1
makasih sayang-sayang kuhh...
☺☺☺☺☺😘😘😘😘😘