
Allard terus saja mengumpat saat dia tersadar telah kehilangan jejak istrinya, dia menghubungi Hyun ki untuk melacak dimana keberadaan Hariyanto, dan dia mendapatkan lokasinya, Hyun ki mengirimkan sinyal GPS Hariyanto pada Allard, yang ternyata hanya berjarak sekitar lima belas menit perjalanan menuju pinggir pantai.
Allard dan anak buah terbaiknya menuju titik koordinat dimana Hariyanto membawa Ica, dia disekap di sebuah gedung bekas tempat pengepul ikan segar.
Allard mengerahkan anak buahnya menyebar, dia kemudian masuk melalui celah jendela yang teralisnya sudah sangat berkarat dan rapuh.
Allard melihat keadaan sekitar, di sana dia melihat beberapa orang yang mengerubungi seorang wanita, dan dia adalah Ica.
"apa mau om, dengan membawa ku kemari".
Ucap Ica tanpa takut, setelah ikatan di kepalanya dilepas, tangannya diikat kanan dan kiri merentang dalam posisi berdiri, dia bisa melihat Hariyanto dan sang asisten yang sedari dulu setia padanya, serta beberapa anak buahnya yang berjumlah sepuluh orang itu.
"hahaha... , ternyata kau cukup pintar dengan tidak terkejut sayang".
"heh... Ica tersenyum mengejek, aku tau om fari dulu berusaha mencelakai ku".
"wah,, ternyata kau gadis pintar, pantas saja selalu bisa lolos dari anak buah ku".
"apa kah ini balasan untuk kebaikan kedua orang tua ku yang sudah dengan suka rela merawat mu dari kau berusia sepuluh tahun?".
"hahahha.... kau tak tahu apa pun cantik, kau pikir semua fasilitas dan kekayaan mu itu semua milik mu?".
"apa maksud om?".
"ternyata dugaan ku benar, orang tua mu tak pernah mengatakan apa pun dari mana asal usul mereka bisa memiliki kekayaan itu".
Allard masih terus diam, mendengarkan percakapan Ica dan Hariyanto, ternyata dugaannya benar kali ini, motifnya bukan hanya ingin menguasai harta warisan Ica.
"kalau om mengira kakek tidak memberikan warisan pada om, karena memang kita tidak ada hubungan darah om, dan bukan kah kakek selama ini membiarkan om menduduki jabatan CEO di HF, menurut ku itu lebih dari cukup dengan status om yang hanya anak angkat?"
Ica sengaja memprofokasi Hariyanto dengan menyebut setatusnya dalam keluarga Hadiningrat.
"apa kata mu?, aku memang cuma anak angkat, tetapi kau perlu tau jika semua harta itu berasal dari milik kedua orang tua ku".
__ADS_1
Hariyanto mencengkram dagu Ica dengan kuat bahkan kukunya menancap di pipi mulus sang keponakan. Ica tak meringis sedikit pun dan hal itu membuatnya semakin murka.
"apa om mimpi? HF sudah dibangun sejak puluhan tahun yang lalu oleh kakek Prasetio, jadi bagaimana mungkin sumber dana itu menggunakan harta kedua orang tua mu, jika saat kakek membangun HF kedua orang tua ku bahkan masih bayi".
"sudah ku katakan kau tidak tahu apa-apa dalam hal ini, dasar wanita jala**, kau bahkan tidak tahu kakek mu itu sudah dengan sengaja membunuh kedua orang tua ku".
Ica tampak terkejut dengan pernyataan yang dikatakan oleh Hariyanto. Ica menggelengkan kepalanya dengan kuat, karena menurut kakeknya orang tuanya dan orang tua Hariyanto itu bersahabat. Ketika dia meninggal dalam kecelakaan mereka menitipkan anaknya pada kedua orang tua Ica dan kakek Pras.
"bagaimana mungkin, orang tua om Har meninggal karena kecelakaan, dan bukankan Om Har yang membunuh kedua orang tua dan kakek ku?".
"hahaha...... ternyata tua bangka itu merekayasa semua cerita. Aku memang membunuh kedua orang tua mu, dan juga tua bangka Prasetio yang serakah itu, dan sekarang aku tinggal membunuh mu, supaya harta dan warisan itu bisa sepenuhnya menjadi milik ku, dan aku juga bisa membalaskan dendam ku pada keluarga mu".
Ica memang sudah tahu jika kedua orang tua dan juga kekeknya meninggal dengan dibunuh oleh Hariyanto, tetapi mendengarnya langsung dari mulutnya membuat Ica syok, dia berusaha menahan laju liquid bening yang kini mengumpul dikedua kelopak mata indahnya itu.
"aku akan membuat mu merasakan apa yang dirasakan kedua orang tua ku, tadinya aku ingin langsung membunuh mu, tapi sepertinya akan menarik jika aku melihat pertunjukan live show anak buah terbaik ku yang sudah sangat menginginkan tubuh mu cantik".
Ica seketika mendelik dan waspada, tubuhnya bahkan bergetar saat ini, jika dia langsung dibunuh tak apa, tapi jika harus merelakan tubuhnya menjadi jamahan orang-orang biada* itu, dia sungguh tidak ikhlas sampai mati pun.
Allard keluar dari balik tembok usang di belakang mereka. Hariyanto tampak terkejut dengan kedatangan Allard, sehingga dia berusaha mencari aman dengan meraih pisau yang berada di tangan salah satu tukang anak buahnya yang tadi menculik Ica.
Dia meraih leher sang keponakan dan siap menggoreskan pisau itu, Allard seketika murka, dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, tetapi dia tetap tenang, karena posisi sang istri yang kurang memihak padanya saat ini.
"maju lah jika kau ingin menyaksikan kematian istri mu".
Allard tersenyum miring, Hariyanto bukan lawan yang seimbang untuknya, meskipun saat ini dia menggunakan tangan kosong, dia mampu menumbangkan kesepuluh orang yang ada di sana.
"kau tau, hanya pria pengecut yang mencoba membunuh wanita yang bahkan tak berdaya, ternyata perkataan jangan memelihara anjing yang tidak tahu balas budi, karena jika dia terus dikasih makan, dia tidak akan pernah puas dan malah akan menggigit tuannya".
Allard maju melangkah lagi tanpa gentar, sementara Hariyanto yang merasa disamakan dengan anji** merasa begitu marah, giginya bahkan bergemeletuk saat ini. Allard mendekat dan mengatakan.
"dan anji** itu sama seperti mu, yang tidak tahu balas budi bahkan terimakasih".
"kau, diam lah, kau tak tahu apa pun, kau hanya menantu yang dipaksa menerima perjodohan ini oleh tua bangka itu, lenyapkan dia".
__ADS_1
Perintah Hariyanto pada anak buah terbaiknya itu, dan kedelapan orang itu segera menyerang Allard secara bersamaan. Ica yang tak menyangka jika sekali lagi Allard harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dia, dia benar-benar merasa buruk saat ini.
Allard terus bertahan dan kembali menyerang meskipun dia sedikit kepayahan karena dia menggunakan tangan kosong, tetapi Allard yang sudah terlatih itu dengan lihai dan lincahnya bergerak ke sana kemari.
Hariyanto yang saat ini merasa jika dia akan kalah, dia memilih akan segera menghabisi Ica saja, pisau lipat itu kini telah siap menggores leher Ica, tetapi karena dia memakai kerudung Hariyanto sedikit kesulitan, apalagi dia tidak terlatih menggunakan pisau.
Dan tanpa diduga Leo datang dari arah belakang dan segera meringkus hariyanto, meskipun pisau itu ternyata telah berhasil merobek kerudung yang dikenakan Ica dan menggores kulit lehernya hingga darah itu merembes melalui hijabnya.
Tanpa ampun Leo menghajar Hariyanto, Darius dan David juga segera membantu Allard berdiri, karena Allard telah berhasil menumbangkan keenam bodyguard Hariyanto dengan tangan kosong.
Dia segera menghampiri sang istri dan dan melepaskan kedua ikatan di tangan Ica. Pada saat itu tanpa diduga Pramudya hadir di sana, dia terlihat khawatir dengan keadaan sang cucu menantunya.
Pramudya yang sengaja membawa tim medis itu dengan segera menyuruhnya melakukan pertolongan pertama pada sang cucu menantunya itu.
Leo tampak tersenyum dan sedikit menunduk menganggukkan kepalanya saat melihat kehadiran tuan besarnya, Allard yang sempat melihat sekilas interaksi keduanya itu sedikit heran dan merasa aneh, karena sebelumnya keduanya itu tidak pernah bertemu seingat Allard.
Dan tatapan keduanya terlihat sedikit janggal menurut Allard, tetapi dia segera menepis keraguan itu, karena dia lebih memilih fokus pada sang istri.
Ica segera mendapatkan pertolongan medis dan akan segera dibawa menuju RS. Allard tak pernah meninggalkan istrinya itu barang sedikitpun.
.........................................
Dear readers kuh..
maaf Upnya telat mulu, tp diusahakan tetep Up tiap hari,,,
hayoh siapa yang curiga dengan Leo dan Pramudya?????
Tetep ksih author vote, like n comen yaa...
bentar lagi end... ☺☺☺
tapi nunggu bucin si singa dulu yaa 😂😂🤣🤣
__ADS_1