MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Cara Meredamkan Amarah


__ADS_3

"Lepaskan aku".


"Enggak, enggak akan pernah, sebelum kamu dengar dan lihat apa yang sebenarnya terjadi".


"Enggak perlu, aku udah g perduli lagi, mau seperti apa dan ngapain aja kamu, aku udah g mau perduli lagi".


Allard menarik tangan Ica yang satu lagi, mencengkram kedua lengannya, dengan sedikit kuat karena Ica yang terus memberontak.


"dengerin penjelasan ku dulu".


"apa yang kalian lakukan tadi udah cukup buat ngejelasin semuanya, cukup buat aku sadar diri siapa dan dimana aku harus menempatkan diri".


"lepas ... ".


Ica berusaha menyingkirkan kedua tangan Allard, meskipun dengan suara yang cukup berisik, tetapi dia tidak perduli lagi. Baginya cukup sudah kesempatan yang dia berikan pada Allard.


Allard yang sudah kehabisan akal akhirnya memutuskan untuk memanggul Ica dipundaknya, karena dia terus memberontak minta dilepaskan.


"akhh...... apa yang kau lakukan All lepaskan aku".


Ica berteriak terkejut karena tidak menyangka, jika Allard akan dengan seenaknya memanggulnya seperti karung beras, sambil terus memukuli punggung suaminya Ica berteriak minta turun.


"turunkan aku".


Allard segera membawa Ica masuk kedalam president suite hotel, Ica terus saja memukuli punggung Allard serampangan, meskipun tidak merasa kesakitan, tetapi membuat Allard kesulitan karena kaki dan tangan Ica yang terus bergerak, Allard akhirnya menampar bok*ng Ica dengan sedikit kuat, berharap sang istri menghentikan gerakannya.


"Akhh..... sakit All".


Ica seketika berteriak, karena bok*ngnya yang terasa panas, akibat tamparan dari Allard, tetapi Allard tidak perduli dia terus berjalan, di tengah ruang tamu dia melihat ada David dan Min Ah, yang sedang menatap heran ke arah Ica dan Allard.


Sementara Ica yang sedang histeris itu dibuat terkejut dengan kehadiran David, dan disusul oleh Darius yang berlari masuk dengan tergesa, dia pikir ada sesuatu yang buruk karena mendengar suara teriakan wanita, di lorong depan kamar president suite milik sang tuan.


Bagaimana bisa ada David, kapan dia masuk? sementara dia sejak tadi berada di depan dan tidak memergoki David masuk ruangan ini. Ica berpikir sambil berusaha melepaskan diri, dia merasa sedikit pusing karena posisi kepalanya yang terbalik.


Allard membawa Ica masuk ke dalam kamar pribadinya di Secret hotel, tanpa memperdulikan tatapan ketiga bawahannya, yang menatap keheranan dengan tingkah kedua majikannya itu.


Allard berhenti sebentar dia berbalik menatap ketiga anak buahnya dan kemudian berkata.


"kalian bertiga, tetaplah disini, aku membutuhkan kalian untuk menjelaskan pada istri ku, tunggulah".


Setelah berkata demikian, Allard membawa masuk Ica dan mengunci pintu kamar pribadinya, membanting tubuh Ica di ranjang king size hotel, tetapi Allard yakin jika istrinya tidak akan kesakitan, karena kualitas kasur yang sangat bagus dan empuk.


"All, lepaskan aku".


Seketika bayangan kejadian yang membuatnya trauma kembali berputar dibenaknya dan membuatnya menatap ngeri pada Allard.


" All, ku mohon, lepaskan aku".

__ADS_1


Allard yang tidak perduli itu memilih terus mengabaikan permintaan Ica, dia lebih memilih melepaskan celana yang melekat di tubuhnya menyisakan dalaman saja.


"All...., ampuni aku ku mohon".


Ica yang ketakutan hanya bisa terus memohon pada suaminya, dengan kedua tangan menangkup di depan dad*, dia takut jika Allard kembali memaksakan kehendaknya sekarang. Ica bergidik membayangkan hal itu.


Allard menulikan telinganya dia melepas paksa jaket yang dikenakan Ica, sehingga kaos pendek selengan nya terlihat, melihat hal yang selama ini tidak pernah Ica perlihatkan, membuat jiwa lelakinya semakin bergelora, apa lagi dia sudah cukup menahan diri selama lima hari ini.


"All... jangan..., ku mohon ampuni aku, biarkan aku pergi".


Mendengar istrinya yang malah mengatakan ingin pergi, membuat emosinya tersulut lagi, dia membuka paksa kerudung Ica, dan dengan kekuatannya menarik celana semi jins yang dikenakan sang istri, sehingga hanya menyisakan kaos pendek serta **********.


"no...., All...., ampun ... sungguh jangan lakukan itu lagi pada ku".


Ica yang semakin ketakutan membuat kedua tangannya bergetar, Allard yang menyadari hal itu melembutkan sikapnya, dan mencoba bicara baik-baik pada Ica.


"maka dengarkan penjelasan ku, atau kau akan merasakannya lagi".


Allard sedikit mengancam supaya Istrinya itu mau patuh padanya, dan ternyata berhasil, Ica mengangguk dengan pipi basah. Allard menghapus air mata sang istri dengan lembut, mengecup kening dan kedua kelopak mata yang terlihat sedikit membengkak akibat menangis, Kemudian dia mulai menjelaskan kronologi yang sebenarnya.


"Bukan seperti yang kau lihat sayang, tadi Min Ah tidak sengaja menumpahkan kopi yang ku minta, dia tersandung kaki David saat ingin menyerahkan kopi pada ku, kopi yang panas itu membuat kulit ku kepanasan dan dengan cepat aku melepaskan kemeja ku,"


Allard berhenti sejenak, sambil mengusap usap rambut dan wajah istrinya yang sembab, dia sedikit lucu melihat raut wajah sang istri saat ini.


"aku tidak cuma berdua di ruang kerja, ada David, tapi tadi David sedang dikamar mandi mengambilkan air untuk ku, karena dia takut kulit ku melepuh terkena air panas".


"juga ada Darius yang sedang mengambil proposal yang ku tinggalkan di mobil, jadi aku tidak sendiri dan sedang tidak melakukan apa pun".


Ica menyanggah apa yang dikatakan Allard, dan tetap kukuh pada apa yang dilihatnya. Allard menghela nafas lelah, tetapi kemudian menjelaskan lagi.


"karena di dalam sini sedang berpikir buruk tentang suaminya, jadi cenderung terlihat jika aku sedang berciuman, padahal sebenarnya ga, cuma memang posisi Min Ah yang sedang membungkuk, mengelap tubuh ku karena dia panik menumpahkan air panas".


Allard berkata sambil jari telunjuknya menyentuh kepala sang istri, Ica bergerak tidak nyaman karena Allard yang menindih tubuhnya, tetapi Ica masih tidak percaya, karena terlihat tadi Min Ah berusaha membuka kancing celana Allard.


"Tapi tadi dia juga ingin membuka kancing celana mu All, kau tak bisa membodohi ku".


Ucap Ica menggebu, Allard terkekeh melihat cara bicara Ica yang sedang marah, tetapi malah terlihat lucu menurutnya.


"karena dia panik, jadi berusaha melakukan apa pun, kau tak percaya? lihatlah, celana ku juga basah, bahkan ****** ***** ku ikut basah, tetapi kau tenang saja, aset milik mu masih aman, meskipun dia sempat terkena air panas".


Ucap Allard sembari menunjuk celananya yang teronggok di bawah, wajah Ica memerah mendengar kalimat ambigu suaminya, Allard kemudian menarik tangan Ica untuk menyentuh ****** ***** miliknya yang ternyata juga basah, tetapi seketika Ica menjerit karena tanpa sengaja, dia menyentuh sesuatu yang sudah mengembung dan terasa sangat keras saat tersentuh tangannya.


"aahhhhh.... dasar mes*m".


"hahahahaha"


Allard malah tertawa terbahak-bahak melihat keterkejutan sang istri. Dia merasa sangat gemas dengan polah istri kecilnya ini.

__ADS_1


"sudah cukup bukan penjelasannya, apa kau mau ketiga anak buah ku menjelaskan semuanya? atau kita lihat CCTV, hem?"


"a-aku akan bertanya pada kedua bodyguard mu, jika dia berbohong aku akan memotong aset mu".


Ucap Ica dengan wajah yang dibuat sebengis mungkin, tetapi justru membuat Allard tertawa puas.


"baiklah, tanyakan nanti padanya, karena sekarang aku harus menghukum mu, karena sudah menuduh ku yang bukan-bukan".


"menghukum? tidak mau, enak saja".


Sanggah Ica dengan mata berkedip-kedip dia sedikit tahu kemana arah pembicaraan sang suami barusan.


"terima hukuman mu, karena aku sudah berpuasa lima hari ini, kau tau rasanya sangat berat, aku sempat frustasi dan ingin melakukannya saat kau tertidur, tapi takut kau marah".


Ica hanya menunduk mendengarkan perkataan Allard, tanpa berani menjawabnya.


"maaf, lima hari ini aku dikejar deadline, sehingga sedikit mengabaikan mu, karena ada proyek besar yang sedang ku kerjakan, aku bahkan lembur terus".


Allard menciumi wajah istrinya tanpa henti dan itu membuatnya geli, dia sedikit lega dengan penjelasan Allard tentang sikapnya akhir-akhir ini.


"hentikan All, kau membuat ku geli.. hahaha".


Ica tertawa kegelian, karena kelakuan Allard yang terus menyerbunya dengan beringas. Allard kemudian menatap Ica, meminta izin melakukannya.


"boleh ya, kau tak merasa kasihan pada ku? aku sudah sangat merindukan mu, lihatlah".


Ucap Allard sembari menunjuk sesuatu d


yang sudah sangat siap bertempur, dia memasang wajah memelas, membuat Ica tersenyum, kemudian mengangguk pelan, dengan pipi semerah tomat.


"pelan-pelan ya?".


Allard mengangguk, kemudian keduanya menghabiskan waktu cukup lama, saling memadu kasih, pada malam yang terasa dingin ini, meskipun awalnya Ica masih saja memekik tertahan, saat Allard melakukan penyatuan, tetapi semakin lama ica bisa sedikit tenang, karena sang suami yang handal dan sangat berpengalaman, membuatnya terbuai olehnya.


Allard melihat ekspresi wajah sang istri yang terkadang masih saja mengerutkan kening, sesekali menggigit bibir atau menepuknya, saat dirasa gerakannya cepat dan sedikit kasar, membuatnya merasakan nyeri, karena belum terbiasa.


Keduanya terus meniti puncak tanpa memperdulikan ketiga anak buah Allard, yang berada di sofa ruang tamu, menunggu dengan sabar atas perintahnya, meskipun mereka tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan tuan dan sang nyonya saat ini.


.................. ....................


Hay semua.... tak kasih bonus chapter nih....


Hayo siapa yang dah ketar ketir dikira penyakitnya si Allard kumat lagi.. 🤣🤣🤣


jan lupa ksih aku bonus juga yaa


vote, like, dan komen banyak-banyak

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣🤣 makasihh...


Lope yuuu 😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2