
Pagi ini Tica bangun seperti biasa, meskipun hanya tidur 2 jam, dia bangun, shalat, mandi dan membantu Mila menyiapkan sarapan. Mila memang selalu menolak jika Tica membantunya. Tapi Tica tidak menyerah setiap hari dia masih saja selalu berusaha menyiapkan sarapannya sendiri dan juga Allard.
Allard tak pernah tau kalau selama ini Tica lah yang menyiapkan semua sarapannya, dia hanya merasa berbeda dari rasa kopi yang diminumnya, tapi karena kopi yang dibuat Tica lebih enak dari buatan Mila, sehingga Allard tidak protes sama sekali, hanya ekspresinya saja yang berubah saat menyeruput kopi buatan Tica,
Allard menyukai dua jenis kopi, kopi hitam dan white coffe, jadi dia tidak terlalu masalah. Di kantor pun ada Evelyn sekertaris cantiknya yang selalu membuatkan kopi untuknya.
"perfect"
Ucap Tica saat semua menu sarapan dan minuman sudah tertata rapi dimeja makan. Kali ini dia membuat One pan toast, yang terbuat dari roti tawar, telur, keju dan selai yang diolah menjadi satu sehingga menciptakan rasa yang nikmat bagi penggemar sarapan roti.
Tica membuat 2 gelas kopi, Tica juga penyuka kopi tepatnya White coffe. Sementara untuk Allard kali ini dia membuatkan kopi hitam tentunya dengan ditambahkan sedikit gula supaya tidak terlalu pahit.
Allard terlihat menuruni anak tangga kemudian langsung menduduki kursi diseberang Tica, Tica bersyukur terhitung 3 hari ini Allard tidak bersama wanita lain, dan entah kenapa hal itu membuat hati Tica menjadi sedikit senang. Setidaknya tidak ada pemandangan yang membuatnya matanya sakit pagi ini.
"sarapannya sedikit berbeda, apa kau mencoba membuat menu baru Mila?"
Tanya Allard, Mila hanya tersenyum sebagai jawaban, sebelumnya Tica sudah melarang Mila memberi tahu Allard, jika selama ini dia yang menyiapkan sarapan pagi nya. Tanpa protes Allard menghabiskan makanannya, sambil terus melihat ke arah ponselnya yang sejak tadi berdering tetapi diabaikan oleh Allard.
"ya Chintya, ada apa?, Bukankah sudah ku katakan kalau aku kemarin keluar negri?, apa kau tidak melihat ponsel mu dengan baik? "
Allard menerima telvon dari Chintya, baru saja Tica mensyukuri kalau Allard tidak bertemu dengan wanitanya. Lihat lah sekarang dia telvonan dengan wanita itu.
Selai stroberi didalam roti meleleh mengotori bibir atas Tica, sehingga tanpa sadar Tica menjilat bibirnya dengan gerakan sensual, dan pada saat bersamaan Allard melirik kearah Tica, dia melihat pemandangan itu yang secara otomatis membuat jiwa lelakinya keluar, dengan masih tanpa mengedipkan matanya Allard terus melihat Tica melakukan hal itu, Tica tidak tahu jika apa yang dia lakukan ternyata mampu membuat sesuatu yang berada diantara kedua paha Allard mengeras dan ingin dibebaskan.
Allard memutuskan panggilan televonnya secara sepihak, kemudian dia berdiri menggebrak meja dengan keras, dan hal itu langsung membuat Tica melonjak saat itu juga karena terkejut.
"jangan pernah lakukan hal itu didepan laki-laki lain".
Sambil berdiri dan berusaha menahan gejolak hasratnya Allard mengeratkan genggaman tangannya sendiri.
"apa maksud mu, Kenapa kau menggebrak meja, mengejutkan ku saja, lihatlah kopinya sampai tumpah".
__ADS_1
Dengan Pandangan tanpa rasa bersalah Tica melihat kopi yang belum diminumnya itu sudah tumpah seperempatnya.
"jangan pura-pura bodoh, Didepan ku, saat kau saja berani menemui bandot tua itu di hotel".
"apa maksud mu Allard, aku tak mengerti, Melakukan apa? dan menemui bandot tua siapa?".
Dengan mata memicing dan cemberut Tica melihat Allard kesal, karena menuduhnya yang bukan-bukan.
"jangan pernah melakukan apa yang baru saja kau lakukan itu, menjilat bibir mu, didepan laki-laki lain, Mengerti".
Ntah mengapa Allard tidak ingin ada laki-laki lain yang melihat Tica melakukan itu.
"kenapa memangnya, aku hanya menjilat selai stroberi yang tertinggal dibibir ku, salah ku dimana? Toh itu bibir ku sendiri, bukan bibir orang lain"
Jawab Tica sambil dia mengulangi apa yang dilakukannya tadi dengan sengaja berulang kali, dengan polosnya.
Allard mengeram frustasi, dan langsung maju menarik dagu Tica yang sepontan mendongak, kemudian Allard mencium bibir itu, ********** sedikit lama, sampai Tica gelagapan karena tidak mengambil nafas.
"ingat pesan ku, jangan melakukan itu lagi didepan orang lain jika tidak ingin menerima hukuman ini, Apa kau mengerti"
Oh... jadi ini hukuman, Tica yang hendak marah dengan Allard langsung bungkam saat melihat Allard memelototinya. Tica hanya bisa mengangguk pasrah.
"berangkatlah dengan Leo, Dia sudah menunggu di depan".
Setelah berkata seperti itu Allard melangkahkan kakinya, meninggalkan Tica yang masih mematung dan tak bergerak sama sekali ditempatnya.
Mila yang saat itu akan memberikan air mineral pada Tica, sontak terkejut melihat pemandangan manis didepannya saat ini, dan Mila memilih kembali ke paviliun belakang mansion Allard, karena tidak ingin mengganggu keromantisan pengantin baru itu, tanpa dia tau masalah yang sebenarnya.
Mila menyangka hubungan kedua majikannya ini akan segera membaik, saat melihat kejadian yang baru saja terjadi, bahkan Mila ikut senyum-senyum sampai paviliun belakang, tempat tinggal para maid, tukang kebun dan supir pribadi Allard.
.................
__ADS_1
"dasar Pria mesum, beraninya dia mencium ku, ahhhh...... dia mencuri ciuman pertama ku... "
Sambil terus uring2an di kantor Tica menyesali apa yang terjadi pagi ini. Pipinya masih saja bersemu merah dan terasa panas sedari tadi. Harusnya dia memberikannya pada pria yang dia cintai, bukan malah dengan pria brengsek seperti Allard, meskipun Allard adalah suaminya. Tetapi dia masih merasa tidak rela jika Allard lah yang telah mengambil ciuman pertamanya.
"ah... sial... kenapa aku masih terus mengingat gadis kecil itu, Bibirnya manis sekali, bahkan sangat kenyal..."
Allard menyugar rambutnya frustasi, ia tidak bisa fokus bekerja mengingat kejadian pagi ini,
"kenapa rasanya sangat berbeda, padahal dia sama sekali tidak membalas ciuman ku, ada apa dengan jantungku, seperti baru kali ini mencium wanita"
Padahal biasanya dengan Wanita-wanitanya Allard bahkan melakukan lebih jauh dari ini. tapi kenapa dia masih terus mengingat ciumannya dengan Tica?.
"ada apa dengan ekspresinya tadi, apakah dia terkejut, dia bahkan tidak membalas ciuman ku, malah sampai bengong seperti itu, seperti tadi adalah ciuman pertamanya saja".
Allard tidak tahu jika ciuman itu memanglah benar ciuman pertama Tica, berbeda dengan Allard yang bahkan semalam pun dia mampu berciuman dengan 10 wanita berbeda.
David dan Evelyn sampai menggelangkan kepalanya, melihat tingkah laku Allard pagi ini, bahkan sampai jam 2 siang ini belum ada satu pun kerjaan yang diselesaikan Allard, yang sampai saat ini masih sibuk melamun dan sesekali mengumpat.
Kedua Bawahannya itu tak berani menegur Allard padahal sebentar lagi jam makan siang tiba. Kemudian keduanya memilih sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing dengan David yang tentu saja menyelesaikan pekerjaan Allard yang belum tersentuh itu.
.............
Catatan Penulis.
Hay-hay...
tak kasih yang manis-manis nih dikit dulu ya...
jangan lupa Vote, like n comen yaa.. biar semangat nih othor 2 anak nulisnya...
βΊβΊβΊπππ, πππππ
__ADS_1