
Tanpa sepatah kata pun Ica menyeruput kopinya untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya, sayangnya ketika ingin membuka mulutnya dia lagi-lagi meringis saat kopi yang sedikit panas itu mengenai ujung bibirnya yang terluka, dia menyeka bibirnya dengan tissue, lebam di pipinya masih terlihat, dengan air mata yang nyaris menganak sungai, dia mencoba menggigit bibirnya saat rasa nyeri di dadanya kian berdenyut.
Mila yang sedang menata makanan di piring saji kemudian bergegas saat melihat sang nyonya bangun dari duduknya dengan tangan yang mencengkram kuat pinggiran meja pantry, kakinya seakan tak memiliki tulang, tetapi dia harus bisa melangkah dan pergi dari situ.
"ica"...
Terdengar Allard memanggilnya, tetapi Ica tak menghiraukan panggilan itu, dibantu oleh Mila, meskipun tanpa mengucapkan kata tetapi Mila mengerti kondisi dan kemauan sang nyonya saat ini.
"bantu aku ke kamar ku bi, tolong".
Ica meminta tolong pada Mila dengan suara bergetar, dia takut jika air matanya tumpah saat itu juga.
...........
Allard yang menyadari ada istrinya dimeja pantry kemudian tersadar saat ini dia tengah digandeng oleh Evelyn, dia melepaskan tangan
Evelyn kemudian memanggil istrinya saat melihat Ica terbangun dari duduknya dengan tertatih dan dibantu oleh Mila, dia ingin mengejar istri kecilnya itu, tetapi kemudian ponselnya berdering dengan kuat sehingga membuatnya mengurungkan langkahnya untuk mengejar istrinya yang saat ini menaiki lift dan naik kelantai tiga.
.........
Ica sampai di kamarnya dan langsung menyuruh Mila meninggalkannya sendiri, dia terlalu malu menangis di depan mila, di ranjangnya, Ica menangis sesenggukan sembari menggigit bibirnya mencoba meredam isakan yang keluar dari bibirnya sekaligus menetralkan dadanya yang terasa sakit.
Mengapa Allard menyakiti ku luar dalam, luka di badannya bahkan belum sembuh, sekarang dia kembali melukai hatinya.
"kali ini kau benar-benar melukai ku dengan sangat sempurna Allard".
"Aku tak akan lagi bertahan disisi mu jika seperti keadaannya, aku hanya wanita biasa, yang sangat tersakiti bila diperlakukan seperti ini".
Ica menangis ntah berapa lama, sampai dia tertidur saking lelahnya, lelah hati dan lelah pikiran membuatnya tak kuasa menahan matanya untuk tetap terbuka.
.............
Ica terbangun saat waktu shalat dhuhur, dia menunaikan kewajibannya, kemudian bersujud meminta ampun pada Rabbnya, meminta dikuatkan hatinya untuk menghadapi segala ujian yang sudah ditakdirkan untuknya itu, air matanya kembali membasahi mukena yang ia kenakan.
Rasa lapar tak lagi dia rasakan saat hatinya bahkan jauh lebih sakit, dari badannya yang jelas-jelas remuk saat ini.
__ADS_1
Dia membuka tirai jendela, memandang langit siang hari ini yang sedang turun hujan. Untuk beberapa saat ia hanya duduk termenung menatap kearah luar kamar. Tampak langit yang saat ini mendung, dengan awan hitam yang menyelimuti kota Seoul.
Saat langit tak lagi kuat menahan air yang terkumpul sangat banyak, maka akan dilepaskan menjadi hujan, begitu pula hati, saat tak lagi kuat menahan beban dan tekanan maka lepaskan lah.
Tica berulang kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, menetralkan rasa yang kian berkecamuk menjadi satu di dalam kepalanya. Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri, Ica sedikit terlonjak saat Mila mengetuk pintu kamarnya, dengan masih menyeret langkah kakinya, Ica membukakan pintu untuk Mila.
Mila mengantarkan makan siang yang merupakan sarapan yang sangat terlambat itu untuk sang nyonya, setelah tadi pagi tak dibukakan pintu oleh Ica, kali ini Ica mau membukakan pintu untuknya.
Setelah makan yang hanya sedikit disentuhnya dan meminum obat, dia bergegas meletakkan piring dan gelas kotornya didepan kamar supaya Mila bisa mengambilnya tanpa harus mengetuk pintu.
Ica membuka laptopnya mengecek email yang ternyata malam ini, Maxime Delcano, sang mafia sekaligus pengusaha itu datang ke Seoul, dan kontraktor asal Rusia itu ingin Ica melakukan negosiasi malam ini pukul 9 malam waktu korea.
Dengan mengucap bismillah, Ica menyetujui keinginan kontraktor Rusia yang membutuhkan jasanya malam ini.
Setelah makan malam di kamarnya, Ica menggunakan pakaian dinas malamnya, dia meminum pereda nyeri dengan double dosis kali ini, bukan tanpa sebab karena dia ingin pekerjaannya selesai tanpa harus terganggu karena rasa sakit yang masih menggigit di area pangkal pahanya saat ini.
Dengan menggunakan jaket kulit serta celana hitam panjang dan sepatu both dia berjalan menuruni anak tangga, rupanya obat pereda nyeri yang diminumnya itu bekerja sangat baik kali ini, area sensitifnya tak lagi begitu menggigit saat dia melangkahkan kakinya.
Dia tidak ingin lagi menggunakan fasilitas dari Allard, sehingga malam ini dia meminjam motor salah satu bodyguardnya meskipun motor itu adalah motor sport yang biasanya digunakan oleh laki-laki.
Tanpa pamit karena mansion terlihat sudah sepi saat ini para maid telah kembali ke paviliun belakang mansion.
Ica menstarter motor itu kemudian melajukannya melewati gerbang tinggi mansion dan dibukakan oleh pengawal yang sedang berjaga, yang kebetulan merupakan pemilik motor itu sendiri.
Keempat pengawal yang berada di pos gerbang semua tampak terpukau oleh aksi sang nyonya kali ini, meskipun memiliki tubuh yang pendek tetapi dia bisa mengendalikan laju motor besar itu dengan baik dan lincah.
Setelah Ica melaju meninggalkan mansion dia segera meluncur ke Secret hotel, dengan kecepatan tinggi mengingat waktu yang dimilikinya tidak banyak, dia juga tak ingin kliennya menunggu, karena kliennya yang saat ini akan ditemuinya bukanlah sembarang orang.
Pikirannya kembali berkecamuk saat sedang mengendarai kuda besi itu, mengingat kembali apa yang telah terjadi dalam hidupnya sejak kematian kedua orang tuanya, semuanya tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginannya.
Aku seorang wanita, yang dipaksa kuat oleh keadaan, saat tak lagi ada yang bisa ku jadikan sebagai sandaran. Aku harus berjuang sendiri untuk hidup ku.
__ADS_1
Sampai di Secret hotel, dia langsung masuk ke kamar VVIP yang telah dipesan oleh maxime Delcano, dengan mengucap Bismillah, Tica memantapkan langkahnya memasuki kamar yang telah dibukakan oleh asisten pribadi Maxime.
Lucas, sang asisten Maxime dibuat tak berkedip saat melihat Tica yang kali ini mengenakan hijabnya, tanpa mengenakan rambut palsu seperti biasanya, hanya memakai kacamata hitam, Lucas tak habis fikir mengapa klien dari Rusia itu menggunakan jasa wanita ini, meskipun terlihat cantik tetapi penampilannya tidak terlihat menggoda sama sekali.
Bahkan Ica malah terkesan sombong dengan penampilan tenangnya saat ini. Jika biasanya klien yang lain selalu menyodorkan wanita cantik nan seksi, yang sekaligus untuk melayani kebutuhan biologis Maxime, tetapi kali ini berbeda, dan Lucas masih penasaran apa tujuan kliennya kali ini.
Tica lantas disuruh duduk di sofa yang berada di kamar hotel itu dan menunggu maxime yang sedang mandi di dalam kamar mandi hotel.
Setelah dua puluh menit menunggu, terlihat Maxime keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe berwarna putih, seketika Ica menoleh kearahnya, Maxime memiliki wajah tampan, alis mata tebal, bulu mata panjang, rahang tegas dan sedikit bulu halus yang tumbuh disekitarnya, berhidung mancung dengan mata berwarna hijau itu seolah menghipnotis wanita manapun yang memandangnya.
Maxime mengacak rambut basahnya dengan handuk kecil, dan hal itu menambah seksi saat tetesan air menetes diwajahnya. Dada bidang dan abs perutnya yang terlihat mengintip dibalik bathrobe itu semakin membuatnya terlihat macho.
Tica memalingkan pandangan matanya ke jendela hotel, dan duduk dengan tenang, meskipun saat ini detak jantungnya berpacu lebih kuat dari biasanya.
"ah rupanya tamu kita sudah datang?, nice to meet you, what's your name?"
Ucap Maxime dengan logat inggrisnya yang kental, meskipun dia orang Spanyol.
"yah.... me to, my name is Zantica Rahma".
Ntah kenapa kali ini Ica menggunakan nama aslinya untuk perkenalan dengan kliennya saat ini.
Tica menjabat tangan Maxime kali ini dia juga menghormati Maxime jika dia tak menjabat tangannya maka dia di anggap tak menghargainya.
Seketika maxime dibuat takjub meskipun Tica menggunakan kerudung, tetapi kecantikan alaminya tak bisa ditutupi, dan baru kali ini Maxime merasa tertantang dengan sikap Ica yang sepertinya tak terpesona oleh nya, tidak seperti perempuan lain di luaran sana.
Maxime menatap Ica tanpa kedip, melihat wajah manis Ica ada sesuatu yang membuatnya tak ingin sembarangan menyentuh wanita di depannya ini. Meskipun biasanya dia langsung bercinta dulu sebelum bernegosiasi.
Tetapi kali ini hati kecilnya mengatakan akan mengikuti alur yang dibuat oleh Ica, Saat ica mulai berbicara dia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wanita cantik di depannya saat ini.
...............
Halloo sayang....
Gimana part ini nambah penasaran ga? pantengin FB, TikTok dan IG ku yaahh... disitu ada spoiler yang ku buat untuk menyempurnakan kehaluan ku ...
__ADS_1
meskipun g bisa bagus... ππππ
jangan lupa vote like n comennya ya ku tunggu loohh biar akunya semangat Up.. mksih βΊβΊβΊπππ