MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Gubug seorang Sulthan


__ADS_3

Mansion Allard (Seoul, Korsel).


Menempuh perjalanan dari Bandara Ahmad Yani menuju bandara Soekarno Hatta yang memakan waktu 1 jam 5 menit, kemudian transit di Jakarta kurang lebih 1 jam dan melanjutkan penerbangan dari Jakarta ke Seoul yang menghabiskan waktu 7 jam 15 menit.


Di sinilah Tica sekarang, di mansion Allard, dengan mata melotot lebar, dengan mulutnya terbuka, beberapa detik tidak melakukan pergerakan sama sekali, bahkan bernafas pun tidak.


Semua itu tak luput dari pandangan Allard yang kemudian tersenyum sinis.


Pagar depan yang menjulang tinggi, dengan dijaga oleh satpam berjumlah 2 orang pada pagi dan malam, masuk kedalam gerbang disuguhi keindahan taman dan Air mancur, serta terdapat beberapa pohon palm yang sudah besar, membuat rindang dan terasa sejuk dihalaman rumahnya.


Definisi rumah menurut orang kaya memang berbeda dengannya, Mansion Allard memiliki 4 lantai, lantai 1 terdapat ruang keluarga, ruang santai, beberapa kamar tamu dan pantry (dapur bersih), lantai dua berisi ruang Tamu, ruang Gim, dan 2 kamar tidur tamu yang biasanya ditempati David jika sedang bermalam di mansion Allard. Lantai tiga adalah kamar pribadi Allard dan 1 kamar pribadi lain tetapi tak ditempati, sedangkan lantai 4 ruang kerja dan ruang santai rooftop.


Sementara dibelakang mansion, jarak 10 meter dari mansion utama terdapat Rumah yang didalamnya ada dapur kotor dan kamar para maid, supir, body guard, satpam dan tukang kebun.


Halaman samping terdapat bunga-bunga dan tanaman hias lainnya, halaman samping dipergunakan jika ada acara BBQ dan pesta kecil yang sering diadakan Allard dan teman-temannya maupun wanita-wanitanya.


Halaman belakang juga tak kalah indah dan mewah, halaman belakang terdapat kolam renang yang memang hampir setiap hari digunakan Allard berenang, dan terhubung langsung dengan pantry dan ruang keluarga.


"dasar kampungan, baru melihat depannya saja dia sampai melupakan bernafas, apa lagi jika masuk kedalam rumah, sungguh udik sekali gadis ini"



Allard melenggang berjalan memasuki mansionnya, meninggalkan istrinya yang masih terkagum-kagum melihat keindahan dan kemegahan mansion Allard. Tica sangat antusias sekali bahkan dia sudah berkeliling Mansion untuk melihat keindahan itu, terlihat kampungan memang, karena dia tidak pernah melihat mansion semewah itu.


Sejak kecil Tica memang tidak pernah kekurangan, tetapi dia juga tidak pernah merasakan kehidupan mewah seperti ini.


Rumahnya pun hanya rumah mewah seperti halnya pengusaha-pengusaha biasa dan tidak semewah mansion Allard meskipun Prasetio tergolong pengusaha sukses di jawa sebelum kebangkrutan itu.


..........


"selamat Sore nyonya, saya Mila, Kepala pelayan di sini, selamat datang di mansion Tuan Allard".


Ucapan sang kepala pelayan wanita yang berumur sekitar 45 tahun itu mengalihkan atensi Tica, saat sedang asik mengagumi keindahan dan kemewahan mansion Allard.


"ya, selamat sore, Mila, anda bisa berbahasa Indonesia?"


"saya asli dari Surabaya nyonya, saya bekerja ikut ibu Tuan Allard sejak usia 17 tahun sampai sekarang nyonya".


jawab Mila sambil tersenyum, Mila merupakan WNI asal surabaya yang sudah bekerja bersama Ibunya Allard sampai sekarang, sempat pulang dan menikah saat usia 22 tahun tetapi ketika usia 25 tahun kembali lagi pada keluarga Allard, karena suaminya meninggal dan dia bekerja untuk anak semata wayangnya Aji, yang sekarang menjadi direktur diperusahaan Pramudya yang berada di Malang.


"aahh.... ternyata Begitu, baik lah, aku jadi tidak merasa sendiri disini",


Tica tersenyum sangat manis, setelah Mila menceritakan tentang dirinya.

__ADS_1


"saya akan menunjukkan kamar anda Nyonya"


"panggil saja Tica bi, lebih nyaman seperti itu".


"saya tidak berani nyonya, ini sudah aturan didalam keluarga Lee".


"baiklah, meskipun aku merasa kurang nyaman".


........


"wah.... Masyaallah"...


Ucap Tica takjub disini dia menempati kamar yang luasnya dua kali kamarnya di Indonesia, dengan fasilitas Ranjang king size, mini kulkas tempat minuman, kamar mandi yang dilengkapi dengan bathtub, shower dan disampingnya terdapat ruang walk in closed yang sudah dilengkapi dengan lemari pakaian, dalaman, pernak-pernik, tas dan bahkan tempat alas kakinya sudah tersedia di walk in closed itu, meskipun masih kosong.


Pelayan pria datang membawakan dua koper besar milik Tica yang sebelumnya dilupakannya, karena sibuk terkagum-kagum oleh kemewahan mansion Allard.


Dibantu dengan Mila dan beberapa maid wanita, Tica menyelesaikan kegiatan menyusun semua barang bawaannya didalam walk in closed miliknya, setelah beberapa kali menolak karena merasa segan, tetapi Mila dan maid lainnya terus saja melakukan tugasnya.



Tica masuk ke kamar mandi dan langsung berendam setelah sebelumnya menyalakan air hangat dan memberi sabun aromaterapi yang telah tersedia. Menikmati kenyamanan yang diperolehnya saat ini karena menjadi nyonya Allard.


.........


"tandatangan disini, David sudah memperbaharui kontrak pernikahannya".


Setelah membaca dan mencermatinya, sama persis seperti yang diinginkannya, Tica membubuhkan Tandatangannya dikertas itu.


"ini, ambil lah, credit card tanpa limit, tapi ingat, jangan memanfaatkan posisimu sebagai istriku dengan membeli barang-barang yang tidak penting"


Allard menyerahkan kartu berwarna hitam yang dilapisi dengan berlian 0,235 karat dan emas, yang tidak semua pengusaha memilikinya.


Dubai first royale mastercard ini hanya dimiliki oleh beberapa pengusaha terkaya di dunia dan salah satunya keluarga Allard, bahkan dikartu itu juga sudah tertera nama Allard sebagai pemilik.


Allard memberikan kartu itu pada Tica yang bahkan para wanitanya tak pernah sekalipun diberikan kartu itu, hanya kartu kredit biasa yang Allard berikan pada para wanita yang memuaskan ranjangnya.


Saat keduanya sedang berbicara tiba-tiba Tica dikejutkan dengan kedatangan gadis **** dengan body yang aduhai dan pakaian yang sangat minim, rok mini yang nyaris sampai bokongnya, bahkan atasannya berdada rendah, memamerkan belahan dadanya yang terlihat jelas.


"hay sayang, kenapa tadi malam tak datang ke party yang ku adakan di club?, aku merindukan mu".


Chintya berkata dengan bahasa koreanya yang dibuat mendayu-dayu, Dengan bergelanyut manja dileher Allard Chintya yang datang dan langsung menyerbu Allard, menciumi pipi serta rahang tegas milik Allard. Seketika langsung membuat Tica melongo melihat pemandangan didepan matanya itu.


"siapa perempuan itu Allard, gaya berpakaiannya aneh sekali, dia siapa? ".

__ADS_1


Pertanyaan Chintya tak langsung dijawab oleh Allard , Allard malah menyerbu bibir Chintya dengan ciuman panasnya yang membuat Tica seketika membuang muka dan merasa jijik dengan pemandangan itu.


"perkenalkan, Dia istri kontrak ku, Zantica, Dan Ica, perkenalkan Dia teman ku Chintya".


"ap-pa?, Istri? G, g mungkin kamu sudah menikah Allard, "


"hey tenanglah, Dia hanya istri kontrak ku, dan kita masih bisa bersenang-senang seperti biasanya".


Allard mengenalkan keduanya dengan tangan masih bertengger dipinggang Chintya yang berada dipangkuannya.


Apa apaan itu, bahkan dia istrinya, tetapi bermesraan dengan wanita lain didepannya.


Chintya mengulurkan tangannya yang sama sekali tak mendapatkan balasan dari Tica, merasa malas dengan tingkah keduanya, Tica pamit menuju kamarnya.


"gadis aneh bisa-bisanya berpakaian seperti itu".


Tica di rumah hanya memakai dress lengan panjang sampai mata kaki dan kerudung instannya. meskipun begitu masih tetap bisa membuat Allard takjub saat melihat Tica turun dari lantai 3 tadi.


"ceritakan, bagaimana bisa kau menikah dengannya Allard, sementara dari dulu kau selalu menolak jika ku ajak bertunangan, apa lagi menikah".


Allard menceritakan bagaimana dia bisa menikah dengan Tica, tentunya dengan sedikit cerita berbeda dari faktanya.


Sampai di kamarnya Tica langsung meneteskan air matanya mengingat nasib buruk yang menimpanya, cintanya tak sampai, bahkan dia menikah dengan wanita lain, sementara dia harus menikahi laki-laki yang jauh dari kata baik,


Mengapa Allah menakdirkan dia menjadi istri seorang Allard yang brengsek itu, bahkan didepan matanya, dengan santai bermesraan dengan perempuan lain.


Tica tidak menangisi Allard yang bermesraan dengan Chintya, tetapi menangisi jalan hidupnya yang tragis. Yang ntah sampai kapan bertahan dengan keadaan seperti ini.


Dari pada terus menangisi nasibnya tica memilih mempersiapkan wawancara dan hari pertamanya kerja. Dia bahkan belum tahu dimana kantor KBRI korea.


..............


hay sayang kuhhhh......


masih setu g nih alurnya..


yang jelas semuanya belum terungkap dan perjalanan Allard ma Tica masih panjang...


tetep vote, liken n coment yaa...


biar othornya syemangat nulis bab baru..


makasih ☺☺☺😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2