
Bercengkrama dengan teman-teman Allard ternyata tidak begitu membosankan, Allard mengatakan jika istrinya termasuk wanita yang cerdas bahkan dia merasa bangga memiliki Ica sebagai istrinya. Dia juga baru tahu istrinya jika ternyata ica adalah wanita yang mudah bergaul, tetapi kenapa dia hanya memiliki sedikit teman.
Allard sudah mengetahui keseharian Ica saat dia mencari tahu melalui orang suruhannya sebelum dia menikahi Ica. Itu sebabnya di kantor KBRI pun banyak teman-teman yang menyukainya.
Tetapi tiba-tiba Allard merasa tak nyaman kala Alan, sang sahabat melihatnya dengan rasa kagum pada istrinya yang mampu membawa diri dengan baik. Sangat terlihat jika Alan mengagumi istrinya, terlihat dari caranya memandangi istri kecilnya dengan tatapan berbeda, tatapan yang menurutnya terlalu mendamba, dan dia tidak menyukai itu.
Saat mereka tengah asik bercengkrama Handphone Tica yang berada dimeja Pantry berbunyi, Mila mengambilnya dan segera memberikannya pada sang nyonya.
Tica melihat layar yang terus berbunyi itu, di sana tertera nama Gaby, sang tangan kanan sekaligus desainer butiknya, Tica pun permisi untuk mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum Gab".
"waalaikumsalam mba, ada kabar yang harus saya beritahukan sama mba Tica"
"ya, ada apa Gab?".
"mba, setelah diselidiki polisi dan asisten kakek Pras, ternyata orang yang melempari butik mba bukan murni orang gila, dia merupakan orang suruhan dari pak Hariyanto"
Tica memejamkan matanya seraya beristrighfar, beberapa hari dia menganggap disini tenang dan tak ada ancaman, ternyata om Har masih terus saja ingin menghancurkan usahanya. Apa sebenarnya motif om Har yang sesungguhnya, kenapa dia terus saja menghantui Tica.
Padahal Tica sama sekali tidak pernah mengganggu kenyamanan om Har sama sekali, dia bahkan sengaja menutup mata atas tindakan om Har yang memang memiliki beberapa wanita simpanan jika dia membutuhkannya.
Tica tak pernah menyinggung masalah kehidupan om nya apa lagi didepan istri dan anaknya. Karena dia pikir itu merupakan urusan rumahtangga om nya dan dia tidak pernah ikut campur sama sekali.
"baiklah Gab, terimakasih karena sudah mengabari ku, aku akan segera menghubungi asisten kakek".
"(................) "
"ya, waalaikumsalam".....
Hemmmzz.......
Tica menghela nafas beratnya saat mencoba tersenyum meskipun terlihat menyedihkan. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh om Har, dia rasa om Har bukan hanya menginginkan kematiannya, ada hal lain yang entah apa dan belum Tica ketahui.
Tica segera mencari nomor pak Dwi asisten sang kakek dan langsung mendial nomornya, sembari berjalan ke arah kolam renang, karena dia merasa ini adalah pembicaraan pribadinya.
Setelah beberapa kali berbunyi Tut.. panggilannya diterima sang asisten kakeknya.
"Assalamualaikum pak Dwi, bagaimana kabarnya"
Tica sedikit berbasa-basi terlebih dahulu sebelum dia menanyakan kasus butiknya.
"Tica baru saja mendapatkan kabar dari Gaby tentang insiden butik kemarin, bagaimana sebenarnya pak Dwi?"
__ADS_1
"ya mba, yang dikatakan mba Gaby memang benar, ternyata memang bukan orang gila tetapi orang suruhan Hariyanto yang menyamar sebagai orang gila, dan juga untuk beberapa donatur tetap panti yang sekarang berhenti, itu juga merupakan bagian dari rencana Hariyanto".
"sebenarnya apa motif om Har yang sesungguhnya pak, kenapa dia selalu mengganggu ketenangan hidup ku, padahal aku sudah beberapa bulan ini sama sekali tidak pernah mengungkit keuntungan perusahaan yang tidak pernah sampai ke panti".
"saya akan segera mencari tahu yang sebenarnya mba, akan saya laporkan segera jika hasilnya sudah ada".
"baiklah pak Dwi, terimakasih atas dedikasinya meskipun kakek sudah tidak ada, tapi pak Dwi masih mau terus membantu ku"
"(............)"
"baiklah pak Dwi, Assalamualaikum".
.............
Tica berbalik ingin masuk kedalam, tetapi ternyata Allard menyusulnya terlebih dahulu,
"kemana mereka semua? "
Tica yang heran melihat kedalam sudah tidak ada siapa pun lagi bertanya pada Allard.
"mereka sudah pulang, sengaja tidak pamit sama kamu, tadi terlihat sangat serius menelpon"
Jawab Allard sambil duduk dikursi malas pinggir kolam.
"oh,,, begitu".
Tica menimbang, bagaimana baiknya, apakah harus menceritakan semuanya pada Allard, atau memilih diam dan cukup dia hadapi sendiri.
"tidak ada yang penting, hanya masalah butik dan panti".
"baiklah, tapi jangan sungkan mengatakan pada ku jika butuh bantuan ku"
Tica hsnya mrngsngguk merespon perkstaan Allard, Allard membiarkan Tica menghadapi sendiri masalahnya, bukan karena apa pun, hanya saja dia menghargai setiap urusan pribadi Tica, baginya jika istrinya tak mengatakan padanya, berarti dia masih mampu mengatasinya sendiri. Tapi bukan berarti dia tidak mencari tahu, begitulah cara Allard memperlakukan istri kecilnya.
Allard sadar jika istrinya itu merupakan seorang wanita tangguh, perlahan dia ingin istrinya itu membagi semua masalah padanya, tetapi dia juga tahu jika istrinya itu merupakan wanita yang mempunyai harga diri yang tinggi, dia merasa malu jika meminta bantuan Allard.
................
"temani aku berenang"
"aku sudah mandi Allard"
Tica terlalu malas jika harus berbasah-basahan lagi, terlebih hari ini angin bertiup sedikit kencang, yang bisa membuatnya kedinginan jika berenang air dingin.
__ADS_1
Meskipun dia bisa berenang, tetapi dia tidak terlalu menyukai olah raga yang satu ini, karena memang membutuhkan waktu yang lama mengeringkan rambutnya yang panjang.
"ayo lah, tak ada salahnya mandi lagi bukan"
"aku temani disini saja, kau masuk lah ke kolam".
Allard tak ingin memaksa istrinya, dia lantas membuka kaos dan celana pendeknya, dengan begitu cuek dan tidak tahu malu hanya menyisakan celana renang saja, yang secara otomatis membuat Tica memalingkan wajahnya.
Jantungnya berdetak dengan cepat saat dia melihat bagaimana tubuh suaminya yang terpahat sempurna, dengan punggung lebar dan dada yang terlihat kokoh, jangan lupakan roti sobek yang membuat otot perutnya terlihat seksi menurutnya.
Tica segera membuang pandangannya saat matanya hampir saja melihat kearah bawah perut Allard, dia tak mau terbayang apa yang berada disana. Tica merutuki kebodohannya yang sudah menyanggupi menemani Allard berenang, bahkan sekarang dia terlihat salah tingkah dengan pipi bersemu merah.
Tica terlalu malu terus berada disana dan melihat tubuh Allard, yang baru kali ini dilihatnya, dan baru kali ini juga dia melihat tubuh seorang pria.
A
Allard yang belum menyadari jika Tica sangatlah canggung sekarang ini bersikap cuek dengan terus meliuk-liuk kan tubuhnya didalam air, kemudian setelah beberapa menit dia menepi dan meminta pada Tica untuk mengambilkan orange jus yang telah disediakan Mila dimeja sebelahnya.
Tica dengan kikuk mengambilkan orange jus dan memberikannya pada Allard dengan tangan bergetar, dan Allard yang tidak peka menganggap Tica sedang tidak enak badan.
"apa kau sakit?, kenapa tangan mu bergetar dan wajah mu memerah seperti itu? "
"ti-tidak aku baik-baik saja"
Jawab Tica dengan terbata, lidahnya terasa kelu menjawab pertanyaan Allard.
Allard yang tidak puas dengan jawaban istrinya itu lantas mengulurkan tangannya menyentuh dahi dan pipi Tica, yang sontak saja membuat Tica sedikit menjauh.
"aneh sekali, kau tidak demam, tetapi wajah mu memerah seperti tomat".
"cepat selesaikanlah berenang mu, aku mau cepat naik keatas".
Jawab Tica sembari melengos kesamping menghindari kontak mata dengan Allard.
.........................
sampai disini dulu nanti disambung lagi...
dah mulai nih keuwuan mereka si Tica malu-malu meong awas kena cakar babang Allard nya πππ€£π€£π€£
__ADS_1
jangan lupa kasih vote, liken comen yaa...
makasih... βΊβΊβΊππππππ