
Menaiki anak tangga kelantai 3 berasa jauh dan berat, mengingat kakinya yang masih belum sepenuhnya pulih pasca insiden kecelakaan itu, sementara keningnya dia selalu mengganti perban sendiri.
Sampai larut malam jam 1 waktu korea yang selisihnya 2 jam dari indonesia, Tica belum juga mampu memejamkan matanya, hpnya sudah disetting sedemikian rupa oleh David asisten Allard, jadi sudah bisa digunakan olehnya.
Denting ponselnya berbunyi dan dia mendapatkan email dari entah siapa, dalam pesan itu dia mendapatkan tawaran pekerjaan diluar jam kerja, yang anehnya pekerjaan itu membuatnya seperti seorang agen intelijen tapi hanya bagian negosiasi.
Email itu menawarkan dia menjadi seorang negosiator untuk urusan apa pun jika kesepakatan telah diperoleh maka dia akan mendapatkan imbalan yang besar
Tica masih bingung bagaimana orang tersebut tahu alamat emailnya dan kemampuan berbahasanya yang mampu menguasai 5 bahasa yaitu bahasa indonesia, Inggris, Mandarin, Korea dan Arab.
Tica memang tergolong anak yang cerdas sehingga waktu SMP dan SMA dia mengambil Kursus les bahasa asing, dengan kemampuannya dia cepat menguasai 4 bahasa itu dan sekarang sedang mempelajari bahasa rusia secara otodidak dari film dan internet.
Tica meminta waktu paling tidak seminggu untuk memutuskan menerima atau menolak tawaran kerja tersebut, dia harus menimbang baik dan buruknya untuk dirinya sendiri.
"he'em.... baiklah kek terimakasih, tetap lah sehat terus nanti liburan Tica pulang".
Mengakhiri panggilan teleponnya Tica segera membaringkan dirinya di ranjang yang sangat empuk dan nyaman itu.
"ranjang sulthan memang beda"
Monolognya dalam hati. Kemudian mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk dan lelah setelah seharian kesana-kemari.
..................
Pagi harinya seperti biasa Tica menyetel alarm jam 6 subuh waktu korea. Disini matahari terbit jam 06.30 menit jadi dia masih punya waktu mandi, shalat dan bersiap-siap sebelum berangkat kerja.
"selamat pagi bi"
Sapa Tica pada Mila, Kepala pelayan itu tersenyum dan menjawab sapaan mila.
"selamat pagi nyonya, bagaimana tidurnya semalam? apakah nyenyak?? ".
"ya, sangat nyenyak bi, sedang membuat apa? "
"membuat sarapan untuk tuan dan nyonya, tuan biasanya sarapan buah dan roti dan sejenisnya serta minum kopi, nyonya mau saya buatkan apa? "
"seadanya saja bi, saya tidak terlalu masalah dengan makanan, saya mau buat teh bi".
"Mina, bisakah buat kan teh nyonya sekarang".
"tidak usah bi, saya buat sendiri saja"
"lalu membiarkan kami semua dimarahi tuan,"
Sambil tersenyum, mila menjawab ucapan Tica, dan dia hanya bisa pasrah dan menunggu dimeja pantry.
__ADS_1
Matanya langsung melirik kala melihat Allard keluar dari kamar tamu lantai bawah hanya dengan menggunakan bathrobe dan Chintya yang menggunakan busana yang sama dengan Allard, masih saja mengekori dan bergelanyut manja pada lengan kokoh Allard,
Semua pelayan hanya bisa saling diam dan melihat kearah nyonya rumah dengan pandangan iba, sementara yang ditatap seperti itu hanya mendengus dan acuh kemudian menyeruput tehnya dan memakan Sandwich buatan Mila,
Allard memang selalu menggunakan kamar tamu lantai 1 jika dia sedang membawa teman wanitanya ke mansion, dia tidak pernah membiarkan wanita manapun masuk kedalam kamar pribadinya dilantai 3.
Sambil masih melirik kearah dua pasang manusia yang bertingkah memuakkan itu, keduanya duduk didepan meja makan dan menikmati sarapan paginya.
Chintya memandang sinis pada Tica,
"gaya berpakaian mu sangat aneh, semuanya serba panjang dan besar bahkan memakai penutup kepala, orang-orang seperti mu memang aneh"
"Chintya apa peringatan yang kukatakan tadi tidak kau dengar? "
Tegur Allard pada Chintya yang mengolok cara berpakaian Tica, seketika Chintya langsung menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya, dia terlalu takut jika Allard marah maka semuanya akan hancur termasuk karirnya yang menjadi model terkenal yang ssat ini sedang naik daun.
Tica masih dengan gaya acuhnya sama sekali tidak membalas perkataan Chintya. dan segera menghabiskan sarapannya.
Mila memberikan obat pada Tica, yang semua sudah diberitahu oleh David kemarin, jika nyonya sedang sakit dan memberikan obat yang didapat dari dokter keluarganya di Indonesia kemarin.
"ini nyonya, minum obat dulu"
"iya bi, terimakasih, "
Tica meminum obatnya yang saat itu diperhatikan oleh Allard, Ia lupa jika istrinya itu sedang sakit dan malah naik turun tangga di mansionnya.
Sambil terus mengunyah sandwich, Allard menanyakan keadaan kaki tica.
"sudah membaik"
Balas tica cepat,
"aku berangkat kerja dulu"
"pergilah dengan supir ku, aku berangkat sendiri nanti"
"baiklah terimakasih, aku juga belum tau kantor KBRI dimana"
Tica melenggangkan kakinya menuju depan mansion yang sudah ditunggu oleh supir pribadi Allard.
Allard memandang Tica yang berjalan dengan masih terpincang-pincang, memakai celana warna hitam berbahan Thaisilk, kemeja hitam dipadukan dengan cardigan panjang warna abu-abu tua, serta pasmina hitam dan tas kerjanya yang menggantung dipundaknya.
Terlihat mempesona memang jika wanita memakai pakaian kantor resmi. Bola mata Allard masih terus mengikuti pergerakan istri kecilnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan,
__ADS_1
Wah... lihatlah aku istrinya pergi dengan supir, sementara wanita itu diantarkan langsung olehnya, apakah semalam mereka berdua juga melakukan itu.....
ah ... sudahlah jangan memikirkan itu, mungkin memang seperti itu kehidupan Allard selama ini,
............
Sampai dikantor KBRI Tica disambut dengan baik, hanya beberapa pertanyaan interview dan room tour supaya memahami kantor tempatnya bekerja, Tica langsung ditunjukkan tempat kerjanya dan apa saja yang harus ia kerjakan, berapa lama waktunya bekerja.
Pulangnya, Tica masih dijemput dengan supir pribadi Allard, begitulah kehidupan awal Tica di Seoul.
............
Tak terasa sudah seminggu Tica bekerja dan dia sangat menyukai pekerjaannya meskipun banyak dokumen yang harus diketik dan diselesaikan, mengenai semua urusan yang berhubungan dengan dua negara itu.
Pekerjaan KBRI adalah membina seluruh hubungan dan membela kepentingan Indonesia dengan suatu negara mulai dari politik, ekonomi, sosial budaya hingga perlindungan WNI.Β Tica hanya bekerja sampai hari jumat, hari sabtu dan minggu libur weekend.
..............
Tak lain halnya dengan kehidupan Tica, Kehidupan Allard pun masih berjalan sebagaimana mestinya, dia masih bekerja, setiap malam pun kadang dihabiskan di club malam dan berakhir membawa wanita kemansionnya, yang lebih membuat Tica heran wanitanya tidak hanya Chintya
Sudahlah dari pada terus saja memikirkan Allard dan setiap hari melihat kemesraannya di pagi hari, Tica akan merasa muak dan memilih sarapan dibelakang bersama para maid.
Hal itu membuat Allard jengkel, kenapa dia malah memilih makan bersama pelayan. jika kebetulan satu meja pun hanya saling diam, dan tica terus saja cuek dengan Allard, justru tingkahnya itu yang membuat Allard tertantang bahkan ketika bersentuhan secara tidak sengaja pun Tica seolah jijik dan marah.
Kenapa dia bersikap seperti itu padahal ratusan wanita mengantri untuk ku sentuh, sok suci sekali, padahal aku berhak atas tubuhnya, karena aku suaminya. Monolog Allard dalam hati.
Lambat laun Allard merasa penasaran dan dia menyuruh bodyguardnya mengikuti pergerakan Tica, yang ternyata dikantor Tica bisa bersikap biasa dan bergurau bersama teman-teman lelakinya tanpa sungkan. Meskipun tanpa bersentuhan.
Tetapi Allard menganggap Tica hanya tidak mau berinteraksi dengannya saja, sehingga itu membuatnya marah.
...........
Hari ini Tica mendapatkan tugas tambahan dan dia menerima pekerjaan sebagai Negosiator, kali ini dua orang pengusaha membutuhkan jasanya untuk menyelesaikan negosiasi yang sudah lama belu menemukan kesepakatan.
Di restoran hotel bintang lima ini, Tica sudah menunggu Kliennya, seorang pengusaha Eksport impor barang yang terkenal culas, karena dia sama sekali tidak mau rugi sedikit pun dalam perjanjian ini.
...............
Catatan Penulis..
Hay silent readers kuh ...
gimana tambah seru apa membosankan??
yuk komen, like n vote ya...
__ADS_1
makasih... ππππ