
Ica menyusul sang suami yang sudah terlebih dahulu berjalan ke lantai atas, sementara dia menyelesaikan membereskan sisa makanan, yang yang tadi disantapnya bersama sang suami. Dia masuk ke kamar mereka dengan langkah yang sedikit berat, pasalnya saat ini perutnya kembali di dera rasa tidak nyaman, Padahal dia pikir akan membaik setelah tadi dia mencoba mengompresnya dengan air hangat.
Setiap tamu bulanannya datang, itu merupakan saat-saat yang sangat menyiksanya selama ini, saat masih di Indonesia dia bahkan selalu meminta pada bi Surti untuk meresepkan obat pada Hafidz jika sedang datang bulan.
Selama di sini dia lebih memilih membelinya sendiri di apotik saat pulang kerja, tetapi hari ini dia tidak keluar mansion, dan dia enggan meminta tolong pada Mila, karena Mila pasti akan melaporkan pada Allard, mengetahui jika sang suami sangat overprotektif padanya membuat Ica terlalu malas, dan pasti akan berbuntut panjang.
Duduk di tepi ranjang, dia melihat sang suami yang baru saja berganti pakaian menggunakan piama tidur, Ica sendiri sebenarnya ingin berganti dengan baju tidur ternyamannya, tetapi belum pernah ia pakai lagi saat dia pindah ke kamar Allard, Ia masih merasa kurang nyaman, jika memakai dres selutut dengan lengan pendek.
Ica memilih merebahkan dirinya di ranjang, membuat Allard mengernyitkan keningnya, istrinya terlihat sedikit aneh malam ini.
"hey, kenapa dengan mu honey?".
Allard bertanya sembari melangkahkan kakinya menuju ranjang king size miliknya, kemudian duduk sembari mengamati istrinya yang malam ini terlihat sedikit pucat.
"tak apa, tidurlah sudah malam".
Jawab Ica, sambil menepuk bagian kosong disebelahnya, memberikan isyarat agar dia segera ridur. Dia tidak ingin mengeluh, karena dia tahu sang suami sedang sangat lelah hari ini.
"tunggu, kau terlihat pucat sayang, ada apa? apa kau sakit?"
Allard bertanya sembari memastikan kondisi Ica, dengan menyentuh dahi dan pipinya yang bahkan Ica belum membuka hijabnya, Ica takut jika ada bodyguard atau anak buah kesayangan Allard yang datang tiba-tiba saat dia tidak mengenakan hijab, jadi makan malam pun dia menggunakan hijabnya.
Ica menjawab pertanyaan Allard dengan senyum kecil dan gelengan, dia kemudian menyentuh perutnya saat rada sakit itu semakin menggigit, membuatnya mengeluarkan keringat dingin.
"aneh, badan mu tidak panas, tapi kenapa wajah mu terlihat pucat?".
Allard melihat istrinya memegangi perutnya, seketika dia mengingat jika tadi pagi Ica mengeluh perutnya kram, dan dia kembali bertanya,
"apa perut mu masih sakit?"
Ica mengangguk sembari menunduk, dia memegangi perutnya dan dia memilih membungkuk.
"tunggu, aku panggilkan Harry sebentar".
Ica yang sedang merasakan sakit di perut bagian bawahnya memilih diam, karena memang perutnya sungguh terasa sakit. Tak lama terdengar suara berdengung dan panggilan telepon Allard tersambung.
"Hallo Harry, bisakah kau datang ke mansion ku?, istri ku sakit perut, dia kram".
__ADS_1
"ya All, apa dia diare, salah makan atau apa?".
"dia sedang mendapatkan menstruasinya".
"kalau begitu sebaiknya kau memanggil dokter Fellycia saja, aku tahu istri mu sedikit tidak nyaman dengan dokter pria".
"ah ya, aku lupa, baiklah terimakasih".
Dokter Harry mematung mendengar ucapan terimakasih dari bibir Allard, hal yang jarang bahkan tak pernah dia lakukan selama ini.
..... .....
Setelah mendapatkan pemeriksaan dan obatnya Allard mengantar dokter Felly ke lantai satu, dia juga mengucapkan terimakasih pada dokter felly, kemudian kembali ke kamarnya.
Terlihat Ica sedang tertidur dengan posisi miring dan masih terus memegangi perutnya, meskipun sudah meminum obat tetapi rasa sakit itu masih terasa.
Allard merebahkan dirinya dibelakang sang istri, dia memeluk Ica dan menyelusup kan tangan kanannya sebagai bantalan Ica, dan tangan kirinya masuk kebalik baju yang dikenakan istri kecilnya, menyentuh perut sang istri dan menempelkan telapak tangannya di bagian perut bawahnya, seperti saran dari dokter Felly, hawa hangat dari suhu tangan Allard membuat Ica terasa nyaman.
Tidak menunggu lama Ica memejamkan matanya, karena efek obat yang diminum serta rasa hangat dari Allard membuat perutnya semakin membaik. Tak lama Allard pun menyusul sang istri mengistirahatkan badannya.
.................
"bagaimana ini, kau memang ceroboh Ca".
Ucap Ica lirih sembari menghembuskan nafas beratnya. Meskipun lirih tetapi Allard yang memang sudah terjaga itu menjawab dengan mata terpejam.
"apanya yang bagaimana sayang?".
Ucapan Allard itu seketika membuat Ica menundukkan kepalanya, dengan rasa cemas dan khawatir, dia menatap Allard yang perlahan membuka kedua matanya. Dengan takut-takut Ica menarik nafas dan menunjuk arah seprei dan bagian depan Allard.
"maafkan aku All, aku tidak sengaja mengotori seprai dan celana mu".
Ucap Ica sambil menunduk, dia melihat ekspresi Allard yang sedikit terkejut, tetapi kemudian dia tersenyum, menatap netra sang istri yang terlihat ketakutan itu.
"it's ok honey, tak apa, hanya tinggal menggantinya saja"
Jawab Allard sambil tersenyum kemudian dia bangun, melihat celana bagian depannya yang terlihat noda merah cukup banyak juga di seprai yang mereka tiduri.
__ADS_1
Hal yang tak pernah Allard lakukan sebelumnya, bahkan jika dia tidur dengan wanita lain dan saat setelahnya wanita itu menstruasi, dan darahnya tembus mengenai seprai yang digunakan, Allard akan langsung murka, dan mengusir perempuan itu, seketika dia tidak mau lagi menggunakan wanita yang sama untuk kesenangannya.
Tetapi kenapa kali ini berbeda, dia bahkan tersenyum dan membantu Ica membereskan seprai yang dikenakannya, Ica tidak mau jika dicuci oleh para maid, dia merasa tidak nyaman, dan memilih mencucinya sendiri.
Allard yang tidak tega melihat istrinya mencuci seprai dengan kondisi yang masih lemah, dengan cara manual menggunakan tangan, jam lima pagi itu pun akhirnya membantunya, dia bahkan mencuci celananya sendiri dan kemudian menggantinya.
Allard sama sekali tidak marah dia ikut memasang seprai yang baru lagi, setelah itu dia memutuskan keruang gim yang berada dilantai dua, untuk olah raga, sementara Ica memilih menyiapkan sarapan pagi.
....................
David menyusul Allard kelantai dua, untuk melaporkan kabar terbaru, jika dia sudah berhasil masuk ke perusahaan milik Adam Aimo untuk bekerja sama. Hal itu disambut baik, Adam Aimo tidak mengetahui jika perusahaan makanan ringan asal korea itu juga milik Allard, karena sepenuhnya atas nama Darius.
Allard memberikan kepercayaan pada David, Darius dan juga Leo, masing-masing anak perusahaan yang baru didirikan, untuk mengajarkannya memimpin perusahaan itu.
Ya, memang seloyal itu Allard dengan orang yang sudah dipercayainya. Dia sangat memikirkan masa depan para anak buah kepercayaannya, dengan memberikan kepercayaan itu, Allard berharap mereka belajar mengelolanya.
Setelah dirasa anak buahnya cukup mampu, maka Allard akan memberikan perusahaan itu sepenuhnya pada mereka, dengan cara bagi hasil. Itulah mengapa semua anak buahnya begitu setia pada Allard.
Tetapi jika ada yang berani menghianatinya, dia tidak akan segan-segan untuk menghancur leburkan sampai tidak tersisa, karena itu hukuman yang pantas untuk seorang penghianat menurut Allard.
"saya sudah berhasil mengajak perusahaan yabg dikelola Darius untuk bekerja sama dengan perusahaan makanan ringan milik Adam Aimo tuan, dan sebentar lagi saya juga akan masuk ke perusahaan s*su formula miliknya".
"kerja bagus Dav, tapi ingat, kita harus benar-benar menggunakan cara halus, supaya dia tidak mengetahui tujuan kita yang sesungguhnya".
Allard berkata dengan santai, masih tetap melakukan olahraganya. Dia tersenyum puas dengan kerja anak buah andalannya.
"baik tuan, saya akan melakukannya, seperti yang anda inginkan".
Setelah itu keduanya keluar dari lantai dua, Allard menuju kamarnya untuk bersiap, David menuju lantai satu, karena Allard mengajak ketiga anak buah terbaiknya itu, untuk sarapan bersama setelah ini.
....................... ......................
Selamat pagi sayang, maaf kemarin ada masalah sama aplikasinya jdi g bisa Up...
makasih bgt yg mau tetep setia nunggu karya receh ku....
Jan lupa kasih vote, like n comen yaa...
__ADS_1
makasih , βΊβΊβΊππππππππ