MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Transfer Energi


__ADS_3

"hahaha.... "


Hariyanto tertawa dengan wajah bengisnya, kemudian dia menatap tajam ke arah Pram, Pramudya yang dibuat semakin tidak sabar segera mengeluarkan ponselnya, sementara sang asisten segera mengeluarkan stopmap berwarna hijau, kemudian dia membuka dan menyerahkan beberapa lembar surat jual beli dan kepemilikan atas perusahaan tekstil yang cukup besar di semarang itu, yang beratas nama Hariyanto.


Seketika itu mata Hariyanto membulat sempurna, setelah berhasil membaca surat-surat apa itu. Dia segera menatap nyalang kearah Pram dan dengan langkah maju kedepan tetapi segera dicegah oleh anak buah Pram, dan segera didudukkan kembali ke kursinya semula.


"apa mau mu pak tua?".


"selain otak mu yang tak berfungsi dengan benar, ternyata telinga mu juga t*li rupanya, selagi aku baik hati, katakan siapa yang sudah menyokong mu selama ini".


Allard yang tidak tahu menahu pun dibuat bingung, sebenarnya kertas apa yang ada di dalam stopmap itu hingga bisa membuat Hariyanto sangat kalut.


"aku bekerja sendiri atas balas dendam ku, jadi tidak ada yang menyokong ku sama sekali".


Pram tersenyum masam, kemudian dia maju mendekat kearah Hariyanto, sambil meraih ponselnya yang kali ini telah terhubung dengan pengacara kepercayaan Hariyanto.


"jika kau masih menutupi semuanya dari ku, baiklah, jadi perusahaan tekstil yang kau bangun dari hasil korupsi mu di HF, akan segera menjadi milik Ica sepenuhnya, aku sudah menyiapkan berkasnya dan kau akan segera membusuk dipenjara".


"perusahaan tekstil apa maksud grandpa? jadi dia mendirikan perusahaan dari dana HF secara diam-diam?"


Allard yang berhasil membaca situasi akhirnya mengerti arah pembicaraan kedua orang beda generasi tersebut dan Pram segera mengangguk kemudian menjelaskan secara rinci bagaimana hingga HF bisa kolaps dalam waktu yang sangat cepat, ternyata Haroyanto lah dalang dari semua ini.


Allard memang sudah mengetahui jika Hariyanto korup, tetapi dia tidak menyangka jika hasil korupnya dipergunakan untuk membangun perusahaan tekstil atas namanya sendiri, sungguh definisi orang yang tidak tahu terimakasih.


"brengs*k, lalu apa mau mu tua bangka?".


Hariyanto masih berbicara dengan pongahnya dangan menatap tajam kearah Pram, kemudian Pram segera mendial nomor pengacara Hariyanto, yang sudah berpihak pada Pramudya.


"lakukan akuisisi sekarang juga".


Setelah itu Pram memutuskan sambungan setelah mendapatkan jawaban dari pengacara Hariyanto.


"sial, jangan lakukan itu, aku membangunnya dengan susah payah".


Ucap Hariyanto yang tidak tahu malu pada Pram yang saat ini justru tersenyum mengejek.


"susah payah dari mana jika kamu hanya memindahkan uang mu saja, tanpa benar-benar memiliki modal sepeser pun, sungguh manusia menjijikkan".


Pram kemudian berbalik arah dan mengatakan pada bodyguard Allard untuk tetap menyandra Hariyanto disini. Tak lupa Pram juga mengajak serta Allard keluar dari ruang bawah tanah itu.

__ADS_1


"Sandi Bagaskoro".


Dengan sedikit berteriak, Hariyanto berhasil menghentikan langkah Pram dan rombongannya yang nyaris menutup pintu ruang bawah tanah itu.


"dia yang mengatakan jika Pras adalah dalang kematian kedua orang tua ku, dan dia juga orang yang telah berhasil mengelabuhi kepolisian Seoul, atas kematian anak dan menantu mu, aku baru mengetahui hal itu kemarin".


Pram seketika mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya. Rupanya musuh bebuyutan yang dianggapnya sudah menyatu dengan tanah itu masih bisa menghirup oksigen dengan baik, bahkan berhasil menghasut Hariyanto yang telah dibesarkan oleh Pras.


Pram tetap melanjutkan langkah kakinya, meskipun Hariyanto sudah mengakui siapa dalang dibalik semua peristiwa pembunuhan berantai dalam keluarga Pras dan keluarganya.


Allard yang dibuat penasaran dengan nama baru itu segera menyusul langkah sang kakek yang terlihat sedikit tergesa menuju ruang tengah mansion yang diikuti oleh sang asisten.


Dia segera mendudukkan dirinya di sofa terbaik mansion mendiang sang anak, menghirup oksigen dengan dalam dan menghela nafas tuanya, memijit pelipis yang tiba-tiba terasa berdenyut hebat, saat mengetahui sang musuh bebuyutan yang dia kira sudah tiada, tetapi ternyata masih bisa bernafas bahkan mungkin sedang menertawakan kebodohannya yang berhasil dia kelabuhi.


Allard membiarkan sang kakek tenang terlebih dahulu sebelum menanyakan semuanya, dia yakin saat ini grandpa sedang tidak baik-baik saja, dia terlihat syok, Pram menyadari jika langkahnya masih sangat panjang dan melelahkan, dia akan berusaha menyelesaikan dan mengurai satu persatu benang kusut yang telah menjadi gumpalan yang membesar tidak teratur.


"kakek akan menceritakan dari awal bagaimana aku, Pras dan Sandi bisa menjadi seperti ini".


Allard mengangguk mengerti dan dia mendengarkan penjelasan sang kakek tanpa menyela sedikit pun. Pram kemudian menjelaskan tentang hubungan persahabatan yang dulu ketiganya jalin erat, tetapi karena suatu masalah mereka menjadi jauh hususnya Sandi.


Istri Pras dulunya merupakan wanita muda dengan paras rupawan dan banyak teman-teman dan laki-laki yang dulu tertarik padanya tidak terkecuali Sandi, dia mencintai Sinta cukup lama sampai akhirnya dia mengutarakan isi hatinya, tetapi pada saat itu ternyata kedua orang tua Pras dan Sinta berniat menjodohkan anak mereka dan pada akhirnya Sandi merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.


Tetapi nyatanya dari penjelasan sang asisten yang baru saja mengintrogasi Hariyanto, dia hidup dalam identitas yang berbeda, dan Hariyanto sendiri belum pernah bertemu dengan Sandi, hanya berhubungan melalui telepon, tanpa dia tahu dimana sebenarnya keberadaan Sandi yang sesungguhnya.


.........................


Allard membuang nafas lelahnya, kemudian berjalan memasuki kamar rawat sang istri, yang malam ini juga akan segera dia bawa pulang.


Dia tidak ingin mengambil resiko setelah mengetahui musuh yang sebenarnya ternyata orang yang sama sekali tak ia kenal.


Allard mencoba mencari tahu keberadaan Sandi melalui teman-temannya di dunia hitam, dia mengerahkan semua kekuasaannya, karena jika dia masih hidup, masih akan terus mengancam keamanan sang istri, meskipun alasan yang membuat pertengkaran sudah tiada yakni Sinta, nenek Ica.


Allard tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sandi yang masih terus mengikuti egonya meskipun orang yang menjadi sumber masalah sudah tiada dan hanya tersisa sang kakek saja. Mungkin dia sudah kepalang malu untuk melangkah mundur, sehingga memilih tetap maju menghancurkan sampai ke akarnya supaya puas.


...........


"hey sayang, maafkan aku meninggalkan mu cukup lama".


Allard berjalan masuk dan mendekat kearah Ica sembari mencium puncak kepala sang istri sedikit lama. Dia berusaha mentransfer energi positif dari sang istri. Setelah seharian dibuat pusing dengan kelakuan Hariyanto dan Sandi.

__ADS_1


"it's ok All, ada Mila yang menemani ku, kita pulang sekarang?"


Allard mengangguk, kemudian tersenyum, dia senang sang istri tidak terlihat ketakutan seperti saat dia diculik oleh Keemo Yen.


"yuk, pulang sekarang All, aku rasanya segera ingin tidur di mansion, di sini tidak nyaman".


"as your wish Honey".


Ucap Allard sembari mencubit hidung kecil sang istri dengan gemas, dia lalu menggendong Ica ala bridal style dan membawanya menuju mobil yang sudah terparkir didepan lobi.


.........


Allard menidurkan Ica di ranjang king size miliknya, kemudian dia pamit untuk membersihkan tubuhnya, sementara Ica yang sudah di seka tubuhnya oleh Mila di RS memilih bermain ponselnya, dan berbalas pesan dengan Lala, sang sahabat yang sudah jarang berkabar itu.


"rupanya ponsel lebih menarik dari pada aku ya"


Ica seketika melihat ke arah Alard yang sudah merebahkan dirinya disisi Ica dengan berbantalkan tangan yang ditekuk sembari melihat kearahnya dengan wajah sedikit masam, karena sedari tadi perhatian sang istri hanya tertuju pada ponselnya saja.


"maaf, aku berbalas pesan dengan Lala, baiklah yuk tidur, sudah malam"


"aku sangat lelah hari ini, bisakah tolong transfer energi mu pada aku?".


"bagaimana caranya?".


Kening Ica berkerut tak paham dengan permintaan Allard kali ini. Allard lalu mendekatkan wajahnya dan meraih bibir sang istri yang gagal membuatnya untuk tak menyentuhnya saat ini. Allard mencium bibir mungil itu dengan sedikit menuntut.


Ica yang masih belum bisa mengimbangi ciuman sang suami hanya bisa mengikuti kemauannya dan jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat, saat Allard berhasil menindihnya, dan mengurung Ica diantara kedua tangannya yang kokoh.


Bola mata Ica bergerak gelisah, semua kemungkinan itu berkecamuk dalam pikirannya, tanpa tahu tujuan Allard saat ini. Meskipun tak mengucapkannya, tetapi instingnya sebagai wanita mulai memahami energi seperti apa yang dimaksud oleh sang suami.


.....................................


Selamat malam,,,,


selamat membaca part ini menjelang istirahat..


Kenapa Ica kadang-kadang jadi bloon klo interaksi ama singa yaakkk... 🀣🀣🀣


jan lupa tetep vote, like n comen yaa....

__ADS_1


love you kalian semua.. πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2