MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Titik Terendah Zantica Rahma


__ADS_3

Ica mengendarai motor sport milik Bodyguardnya membelah malam kota Seoul, yang malam ini terasa dingin, badannya terasa sangat-sangat sakit, tetapi dia harus tetap bisa menjaga konsentrasinya untuk bisa sampai ke mansion Allard.


Meskipun menyetir dengan tangan yang terluka bahkan beberapa kali dia tampak kesusahan menarik tuas koplingnya karena luka ditangan kirinya yang terasa perih.


Tiba di mansion Allard, dia segera mengembalikan kunci motor milik bodyguardnya dan segera berjalan dengan tertatih, nyeri di pangkal pahanya belum sembuh, kepalanya terasa pusing dan berdenyut akibat terlalu banyak mengeluarkan darah, lengannya juga terasa ngilu saat ini.


Waktu menunjukkan pukul 01.00 malam waktu Seoul, dia segera menaiki anak tangga untuk mencapai pintu utama mansion. Saat dia membuka pintu utama dan akan menaiki anak tangga, dia dikejutkan dengan kehadiran Allard dan juga Evelyn yang sedang berada disofa dan menikmati cemilan malamnya.


Allard yang menyadari kehadiran seseorang itu segera mengalihkan perhatiannya, dan melihat istrinya dalam keadaan pucat, berjalan tertatih dan sempoyongan.


Allard bangun dari duduknya dan mendekat kearah tangga, dimana sekarang Ica menuju ke sana karena akan menaiki anak tangga, dan menuju ke kamarnya.


"Ica, dari mana kau, malam-malam seperti ini?"


Ica yang sedang marah pada Allard memilih tak menjawab pertanyaan Allard, dan tidak memperdulikan suaminya itu, dia berjalan menuju anak tangga, tetapi Allard mencekal tangan kanannya sehingga Ica tidak bisa melanjutkan langkahnya.


"apa mau mu hem?"


Tanya Ica dengan nada sinisnya.


"kita butuh bicara, mari ku antar ke kamar, tubuh mu belum pulih, kenapa sudah pergi".


Jawab Allard dengan suara lembutnya, tetapi Ica yang sedang marah tak memperdulikan sikap Allard kali ini.


"apa perduli mu?"


Balas Ica sarkas, dengan nada suara yang naik dua oktaf.


Kali ini Ica menatap netra Allard dengan pandangan terluka, bibir pucatnya mengatup rapat, tetapi matanya terlihat berkaca-kaca, memerah dan sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis, dia menggigit bibir bawahnya menahan nyeri di dadanya yang datang secara tiba-tiba.


"kita harus bicara hal yang penting".

__ADS_1


Ucap Allard sembari berusaha menarik tangan ica untuk digenggamnya. Tetapi Ica menepis tangan Allard.


"apa yang ingin kau katakan?"..


Ica berpegangan pada tembok, karena dia merasa saat ini seluruh tubuhnya sudah sangat lemas dan lelah, ditambah sekujur tubuhnya yang terluka, tetapi dia terus berusaha tersadar saat ini, dia tak ingin terlihat lemah dimata Allard.


Allard ingin menjawab, tetapi David datang dengan sedikit tergesa dan menyerahkan stopmap hitam pada Allard.


"ini tuan berkasnya sudah saya siapkan".


Seketika stopmap itu terjatuh tepat di kaki Ica, saat Allard yang sedang bingung dan merasa terganggu dengan kehadiran David tak menyadari jika dia tidak benar-benar memegangi stopmap itu dengan benar.


Alhasil semua lembaran kertas yang ada di dalamnya berserakan keluar, ica bisa membacanya jika itu merupakan surat kontrak pernikahannya dengan Allard, dan juga selembar kertas yang membuat matanya melotot.


Ica mengambil kertas itu meskipun dengan sempoyongan, membacanya sekali lagi, takut jika dia salah membaca, tetapi ternyata tidak, di sana tertulis surat gugatan perceraian dengan sangat jelas.


Tubuhnya terasa melemas tak bertulang, bibirnya mengatup rapat dengan air mata yang mengalir tanpa permisi, sungguh kali ini dadanya terasa dihantam oleh batu besar yang membuatnya susah bernafas, Ica sampai membuka mulutnya untuk meraup oksigen.


Tubuhnya sedikit limbung dan dengan cekatan Allard memeganginya tetapi kemudian segera ditepis oleh Ica.


"ja-di ini yang mau kau katakan?, baiklah aku akan mengabulkannya".


Dengan cekatan Ica meraih bolpoin yang berada dalam genggaman tangan David dan memegangi kertas itu dengan tangan bergetar, dia merasa tak kuat karena tangannya saat ini sedang terluka, tetapi dia harus bisa.


Ica menandatangani berkas itu kemudian memberikannya pada Allard. Dengan tatapan terluka bercampur kecewa yang mendalam, pada sosok Allard yang selalu membuat hatinya tercabik-cabik dan tak berbentuk lagi saat ini.


Setelah apa yang dia lakukan padanya malam itu, dengan mengambil paksa haknya dengan cara brutal, meninggalkannya sendirian dalam kesakitan dan kekecewaan, pada pagi harinya dia harus menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya teriris, dan puncaknya sekarang dia melayangkan gugatan perceraian pada Ica.


Sungguh hatinya hancur berantakan tanpa sisa, Ica tak yakin apakah setelah ini dia mampu mencintai sosok laki-laki lagi dalam hidupnya, setelah dikecewakan oleh dua lelaki yang sangat dia cintai, terlebih Allard, meskipun dia baru bersama kurang dari satu tahun, tetapi ternyata rasa itu sudah tumbuh subur dihatinya.


Dan saat Ica sudah mencintainya dengan sangat, dia harus kembali dibuat kecewa saat Allard memutuskan menceraikannya saat ini.

__ADS_1


Tubuhnya terasa tak kuasa berdiri lagi saat ini, tetapi dia tetap melangkahkan kakinya, meniti anak tangga satu persatu, dengan berpegangan pada pegangan tangga, langkahnya tertatih dan sempoyongan, dengan kesadaran yang semakin menipis.


Ica berusaha terus melangkah sementara darah terus merembes keluar dari lengan kirinya dan menetes ke anak tangga melalui jari-jarinya, karena sebelum pergi Allard sempat menarik tangan kirinya yang sedang terluka, ingin menjelaskan semuanya, tetapi Ica segera menepis tangan Allard menggunakan tangan kanannya dengan kuat, bahkan dia nyaris tergelincir dari tangga karena cekalan yang sangat kuat dari Allard.


Allard terus saja berteriak memanggil nama Ica dan ingin segera menyusulnya tetapi kemudian Evelyn menarik tangan Allard mengatakan sesuatu yang tak bisa di dengar lagi oleh Ica.


Allard kemudian bergegas mencari Mila dan mengatakan untuk menjaga Ica karena dia akan segera pergi saat ini juga.


Ntah apa yang membuatnya memilih pergi meninggalkan istrinya yang jelas-jelas sedang dalam kondisi buruk dan tidak baik-baik saja, tetapi Allard memilih pergi dengan tergesa bersama Evelyn dan juga David.


........


Ica sampai di kamarnya, dia langsung mencari obat pereda nyeri meminumnya dengan double dosis lagi, menunggu beberapa saat untuk obatnya segera bekerja, merasa tubuhnya sudah sedikit kuat untuk beraktifitas kembali, dia kemudian membuka jaket kulitnya, meredakan perdarahan yang keluar dari lengannya, mengganti perban dan membersihkan badannya yang terasa sangat lengket dan kacau.


Setelah itu dia bersiap membereskan pakaian dan alat kerjanya, memasukkannya dalam koper, dan segera meninggalkan kamarnya, menyeret kopernya kebawah menggunakan lift yang langsung terhubung dengan pintu utama keluar mansion.


Tanpa berpamitan pada Mila yang sedang berada di pantry itu, Ica memilih langsung pergi meninggalkan mansion.


Pertanyaan para bodyguard yang berjaga di gerbang pun tak lagi digubris olehnya, dan dia langsung menuju taksi online yang sudah dipesan tadi saay masih di dalam kamar, menuju Apartemen miliknya yang sudah mampu dia bayar satu hari yang lalu dengan kerja kerasnya sendiri.


Dengan segera Ica menyuruh sang driver menuju apartemen miliknya yang hanya biasa-biasa saja tanpa fasilitas mewah itu. Karena dia sudah tak lagi bisa menahan rasa kecewanya pada Allard kemarin, sehingga dia memilih sembarangan apartemen meskipun uangnya hanya cukup untuk membeli apartemen yang tidak memiliki fasilitas mewah, tetapi masih berada dalam radius kota, yang terpenting saat ini dia tidak tinggal dengan Allard lagi setelah gugatan cerai dilayangkan oleh Allard.


..............


Tuh kan rajin Up akunya...


maapkeun author yang belum bisa Up 3 bab sehari karena authornya cuma IRT biyasah yang g punya mb rewang, ngetiknya Nyambi ngosek WC , 🤭🤭


Tetep ksih vote, like n comen yaa.. pembacanya menurun dri kemaren ini 🤣🤣🤣


jangan lupa juga pantengin FB, IG, danTikTok ku ya gaezzz

__ADS_1


makasih... 😘😘😘😘


__ADS_2