MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Misunderstandings


__ADS_3

Sejak pengakuan cintanya hari itu, Ica selalu malu jika bertemu dengan Allard, tapi bersyukurnya dia karena dalam waktu seminggu ini lima hari ini Allard disibukkan dengan pekerjaannya yang menggunung.


Ica tidak tahu pekerjaan seperti apa yang membuat suaminya yang beberapa hari ini sudah sangat menempel padanya itu, sekarang sedikit menjaga jarak, setiap hari Allard pulang di atas jam 10 malam waktu Seoul, tetapi dia selalu menyempatkan makan malam bersama sang istri.


Kemudian dia mandi dan langsung masuk keruang kerjanya lagi. Ica sampai heran dibuatnya, biasanya dia selalu mengikuti kemanapun Ica berada saat sudah di mansion.


Tapi sekarang Allard sama sekali tidak memperdulikannya, Allard berubah menjadi cuek, meskipun masih tidur satu ranjang yang sama, tetapi dia hanya tidur saat matahari nyaris terbit dan segera berangkat ke kantornya lagi.


Membuat Ica berpikiran negatif karena sikap Allard lima hari terakhir ini. Apa kah benar jika kita sudah didapatkan menjadi tidak menarik lagi dimata pria?.


Atau seperti malam ini jam telah menunjukkan pukul 2 malam, tetapi Allard masih belum pulang, dia melewatkan makan malamnya dengan Ica, dan hanya mengirimkan pesan jika dia tidak bisa pulang cepat malam ini.


Pikiran buruk terus berkecamuk, dia takut jika Allard kembali pada kebiasaannya seperti dulu, dengan tidur bersama wanita lain. Memikirkan hal itu membuat hatinya berdenyut sakit, apalagi sering sekali Allard mengabaikan pesan yang dia kirimkan, dan hanya membahas seperlunya saja.


Ica berjalan mondar-mandir di kamarnya, beberapakali dia keluar ke balkon kamar dan masuk lagi, turun ke lantai satu, mengecek beberapa kamar dibawah dan dilantai dua, dia sedikit lega saat membuka semua kamar yang ternyata kosong itu, ia terlalu takut jika Allard membawa wanita lain dan tidur dikamar bawah.


Tetapi ternyata ketakutannya tidak terbukti. Semua maid sudah kembali ke paviliun belakang, mansion terlihat sepi hanya ada penjaga yang berjaga di pintu gerbang utama mansion.


Ica memikirkan lagi, apakah dia membuat kesalahan pada Allard, tetapi setelah dipikir lagi ternyata dia tidak berselisih paham, dan tidak pernah berdebat seperti awal-awal pernikahan mereka.


Hanya satu hal yang membuat Ica begitu menyesal dan kecewa, apakah karena sikapnya lima hari yang lalu, dia tidak bisa memu*skan Allard di ranjang, dan malah terlihat tersiksa, mungkinkah Allard jadi enggan padanya, karena dia tidak bisa memenuhi keinginan Allard yang memang berhasrat tinggi itu.


Ica tau dirinya bersalah, tetapi harusnya Allard juga melihat perjuangannya yang audah berusaha dengan susah payah, melupakan rasa takutnya akan aktifitas ranjang mereka.


Ica menitikkan air mata, pesan dan panggilannya sama sekali tidak direspon oleh Allard, Ica juga tidak mengetahui nomor David, Darius, dia ingin menghubungi Leo, tetapi Leo bertugas menjaganya, jadi serasa tidak mungkin jika Leo bersama Allard.


Ingin meminta nomer David dari Leo pun rasanya takut membuat masalah tambah runyam, dia berusaha menyembunyikan jika hubungannya dengan Allard sedang tidak baik, meskipun di depan para maid dan bodyguard.

__ADS_1


Ica berusaha melindungi kehormatan sang suami di depan anak buahnya, dengan tidak mengumbar hal apa pun yang sedang terjadi dalam rumah tangganya dengan Allard.


...............


Ica tidak bisa tidur, pikiran buruk masih saja menghantuinya, dia bergegas mengganti pakaian rumahannya dengan celana dan kaos, serta jaket, turun kelantai satu, berlari menuju carport, dia menemukan Motor sport milik salah satu bodyguard beruntungnya dengan kunci yang masih terpasang, Ica menyambar helm, memakai tas slempangnya dan menghidupkan mesin motor dan keluar menuju gerbang.


Ada satu bodyguard yang seharusnya ada 3, entah kemana yang dua, satu bodyguard itu tidak mengenali Ica karena memakai helm hitam tertutup dan mengira dia laki-laki, karena berada di kejauhan dan hanya diterangi lampu temaram karena memang sudah malam, ditambah lagi bodyguard itu sedang ngantuk berat, dia terpaksa berjaga karena dua rekannya sedang berada di toilet karena mereka memakan makanan pedas terlalu banyak membuat kedua bodyguard itu bolak balik ke kamar mandi.


Ica keluar gerbang dan menarik tuas gas dengan kecepatan tinggi, membelah malam kota Seoul menuju Secret Hotel, dia berharap suaminya berada di sana, karena memang Allard berkantor di Secret Hotel pusat.


Ica menambah laju kecepatan, pikiran buruk masih saja menyelimutinya, dia takut jika Allard sedang melakukan perbuatan itu dengan wanita lain di hotel miliknya sendiri.


Ica yang sudah mendapatkan kartu akses masuk ke Secret hotel, dari Allard langsung dan memberikan beberapa kartu VVIP lainnya pun memantapkan hatinya mencari keberadaan sang suami, berbekal nekat, rasa takut dan emosi dia menambah kecepatan motor yang dikendarainya, menuju Secret hotel.


Ica masuk melalui loby dan langsung menuju lift khusus milik Allard, yang hanya boleh dinaiki Allard dan tangan kanannya, lift itu langsung menghubungkannya dengan kamar president suite terbaik di secret hotel. Sebagai pemilik, Allard memang memiliki kamar pribadi di hotel itu, yang hanya dia yang bisa menempatinya.


Melangkah perlahan dan masuk kedalam dia melihat ada sofa dan kamar tidur yang berada terpisah dari sofa itu, serta ruangan lainnya. Ica melihat ruangan yang terbuka, dia masuk kedalam dengan langkah hati-hati seperti penguntit.


Dan seketika badannya menegang kaku, jantungnya berpacu dengan sangat kuat, emosinya memuncak tangannya mengepal kuat. Dia berusaha menetralkan perasaan kacaunya, melihat apa yang dilakukan Allard, ternyata pikiran buruknya terjadi saat ini.


Air matanya tak lagi dapat dibendung, meluncur bebas dan deras meskipun dia tidak ingin. Dad*nya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya.


Ica melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang suami yang sedang duduk di kursi yang berada dibalik meja kerjanya, sedang berciuman dengan kemeja yang sudah terlepas dari tubuhnya, dan seorang wanita yang sedang menunduk didepannya kemudian wanita itu beralih menjadi sedikit jongkok dan berusaha membuka celana sang suami.


Melihat hal itu Ica menggelengkan kepalanya, apalagi suara Allard yang berdesis dan mengerang membuat Ica semakin jijik dibuatnya.


"All......... jadi ini yang membuat mu tidak pulang selama lima hari terakhir ini?".

__ADS_1


Suara Ica tercekat, karena dia sedang terbakar emosi, membuat kedua ingsan yang tengah sibuk itu seketika mendongak, tatapannya tertuju pada Ica yang masih berdiri didepan pintu ruang kerja Allard di hotel itu.


"ku kira kau sudah berubah, tapi nyatanya aku salah"


"aku yang bodoh, karena sudah percaya dengan ucapan dan sikap manis mu beberapa bulan ini".


Ica kemudian berbalik melangkah keluar dari kamar hotel president suite terbaik di hotel itu. Melangkah dengan sedikit tergesa dengan air mata yang sudah bercucuran.


Allard yang terkejut dengan keberadaan istrinya menjadi mendorong wanita yang bersamanya hingga terjerembab, kemudian dia berlari mengejar Ica dengan membenarkan kancing celananya yang sempat terbuka.


Allard berlari menyusul Ica dengan tanpa memakai kemeja, dia menangkap pergelangan sang istri, Ica menepisnya, tetapi Allard tidak jera, dia mencengram lengan Ica sedikit kuat karena Ica terus memberontak minta dilepaskan.


"aku bisa menjelaskan semuanya pada mua sayang, ku mohon, jangan seperti ini".


Ica hanya terus memberontak, meminta ingin dilepaskan, meskipun tangannya terasa sangat sakit karena cengkraman Allard yang bercokol kuat di lengan mungilnya.


....................... ........................


Selamat pagi... nanti klo komen rame dan yg bca banyakan aku ksih bonus part deh hari ini....


Jangan lupa tetep dukung aku dengan kaaih vote, like n comen banyak-banyak yaa...


makasih buat kalian yg tetep setia sama aku..


β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


calanghaeee

__ADS_1


__ADS_2