MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Berita Buruk dari Indonesia


__ADS_3

Istilah kata buaya dikadalin, jika pengusaha itu culas, maka Tica pun akan menggunakan cara licik, Tica merubah dirinya menjadi seseorang yang tidak dikenali.


Ia merubah penampilannya, memakai rambut palsu sebahu, contact lens, celana hitam, sepatu converse putih dan jaket kulit hitam yang menutup lehernya, jadi secara teori dia masih menutup auratnya meskipun dengan penyamaran.


Negosiasi pun berlangsung alot sang pengusaha tidak mau rugi secuil pun dan itu juga sangat merugikan pihak konsumen Tica, jadi Tica memakai cara terakhir dengan cara membuka sedikit rahasia pribadi pengusaha itu, dan mau tidak mau pengusaha itu tunduk padanya, karena takut rahasia yang ia simpan rapat-rapat terbongkar didepan publik, dan negosiasi ini akhirnya dimenangkan Tica.


Dengan tersenyum licik Tica melenggang meninggalkan hotel bintang lima tersebut dan pulang ke mansion Allard, saat waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Entah kenapa malam ini Allard tidak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di club malam atau dengan para wanitanya seperti biasa, sehingga dia mengetahui jika Tica pulang larut malam.


"wah bagus sekali kau, jam 12 baru sampai di rumah, apakah memang seperti ini setiap hari, kau pulang terlambat huh? ".


Tica yang lelah tak menyahuti ucapan Allard, dan hanya meliriknya sekilas, hal itu membuatnya geram, Ia mencengkram lengan Tica yang seketika meringis merasakan lengannya yang dicengkram sangat kuat oleh Allard.


"kalau aku bicara itu jawab, Bukannya diam dan mendengus, Apakah ini sifat aslimu, kasihan sekali bertahun-tahun kakek mu kau tipu dengan sifat polos mu yang palsu itu".


"kau masih ingat perjanjian kita bukan?, Tidak saling mencampuri urusan masing-masing, ku


ingatkan lagi jika kau lupa, tuan Allard yang terhormat".


"tapi ini kediaman ku, aku berhak mengatur kapan orang keluar masuk mansion ku sesuka hati ku".


"ah... baiklah, kalau begitu, aku segera mencari kontrakan dan keluar dari mansion ini, Terimakasih sudah mengingatkan tuan Allard".


"begitu kah, lalu aku akan melaporkan pada kakek mu kalau istriku kabur dengan laki-laki lain dan memilih mengontrak dengan kekasihnya".


"kau memang sangat keterlaluan".


Sambil mendengus dan menghentakkan kakinya, Tica melangkah naik keatas tangga menuju lantai 3 tempat kamarnya berada.


Padahal aku hanya menggodanya saja, ucap Allard dalam hati. Ternyata menyenangkan menggoda istri kecilnya itu, sambil tersenyum Allard menerima panggilan telepon dari bodyguard yang mengawasi Tica,


"maaf tuan, hanya foto itu yang saya dapatkan, karena hotel itu sangat ketat jadi saya tidak bisa leluasa mengambil gambar".


"hem, baiklah, kau boleh pulang".


Sambil melihat foto yang dikirimkan Bodyguardnya Allard naik kelantai 3 tempat kamarnya berada yang berhadapan dengan kamar Tica.


Dasar anak kecil, bisa-bisanya dia bertemu dengan bandot tua seperti itu. Mulai meremehkan ku rupanya, monolog Allard dalam hati.


.............


Hari ini tepat 1 bulan Tica meninggalkan kakeknya, dan di kantor tempatnya bekerja tiba-tiba asisten sang kakek menelpon dan mengatakan jika Tica harus pulang sekarang, Tica bingung fan ketika bertanya ada apa, telepon itu sudah terputus, ntah apa yang terjadi.

__ADS_1


Tica bingung karena belum lama bekerja dia harus pulang ke Indonesia, meskipun sekarang hari jumat, itu artinya ada waktu 2 hari jika ia ingin pulang tanpa harus mengambil cuti.


Tak lama Mobil Rolls Royce hitam, berhenti di depan gedung KBRI, siapa lagi kalau bukan Allard pemiliknya, tidak ada angin dan hujan, dia datang untuk menjemput istri kecilnya, hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.


Satpam segera membuka pintu gerbang dan memanggilkan Tica untuk segera turun ke lobi menemui suaminya. Semua rekan kerja Tica tahu jika Tica bersuami seorang Allard, dan itu sempat membuat geger satu gedung itu beberapa minggu lalu.


"untuk apa kau kesini,,? "


Tanpa kata Allard langsung mencengkram pergelangan tangan istrinya dan menariknya kemudian menyuruh Tica masuk kedalam mobil, dan pergi meninggalkan pelataran gedung KBRI, menuju bandara.


Di sana sudah ada pesawat jet pribadi Allard yang di badan pesawatnya terlihat jelas Tertera huruf DA yang berarti Dennison dan Allarick,


Namanya sendiri.


Didalam pesawat pun, Allard hanya beberapa kali berkomunikasi, ntah dengan siapa, jika ditelisik percakapannya, sedang terjadi hal darurat dan menyangkut hidup dan mati seseorang.


Sampai di bandara Ahmad yani tepat pukul 3 sore, keduanya dijemput dengan mobil Alphard dan langsung menuju ke rumah Tica,


Bendera kuning dan hijau dengan bertuliskan "innalillahi" itu sempat membuat Tica bingung saat memasuki gerbang kediamannya, Badannya langsung tegang, jantungnya berdetak dengan cepat dan memburu, siapa yang meninggal dikediamannya.


Allard turun dengan menggandeng tangan Tica yang ntah kenapa dia tidak menolak saat Allard melakukan itu, padahal biasanya Tica selalu menolak jika bersentuhan dengan Allard. Mungkin saking terkejutnya dia, dengan keadaan yang membingungkan ini.


"mba,.... hu.. hu.. hu... "


"Bi, kenapa? siapa yang meninggal, kenapa..... "


Ucapan Tica terhenti, saat matanya melihat nama papan bertuliskan Prasetio Hadiningrat dalam tulisan itu. Artinya kakeknya yang meninggal, dengan gelengan yang cukup kuat, Tica berucap.


"ga, ga mungkin kakek kan bi,? kakek dimana? bi jawab!! kakek dimana?? "


Seketika tubuh Tica luruh bersamaan dengan dibukanya kain putih penutup jenazah kakeknya itu, Dia menjerit sambil terus berucap tidak mungkin dan memanggil kakeknya terus menerus, sembari mengguncangkan jenazah kakeknya yang sedang dipeluknya saat ini.


Hati Allard sedikit terenyuh saat melihat pemandangan itu, hilang sudah semua keangkuhan, kekeras kepalaan dan Ketegasan dari seorang Zantica Rahma yang ia kenal dan selama 1 bulan ini menjadi istrinya.


Tica yang sekarang berada dihadapannya sangat berbeda dengan keseharian yang ia tunjukkan didepan Allard, Tica sekarang seperti layaknya anak kecil yang takut kehilangan anggota keluarga satu-satunya, terus menangis dan menjerit sambil terus meronta dalam dekapan Surti.


Ia masih tidak bisa menerima jika kakeknya sudah tiada, dan akan segera dimakamkan dalam waktu dekat, hanya menunggu Tica saja, untuk segera membawa jenazah Pras ketempat peristirahatan yang terakhir.


Flasback 8 Jam Lalu


Tepat 8 jam lalu, Allard mendapat kabar dari Orang suruhannya yang berjaga disini. Mengatakan jika Pras dibawa ke rumah sakit karena keracunan makanan yang dimakannya di Restoran tempatnya bertemu kliennya.


Allard langsung menyuruh David menyiapkan pesawat pribadinya karena memang dalam keadaan mendesak. Menjemput Tica dikantor dan langsung menyeretnya terbang ke Indonesia.

__ADS_1


........


Allard merengkuh Tica dalam dekapannya dan membawanya sedikit mundur dari hadapan jenazah Pras, membiarkan Tica menangis sepuas yang dia mau, dan membiarkan Hafidz menutup kembali serta menyelesaikan pengafanan jenazah Pras, Setelah beberapa saat, Tica sedikit tenang meskipun masih menyisakan sesenggukan.


Jenazah dibawa kemasjid terdekat untuk di sholatkan, Tica tidak ikut menyolati karena kondisinya yang masih terlalu syok dengan kejadian ini, masih berada dalam dekapan Allard yang masih setia mendampingi Tica sampai kepemakaman.


Tica tak kuasa menahan bobot tubuhnya kala jenazah sang kakek diturunkan keliang lahat, tubuh Tica luruh jatuh ketanah, tak sadarkan diri, dan langsung diangkat oleh Allard menuju mobil dan kembali ke rumah Tica,


Allard menatap tica yang sedang tidak sadarkan diri itu di kamarnya, dengan pandangan iba, handphonnya berdering dan langsung dijawab olehnya,


"ya, bagaimana?, hem, cari tahu siapa dalang semua ini, kumpulkan semua bukti dan serahkan pada ku paling lambat besok sore, hem,, baiklah, terimakasih".


Allard memutuskan panggilannya saat mendengar lenguhan dari istri kecilnya itu,


"kau sudah bangun?, minumlah dulu".


Allard mengulurkan segelas air putih sembari membantu Tica duduk bersandar dikepala ranjang.


Tanpa membantah tica segera meminum air putih digelasnya sampai tandas, dia kembali mengingat peristiwa sebelum ia jatuh tak sadarkan diri. Air matanya kembali menganak sungai.


"kenapa kau membawa ku pulang, harusnya kita di pemakaman kakek, aku ingin melihatnya terakhir kali"


Ucap Tica dengan sesenggukan.


"dengan kondisi kau tidak sadarkan diri, ingin melihat kakek mu? Ayolah Ica, kau butuh mengistirahatkan dan menenangkan dirimu dulu sekarang".


Panggilan yang berbeda dari siapa pun dan hanya Allard yang memanggil Zantica dengan sebutan Ica, tetapi Tica tak merasa istimewa sedikitpun, karena sudah tertutup rasa benci dan kecewa atas sikap Allard padanya.


"kau sudah dewasa, dan masih banyak hal yang tak kau ketahui sampai sekarang, bahkan nyawa mu sendiri pun terancam, kakek mu benar-benar memanjakan mu sehingga menutupi semua kejadian itu dari mu".


"ap-Apa maksud mu, Nyawa ku? Kejadian, Kejadian apa maksud mu? "...


........................


Catatan Penulis:


Halo hay...


Gimana... cara mengungkap faktanya greget g nih kasih komen donk...


Jangan lupa beserta vote dan like nya yahh..


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2