
"olong jaga kan dia, dalam waktu beberapa hari lagi aku akan menemui Keemo Yen, aku ingin membuat perhitungan padanya, kaulihat sendiri bukan jika istri ku masih terus saja bermimpi buruk, meskipun saat dia tersadar, dia tidak pernah mengeluh apa pun pada ku".
Ucap Allard pada Maxime yang masih setia menunggu dengan sabar, sebenarnya dia sudah curiga pada satu nama yang sejak dulu berusaha menyingkirkan istri kecilnya itu, tetapi dia masih ingin memastikan sekali lagi, jika memang benar Hariyanto lah pelaku utama dibalik kasus ini.
"kau yakin tak ingin ku bantu All?".
Maxime bertanya pada Allard dengan pandangan seriusnya.
"ya, aku mencurigai seseorang yang sejak dulu selalu ingin menyingkirkan istri ku, bahkan kedua orang tua dan kakeknya sudah dibunuh olehnya".
"what? siapa dia All? apa hubungannya dengan istri mu?".
"dia, anak angkat dari Prasetio Hadiningrat, kakek istri ku".
"apa motifnya?".
"aku juga sebenarnya ingin mencari tahu, alasan sebenarnya yang membuat dia begitu dendam dengan orang yang sudah sudi merawatnya".
"mungkinkah faktor harta".
"bisa jadi itu merupakan alasan utama dia menghabisi seluruh keluarga Hadiningrat, hingga hanya tersisa istriku saja, aku susah payah menjaganya selama delapan bulan ini Max, dia seperti tidak ada jeranya".
"kau ingin ku aku menangkapnya atau malah langsung melenyapkannya All?".
"no, istri ku pasti akan sangat membenci ku jika dia mengetahui hal ini. Dia selama ini sudah bertahan puluhan kali Hariyanto mencoba membunuhnya tapi dia sama sekali tidak pernah membalasnya".
Allard berkata dengan mata menerawang jauh seolah-olah sedang menyelami peristiwa yang menimpa istrinya.
"bahkan perusahaan milik keluarga Hadiningrat nyaris bangkrut jika aku tak membeli sahamnya".
"kau tak perlu mengotori tangan mu fan tak usah memberitahu istri mu, cukup duduk manis, aku yang akan menyelesaikannya dengan cara bersih".
Tawar Maxime pada Allard, dia merasa berhutang nyawa pada Allard, jadi dia menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah yang rumit itu.
"no, thanks Max, aku yang akan menyelesaikannya sendiri, aku penasaran dengan alasan yang sebenarnya kenapa Hariyanto ingin sekali membunuh semua keturunan Hadiningrat, jika hanya ingin menguasai hartanya, dia bahkan sudah menguasai perusaan istriku selama lima tahun terakhir".
"baiklah, tapi kau harus bertindak cepat, aku yakin jika dia masih akan membuat rencana mengerikan lainnya terhadap istri mu All".
Allard menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang sahabat yang memang benar itu, dia yakin sekali jika sekarang Hariyanto pasti sedang menyiapkan rencana buruk lainnya, disaat dia sedang lengah dan sedikit lemah saat ini.
................
Ica melenguh saat Matahari hampir tenggelam dalam peraduannya, dia merasa tidur kali ini sedikit bisa merilekskan badannya yang terasa remuk.
"hay sayang, kau sudah bangun?"
"hem,, aku ingin air, aku haus sekali".
__ADS_1
Allard segera memberikan gelas berisi air putih yang berada di atas nakas. Setelah meminumnya sampai tandas, Ica beranjak duduk meskipun dia meringis saat dadanya terasa nyeri, dan Allard dengan sigap membantunya duduk bersandar.
"aku ingin ke kamar mandi All, aku sudah tidak bisa menahannya lagi".
Dengan secepat kilat Allard membantu istrinya dengan cara menggendongnya ala bridal style, kemudian membawanya beserta infusnya ke dalam kamar mandi yang tidak jauh dari ranjang pasien.
"terimakasih, kau boleh keluar, aku bisa sendiri".
"no sayang, kondisimu belum boleh terlalu banyak bergerak".
"All, tak apa aku bisa, aku malah tak bisa menuntaskannya saat kau menunggui ku seperti ini".
" heemmmm... "
Allard lupa jika istrinya ini adalah wanita paling pemalu yang pernah ditemuinya semasa hidupnya, padahal statusnya adalah suaminya, tetapi dia masih sepemalu itu di depan sang suami.
Allard menungguinya di depan pintu, takut jika istrinya membutuhkan bantuannya. Allard menjadi senyum-senyum sendiri saat dia mengingat kejadian malam itu, meskipun dia mengutuk dirinya yang sudah sangat brengs*k dengan memperk*sa istrinya sendiri, tetapi dia merasa senang dan bangga menjadi satu-satunya pria yang menyentuh istrinya itu.
Ica membuka pintu kamar mandi, dan Allard langsung menggendongnya lagi menuju ranjang, Allard menidurkan Ica dengan sangat hati-hati seolah-olah dia barang yang mudah pecah, mengingat saat ini posisi tidurnya pun tidak boleh sembarangan, karena tulang rusuknya yang retak.
..............
Pagi ini, Allard sudah terlihat lebih segar, karena dia baru saja mandi menggunakan air dingin yang mamou membuat kepalanya yang beberapa hari ini seperti akan pecah,menjadi dingin seketika.
"All, kau sudah mandi?"
Dengan setelan formalnya, karenadia ingin menemui beberapa klien penting yang sengaja disuruh menemuinya di RS, dan juga beberapa kepala staf khusus yang bertanggungjawab pada bidangnya masing-masing untuk menyerahkan laporan bulanan.
"Heemm... ya".
Allard mengangguk dan tersenyum dengan berjalan mendekat ke arah sang istri. Ica juga baru saja di seka oleh dua perawat wanita saat Allard menyelesaikan ritual mandinya.
"kau, kenapa bisa berteman dengan Maxime All".
Ica yang tidak tahu menahu tentang kehidupan suaminya yang dulu pun bertanya dengan polosnya.
"sedikit panjang ceritanya. Aku janji akan menceritakannya di mansion saat menjelang tidur, singkatnya, aku dan dia kuliah bersama saat di Harvard University sayang".
"heemm rupanya begitu, "
Ica mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan penjelasan Allard yang tak ingin dia membahas masa lalunya sekarang.
"dia juga yang menolong ku saat menyelamatkan mu kemarin, kau harus berterimakasih kepadanya".
Ucap Allard membuat Ica ternganga, benarkah Allard menyuruhnya berterimakasih bahkan saat dia jarang mendengar Allard mengucapkan kalimat itu.
"dari pada berterimakasih, aku lebih menganggapnya impas, saat bodyguarnya dulu melukai ku".
__ADS_1
" hahahahahaha..... "
Allard tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang diucapkan istrinya.
"kau ternyata seorang pendendam nyonya Dennison".
"aku bukannya pendendam, tetapi memang seperti itulah cara kerja negosiator, mencari kelemahan dan keuntungan sebesar tang nisa didapatnya untuk bisa ditukarkan dengan sesuatu yang seimbang".
"wah... ternyata istri seorang Dennison Allarick Lee sangat mengerikan cara berpikirnya, pantas saja jika Maxime terpesona pada mu".
"terpesona? apa maksud mu All?".
Tanya Ica dengan mata yang terlihat lucu menurut Allard. Allard yang gemas pun memberikan kecupan di bibir istrinya itu egan cepat. Dan Ica yang tidak sempat menghindar itu langsung menepuk dada Allard dengan bibir yang sudah membentuk seperti menara, yang justru membuat Allard semakin gemas dibuatnya.
"aku pria dewasa Ica, terlalu mudah bagi ku, jika hanya membaca ekspresi wajah dan tatapannya pada mu, tapi kau sama sekali tidak boleh sedikit pun terpesona oleh buaya rawa seperti dia".
"peffff,,,,,,,, "
kali ini giliran Ica yang tertawa meskipun ditahan, dia mendengar ucapan Allard seketika tak bisa menahan tawanya, apa katanya tadi buaya?.
"lalu jika dia buaya, kau apa All?".
Nah lo.... kenak kan lo, batin Ica.. Allard hanya terdiam dengan mata menatap tajam kearah sang istri.
.............
"sekali lagi thanks Max, jika kau tidak datang tepat waktu, entah seperti apa aku dan istri ku saat ini".
"sudah lah, hanya bantuan kecil itu, maaf aku harus segera pulang lebih cepat, Allessandro membuat onar di sekolahnya lagi kali ini, aku benar-benar dibuat pusing sekarang oleh tingkahnya".
"Allessandro?, bagaimana kabarnya prince mafia kecil itu sekarang Max?".
"dia baik, tetapi dia punya hoby baru sekarang dengan terus membuat ku kesal dengan tingkahnya yang selalu seenaknya sendiri All".
"sepertinya, sudah saatnya kau mencarikan Ibu sambung untuknya Max".
Maxime tersenyum kecut dengan sedikit dengusan saat Allard membahas Ibu sambung untuk Allessandro Del Cano.
..............................
Nah looo,,, siapa lagi Allessandro Del Cano ini... π€π€π€π€ tungguin part berikutnya yaa...
Yuhuuu.... bonus chapter meluncur .... bahagia g tuhhh.... yuk kasih author bonus juga yaa...
like vote n comen jangan lupa...
maaf klo banyak Typo
__ADS_1
makasih... βΊβΊβΊππππππππ