MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Pernyataan Mengejutkan


__ADS_3

Hafidz menarik lengan Tica dan segera mendudukkannya di sofa tengah lantai satu, dia meminta maid yang terlihat di sana untuk membawakannya air putih, untuk Tica, Hafidz membiarkan Tica menangis mengeluarkan semua rasa sakitnya, dia hanya duduk di depan Tica sambil terus melihat kearah gadis kecil yang berstatus sebagai istri, tetapi suaminya dengan sangat tak tahu diri bermain dengan wanita lain di mansionnya.


Hatinya terasa sakit saat melihat gadis yang selama ini selalu dia jaga dan sayangi, menangis dalam diam, setelah kejadian kematian kedua orang tuanya Tica tak pernah lagi menangis di depan Hafidz, Kenapa Allard tega menyia-yiakan Tica, gadis yang dulu sempat pernah ingin dia perjuangkan, tapi dia mundur setelah sadar dia tak akan pernah pantas untuk mendapatkan Tica.


Dengan mata yang masih terus mengeluarkan cairan bening, pandangannya seolah kosong, tangan bergetar itu mencoba menghapus air matanya dengan punggung tangannya, yang terus saja mengalir tanpa henti, Tica menangis dalam diamnya, kali ini rasanya terlalu menyakitkan ditambah semua ini disaksikan oleh Hafidz, dia merasa malu, aib rumah tangganya diketahui orang yang dulu dicintainya.


"****".......


Allard mengumpat saat dia mendengar teriakan dua orang, kepalanya langsung menoleh kearah suara, di sana didapati Istrinya yang lagi-lagi memergoki aksi ranjangnya dengan Vanesha kali ini, dia juga melihat Hafidz, kenapa pria itu ada disini?, tanpa pikir panjang lagi Allard segera bangun meskipun hasratnya belum tertuntaskan, tapi dia sudah tidak menginginkannya lagi, dengan terburu dia memakai boxer, celana pendeknya dan kaos oblong yang dipakainya secara sembarangan.


Vanesha merasa aneh dengan sikap Allard, kenapa dia meninggalkannya begitu saja saat hasratnya sama sekali belum tersampaikan. Padahal biasanya Allard sama sekali tidak perduli siapapun yang melihatnya bercinta dan malah memakinya jika dia adalah maid. Tapi kali ini dia ditinggalkan begitu saja.


Allard berlari keluar melihat Istri kecilnya tengah menangis dalam diam dengan sesekali tangan mungilnya mengusap liquid bening itu, perasaannya seperti tercubit kala Hafidz terus memandangi istri kecilnya itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Dia jengah melihat Hafidz yang tampak sedang menenangkan Tica dengan ucapan lembutnya.


Allard mendekat, dia menyugar rambutnya frustasi, kenapa dia membuat kesalahan yang sama dengan membuat istri kecilnya kembali menangis? Katakanlah dia memang suami yang brengsek. Tapi dia juga butuh pelampiasan apa lagi saat sang wanita datang tanpa diminta dan menawarkan diri begitu saja.


Seperti seekor kucing yang melihat ikan asin dibawah meja, meskipun sudah diberi jatah Ikan segar oleh majikannya, kucing tetaplah kucing yang akan memakan apa pun yang ia sukai jika itu berada di depan matanya.


Merasa dipermainkan, Vanesha memunguti bajunya, dia kenakan kembali dengan cepat, membenahi riasannya yang kacau kemudian menyusul keluar, di sana dia mendapati tiga orang yang saling diam dengan sang wanita terus saja mengeluarkan air mata, siapa dia? bukankah wanita itu yang ditemuinya beberapa hari yang lalu? dia kira maid baru Allard.


Hafidz yang lebih dulu menyadari Allard dan Vanesha datang menatap tajam kearah Allard dengan pandangan permusuhan. Tanpa bisa mengontrol emosinya kali ini Hafidz segera melayangkan pukulannya pada Allard, sementara Allard yang tidak siap pun limbung meskipun tidak terjatuh, tapi sudut bibirnya mengeluarkan cairan asin, dia terkejut tetapi tak membalas apa yang dilakukan Hafidz padanya.


"kak !!!!!!!! ".........


Tica terkejut saat melihat Hafidz memukul Allard, dia bangun dan melerainya,


"sudah kak, jangan lakukan itu lagi, ku mohon"


"itu pantas untuknya, laki-laki macam apa yang dengan tega bercinta dengan wanita lain saat istrinya bekerja".


"dan kamu masih membela dia dik".


Hafidz berkata dengan dada yang naik turun menandakan jika dia sedang sangat emosi saat ini. Tica menggelengkan kepalanya, dengan mulut yang terus mengucap istighfar.


Vanesha yang tidak faham bahasa indonesia yang digunakan dalam percakapan ketiga orang itu terlalu penasaran, dia terlihat kasihan dengan Allard sehingga berusaha mengelap darah disudut bibir Allard, tetapi dengan cepat ditepis oleh Allard.


"go away, right now"


Ucap Allard, dengan mata menatap nyalang kearah Vanesha, dia yang tidak pernah dibentak oleh Allard pun terkejut dan langsung merasa ciut, dia memilih mengikuti perkataan Allard pergi dari mansion itu.


"kemasi barang mu sekarang juga dik, kita pergi dari sini".

__ADS_1


Ucap Hafidz, jika Tica disini di sia-siakan, lebih baik kembali ke Indonesia. Di Sana setidaknya Hafidz masih bisa memantau Tica melalui kedua orang tuanya. Meskipun dia tak bisa melihatnya setiap hari.


"no....!!! "


Sahut Allard cepat.


"Tica istriku, dia tidak boleh kemana mana dan harus tetap disini".


"untuk apa dia tetap disini jika kau hanya membuatnya menangis dan menyakitinya seperti ini Allard".


Hafidz berkata sambil mencengkram bagian leher kaos oblong Allard. Dia tak habis pikir dengan lelaki yang kurang ajar ini.


Tica hanya bisa terus mencegah keduanya untuk tak saling berkelahi, dia terus saja berada diantara Allard dan Hafidz, dengan terus menggelengkan kepalanya memohon keduanya untuk tak berkelahi.


"kau pikir hanya aku yang membuatnya menangis? heh,,, kau salah, bahkan kau membuatnya menangis jauh sebelum dia menjadi istriku".


Tica yang tau kemana arah pembicaraan Allard memegangi tangan suaminya, dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Allard, ku mohon jangan katakan itu".


"apa maksud mu, aku sangat menyayangi Tica, bahkan sudah ku anggap sebagai adik sendiri, bagaimana bisa aku membuatnya menangis".


Hafidz terdiam dengan mata melotot kemudian memandang kearah Tica, dengan tatapan tak percaya, kenapa dia baru tahu sekarang jika Tica juga mencintainya. Ya, dia mencintai Tica jauh sebelum dia mencintai Bila istrinya.


"benar itu dek?, "


Tica hanya menunduk pasrah dengan apa yang sudah terucap dari bibir Allard. Perasaan yang coba ia tutupi selama 4 tahun ini, kini terungkap dengan kondisi dan keadaan yang salah.


"kenapa kau tak mengatakan ya dek?, ah, sudahlah, sekarang kita pulang ke Indonesia, Kakak bantu kau menyiapkan perceraian mu dengan Allard".


"no, apa hak mu menyuruh Tica menceraikan ku, disini aku suaminya, yang berhak atas dia, bukan kamu Bang***"


Maki Allard dengan tatapan memerah dan tangan kembali mencengkram kerah kemeja Hafidz.


"g kak, ku mohon jangan begini, Allard lepaskan kak Hafidz"


"Lalu dengan cara apa kau akan menjaganya dari ancaman Hariyanto? hem? ".


Dia pikir, selama ini Allard tak susah payah menjaga Tica dari ancaman Hariyanto, dia selalu memberikan lima bodyguard terbaiknya yang biasa mengawal dia pergi kemana pun, dia merelakan anak buah terbaiknya itu mengikuti kemana pun Tica pergi, bahkan tanpa sepengetahuan Tica dan Leo tentu saja, dia bekerja dari jarak yang cukup jauh dari pandangan Tica dan Leo, jadi keduanya tak mengetahui hal itu.


"jadi benar apa yang kakak dengar selama ini dek, kalau om Har selalu berusaha mencelakai mu?".

__ADS_1


Tica hanya mengangguk pasrah, kemudian berkata,


"maka dari itu aku menerima pernikahan ini kak, supaya jauh dari jangkauan orang suruhan om Har, dan Allard memberiku bodyguard".


Hafid menggelengkan kepalanya,


"kakak juga bisa jagain kamu dek"


"ga kak, semua itu tak sesederhana yang kakak pikirkan"


Hafid menjambak rambutnya frustasi,


"bagaimana kau akan menjaganya jika bahkan saat ini pun kau selalu pergi dan meninggalkan istri mu"


"aku akan menikahi kamu dek, setelah kamu menceraikan Allard tentunya, jadi kamu bisa ikut kemanapun aku pergi"


Tica terkejut mendengar penuturan Hafidz yang dengan mudahnya bicara ingin menikahinya, kenapa baru sekarang kata itu terucap, kenapa tak dari dulu saat dia belum menikah dengan Allard, bahkan sekarang sudah ada Bila, kenapa dia tidak bahagia mendengar kalimat yang ditunggunya beberapa tahun lalu itu.


Sementara Allard malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Hafid.


"menikahinya? hem? Bahkan kau sudah beristri sekarang, apa kau gila".


Ucap Allard sambil tersenyum miring dan menatap remeh pada Hafidz.


"kau lupa, jika di agama kita diperbolehkan poligami?, aku yakin Bila tak akan keberatan menerima madunya, jika dia adalah Tica".


"kak, jaga ucapan mu, aku ga akan menikah dengan kakak meskipun kak Bila mengizinkannya, karena sesungguhnya didalam hati yang terdalam tak ada perempuan yang mau dimadu, apalagi harus menyaksikan kemesraannya dengan wanita lain, sakit kak, aku ga akan bisa dan ga akan mau".


Kedua lelaki dewasa itu terdiam kala mendengar kalimat panjang yang diucapkan Tica, Hafidz merasa ditolak padahal perasaannya sudah sedikit bahagia, sementara Allard merasa jika kalimat terakhir Tica menyinggungnya, dia sudah menyakiti istri kecilnya dengan sangat dalam.


..................


Pagi readers kuh....


pagian ni Upnya...


lanjutin g ya ceritanya, bagus ga sih menurut kalian semua...


komen yah biar othornya tahu, jangan lupa vote n like nya juga...


makasihh.... β˜Ίβ˜ΊπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2